09 May 2026

Jejak Batalyon V Andjing NICA Menuju Magelang Setelah Agresi Militer Belanda ke 1 Batalyon V Andjing NICA berada di Gombong. Batalyon V Andjing NICA ini dipimpin oleh Letnan Kolonel Aldus Pieter van Santen. Kompi pertama pimpinan Letnan Satu S.A. Lapre berada di Kroya. Kompi kedua pimpiman pimpinan Kapten C.I. Trieling berada di Sumpiuh. Kompi ketiga pimpinan Kapten Thijr Nanlohy berada di Benteng Van der Wijck Gombong. Kompi keempat pimpinan Letnan Maximilian Nutter berada di sisi timur Gombong. Saat Agresi Militer Belanda ke 2 tanggal 19 Desember 1948, Batalyon V Andjing NICA mendukung gerakan pasukan Brigade T dan menjadi ujung tombak Gugus Tempur D mendobrak garis demarkasi di Gombong kemudian lanjut melibas Kebumen dan langsung ke Purworejo. Di Purworejo mereka merangsek ke utara menyusuri tanjakan Margoyoso menuju ke Salaman. Belanda masuk Salaman dalam perjalanan menuju Magelang ini pada tanggal 22 Desember 1948. Di Salaman Batalyon V Andjing NICA kemudian ada yang bermarkas di Salaman di bawah pimpinan Letnan van Tinnen. Selama Batalyon V Andjing NICA bermarkas di Salaman hampir tiap malam diserang oleh gerilyawan TNI dan masyarakat sekitarnya. Bekas markas kompi dari Batalyon V Andjing NICA di Salaman saat ini menjadi kantor Polsek Salaman. Setelah dari Salaman pasukan Batalyon V Andjing NICA kemudian menuju Magelang dan di tanggal 22 Desember 1948 akhirnya kota Magelang berhasil dikuasai oleh Belanda. Pada saat Batalyon V Andjing NICA memasuki Magelang, berhasil menangkap bekas serdadu Jepang yang bersimpati dan membantu perjuangan rakyat Indonesia. Orang Jepang tersebut bernama Watanabe. Belanda berhasil menangkap Watanabe karena adanya informasi dari mata-mata Belanda. Watanabe ini akhirnya dibunuh oleh Belanda. Nampak tentara Belanda yang menangkap Watanabe salah satunya topinya ada lambang Batalyon V Andjing NICA. Setelah menguasai Magelang Batalyon V Andjing NICA yang jelas disebar ke berbagai wilayah seperti Salam, Muntilan, Pabelan dan Blondo. Selain itu juga seperti yang ditulis di depan ada yang di tempatkan di Salaman. Di daerah Magelang, Batalyon V Andjing NICA bersama Gugus Tempur A terlibat dalam operasi mengepung dan membersihkan sisa sisa TNI yang tercecer dan terpencar di lereng gunung Merapi dan Merbabu. Lalu juga bergerak ke Temanggung dan Parakan untuk meringkus pasukan Siliwangi yang tengah dalam perjalanan Long March pulang ke markas mereka di Jawa Barat, dan hasilnya berhasil menangkap Kolonel Daan Yahya yang menjabat Pelaksana Panglima Divisi Siliwangi pada saat Long March. Batalyon V Andjing NICA berada di sekitar daerah Salam, Muntilan, Pabelan, Blondo, Temanggung dan Parakan hingga sekitar bulan Oktober - Desember 1948. Menjelang terjadinya gencatan senjata yang kemudian secara bertahap mundur dari Magelang ke arah Semarang untuk kemudian dikirim ke Kalimantan Timur. Magelang diserahkan ke Republik Indonesia kembali tanggal 16 Desember 1949. Dan disinilah akhir dari jejak Batalyon V Andjing NICA di Magelang.

 Jejak Batalyon V Andjing NICA Menuju Magelang 

Setelah Agresi Militer Belanda ke 1 Batalyon V Andjing NICA berada di Gombong. 

Batalyon V Andjing NICA ini dipimpin oleh Letnan Kolonel Aldus Pieter van Santen.

Kompi pertama pimpinan Letnan Satu S.A. Lapre berada di Kroya.

Kompi kedua pimpiman pimpinan Kapten C.I. Trieling berada di Sumpiuh.

Kompi ketiga pimpinan Kapten Thijr Nanlohy berada di Benteng Van der Wijck Gombong.



Kompi keempat pimpinan Letnan Maximilian Nutter berada di sisi timur Gombong.

Saat Agresi Militer Belanda ke 2 tanggal 19 Desember 1948, Batalyon V Andjing NICA mendukung gerakan pasukan Brigade T dan menjadi ujung tombak Gugus Tempur D mendobrak garis demarkasi di Gombong kemudian lanjut melibas Kebumen dan langsung ke Purworejo. Di Purworejo mereka merangsek ke utara menyusuri tanjakan Margoyoso menuju ke Salaman. Belanda masuk Salaman dalam perjalanan menuju Magelang ini pada tanggal 22 Desember 1948. Di Salaman Batalyon V Andjing NICA kemudian ada yang bermarkas di Salaman di bawah pimpinan Letnan van Tinnen. Selama Batalyon V Andjing NICA bermarkas di Salaman hampir tiap malam diserang oleh gerilyawan TNI dan masyarakat sekitarnya. Bekas markas kompi dari Batalyon V Andjing NICA di Salaman saat ini menjadi kantor Polsek Salaman.

Setelah dari Salaman pasukan Batalyon V Andjing NICA kemudian menuju Magelang dan di tanggal 22 Desember 1948 akhirnya kota Magelang berhasil dikuasai oleh Belanda.

Pada saat Batalyon V Andjing NICA memasuki Magelang, berhasil menangkap bekas serdadu Jepang yang bersimpati dan membantu perjuangan rakyat Indonesia. Orang Jepang tersebut bernama Watanabe. Belanda berhasil menangkap Watanabe karena adanya informasi dari mata-mata Belanda. Watanabe ini akhirnya dibunuh oleh Belanda. Nampak tentara Belanda yang menangkap Watanabe salah satunya topinya ada lambang Batalyon V Andjing NICA.

Setelah menguasai Magelang Batalyon V Andjing NICA yang jelas disebar ke berbagai wilayah seperti Salam, Muntilan, Pabelan dan Blondo. Selain itu juga seperti yang ditulis di depan ada yang di tempatkan di Salaman.

Di daerah Magelang, Batalyon V Andjing NICA bersama Gugus Tempur A terlibat dalam operasi mengepung dan membersihkan sisa sisa TNI yang tercecer dan terpencar di lereng gunung Merapi dan Merbabu.

Lalu juga bergerak ke Temanggung dan Parakan untuk meringkus pasukan Siliwangi yang tengah dalam perjalanan Long March pulang ke markas mereka di Jawa Barat, dan hasilnya berhasil menangkap Kolonel Daan Yahya yang menjabat Pelaksana Panglima Divisi Siliwangi pada saat Long March.

Batalyon V Andjing NICA berada di sekitar daerah Salam, Muntilan, Pabelan, Blondo, Temanggung dan Parakan hingga sekitar bulan Oktober - Desember 1948. 

Menjelang terjadinya gencatan senjata yang kemudian secara bertahap mundur dari Magelang ke arah Semarang untuk kemudian dikirim ke Kalimantan Timur.

Magelang diserahkan ke Republik Indonesia kembali tanggal 16 Desember 1949. Dan disinilah akhir dari jejak Batalyon V Andjing NICA di Magelang.

No comments:

Post a Comment