Di tepian Sungai Tigris yang melegenda, sebuah babak sejarah tertulis dengan da*rah dan keberanian. Inilah kisah tentang salah satu kemenangan militer Muslim paling agung dan peristiwa paling memalukan bagi Barat dalam kurun waktu satu abad terakhir.
Gema Perang di Tanah Irak
Panggung drama ini berada di Kut Al-Amara, sebuah kota yang menjadi saksi bisu ambisi Inggris untuk mencengkeram Irak. Setelah menduduki Basra dengan bantuan penguasa lokal yang berkhianat, pasukan Britania Raya—berkekuatan 45.000 serdadu—merangsek maju menuju Baghdad. Namun, mereka tak menyadari bahwa singa-singa Khilafah Utsmaniyah telah menanti di utara.
Pada 23 November 1915, Divisi ke-51 Angkatan Darat Utsmaniyah melancarkan serangan balik yang menggelegar. Pasukan Inggris kocar-kadir, terpaksa mundur dalam kehinaan hingga terpojok di benteng Kut Al-Amara.
Pengepungan Mencekam: 143 Hari Tanpa Ampun
Di bawah komando Khalil Pasha, pengepungan dimulai pada Desember 1915. Selama 4 bulan dan 23 hari, besi-besi kematian mengepung tentara Inggris. Upaya penyelamatan mereka hancur berkeping-keping dalam pertempuran Sheikh Saad dan Al-Wadi.
Keputusasaan mulai merayapi sanubari Jenderal Charles Townshend. Inggris mencoba mengirimkan pasokan makanan lewat udara, namun "pesawat-pesawat kelontong" mereka rontok satu per satu diterjang peluru Utsmaniyah. Mereka mencoba menyelundupkan logistik melalui kapal di kegelapan malam, namun kewaspadaan pejuang Muslim berhasil menyitanya. Harapan Inggris padam; mereka terkunci dalam kelaparan dan maut.
Harga Diri yang Tak Terbeli dengan Emas
Dalam keruntuhannya, Inggris mencoba menyuap kehormatan Islam. Mereka menawarkan 1 juta poundsterling sebagai fidyah agar diizinkan pulang ke India. Namun, jawaban dari Markas Besar Utsmaniyah meledak layaknya petir:
"Kami tidak memiliki kewajiban politik untuk menyenangkan Inggris, dan kami sama sekali tidak butuh uang mereka!"
Bagi Utsmaniyah, hanya ada satu pilihan bagi musuh: Menyerah total.
Pada 29 April 1916, Jenderal Townshend menyerah tanpa syarat. Sebanyak 13.300 prajurit Inggris dan India, termasuk 6 jenderal besar dan 476 perwira, digiring sebagai tawanan. Ini adalah salah satu sejarah penyerahan diri paling memalukan bagi Britania Raya.
Persatuan yang Menggetarkan Dunia
Kemenangan ini bukan sekadar taktik militer, melainkan buah dari Ukhuwah Islamiyah. Suku-suku Arab di selatan Irak—Bani Lam, Bani Turf, Rabia—bertempur bahu-membahu dengan tentara Turki. Fatwa ji*had pun berkumandang dari lisan para ulama besar di Najaf, menyatukan elemen Sunni dan Syiah di bawah panji Khilafah untuk mengusir penjajah.
Saat itu, dunia sadar: jika bangsa Arab dan Turki bersatu, imperium manapun akan tersungkur di bawah kaki mereka.
Tikaman dari Belakang: Sebuah Pengkhianatan
Namun, di saat kemenangan manis Kut Al-Amara masih dirayakan, sebuah duri menusuk dari belakang. Inggris, yang martabatnya hancur di lumpur Irak dan selat Dardanelles, beralih pada cara-cara licik.
Hanya dua bulan setelah kemenangan agung ini, pengkhianatan muncul dari tanah Hijaz. Syarif Husein (kakek dari raja-raja Yordania) termakan hasutan Inggris. Dengan imbalan emas dan kekuasaan, ia melancarkan "Revolusi Arab" pada Juni 1916. Pengkhianatan ini memecah fokus militer Utsmaniyah dan membuka jalan bagi jatuhnya Pales*tina ke tangan penjajah.
Catatan pada Gambar:
Dalam potret sejarah ini, Anda dapat melihat Khalil Pasha duduk dengan gagah di sebelah kanan, dikelilingi oleh para panglima Muslim yang perkasa. Sementara di ujung kiri, duduklah Townshend, sang Jenderal Inggris yang agung, kini tertunduk sebagai pecundang yang terhina.
Hingga hari ini, setiap tanggal 29 April, kemenangan di Kut Al-Amara tetap dikenang sebagai simbol keteguhan melawan kolonialisme dan "Perang Sa*lib" modern. Sebuah bukti bahwa persatuan umat adalah senjata yang paling mematikan.

No comments:
Post a Comment