03 April 2025

Baju PDL Brimob Hijau ini di pakai Taruna Akpol tahun 1985 an, setelah AKABRI KEPOLISIAN menjadi AKPOL.. Yang Sebelumnya menggunakan PDL hijau Army. Macan Akademi Kepolisian sedang makan di Rukan, sepertinya benderanya lagi naik atau karena Taruna tingkat III sedang Latja 😂😂 kok dak nampak ya Taruna Tingkat satu PW Foto tahun 1990

 Baju PDL Brimob Hijau ini di pakai Taruna Akpol tahun 1985 an, setelah AKABRI KEPOLISIAN menjadi AKPOL..


Yang Sebelumnya menggunakan PDL hijau Army.


Macan Akademi Kepolisian sedang makan di Rukan, sepertinya benderanya lagi naik atau karena Taruna tingkat III sedang Latja 😂😂 kok dak nampak ya Taruna Tingkat satu PW 



Foto tahun 1990

Konvoi truck militer Belanda tiba di sebuah kampung saat gencatan senjata pasca perjanjian Renville. Tampak para pejuang indonesia berdiri dan duduk di sepanjang jalan, kemungkinan sebelum keberangkatan ke wilayah Jawa Tengah untuk hijrah. Sukabumi, Februari 1948. (MOHON TAMBAHAN LITERASINYA................) Nationaal Archief #sejarah #jejakkolonial #nostalgianusantara #sejarahindonesia

 Konvoi truck militer Belanda tiba di sebuah kampung saat gencatan senjata pasca perjanjian Renville. Tampak para pejuang indonesia berdiri dan duduk di sepanjang jalan, kemungkinan sebelum keberangkatan ke wilayah Jawa Tengah untuk hijrah. Sukabumi, Februari 1948. 



  Nationaal Archief

 #sejarah #jejakkolonial #nostalgianusantara #sejarahindonesia

Para lelaki pribumi yang di pekerjakan oleh militer Belanda untuk membawa peralatan militer dengan di pikul di wilayah Surabaya, 23 Juli 1947 Nationaal Archief #sejarah #jejakkolonial #nostalgianusantara #sejarahindonesia

 Para lelaki pribumi yang di pekerjakan oleh militer Belanda untuk membawa peralatan militer dengan di pikul di wilayah Surabaya, 23 Juli 1947




  Nationaal Archief

 #sejarah #jejakkolonial #nostalgianusantara #sejarahindonesia

KERUNTUHAN PAKWAN PADJADJARAN VERSI CARITA PARAHYANGAN DAN SADJARAH BANTEN Oleh: Wanto Rangkaian keruntuhan Pakwan Padjadjaran selama 1530-1580 ditulis oleh kedua pihak yang bertikai dalam perspektif masing-masing. Naskah pihak Padjadjaran menuliskan otokritik yang keras terutama pada raja-rajanya, sementara Banten berusaha menarasikan penaklukan yang humanis dan menampilkan Ki Jongjo, orang Pakwan yang berpihak ke Banten dalam peristiwa ini. Padjadjaran mewakili entitas politik pedalaman yang homogen dan berbasis tradisi Austronesia/Austroasitic yang dipengaruhi peradaban Jambudvīpa. Sementara Banten tampil sebagai negeri pesisir, multinasional, dan berideologi Islam yang masih menampilkan diksi-diksi Sansekerta. Mengingatkan pada rangkaian ekspedisi Taruma yang pesisir-kosmopolis terhadap kekuatan pedalaman di muara Sungai Ciaruteun satu millenium sebelumnya. Tradisi literasi yang dimulai akhir 1300an ini terhenti ketika VOC mulai menancapkan kuasanya, terutama di Priangan yang menjadi bagian dari rantai pasok global komoditas pertanian. Sementara Banten yang kewalahan bersaing dengan kekuatan modal global VOC, lebih fokus pada tradisi literasi keislaman yang berpuncak pada sosok Syekh Nawawi al-Bantani. CARITA PARAHYANGAN Naskah ini ditulis sekitar akhir 1500an. Menurut naskah ini, setidaknya ada tiga kali serangan yang ditujukan ke Dayeuh Pakwan pasca Surawisésa. Pertama pada masa Prebu Ratudéwata, dilakukan oleh kelompok rahasia yang disebut Tambuh Sangkané. Serangan ini mencapai Buruan Ageung (alun-alun?) dan memakan korban Tohaan Saréndét dan Tohaan Ratu Sanghiyang. Serangan berikutnya terjadi pada masa Sang Nilakéndra atau Tohaan Di Majaya yang menyebabkan dirinya terusir dari Pakwan. Mungkin satu-satunya raja yang terpaksa meninggalkan kadatwan sejak Trarusbawa memindahkan axis mundi Tatar Sunda ini ke hulu Cipakancilan sembilan abad sebelumnya. Serangan pamungkas terjadi pada masa Nusiya Mulya yang sudah tidak berkedudukan di Pakwan. Carita Parahyangan mencatatnya sebagai sanghara ti Selam, dalam hal ini Demak dan Cirebon. Anehnya, penulis naskah tidak menyebut Banten ketika menulis sanghara ti Selam, padahal naskah ditulis ketika Banten mulai menapaki kejayaannya. SADJARAH BANTEN Naskah ini disusun sekitar tahun 1662/63. Dicatat bahwa Ekspedisi Maulana Hasanuddin (Panĕmbahan) ke Pakwan membawa beberapa kontingen yang dipimpin oleh Utama Diradja, Ki Mahapatih, Senapati Demak Bulu Kanduruhan Pase, Dipati Tĕguh Sela, Ki Laksamana, Ki Kĕtib Pandjang Radja, Radja Balo (Lampung), Ki Danurĕdja dan Syahbandar Kĕling (Tamil). Tugas menduduki Pakwan diserahkan pada Ki Jongjo, mantan punggawa Pakwan yang memihak Banten. Ekspedisi ini diawasi oleh Maulana Jodah (Jeddah). Didalamnya juga terdapat pasukan dari Pakungwati, Angké dan Dĕmak. Sebelum menyerang Pakwan, pasukan ini mendirikan perkemahan di Parungsiaji. Pada malam penyerangan, Ki Jongjo beserta 500 pasukan lebih dulu memasuki gerbang Saharta di selatan Pakwan yang dibukakan dari dalam oleh saudaranya, seorang punggawa Pakwan yang juga mertua Prabu Seda yang sakit hati karena tidak diangkat menjadi seorang sanghyang. Penyerangan tersebut berhasil, Pakwan berhasil direbut. Prabu Seda, Pucuk Umun, Prabu Aleng-Aleng dan Sanghyang Kakaleng menghilang. Para Punggawa yang menyerah kemudian memeluk Islam dan tetap memegang jabatannya. Apakah Prabu Seda adalah Sang Nilakéndra dalam Carita Parahyangan? Sepertinya ada lebih dari satu ekspedisi Banten ke Pakwan karena keberangkatan pasukan dicatat dalam sangkala “Bumi Rusak Rekeh Iki” (1579/80 M) pada masa Maulana Yusup. Menurut Hoesein Djajadiningrat, ada kemungkinan penulis Sadjarah Banten mencampuradukan penyerangan pada masa Maulana Hasanuddin dan Maulana Yusup. Referensi: Drs.Atja & Drs. Saleh Dana Sasmita. (1981). Carita Parahiyangan. Hoesein Djajadiningrat. (1913). Tinjauan Kritis Tentang Sajarah Banten. *Gambar-gambar hanya ilustrasi.

 KERUNTUHAN PAKWAN PADJADJARAN VERSI CARITA PARAHYANGAN DAN SADJARAH BANTEN


Oleh: Wanto 


Rangkaian keruntuhan Pakwan Padjadjaran selama 1530-1580 ditulis oleh kedua pihak yang bertikai dalam perspektif masing-masing. Naskah pihak Padjadjaran menuliskan otokritik yang keras terutama pada raja-rajanya, sementara Banten berusaha menarasikan penaklukan yang humanis dan menampilkan Ki Jongjo, orang Pakwan yang berpihak ke Banten dalam peristiwa ini.



Padjadjaran mewakili entitas politik pedalaman yang homogen dan berbasis tradisi Austronesia/Austroasitic yang dipengaruhi peradaban Jambudvīpa. Sementara Banten tampil sebagai negeri pesisir, multinasional, dan berideologi Islam yang masih menampilkan diksi-diksi Sansekerta. Mengingatkan pada rangkaian ekspedisi Taruma yang pesisir-kosmopolis terhadap kekuatan pedalaman di muara Sungai Ciaruteun satu millenium sebelumnya.


Tradisi literasi yang dimulai akhir 1300an ini terhenti ketika VOC mulai menancapkan kuasanya, terutama di Priangan yang menjadi bagian dari rantai pasok global komoditas pertanian. Sementara Banten yang kewalahan bersaing dengan kekuatan modal global VOC, lebih fokus pada tradisi literasi keislaman yang berpuncak pada sosok Syekh Nawawi al-Bantani.


CARITA PARAHYANGAN


Naskah ini ditulis sekitar akhir 1500an. Menurut naskah ini, setidaknya ada tiga kali serangan yang ditujukan ke Dayeuh Pakwan pasca Surawisésa. Pertama pada masa Prebu Ratudéwata, dilakukan oleh kelompok rahasia yang disebut Tambuh Sangkané. Serangan ini mencapai Buruan Ageung (alun-alun?) dan memakan korban Tohaan Saréndét dan Tohaan Ratu Sanghiyang.


Serangan berikutnya terjadi pada masa Sang Nilakéndra atau Tohaan Di Majaya yang menyebabkan dirinya terusir dari Pakwan. Mungkin satu-satunya raja yang terpaksa meninggalkan kadatwan sejak Trarusbawa memindahkan axis mundi Tatar Sunda ini ke hulu Cipakancilan sembilan abad sebelumnya.


Serangan pamungkas terjadi pada masa Nusiya Mulya yang sudah tidak berkedudukan di Pakwan. Carita Parahyangan mencatatnya sebagai sanghara ti Selam, dalam hal ini Demak dan Cirebon.


Anehnya, penulis naskah tidak menyebut Banten ketika menulis sanghara ti Selam, padahal naskah ditulis ketika Banten mulai menapaki kejayaannya.


SADJARAH BANTEN


Naskah ini disusun sekitar tahun 1662/63. Dicatat bahwa Ekspedisi Maulana Hasanuddin (Panĕmbahan) ke Pakwan membawa beberapa kontingen yang dipimpin oleh Utama Diradja, Ki Mahapatih, Senapati Demak Bulu Kanduruhan Pase, Dipati Tĕguh Sela, Ki Laksamana, Ki Kĕtib Pandjang Radja, Radja Balo (Lampung), Ki Danurĕdja dan Syahbandar Kĕling (Tamil).


Tugas menduduki Pakwan diserahkan pada Ki Jongjo, mantan punggawa Pakwan yang memihak Banten. Ekspedisi ini diawasi oleh Maulana Jodah (Jeddah). Didalamnya juga terdapat pasukan dari Pakungwati, Angké dan Dĕmak. Sebelum menyerang Pakwan, pasukan ini mendirikan perkemahan di Parungsiaji.

Pada malam penyerangan, Ki Jongjo beserta 500 pasukan lebih dulu memasuki gerbang Saharta di selatan Pakwan yang dibukakan dari dalam oleh saudaranya, seorang punggawa Pakwan yang juga mertua Prabu Seda yang sakit hati karena tidak diangkat menjadi seorang sanghyang.


Penyerangan tersebut berhasil, Pakwan berhasil direbut. Prabu Seda, Pucuk Umun, Prabu Aleng-Aleng dan Sanghyang Kakaleng menghilang. Para Punggawa yang menyerah kemudian memeluk Islam dan tetap memegang jabatannya. Apakah Prabu Seda adalah Sang Nilakéndra dalam Carita Parahyangan?


Sepertinya ada lebih dari satu ekspedisi Banten ke Pakwan karena keberangkatan pasukan dicatat dalam sangkala “Bumi Rusak Rekeh Iki” (1579/80 M) pada masa Maulana Yusup. Menurut Hoesein Djajadiningrat, ada kemungkinan penulis Sadjarah Banten mencampuradukan penyerangan pada masa Maulana Hasanuddin dan Maulana Yusup.


Referensi:

Drs.Atja & Drs. Saleh Dana Sasmita. (1981). Carita Parahiyangan.

Hoesein Djajadiningrat. (1913). Tinjauan Kritis Tentang Sajarah Banten.


*Gambar-gambar hanya ilustrasi.

Empat pejuang Indonesia yang tertangkap membopong rekannya yang gugur melewati para prajurit KNIL Belanda, sementara seorang prajurit KNIL berjalan di belakang mereka di Wilayah Surabaya, 24 Juli 1947. (MOHON TAMBAHAN LITERASINYA................) Nationaal Archief #sejarah #jejakkolonial #nostalgianusantara #sejarahindonesia

 Empat pejuang Indonesia yang tertangkap membopong rekannya yang gugur melewati para prajurit KNIL Belanda, sementara seorang prajurit KNIL berjalan di belakang mereka di Wilayah Surabaya, 24 Juli 1947. 






  Nationaal Archief

 





02 April 2025

Kereta api di jembatan kereta api di atas Kali Progo di Temanggoeng di jalur dari Setjang ke Parakan. sekitar tahun 1900

 Kereta api di jembatan kereta api di atas Kali Progo di Temanggoeng di jalur dari Setjang ke Parakan. sekitar tahun 1900



Sumber : Andre Owen

Sketsa tiga penjaga malam di Batavia, dengan kentongan, galah penangkap maling, serta kendi air, sketsa ini diterbitkan di Amsterdam pada tahun 1883

 Sketsa tiga penjaga malam di Batavia, dengan kentongan, galah penangkap maling, serta kendi air, sketsa ini diterbitkan di Amsterdam pada tahun 1883





Kamu yang sering naik bis antar kota harus tau nih sejarah perintis Usaha Otobus di Indonesia! Ini adalah cikal bakal dari PO bus yang ada di Indonesia, Sebelum adanya mode transportasi mesin, Masyarakat masih menggunakan transportasi umum berupa pedati (gerobak sapi) untuk angkutan barang dan dokar (kereta kuda) untuk angkutan penumpang. Sekitar tahun 1920an Seorang perantauan keturunan Cina-Jawa dari Kudus yakni Kwa Tjwan Ing bersama istrinya Siauw King Nio memulai usaha Autoverhuurder atau persewaan mobil dengan beberapa unit mobil kecil pada tahun 1921. Autoverhuurder ini melayani berbagai keperluan tidak hanya di dalam kota, namun juga melayani tujuan luar kota. kehadiran layanan sewa mobil, utamanya warga Belanda dan Eropa lain yang antusias dengan moda baru ini. Mereka yang terbiasanya menggunakan moda transportasi dokar mulai berpindah ke moda transportasi mobil. Perpindahan tersebut karena efisiensi waktu karena mobil dapat lebih cepat dari dokar, lebih aman dan nyaman dan lebih prestisius karena harga sewa mobil yang lebih tinggi saat itu. Pada tahun 1923 Kwa Tjwan Ing mempelopori PO bus pertama yang ada di indonesia dengan Brand ESTO yang merupakan akronim dari Eerste Salatigasche Transport Onderneming atau dalam bahasa Indonesia berarti Perusahaan Transportasi Pertama Salatiga Generasi perintis bus menggunakan casis merek Ford, sedangkan generasi kedua bus ESTO teridentifikasi menggunakan sasis merek Chevrolet yang berasal dari Amerika Serikat. Sasis dengan merek Chevrolet ini yang nantinya menjadi sasis favorit pilihan ESTO sampai masa pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Kaca kendaraan hanya terletak di sisi depan, sedangkan pintu serta jendela di sisi samping dan belakang tanpa kaca. Ruangan bus terbagi atas tiga bagian, bagian depan tepat di belakang mesin, bagian tengah, dan bagian belakang. Layanan yang ditawarkan ESTO mengikuti permintaan tatanan sosial saat itu yang memisahkan warga Belanda dengan warga bumiputra. Generasi pertama bus ESTO berkapasitas total 16-18 penumpang termasuk kru. Bagian depan bus berfungsi sebagai ruang kemudi untuk satu pengemudi dan satu penumpang. Bagian tengah diperuntukan sebagai layanan kelas satu berkonfigurasi kursi nyaman menghadap depan untuk warga Belanda, kelas satu ini berkapasitas enam penumpang. Sedangkan yang terakhir, kelas kedua berkonfigurasi bangku rotan panjang menghadap belakang untuk warga bumiputra, kapasitas yang mampu disediakan pada kelas ini yaitu sepuluh penumpang. Penumpang membayar tiket jasa transportasi bus kepada seorang kondektur yang berdiri di pintu belakang dengan tarif yang tentunya berbeda yakni 20 sen untuk kelas satu dan 10 sen untuk kelas dua. Namun sayang sekali Simbah ESTO harus mengakhiri pengabdian di nafas terakhirnya pada tahun 2018, lima tahun sebelum usianya genap menginjak 100 tahun.

 Kamu yang sering naik bis antar kota harus tau nih sejarah perintis Usaha Otobus di Indonesia!

Ini adalah cikal bakal dari PO bus yang ada di Indonesia, Sebelum adanya mode transportasi mesin, Masyarakat masih menggunakan transportasi umum berupa pedati (gerobak sapi) untuk angkutan barang dan dokar (kereta kuda) untuk angkutan penumpang.



Sekitar tahun 1920an Seorang perantauan keturunan Cina-Jawa dari Kudus yakni Kwa Tjwan Ing bersama istrinya Siauw King Nio memulai usaha Autoverhuurder atau persewaan mobil dengan beberapa unit mobil kecil pada tahun 1921. Autoverhuurder ini melayani berbagai keperluan tidak hanya di dalam kota, namun juga melayani tujuan luar kota. 

kehadiran layanan sewa mobil, utamanya warga Belanda dan Eropa lain yang antusias dengan moda baru ini. Mereka yang terbiasanya menggunakan moda transportasi dokar mulai berpindah ke moda transportasi mobil. Perpindahan tersebut karena efisiensi waktu karena mobil dapat lebih cepat dari dokar, lebih aman dan nyaman dan lebih prestisius karena harga sewa mobil yang lebih tinggi saat itu.

Pada tahun 1923 Kwa Tjwan Ing mempelopori PO bus pertama yang ada di indonesia dengan Brand ESTO yang merupakan akronim dari Eerste Salatigasche Transport Onderneming atau dalam bahasa Indonesia berarti Perusahaan Transportasi Pertama Salatiga

Generasi perintis bus menggunakan casis merek Ford, sedangkan generasi kedua bus ESTO teridentifikasi menggunakan sasis merek Chevrolet yang berasal dari Amerika Serikat. Sasis dengan merek Chevrolet ini yang nantinya menjadi sasis favorit pilihan ESTO sampai masa pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Kaca kendaraan hanya terletak di sisi depan, sedangkan pintu serta jendela di sisi samping dan belakang tanpa kaca. Ruangan bus terbagi atas tiga bagian, bagian depan tepat di belakang mesin, bagian tengah, dan bagian belakang.

Layanan yang ditawarkan ESTO mengikuti permintaan tatanan sosial saat itu yang memisahkan warga Belanda dengan warga bumiputra. Generasi pertama bus ESTO berkapasitas total 16-18 penumpang termasuk kru. Bagian depan bus berfungsi sebagai ruang kemudi untuk satu pengemudi dan satu penumpang. Bagian tengah diperuntukan sebagai layanan kelas satu berkonfigurasi kursi nyaman menghadap depan untuk warga Belanda, kelas satu ini berkapasitas enam penumpang. Sedangkan yang terakhir, kelas kedua berkonfigurasi bangku rotan panjang menghadap belakang untuk warga bumiputra, kapasitas yang mampu disediakan pada kelas ini yaitu sepuluh penumpang. Penumpang membayar tiket jasa transportasi bus kepada seorang kondektur yang berdiri di pintu belakang dengan tarif yang tentunya berbeda yakni 20 sen untuk kelas satu dan 10 sen untuk kelas dua.

Namun sayang sekali Simbah ESTO harus mengakhiri pengabdian di nafas terakhirnya pada tahun 2018, lima tahun sebelum usianya genap menginjak 100 tahun.

Nyi Mas Saritem Memiliki nama asli Nyi Mas Ayu Permatasari. Ibunya bernama Sri Arum Ningrum, ayahnya bernama Raden Arya Sutajaya. Menikah dengan Kolonel Peter Van De Hood seorang Komandan Militer di Bandung pada saat itu. Nyai Saritem digambarkan sebagai sosok wanita berparas cantik bersanggul ayu dan berkebaya ala wanita Sunda tempo dulu. Saritem awal mulanya nama panggilan dari seseorang berasal dari daerah Semarang yang memperkenalkan kepada teman-temannya bahwa di suatu tempat di Bandung ada seorang perempuan cantik memiliki warna kulit sari - sari item (hitam). Nyi Mas Saritem datang dari Sumedang ke suatu tempat yang berada Bandung, yang jauh sebelum dia datang, tempat tersebut sudah menjadi tempat prostitusi. Dengan tujuan untuk membela dan membebaskan kaum wanita yang termarjinalkan agar tidak terjerumus ketempat itu. Dia ingin membersihkan nama tempat tersebut dengan cara mendatangi pemerintahan Hindia-belanda meminta agar menutup tempat tersebut. Kalaupun para laki-laki yang datang ke tempat itu menginginkan perempuan yang ada disana, harus dinikahi secara resmi. Semua kisah tentang Saritem dijadikan sebuah buku oleh Aan Merdeka Permana (Jurnalis dan Sastrawan) dengan judul “Saritem”, pada saat wawancara dalam acara Obrolan Budaya RRI Net Produksi RRI Bandung. Kang Aan menuturkan harapannya menulis buku tersebut untuk mencoba agar bisa merubah penilaian masyarakat bahwa Saritem bukan seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) tetapi Saritem adalah seorang pahlawan. Karena menurutnya secara logika ketika sesorang diabadikan namanya dapat diartikan orang tersebut telah memiliki jasa dan kesan yang baik. Sampai saat ini, Saritem diabadikan dalam bentuk jalan yang bisa diakses dari arah Gardujati maupun dari Jalan Jenderal Sudirman. Itulah sejarah singkat tentang perjuangan Nyi Mas Saritem seorang bangsawan Keturunan Kerajaan Sumedang Larang.

 Nyi Mas Saritem Memiliki nama asli Nyi Mas Ayu Permatasari. Ibunya bernama Sri Arum Ningrum, ayahnya bernama Raden Arya Sutajaya. Menikah dengan Kolonel Peter Van De Hood seorang Komandan Militer di Bandung pada saat itu.



Nyai Saritem digambarkan sebagai sosok wanita berparas cantik bersanggul ayu dan berkebaya ala wanita Sunda tempo dulu. Saritem awal mulanya nama panggilan dari seseorang berasal dari daerah Semarang yang memperkenalkan kepada teman-temannya bahwa di suatu tempat di Bandung ada seorang perempuan cantik memiliki warna kulit sari - sari item (hitam). 


Nyi Mas Saritem datang dari Sumedang ke suatu tempat yang berada Bandung, yang jauh sebelum dia datang, tempat tersebut sudah menjadi tempat prostitusi. Dengan tujuan untuk membela dan membebaskan  kaum wanita yang termarjinalkan agar tidak terjerumus ketempat itu.


Dia ingin membersihkan nama tempat tersebut dengan cara mendatangi pemerintahan Hindia-belanda meminta agar menutup tempat tersebut. Kalaupun para laki-laki yang datang ke tempat itu menginginkan perempuan yang ada disana, harus dinikahi secara resmi.


Semua kisah tentang Saritem dijadikan sebuah buku oleh Aan Merdeka Permana (Jurnalis dan Sastrawan) dengan judul “Saritem”, pada saat wawancara dalam acara Obrolan Budaya RRI Net Produksi RRI Bandung.  


Kang Aan menuturkan harapannya menulis buku tersebut untuk mencoba agar  bisa merubah penilaian masyarakat bahwa Saritem bukan seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) tetapi Saritem adalah seorang pahlawan. Karena menurutnya secara logika ketika sesorang diabadikan namanya dapat diartikan orang tersebut telah memiliki jasa dan kesan yang baik.


Sampai saat ini, Saritem diabadikan dalam bentuk jalan yang bisa diakses dari arah Gardujati maupun dari Jalan Jenderal Sudirman. Itulah sejarah singkat tentang perjuangan Nyi Mas Saritem seorang bangsawan Keturunan Kerajaan Sumedang Larang.

01 April 2025

Sejarah Salat Id di Lapangan pada Masa Kolonial Belanda, Organisasi Ini Pelopornya ______________________________________________ Pemerintah Hindia Belanda tidak melarang pelaksanaan salat Idul Fitri. Pihak kolonial bahkan mengizinkan pelaksanaannya untuk dilakukan di tempat terbuka dan tidak melarang penggunaan pengeras suara. Ketika itu, pemerintah Belanda ikut menyediakan transportasi ekstra. Salah satu pelaksanaan salat Idul Fitri yang diliput oleh media waktu itu adalah salat Id yang diselenggarakan di Waterlooplein atau Lapangan Waterloo. Kini Waterlooplein merupakan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. "Tahun ini adalah kedua belas kalinya ibadah ritual semacam itu diselenggarakan di tempat terbuka di ibukota negara," tulis Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie, pada halaman 6 kolom 2 (9 November 1939), dikutip dari arsip detikcom. Sebelum hari raya, media mengabarkan apakah Aidil Fitri-gebed atau salat Ied di Waterlooplein jadi dilaksanakan atau tidak. Panitia salat Idul Fitri di sana terdiri dari 14 organisasi massa dan mendapat dukungan berbagai pihak. Ketika pelaksanaannya, dikerahkan trem ekstra dari Meester Cornelis dan Benedenstad (Batavia Lama) untuk memudahkan aktivitas para muslim menuju Waterlooplein. Pada ibadah salat Id sebagaimana warta tersebut melaporkan, yang bertindak sebagai khotib adalah Hadji Mochtar, mantan anggota Mohammadijah. Sedangkan yang bertindak sebagai imam adalah Hadji Mohammad Isa, Ketua Hof voor Islamietische Zaken. Muhammadiyah Memelopori Salat Id di Lapangan Dikutip dari buku Matahari Pembaruan: Rekam Jejak KH Ahmad Dahlan oleh HM Nasruddin Anshoriy Ch, Muhammadiyah memelopori pelaksanaan salat Idul Fitri dan Idul Adha di lapangan. Salat di lapangan dinilai dapat menjaring jamaah lebih luas dibandingkan di masjid atau langgar. Syiar agama juga disebut lebih cemerlang dan mencapai daerah lebih luas. Efek psikologis salat Id di lapangan dirasa lebih besar. Muhammadiyah sendiri pertama kali menyelenggarakan salat Id di lapangan Kota Yogyakarta pada Idul Fitri 1342 Hijriah atau 1925 M dengan dihadiri sekitar 5.000 jamaah. Pada tahun yang sama Muhammadiyah juga mengadakan salat Idul Adha. Gebrakan Muhammadiyah itu menggemparkan kaum konservatif dan sempat ditentang pemerintah Hindia Belanda karena dinilai mengganggu ketertiban. Pada kongres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya pada 1926, mereka memutuskan semua cabang Muhammadiyah agar menyelenggarakan salat Id di lapangan. Pemerintah Hindia Belanda kemudian bertindak sebagai pihak yang menetapkan peraturan yakni setiap salat Id di lapangan terlebih dahulu harus memperoleh izin kepolisian. Kemudian kerap terjadi peristiwa salat Id di lapangan dihalang-halangi atau dibubarkan karena belum memperoleh izin atau tidak dimintakan izin. Sehingga ada banyak pengurus Muhammadiyah yang ditahan atau didengar kesaksiannya oleh polisi karena masalah salat Id di lapangan. Pada kongres Muhammadiyah ke-23 di Yogyakarta pada 1934, akhirnya diputuskan setiap cabang yang akan melaksanakan salat id di lapangan tidak perlu minta izin polisi, tetapi cukup memberi tahu. Misalnya dipaksa harus minta izin, maka permintaan izin cukup satu kali untuk selama-lamanya dan untuk seluruh Indonesia.

 Sejarah Salat Id di Lapangan pada Masa Kolonial Belanda, Organisasi Ini Pelopornya

______________________________________________


Pemerintah Hindia Belanda tidak melarang pelaksanaan salat Idul Fitri. Pihak kolonial bahkan mengizinkan pelaksanaannya untuk dilakukan di tempat terbuka dan tidak melarang penggunaan pengeras suara. Ketika itu, pemerintah Belanda ikut menyediakan transportasi ekstra.

Salah satu pelaksanaan salat Idul Fitri yang diliput oleh media waktu itu adalah salat Id yang diselenggarakan di Waterlooplein atau Lapangan Waterloo. Kini Waterlooplein merupakan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.



"Tahun ini adalah kedua belas kalinya ibadah ritual semacam itu diselenggarakan di tempat terbuka di ibukota negara," tulis Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie, pada halaman 6 kolom 2 (9 November 1939), dikutip dari arsip detikcom.


Sebelum hari raya, media mengabarkan apakah Aidil Fitri-gebed atau salat Ied di Waterlooplein jadi dilaksanakan atau tidak. Panitia salat Idul Fitri di sana terdiri dari 14 organisasi massa dan mendapat dukungan berbagai pihak. Ketika pelaksanaannya, dikerahkan trem ekstra dari Meester Cornelis dan Benedenstad (Batavia Lama) untuk memudahkan aktivitas para muslim menuju Waterlooplein.


Pada ibadah salat Id sebagaimana warta tersebut melaporkan, yang bertindak sebagai khotib adalah Hadji Mochtar, mantan anggota Mohammadijah. Sedangkan yang bertindak sebagai imam adalah Hadji Mohammad Isa, Ketua Hof voor Islamietische Zaken. Muhammadiyah Memelopori Salat Id di Lapangan

Dikutip dari buku Matahari Pembaruan: Rekam Jejak KH Ahmad Dahlan oleh HM Nasruddin Anshoriy Ch, Muhammadiyah memelopori pelaksanaan salat Idul Fitri dan Idul Adha di lapangan. Salat di lapangan dinilai dapat menjaring jamaah lebih luas dibandingkan di masjid atau langgar.


Syiar agama juga disebut lebih cemerlang dan mencapai daerah lebih luas. Efek psikologis salat Id di lapangan dirasa lebih besar.

Muhammadiyah sendiri pertama kali menyelenggarakan salat Id di lapangan Kota Yogyakarta pada Idul Fitri 1342 Hijriah atau 1925 M dengan dihadiri sekitar 5.000 jamaah. Pada tahun yang sama Muhammadiyah juga mengadakan salat Idul Adha.


Gebrakan Muhammadiyah itu menggemparkan kaum konservatif dan sempat ditentang pemerintah Hindia Belanda karena dinilai mengganggu ketertiban. Pada kongres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya pada 1926, mereka memutuskan semua cabang Muhammadiyah agar menyelenggarakan salat Id di lapangan. Pemerintah Hindia Belanda kemudian bertindak sebagai pihak yang menetapkan peraturan yakni setiap salat Id di lapangan terlebih dahulu harus memperoleh izin kepolisian.


Kemudian kerap terjadi peristiwa salat Id di lapangan dihalang-halangi atau dibubarkan karena belum memperoleh izin atau tidak dimintakan izin. Sehingga ada banyak pengurus Muhammadiyah yang ditahan atau didengar kesaksiannya oleh polisi karena masalah salat Id di lapangan.

Pada kongres Muhammadiyah ke-23 di Yogyakarta pada 1934, akhirnya diputuskan setiap cabang yang akan melaksanakan salat id di lapangan tidak perlu minta izin polisi, tetapi cukup memberi tahu. Misalnya dipaksa harus minta izin, maka permintaan izin cukup satu kali untuk selama-lamanya dan untuk seluruh Indonesia.