03 May 2026

Pada tahun 1959, di bawah bayang-bayang kemenangan Revolusi Kuba yang masih hangat, Che Guevara melintasi cakrawala Timur Tengah. Ia bukan sekadar seorang pelancong; ia adalah simbol pemberontakan yang tengah mencari jejak-jejak keberanian di tanah para nabi. Langkah kakinya kemudian terhenti di jantung kota Damaskus, Suriah, tepat di hadapan peristirahatan terakhir sang legenda: Sultan Salahuddin Al-Ayyubi. Salahuddin, sang pembebas Yerusalem yang namanya menggetarkan pasukan Sa.lib, merupakan mercusuar kedaulatan bagi dunia Timur. Di sana, di dekat kemegahan Masjid Agung Umayyad, Che memberikan penghormatan khidmatnya. Momen ini bukan sekadar ziarah biasa, melainkan sebuah pertemuan spiritual melintasi zaman—sebuah jabat tangan tak terlihat antara pemimpin revolusi modern dan panglima perang masa lalu yang dipersatukan oleh api perlawanan yang sama. Dalam potret-potret yang tersisa, Guevara tampak berdiri tegak dalam balutan seragam militernya yang ikonik. Di hadapan makam sang Sultan, sejarah seolah berbisik bahwa meski zaman berganti, semangat pembebasan akan selalu menemukan jalannya untuk saling mengenali.

 Pada tahun 1959, di bawah bayang-bayang kemenangan Revolusi Kuba yang masih hangat, Che Guevara melintasi cakrawala Timur Tengah. Ia bukan sekadar seorang pelancong; ia adalah simbol pemberontakan yang tengah mencari jejak-jejak keberanian di tanah para nabi.



Langkah kakinya kemudian terhenti di jantung kota Damaskus, Suriah, tepat di hadapan peristirahatan terakhir sang legenda: Sultan Salahuddin Al-Ayyubi.


Salahuddin, sang pembebas Yerusalem yang namanya menggetarkan pasukan Sa.lib, merupakan mercusuar kedaulatan bagi dunia Timur. Di sana, di dekat kemegahan Masjid Agung Umayyad, Che memberikan penghormatan khidmatnya. 


Momen ini bukan sekadar ziarah biasa, melainkan sebuah pertemuan spiritual melintasi zaman—sebuah jabat tangan tak terlihat antara pemimpin revolusi modern dan panglima perang masa lalu yang dipersatukan oleh api perlawanan yang sama.


Dalam potret-potret yang tersisa, Guevara tampak berdiri tegak dalam balutan seragam militernya yang ikonik. Di hadapan makam sang Sultan, sejarah seolah berbisik bahwa meski zaman berganti, semangat pembebasan akan selalu menemukan jalannya untuk saling mengenali.

No comments:

Post a Comment