Turun Demi Menyelamatkan Keluarga, Sang Jenderal Justru Pergi Untuk Selamanya.
1 Oktober 1965 menjadi salah satu bagian paling kelam
dalam sejarah Indonesia.Sekitar pukul 04.00 WIB, pasukan tentara yang terdiri dari satu peleton pasukan gabungan (dipimpin Serda Soekardjo dari Batalyon 454 Banteng Raiders dan unsur Pemuda Rakyat/Tjakrabirawa) tiba di rumah D.I. Panjaitan. Mereka datang menggunakan truk militer dan mengepung kediaman sang jenderal dengan dalih dipanggil oleh Presiden Soekarno. Mendengar keributan dan kaca jendela yang dipecahkan, D.I. Panjaitan yang saat itu menjabat sebagai Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat bidang Logistik sempat berniat menelepon untuk melapor, namun saluran telepon telah diputus atau tidak berfungsi.
Panjaitan awalnya tidak mau langsung turun dari lantai dua rumahnya.Pasukan penculik yang mulai kehilangan kesabaran akibat keterlambatan jadwal, mengancam akan menembak dan membunuh seluruh anggota keluarga jika beliau menolak keluar.
Demi keselamatan istri dan anak-anaknya, Brigjen Panjaitan mengenakan seragam kebesaran militer lengkap lalu menuruni tangga dari lantai dua menuju halaman rumah.
Namun kekacauan terjadi di halaman depan.Beliau berusaha melakukan perlawanan sehingga dipukul dan ditembak mati di tempat di halaman rumahnya sendiri di hadapan keluarganya yang kemudian histeris.
Jenazah beliau kemudian diangkut ke daerah Lubang
Buaya, Jakarta Timur,dan dimasukkan ke dalam sumur maut bersama para perwira tinggi lainnya.

No comments:
Post a Comment