04 May 2026

Angkatan 90an pasti hapal lagu ini, bahkan lagu lagu lain juga yang ia buat hapal semua. namun, sayangnya tidak semua hapal siapa penciptanya. Dialah Tito Soemarsono, musisi serba bisa yang lahir pada tanggal 24 April 1959. Publik mengenalnya sebagai pencetak hits bertangan dingin, namun di balik melodi manis yang ia ciptakan, tersimpan rahasia yang mungkin akan mengubah cara Anda mendengarkan lagu-lagunya. ​Kisah paling unik datang dari mahakarya "Pergilah Kasih". Selama puluhan tahun, jutaan orang menyanyikannya sebagai lagu tentang keikhlasan suci melepas kekasih. Namun, Tito tertawa kecil saat mengungkap rahasia bahwa lagu itu sebenarnya adalah sebuah "pengusiran" yang sinis. Terinspirasi dari curhatan teman-temannya yang merasa rendah diri secara materi, Tito menulis lirik itu untuk seorang wanita yang lebih memuja harta. Kalimat "kejarlah keinginanmu" bukanlah doa restu, melainkan sindiran tajam agar si wanita pergi mencari kemewahan yang ia dambakan. ​Tak berhenti di sana, magis Tito juga menyentuh Ruth Sahanaya. Awalnya, sang diva sempat menolak lagu "Kaulah Segalanya" karena merasa tidak cocok. Namun, insting Tito sebagai komposer tak tergoyahkan. Ia meyakinkan Ruth, dan hasilnya? Lagu itu menjadi "lagu wajib" di setiap pernikahan dan konser besar hingga hari ini. Belum lagi, lagu Kisah Cintaku yang sepertinya menjadi lagu melankolis yang tidak lekang oleh zaman. dari mulai sejak di launch hingga saat ini, banyak sudah penyanyi cover yang menyanyikan lagu ini sampai era Noah. ​Namun, panggung paling emosional bagi Tito bukanlah di stadion besar. Setelah sempat terpuruk pasca kegagalan di dunia politik, ia justru menemukan "panggilan" di sebuah ruang kelas kecil. Tito mendedikasikan hidupnya mengajar musik bagi anak-anak penyandang autisme. Meski awalnya harus menerima cakaran dan pukulan dari muridnya, kesabaran Tito melahirkan The Speedster, sebuah band luar biasa yang berhasil tampil hingga ke kancah internasional di Hong Kong. ​Bagi Tito, musik bukan sekadar tangga nada di atas kertas. Musik adalah cara ia mengubah amarah menjadi melodi, penolakan menjadi prestasi, dan keterbatasan menjadi harmoni yang abadi.

 Angkatan 90an pasti hapal lagu ini, bahkan lagu lagu lain juga yang ia buat hapal semua. namun, sayangnya tidak semua hapal siapa penciptanya. 



 Dialah Tito Soemarsono, musisi serba bisa yang lahir pada tanggal 24 April 1959. Publik mengenalnya sebagai pencetak hits bertangan dingin, namun di balik melodi manis yang ia ciptakan, tersimpan rahasia yang mungkin akan mengubah cara Anda mendengarkan lagu-lagunya.


​Kisah paling unik datang dari mahakarya "Pergilah Kasih". Selama puluhan tahun, jutaan orang menyanyikannya sebagai lagu tentang keikhlasan suci melepas kekasih. 


Namun, Tito tertawa kecil saat mengungkap rahasia bahwa lagu itu sebenarnya adalah sebuah "pengusiran" yang sinis. 


Terinspirasi dari curhatan teman-temannya yang merasa rendah diri secara materi, Tito menulis lirik itu untuk seorang wanita yang lebih memuja harta. 


Kalimat "kejarlah keinginanmu" bukanlah doa restu, melainkan sindiran tajam agar si wanita pergi mencari kemewahan yang ia dambakan.


​Tak berhenti di sana, magis Tito juga menyentuh Ruth Sahanaya. Awalnya, sang diva sempat menolak lagu "Kaulah Segalanya" karena merasa tidak cocok. 


Namun, insting Tito sebagai komposer tak tergoyahkan. Ia meyakinkan Ruth, dan hasilnya? Lagu itu menjadi "lagu wajib" di setiap pernikahan dan konser besar hingga hari ini.


Belum lagi, lagu Kisah Cintaku yang sepertinya menjadi lagu melankolis yang tidak lekang oleh zaman. dari mulai sejak di launch hingga saat ini,  banyak sudah penyanyi cover yang menyanyikan lagu ini sampai era Noah. 


​Namun, panggung paling emosional bagi Tito bukanlah di stadion besar. Setelah sempat terpuruk pasca kegagalan di dunia politik, ia justru menemukan "panggilan" di sebuah ruang kelas kecil. 


Tito mendedikasikan hidupnya mengajar musik bagi anak-anak penyandang autisme. Meski awalnya harus menerima cakaran dan pukulan dari muridnya, kesabaran Tito melahirkan The Speedster, sebuah band luar biasa yang berhasil tampil hingga ke kancah internasional di Hong Kong.


​Bagi Tito, musik bukan sekadar tangga nada di atas kertas. Musik adalah cara ia mengubah amarah menjadi melodi, penolakan menjadi prestasi, dan keterbatasan menjadi harmoni yang abadi.






No comments:

Post a Comment