Begitulah cara Inggris menancapkan kuku kekuasaannya di tanah Arab—setelah mereka melukis bendera-bendera palsu dan menggariskan perbatasan di atas peta yang mereka buat sendiri.
Fajar Kelabu di Bagdad
Foto ini mengabadikan momen memuakkan dari upacara penobatan Faisal I bin Syarif Husain, sang raja yang dijuluki pengkhianat, saat ia didudukkan di takhta Irak pada 23 Agustus 1921. Sebelum "dibuang" ke Irak, Faisal sempat mencicipi singgasana Suriah sejak Maret hingga Juli, sebelum akhirnya lari terbirit-birit menghindari kejaran bala tentara penjajah Prancis.
Sandiwara penobatan ini digelar oleh tangan-tangan Inggris tepat pukul enam pagi di pelataran Istana Saray Ottoman, Bagdad. Dalam potret ini, di sisi kiri, tampak sosok Percy Cox, Komisaris Tinggi Inggris—sang penguasa bayangan di Teluk. Di sampingnya berdiri Kinahan Cornwallis, penasihat Kementerian Dalam Negeri yang sejatinya adalah penguasa de facto Irak.
Para Arsitek Pendudukan
Faisal I duduk bersanding dengan Sir Aylmer Haldane, Panglima Tertinggi pasukan pendudukan Inggris di Irak, sosok kunci di balik penaklukan berdarah selama Perang Dunia I. Di belakang Faisal, berdiri ajudan militernya, Tahsin Qadri, bersama Hussain Afnan, sang Sekretaris Kabinet yang setia menghamba.
Demokrasi Palsu dan Angka Tipu-Tipu
Lelucon kolonial ini mencapai puncaknya ketika Sir Percy Cox dengan angkuh mengumumkan bahwa 99% rakyat Irak telah memberikan suara mereka untuk sang raja baru! Sebuah referendum kosong, sebuah teater absurd yang sama sekali tidak mewakili kehendak rakyat Irak yang sebenarnya.
Faisal tiba di pelabuhan Basra dari Jeddah pada 23 Juni dengan kapal perang Inggris, "Northbrook." Kedatangannya disambut dengan dingin; tak ada cinta, tak ada restu dari rakyat. Ia hanyalah bidak yang dipasang Inggris untuk meredam api Revolusi 1920 yang membara melawan penjajahan. Namanya dipilih dalam diskusi gelap antara Percy Cox dan Winston Churchill di Konferensi Kairo 1921, atas rekomendasi dari agen rahasia dan mata-mata Inggris, Gertrude Bell.
Upah Berdarah atas Pengkhianatan
Takhta Irak adalah "bonus" bagi Faisal atas pengkhianatannya terhadap umat Islam. Bersama ayahnya, Syarif Husain, dan saudara-saudaranya—terutama Abdullah I (kelak menjadi Raja Yordania)—ia bersekutu dengan Inggris untuk meruntuhkan kekuasaan Islam di tanah Arab.
• Faisal memimpin pasukan Baduinya untuk memutus jalur logistik tentara Khilafah Ottoman di Hijaz demi memuluskan jalan bagi Inggris menginvasi Palestina.
• Abdullah, sang saudara, mengepung Kota Suci Madinah, membiarkan penduduk dan pasukan pelindungnya mati kelaparan.
Jejak Hitam Faisal-Weizmann
Sejarah tidak akan lupa bahwa Faisal adalah sosok pertama yang secara resmi mengakui "Janji Terkutuk" (Deklarasi Balfour). Ia adalah pelopor normalisasi dengan para pemimpin Zionis melalui Perjanjian Faisal-Weizmann 1919.
Bahkan di Suriah, ia tega mengkhianati bangsanya sendiri. Ia melarang pejuang Arab melawan invasi Prancis dan membunuh para pahlawan revolusi yang mendesaknya untuk membela tanah air. Faisal menyerahkan Suriah kepada Prancis di bawah nampan emas, berharap ia akan diakui sebagai raja, namun Prancis justru membuangnya seperti sampah setelah kepentingannya tercapai.
Tangan yang Berlumur Darah Rakyat Sendiri
Di Irak, Faisal I menjadi pendukung setia setiap kekejaman Inggris terhadap pejuang Arab dan Kurdi. Bahkan, ia dengan rendah budi mengirimkan ucapan terima kasih kepada Percy Cox ketika pesawat-pesawat tempur Inggris membombardir suku-suku Irak yang berani mengangkat senjata demi kemerdekaan nasional mereka.

No comments:
Post a Comment