KERUNTUHAN PAKWAN PADJADJARAN VERSI CARITA PARAHYANGAN DAN SADJARAH BANTEN
Oleh: Wanto
Rangkaian keruntuhan Pakwan Padjadjaran selama 1530-1580 ditulis oleh kedua pihak yang bertikai dalam perspektif masing-masing. Naskah pihak Padjadjaran menuliskan otokritik yang keras terutama pada raja-rajanya, sementara Banten berusaha menarasikan penaklukan yang humanis dan menampilkan Ki Jongjo, orang Pakwan yang berpihak ke Banten dalam peristiwa ini.
Padjadjaran mewakili entitas politik pedalaman yang homogen dan berbasis tradisi Austronesia/Austroasitic yang dipengaruhi peradaban Jambudvīpa. Sementara Banten tampil sebagai negeri pesisir, multinasional, dan berideologi Islam yang masih menampilkan diksi-diksi Sansekerta. Mengingatkan pada rangkaian ekspedisi Taruma yang pesisir-kosmopolis terhadap kekuatan pedalaman di muara Sungai Ciaruteun satu millenium sebelumnya.
Tradisi literasi yang dimulai akhir 1300an ini terhenti ketika VOC mulai menancapkan kuasanya, terutama di Priangan yang menjadi bagian dari rantai pasok global komoditas pertanian. Sementara Banten yang kewalahan bersaing dengan kekuatan modal global VOC, lebih fokus pada tradisi literasi keislaman yang berpuncak pada sosok Syekh Nawawi al-Bantani.
CARITA PARAHYANGAN
Naskah ini ditulis sekitar akhir 1500an. Menurut naskah ini, setidaknya ada tiga kali serangan yang ditujukan ke Dayeuh Pakwan pasca Surawisésa. Pertama pada masa Prebu Ratudéwata, dilakukan oleh kelompok rahasia yang disebut Tambuh Sangkané. Serangan ini mencapai Buruan Ageung (alun-alun?) dan memakan korban Tohaan Saréndét dan Tohaan Ratu Sanghiyang.
Serangan berikutnya terjadi pada masa Sang Nilakéndra atau Tohaan Di Majaya yang menyebabkan dirinya terusir dari Pakwan. Mungkin satu-satunya raja yang terpaksa meninggalkan kadatwan sejak Trarusbawa memindahkan axis mundi Tatar Sunda ini ke hulu Cipakancilan sembilan abad sebelumnya.
Serangan pamungkas terjadi pada masa Nusiya Mulya yang sudah tidak berkedudukan di Pakwan. Carita Parahyangan mencatatnya sebagai sanghara ti Selam, dalam hal ini Demak dan Cirebon.
Anehnya, penulis naskah tidak menyebut Banten ketika menulis sanghara ti Selam, padahal naskah ditulis ketika Banten mulai menapaki kejayaannya.
SADJARAH BANTEN
Naskah ini disusun sekitar tahun 1662/63. Dicatat bahwa Ekspedisi Maulana Hasanuddin (Panĕmbahan) ke Pakwan membawa beberapa kontingen yang dipimpin oleh Utama Diradja, Ki Mahapatih, Senapati Demak Bulu Kanduruhan Pase, Dipati Tĕguh Sela, Ki Laksamana, Ki Kĕtib Pandjang Radja, Radja Balo (Lampung), Ki Danurĕdja dan Syahbandar Kĕling (Tamil).
Tugas menduduki Pakwan diserahkan pada Ki Jongjo, mantan punggawa Pakwan yang memihak Banten. Ekspedisi ini diawasi oleh Maulana Jodah (Jeddah). Didalamnya juga terdapat pasukan dari Pakungwati, Angké dan Dĕmak. Sebelum menyerang Pakwan, pasukan ini mendirikan perkemahan di Parungsiaji.
Pada malam penyerangan, Ki Jongjo beserta 500 pasukan lebih dulu memasuki gerbang Saharta di selatan Pakwan yang dibukakan dari dalam oleh saudaranya, seorang punggawa Pakwan yang juga mertua Prabu Seda yang sakit hati karena tidak diangkat menjadi seorang sanghyang.
Penyerangan tersebut berhasil, Pakwan berhasil direbut. Prabu Seda, Pucuk Umun, Prabu Aleng-Aleng dan Sanghyang Kakaleng menghilang. Para Punggawa yang menyerah kemudian memeluk Islam dan tetap memegang jabatannya. Apakah Prabu Seda adalah Sang Nilakéndra dalam Carita Parahyangan?
Sepertinya ada lebih dari satu ekspedisi Banten ke Pakwan karena keberangkatan pasukan dicatat dalam sangkala “Bumi Rusak Rekeh Iki” (1579/80 M) pada masa Maulana Yusup. Menurut Hoesein Djajadiningrat, ada kemungkinan penulis Sadjarah Banten mencampuradukan penyerangan pada masa Maulana Hasanuddin dan Maulana Yusup.
Referensi:
Drs.Atja & Drs. Saleh Dana Sasmita. (1981). Carita Parahiyangan.
Hoesein Djajadiningrat. (1913). Tinjauan Kritis Tentang Sajarah Banten.
*Gambar-gambar hanya ilustrasi.