09 May 2026

BUYA SYAFII MAARIF; ‘ORANG SUCI’ DAN ‘WALI BERKAROMAH’ DI MUHAMMADIYAH TETAP NGANTRI Adalah Ketua Umum PP Muhammadiyah: Ahmad Syafii Maarif atau biasa dipanggil Buya Syafii tetap jadi tukang loper majalah Suara Muhammadiyah hingga senja menjemput. Wajahnya ngganteng di atas rata rata— putih bersih semampai. Bicaranya polos. Tulisannya tajam menghunjam. Renungannya mendalam. Kritiknya setajam silet sedikit sarkasme. Lahir di Sumpur Kudus Sumatra Barat. Alumni Universitas Chicago (Chicago of University) sahabat dekat Gus Dur Ketua PB NU, Cak Nur lokomatif pembaharuan Islam dan Prof Amien Rais muadzin reformasi fenomenal. *^^^^* Di Muhammadiyah banyak wali karomah tetap bersahaja— duduk sama rendah berdiri sama tinggi— ringan sama dijinjing, berat sama dipikul, budaya demokrasi dan egaliter kental terlihat. Tidak ada administrasi mengurus nasab semua dipandang sama: tidak ada haul tidak ada kultus tidak juga glorifikasi: yang paling mulia adalah yang paling bertaqwa. Prinsip semua makhluk sama di hadapan Tuhan yang membedakan adalah ketaqwaanya. Yang tahu ketaqwaan seseorang hanya Allah semata. Muhammadiyah menawarkan model beragama tengahan - *^^^^* Di rumah sakit PKU Muhammadiyah Gamping Jogja, Buya Syafii tetap ngantri urut di nomor pasien yang lain— datang tanpa pengawalan atau protokoler atau bodyguard layaknya ketua organisasi terkaya nomor tiga di dunia. Di usianya yang senja beliau masih menjadi ketua pelaksana renovasi pembangunan gedung kampus terpadu Mu’alimin Muhammadiyah di Sidayu Bantul Jogjakarta bernilai lima ratus milyar lebih dan dua bulan menjelang wafatnya masih meresmikan rumah sakit Muhammadiyah di Bandung Selatan bersama Prof Haidar Ketua PP dan saudagar kaya Yendra Fahmi dari Sumatra Barat. *^^^^* ‘Orang Suci’ di Muhammadiyah bisa bersalah. Bisa lupa. Bisa khilaf. Tubuhnya pun merenta. Tak bisa melawan tua. Buya Syafii tak bisa terbang di awan. Tidak berjalan di atas air atau menerang hujan. Beliau ‘gerah’ ( sakiit: kromo jowo inggil) setelah puluhan tahun mengabdi tanpa imbalan, tanpa ucapan terimakasih— amal baiknya dikubur bersama jasadnya. Puluhan ribu ucapan duka cita mengiring. Di doakan dengan cara biasa, dikubur di kuburan jelata, tanpa dupa dan umbul-umbul atau bendera kebesaran … 😍😍😍😭😭♥️♥️ Lahu al faatihah Aamiin @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar Pusat Studi Islam dan Pemikiran Kjai Hadji Ahmad Dahlan

 BUYA SYAFII MAARIF;

‘ORANG SUCI’ DAN ‘WALI BERKAROMAH’ DI MUHAMMADIYAH TETAP NGANTRI



Adalah Ketua Umum PP Muhammadiyah: Ahmad Syafii Maarif atau biasa dipanggil Buya Syafii tetap jadi tukang loper majalah Suara Muhammadiyah hingga senja menjemput.


Wajahnya ngganteng di atas rata rata— putih bersih semampai. Bicaranya polos. Tulisannya tajam menghunjam. Renungannya mendalam. Kritiknya setajam silet sedikit sarkasme.


Lahir di Sumpur Kudus Sumatra Barat. Alumni Universitas Chicago (Chicago of University) sahabat dekat Gus Dur Ketua PB NU, Cak Nur lokomatif pembaharuan Islam dan Prof Amien Rais muadzin reformasi fenomenal.


*^^^^*

Di Muhammadiyah banyak wali karomah tetap bersahaja— duduk sama rendah berdiri sama tinggi— ringan sama dijinjing, berat sama dipikul, budaya demokrasi dan egaliter kental terlihat. 


Tidak ada administrasi mengurus nasab semua dipandang sama: tidak ada haul tidak ada kultus tidak juga glorifikasi: yang paling mulia adalah yang paling bertaqwa. 


Prinsip semua makhluk sama di hadapan Tuhan yang membedakan adalah ketaqwaanya. Yang tahu ketaqwaan seseorang hanya Allah semata. Muhammadiyah menawarkan model beragama tengahan - 


*^^^^* 

Di rumah sakit PKU Muhammadiyah Gamping Jogja, Buya Syafii tetap ngantri urut di nomor pasien yang lain— datang tanpa pengawalan atau protokoler atau bodyguard layaknya ketua organisasi terkaya nomor tiga di dunia.


Di usianya yang senja beliau masih menjadi ketua pelaksana renovasi pembangunan gedung kampus terpadu Mu’alimin Muhammadiyah di Sidayu Bantul Jogjakarta bernilai lima ratus milyar lebih dan dua bulan menjelang wafatnya masih meresmikan rumah sakit Muhammadiyah di Bandung Selatan bersama Prof Haidar Ketua PP dan saudagar kaya Yendra Fahmi dari Sumatra Barat. 


*^^^^*

‘Orang Suci’ di Muhammadiyah bisa bersalah. Bisa lupa. Bisa khilaf. Tubuhnya pun merenta. Tak bisa melawan tua. Buya Syafii tak bisa terbang di awan. Tidak berjalan di atas air atau menerang hujan. Beliau ‘gerah’ ( sakiit: kromo jowo inggil)  setelah puluhan tahun mengabdi tanpa imbalan, tanpa ucapan terimakasih— amal baiknya dikubur bersama jasadnya. Puluhan ribu ucapan duka cita mengiring. 

Di doakan dengan cara biasa, dikubur di kuburan jelata, tanpa dupa dan umbul-umbul atau bendera kebesaran … 

😍😍😍😭😭♥️♥️


Lahu al faatihah

Aamiin 


@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

Pusat Studi Islam dan Pemikiran Kjai Hadji Ahmad Dahlan

No comments:

Post a Comment