11 May 2026

Sabtu malam, 30 November 1957. Perguruan Cikini (Percik) di Jakarta sedang menggelar perayaan ulang tahun ke-15 yang meriah. Ratusan anak sekolah, orang tua, dan guru berkumpul penuh tawa. Presiden Soekarno pun hadir, bukan dalam kapasitas kenegaraan, melainkan sebagai seorang ayah, karena putra-putrinya — Guntur dan Megawati Soekarnoputri — bersekolah di sana. Ketika Bung Karno hendak meninggalkan lokasi pada pukul 20.55 WIB, suasana riang mendadak berubah menjadi mencekam. Dari kegelapan, beberapa granat dilemparkan ke arah mobil presiden. Ledakan dahsyat bersahut-sahutan memecah malam. Kaca pecah, tenda roboh, dan kepanikan luar biasa melanda kerumunan anak-anak sekolah tersebut. Target utama ledakan itu adalah Presiden Soekarno. Namun, kesigapan para ajudan — terutama Mayor Sudiyo — berhasil menyelamatkan nyawa sang presiden. Soekarno segera didorong tiarap, dilindungi dengan tubuh para pengawalnya, lalu diselundupkan ke rumah salah satu warga di seberang sekolah sebelum akhirnya dievakuasi dengan aman ke istana. Bung Karno selamat tanpa luka berarti. Namun harga yang dibayar sangatlah mahal. Granat yang meleset itu meledak di tengah kerumunan sipil. Halaman sekolah berubah menjadi lautan darah. Anak-anak yang beberapa menit sebelumnya tertawa riang, kini tergeletak tak bernyawa. Jeritan histeris para ibu yang mencari anak-anaknya menggema di malam itu. Tercatat 9 nyawa melayang dan sedikitnya 100 orang menderita luka berat hingga cacat permanen. Yang paling menyayat hati, mayoritas korban adalah anak-anak sekolah dasar, ibu hamil, dan warga sipil biasa yang sama sekali tidak mengerti urusan politik. Mereka tewas secara tragis hanya karena berada di tempat dan waktu yang salah. Tak butuh waktu lama bagi aparat untuk menangkap para pelaku. Mereka disebut sebagai komplotan ekstremis sayap kanan yang terhubung dengan jaringan anti-Soekarno. Demi ambisi ideologis, mereka membutakan mata dan nurani, rela melempar granat ke kerumunan anak sekolah demi membunuh satu orang. Tragedi Cikini menjadi noda hitam yang membuktikan betapa kejinya ekstremisme politik. Darah anak-anak Cikini yang membasahi aspal malam itu menjadi pengingat abadi, bahwa dalam setiap pertarungan memperebutkan kekuasaan yang buta arah, rakyat kecil dan anak-anak tak berdosa selalu berakhir menjadi tumbal utamanya. Sumber: arsip peristiwa

 Sabtu malam, 30 November 1957.

Perguruan Cikini (Percik) di Jakarta sedang menggelar perayaan ulang tahun ke-15 yang meriah. Ratusan anak sekolah, orang tua, dan guru berkumpul penuh tawa.

Presiden Soekarno pun hadir, bukan dalam kapasitas kenegaraan, melainkan sebagai seorang ayah, karena putra-putrinya — Guntur dan Megawati Soekarnoputri — bersekolah di sana.



Ketika Bung Karno hendak meninggalkan lokasi pada pukul 20.55 WIB, suasana riang mendadak berubah menjadi mencekam.

Dari kegelapan, beberapa granat dilemparkan ke arah mobil presiden.

Ledakan dahsyat bersahut-sahutan memecah malam. Kaca pecah, tenda roboh, dan kepanikan luar biasa melanda kerumunan anak-anak sekolah tersebut.


Target utama ledakan itu adalah Presiden Soekarno. Namun, kesigapan para ajudan — terutama Mayor Sudiyo — berhasil menyelamatkan nyawa sang presiden.

Soekarno segera didorong tiarap, dilindungi dengan tubuh para pengawalnya, lalu diselundupkan ke rumah salah satu warga di seberang sekolah sebelum akhirnya dievakuasi dengan aman ke istana.


Bung Karno selamat tanpa luka berarti. Namun harga yang dibayar sangatlah mahal.

Granat yang meleset itu meledak di tengah kerumunan sipil. Halaman sekolah berubah menjadi lautan darah.

Anak-anak yang beberapa menit sebelumnya tertawa riang, kini tergeletak tak bernyawa. Jeritan histeris para ibu yang mencari anak-anaknya menggema di malam itu.


Tercatat 9 nyawa melayang dan sedikitnya 100 orang menderita luka berat hingga cacat permanen.

Yang paling menyayat hati, mayoritas korban adalah anak-anak sekolah dasar, ibu hamil, dan warga sipil biasa yang sama sekali tidak mengerti urusan politik.

Mereka tewas secara tragis hanya karena berada di tempat dan waktu yang salah.


Tak butuh waktu lama bagi aparat untuk menangkap para pelaku.

Mereka disebut sebagai komplotan ekstremis sayap kanan yang terhubung dengan jaringan anti-Soekarno.

Demi ambisi ideologis, mereka membutakan mata dan nurani, rela melempar granat ke kerumunan anak sekolah demi membunuh satu orang.

Tragedi Cikini menjadi noda hitam yang membuktikan betapa kejinya ekstremisme politik.


Darah anak-anak Cikini yang membasahi aspal malam itu menjadi pengingat abadi, bahwa dalam setiap pertarungan memperebutkan kekuasaan yang buta arah, rakyat kecil dan anak-anak tak berdosa selalu berakhir menjadi tumbal utamanya.


Sumber: arsip peristiwa

No comments:

Post a Comment