03 May 2026

Masih inget nggak 2 Mei Hari Pendidikan Nasional? . "Als ik eens Nederlander was" atau "Seandainya saya orang Belanda" Merupakan tulisan Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, putra keturunan Adipati Pakualaman, Yogyakarta dan dimuat dalam surat kabar de Expres milik Dr. Douwes Dekker, tahun 1913. Sindiran tajamnya berbunyi : “Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengkongsi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun” Soewardi mengirim telegram kepada Ratu Belanda berisi usulan untuk mencabut pasal 11 RR (Regerings Reglement – UU Pemerintahan Negeri Jajahan) yang melarang organisasi politik di Hindia-Belanda. Akibatnya ia dibuang ke Belanda pada Oktober 1914. Dan akhirnya ia membawa R.A. Sutartinah, istrinya yang baru saja dinikahi menjalani bulan madu di pengasingan. Ia juga dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara, pendiri Tamansiswa, Bapak Pendidikan Nasional. Copyright tulisan Sejarah Jogyakarta

 Masih inget nggak 2 Mei Hari Pendidikan Nasional?

.


"Als ik eens Nederlander was"  atau "Seandainya saya orang Belanda" 


Merupakan tulisan Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, putra keturunan Adipati Pakualaman, Yogyakarta dan dimuat dalam surat kabar de Expres milik Dr. Douwes Dekker, tahun 1913.


Sindiran tajamnya berbunyi :


“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. 


Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. 


Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita garuk pula kantongnya. 


Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu!


Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengkongsi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun”


Soewardi mengirim telegram kepada Ratu Belanda berisi usulan untuk mencabut pasal 11 RR (Regerings Reglement – UU Pemerintahan Negeri Jajahan) yang melarang organisasi politik di Hindia-Belanda. 


Akibatnya ia dibuang ke Belanda pada Oktober 1914. Dan akhirnya ia membawa R.A. Sutartinah, istrinya yang baru saja dinikahi menjalani bulan madu di pengasingan.


Ia juga dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara, pendiri Tamansiswa, Bapak Pendidikan Nasional.


Copyright tulisan Sejarah Jogyakarta

No comments:

Post a Comment