Kisah Raja John: Ketika Inggris di Ambang Menjadi Kerajaan Islam
Pernahkah terbayang, bagaimana jadinya jika Kerajaan Inggris, yang kita kenal dengan Gereja Anglikan dan tradisi Kristennya yang kuat, pernah berada di ambang menjadi sebuah kesultanan Islam? Kisah ini bukanlah fiksi, melainkan bermula dari keputusasaan seorang raja bernama John Lackland (memerintah 1199–1216) .
---
Awal Mula: Raja yang "Tidak Pernah Menang"
Cerita ini berawal dari suramnya keadaan Inggris di awal abad ke-13. Raja John mewarisi takhta dari kakaknya, Raja Richard I "The Lionheart" , seorang raja yang gagah berani namun meninggalkan kerajaan dalam kondisi bangkrut . Keuangan negara terkuras habis untuk membiayai Perang Salib dan membayar tebusan yang sangat mahal—150.000 marks atau sekitar 65.000 pon perak, tiga kali lipat pendapatan tahunan Inggris—ketika Richard ditangkap dalam perjalanan pulang .
Di tengah kekosongan kas negara, Raja John bukan hanya tidak pandai berperang, tetapi juga menghadapi musuh dari segala penjuru. Wilayah kekuasaannya di Prancis, seperti Normandia dan Anjou, satu per satu direbut oleh Raja Philip II Augustus dari Prancis. Kekalahan demi kekalahan ini membuatnya dijuluki "John Softsword" (John Pedang Lunak) .
Masalahnya tidak berhenti di situ. Di dalam negeri, Raja John berselisih paham dengan Paus Innosensius III mengenai penunjukan Uskup Agung Canterbury. Akibatnya, pada tahun 1208, Paus menjatuhkan Interdik atas Inggris—sebuah hukuman yang menghentikan semua layanan gereja, mulai dari misa, pernikahan, hingga pemakaman. Puncaknya, pada tahun 1211, Raja John secara resmi dikucilkan (ekskomunikasi) dari Gereja Katolik .
Dengan dikucilkannya sang raja, para bangsawan (baron) memberontak karena sumpah setia mereka kepada raja dianggap tidak lagi sah. Mereka bahkan menawarkan takhta Inggris kepada putra mahkota Prancis. Dikepung musuh, dimusuhi Paus, dan dikhianati bangsawannya sendiri, Raja John pun putus asa .
Putus Asa dan Utusan Rahasia ke Penguasa Muslim
Dalam keputusasaannya, Raja John mengambil langkah yang sangat ekstrem dan tidak lazim bagi seorang raja Kristen pada zamannya. Pada tahun 1212 atau 1213, ia mengirimkan sebuah utusan rahasia ke Maroko, ke istana Kekhalifahan Muwahhidun (Almohad) yang berkuasa di Afrika Utara dan Spanyol .
Utusan yang terdiri dari tiga orang, salah satunya adalah seorang rohaniwan bernama Robert dari London, membawa misi diplomatik yang sangat rahasia. Mereka menghadap langsung Sultan Muhammad al-Nasir (memerintah 1199–1213), khalifah keempat Dinasti Muwahhidun, untuk memohon bantuan militer .
Tawaran Mencengangkan: Masuk Islam dan Jadi Wilayah Bawahan
Menurut catatan sejarawan Matthew Paris dalam Chronica Majora, tawaran yang dibawa oleh utusan ini sangat mengejutkan. Untuk mendapatkan bantuan melawan Prancis dan para baron pemberontak, Raja John konon menyatakan bahwa ia siap melepaskan keyakinan Kristen yang dianggapnya sia-sia dan dengan setia menganut hukum Nabi Muhammad (Islam) . Tidak hanya itu, ia bahkan berjanji akan menyerahkan Kerajaan Inggris sebagai wilayah bawahan (tributary) sang Khalifah .
Namun, reaksi Sultan al-Nasir jauh dari yang diharapkan. Alih-alih menyambut tawaran tersebut, sang Sultan justru merasa jijik. Ia menolak mentah-mentah tawaran itu dan bahkan "menguliahi" para utusan Inggris tentang "betapa hinanya mengubah agama" . Sang Sultan dikatakan begitu muak dengan sikap Raja John yang merendahkan diri secara berlebihan .
Kebenaran yang Terungkap dan Akhir Kisah
Menariknya, ada cerita lanjutan dari drama diplomasi ini. Konon, ketika para utusan kembali ke Inggris, Robert dari London berbohong dengan melaporkan bahwa misinya berhasil, mungkin demi mengambil hati sang raja yang putus asa. Namun, kebenaran akhirnya terungkap .
Terlepas dari benar atau tidaknya detail tawaran masuk Islam ini, para sejarawan modern seperti Ilan Shoval dalam studinya yang mendalam berargumen bahwa misi diplomatik ini benar-benar terjadi. Namun, tawarannya mungkin lebih merupakan usulan aliansi pertahanan yang standar, bukan penyerahan total kerajaan dan perpindahan agama seperti yang dicatat Matthew Paris. Paris sendiri dikenal memiliki kebencian pribadi terhadap Raja John, sehingga mungkin membesar-besarkan cerita untuk memperburuk citra sang raja .
Kesimpulannya, kemungkinan aliansi ini tidak pernah terwujud. Sultan al-Nasir sendiri meninggal dunia setahun kemudian pada tahun 1213 . Raja John yang tetap terisolasi akhirnya kalah oleh para baronnya dan dipaksa menandatangani Magna Carta pada tahun 1215, sebuah dokumen yang kemudian menjadi fondasi demokrasi modern .
Bagaimana Jika Sejarahnya Berbeda?
Pertanyaan "bagaimana jadinya" ini selalu menarik. Seandainya Sultan al-Nasir menerima tawaran Raja John, lanskap geopolitik, budaya, dan agama Eropa mungkin akan sangat berbeda. Beberapa spekulasi sejarah alternatif menyebutkan, seperti dikutip dari National Review: "Jika Raja John berhasil, para Pilgrim Fathers akan berlayar ke Amerika dengan membawa Al-Quran, dan kini akan ada 'United States of Islam' " .
Berikut adalah beberapa poin penting yang bisa direnungkan dari kisah ini:
· Keputusasaan bisa mengalahkan keyakinan: Raja John adalah contoh nyata bagaimana seorang pemimpin yang terpojok rela mempertaruhkan segalanya, termasuk agama, demi mempertahankan kekuasaan.
· Sejarah tidak hitam-putih: Pertemuan antara dunia Kristen dan Islam di masa lalu tidak selalu tentang Perang Salib dan konflik. Ada kalanya kepentingan politik praktis mendorong pertemuan yang tidak terduga.
· Sumber sejarah harus dikritisi: Kisah ini juga menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana kita membaca sejarah. Catatan Matthew Paris sangat detail, namun sebagai penulis sejarah ia memiliki bias, dan kebenaran seringkali berada di antara fakta dan interpretasi.
Ini adalah salah satu kisah sejarah paling "nyeleneh" yang menunjukkan bahwa politik praktis kadang bisa menghasilkan kemungkinan yang di luar nalar.

No comments:
Post a Comment