15 October 2026

Setelah Kolonel Soetarto tewas pada 2 Juli 1948 oleh seorang penembak misterius, situasi berkembang genting di kota Solo. Terjadi beberapa kali peristiwa penculikan. Pagi hari, 1 September, dua warga Kampung Sudiroprajan diculik. Slamet Widjaja dan Pardijo, aktivis FDR Solo, semula hendak bertemu pegawai PAM (Pengawas Aliran Masyarakat) Alip Hartojo. Sesuai perjanjian mereka akan bertemu di Restoran Mien Satoe. Namun ketika mereka bertemu di perempatan Warung Pelem, Slamet dan Pardijo dinaikkan ke sebuah truk tentara yang telah menunggu di sebelah utara perempatan. Mereka kemudian dibawa ke Pabrik Gula Tasikmadu. Ternyata Alip Hartojo adalah seorang intel. Kemudian Letkol. Soejoto, Komandan Brigade VIII Senopati, berusaha mencari keberadaan mereka. Pada 7 September, diutus 5 perwira, salah satunya adalah Komandan Batalyon Esmara Sugeng. Mereka menuju Srambatan, di Markas Brigade Siliwangi, karena kabarnya ditahan di markas itu. Namun mereka juga hilang, tak ada kabarnya. Sehari kemudian Soeadi mengirim Letkol. Suharman untuk mencari tahu. Tapi Suharman juga tidak pernah kembali. Tentu saja Soeadi menjadi sangat marah, perwiranya hilang seorang demi seorang. Kemudian tanggal 10 September Soeadi mengeluarkan ultimatum kepada Siliwangi, selambatnya pada 13 September, pukul 14.00, orang-orang yang hilang itu harus dibebaskan. Jika tidak, serangan akan dilakukan (Harry A. Poeze, 2011:115-116). Konflik terbuka antara Senopati dan Siliwangi, tak terhindarkan lagi. Sekitar pukul 12.30, Mayor Soetarno, Komandan Batalyon dalam Brigade TLRI dari Senopati, dengan sebuah truk menuju Srambatan, bermaksud hendak melihat situasi. “Ketika turun dari truk, ia disambut dengan tembakan. Ia dan beberapa beberapa orang pengawalnya tewas di tempat.” Kesabaran Soeadi sudah habis. Pagi hari, 17 September, ia mulai melakukan penyerangan. Garis pertahanan pertama pasukan Barisan Banteng berhasil direbut. Petang hari, pertempuran berhenti. Keesokan harinya, pertempuran berlanjut di dalam kota. Tapi medan pertempuran bergeser ke arah selatan. Selama beberapa hari berlangsung konflik terbuka antara Senopati/TLRI dan Siliwangi suasana kota Solo sepi. Seorang wartawan “Pacific” menulis: Solo sepi. Sejauh mata memandang, di lorong-lorong yang biasanya ramai, banyak mobil lalu-lalang, becak berbaris dan andong beriring-iring, sepeda laki dan perempuan bergandeng-gandeng, sore ini kelihatan sepi… Sedangkan reporter “Sin Po” melaporkan situasi kota Solo tanggal 19 September, … suasana jalan-jalan sangat sepi, hanya ada satu-dua andong dan becak saja. Penduduk tetap berada di dalam rumah, toko-toko dan pasar-pasar umumnya masih tutup (Harry A. Poeze, 2011:115-136).

 Setelah Kolonel Soetarto tewas pada 2 Juli 1948 oleh seorang penembak misterius, situasi berkembang genting di kota Solo. Terjadi beberapa kali peristiwa penculikan. 



Pagi hari, 1 September, dua warga Kampung Sudiroprajan diculik. Slamet Widjaja dan Pardijo, aktivis FDR Solo, semula hendak bertemu pegawai PAM (Pengawas Aliran Masyarakat) Alip Hartojo. Sesuai perjanjian mereka akan bertemu di Restoran Mien Satoe. Namun ketika mereka bertemu di perempatan Warung Pelem, Slamet dan Pardijo dinaikkan ke sebuah truk tentara yang telah menunggu di sebelah utara perempatan. Mereka kemudian dibawa ke Pabrik Gula Tasikmadu. Ternyata Alip Hartojo adalah seorang intel.


Kemudian Letkol. Soejoto, Komandan Brigade VIII Senopati, berusaha mencari keberadaan mereka. Pada 7 September, diutus 5 perwira, salah satunya adalah Komandan Batalyon Esmara Sugeng. Mereka menuju Srambatan, di Markas Brigade Siliwangi, karena kabarnya ditahan di markas itu. Namun mereka juga hilang, tak ada kabarnya. Sehari kemudian Soeadi mengirim Letkol. Suharman untuk mencari tahu. Tapi Suharman juga tidak pernah kembali.


Tentu saja Soeadi menjadi sangat marah, perwiranya hilang seorang demi seorang. Kemudian tanggal 10 September Soeadi mengeluarkan ultimatum kepada Siliwangi, selambatnya pada 13 September, pukul 14.00, orang-orang yang hilang itu harus dibebaskan. Jika tidak, serangan akan dilakukan (Harry A. Poeze, 2011:115-116). 


Konflik terbuka antara Senopati dan Siliwangi, tak terhindarkan lagi. Sekitar pukul 12.30, Mayor Soetarno, Komandan Batalyon dalam Brigade TLRI dari Senopati, dengan sebuah truk menuju Srambatan, bermaksud hendak melihat situasi. “Ketika turun dari truk, ia disambut dengan tembakan. Ia dan beberapa beberapa orang pengawalnya tewas di tempat.”


Kesabaran Soeadi sudah habis. Pagi hari, 17 September, ia mulai melakukan penyerangan. Garis pertahanan pertama pasukan Barisan Banteng berhasil direbut. Petang hari, pertempuran berhenti. Keesokan harinya, pertempuran berlanjut di dalam kota. Tapi medan pertempuran bergeser ke arah selatan.

Selama beberapa hari berlangsung konflik terbuka antara Senopati/TLRI dan Siliwangi suasana kota Solo sepi. 


Seorang wartawan “Pacific” menulis: Solo sepi. Sejauh mata memandang, di lorong-lorong yang biasanya ramai, banyak mobil lalu-lalang, becak berbaris dan andong beriring-iring, sepeda laki dan perempuan bergandeng-gandeng, sore ini kelihatan sepi…


Sedangkan reporter “Sin Po” melaporkan situasi kota Solo tanggal 19 September, … suasana jalan-jalan sangat sepi, hanya ada satu-dua andong dan becak saja. Penduduk tetap berada di dalam rumah, toko-toko dan pasar-pasar umumnya masih tutup (Harry A. Poeze, 2011:115-136).


Sumber ; Melek Sejarah

No comments:

Post a Comment