Di saat sejarah mencatat deretan penguasa yang rela bersujud di kaki imperialis demi takhta, muncullah seorang lelaki yang jiwanya tak mampu dibeli. Ia berdiri tegak, menolak segala iming-iming menggiurkan dari Britania Raya yang ingin menjadikannya penguasa mutlak Irak. Syaratnya hanya satu: berhenti melawan penjajah dan bergabung dalam barisan pengkhianatan untuk meruntuhkan Kekhalifahan Utsmaniyah—sebuah jalan nista yang justru dipilih oleh para syekh di Teluk dan Syarif Husain demi ambisi pribadi mereka.
Ia adalah Syekh Ghadhban al-Bunya, sang pemegang tampuk kepemimpinan kabilah Bani Lam di Irak sejak tahun 1904. Kekuasaannya membentang luas dari Al-Amarah hingga Al-Kut. Namanya melegenda; setiap kali ia memasuki kota, ribuan pejuang bersenjata mengiringi langkahnya bagaikan ombak yang siap menerjang karang.
Antara Konflik Saudara dan Gema Jihad
Meski sempat terjebak dalam pusaran konflik internal dengan kabilah tetangga dan bersitegang dengan gubernur Utsmaniyah demi menjaga perdamaian sipil, takdir memanggilnya ke medan yang lebih besar. Ketika Perang Dunia I pecah dan Inggris mulai mencengkeramkan kukunya di Basrah—dibantu oleh tangan-tangan pengkhianat lokal—Kekhalifahan Utsmaniyah memanggilnya pulang.
Tanpa ragu, Syekh Ghadhban membuang jauh semua dendam masa lalu terhadap pemerintah Utsmaniyah. Baginya, membela tanah air dari tangan kafir penjajah adalah kewajiban yang melampaui segalanya. Di bawah panji jihad, ia memimpin ribuan ksatria padang pasir, bergabung dengan pasukan Jenderal Muhammad Pasha ad-Daghistani dalam pertempuran legendaris di Al-Kut tahun 1915.
Langkah kakinya diikuti oleh barisan ulama besar Irak yang menyerukan jihad suci. Kehadirannya membakar semangat kabilah-kabilah di Ahvaz hingga mereka bangkit memutus urat nadi ekonomi Inggris dengan meledakkan pipa-pipa minyak penjajah. Inggris gemetar; mereka menderita kerugian besar dalam pertempuran berdarah yang membuat Syekh Ghadhban menetapkan sayembara: hadiah bagi siapa pun yang mampu menyeret perwira Inggris atau India sebagai tawanan.
Integritas yang Tak Terbeli
Saat Al-Amarah jatuh ke tangan musuh, komandan Inggris, Leachman, mencoba merayunya dengan tumpukan harta. Namun, Ghadhban bukanlah budak materi. Bahkan ketika putranya sendiri, Abdul Karim, disandera sebagai jaminan, ia memilih untuk berpaling dan terus menghunuskan pedang perlawanan di Samawah hingga Baghdad jatuh pada tahun 1917.
Kepopulerannya yang luar biasa sempat menjadikannya kandidat kuat raja Irak. Namun, "Mawar Gurun" yang licik, mata-mata Inggris Gertrude Bell, mengeluarkan perintah tegas untuk menyingkirkannya. Bell menulis dengan penuh kebencian:
"Hapus dan jangan libatkan Syekh Ghadhban al-Bunya dalam pemerintahan. Ia adalah sosok yang sangat memusuhi Britania dan unsur paling berbahaya bagi kepentingan kita."
Sebagai gantinya, Inggris memilih sang boneka penurut, Faisal I bin Al-Husain. Sebuah imbalan atas pengkhianatan ayah dan saudara-saudaranya yang telah membuka gerbang bagi penjajah untuk mengoyak tanah Arab dan Palestina melalui apa yang mereka sebut secara dusta sebagai "Revolusi Arab".
Akhir Sang Pejuang
Penjajah mencoba membungkamnya dengan pengasingan. Ia dibuang ke Kuwait, di bawah pengawasan penguasa setempat yang bertindak sebagai mata-mata Inggris. Namun, semangat Ghadhban tak pernah padam. Ia berpindah dari satu pengasingan ke pengasingan lain, hingga akhirnya kekuatan rakyat memaksanya kembali ke Irak pada tahun 1924.
Ia terpilih sebagai wakil rakyat Al-Amarah, tetap menjadi duri dalam daging bagi penjajah di parlemen, hingga napas terakhirnya pada tahun 1935. Syekh Ghadhban al-Bunya berpulang, meninggalkan warisan abadi bahwa kemuliaan tidak terletak pada mahkota yang diberikan penjajah, melainkan pada luka dan debu di medan perlawanan.

No comments:
Post a Comment