Jakarta, 7 April 1967 — Ruangan itu terasa hening, hanya deru kipas angin tua dan gesekan lembar-lembar kertas yang memecah kesunyian. Di atas meja kayu yang kokoh, terhampar dokumen-dokumen tebal bersampul resmi.
Lembaran itu bukan sekadar tumpukan kertas biasa, melainkan sebuah cetak biru yang akan mengubah arah sejarah ekonomi sebuah bangsa, serta merombak bentang alam di belahan timur nusantara untuk selamanya.
Di balik meja, atmosfer ketegangan dan harapan bercampur menjadi satu. Ir. Slamet Bratanata, Menteri Pertambangan Indonesia yang baru saja memikul beban berat di pundaknya, duduk dengan tatapan tajam namun waspada. Di sampingnya, berdiri sosok Forbes K. Wilson, Presiden Freeport Indonesia Incorporated, pria paruh baya berkacamata dengan gurat wajah penuh determinasi. Wilson tahu persis apa yang terkubur di bawah tanah sedingin es di puncak Ertsberg,
Papua—sebuah gunung tembaga raksasa yang telah ia impikan sejak ekspedisinya tahun 1960. Bersama mereka, Robert C. Hills dari Freeport Sulphur bersiap menggoreskan pena. Bagi pihak asing, ini adalah pertaruhan bernilai jutaan dolar di sebuah negeri yang baru saja didera pergolakan politik hebat.
Bagi Indonesia yang kala itu kondisi ekonominya sedang carut-marut dengan inflasi yang melambung tinggi, momen ini adalah pertaruhan kedaulatan demi keluar dari jurang kebangkrutan. "Silakan, Tuan-tuan," sebuah isyarat pelan diberikan. Forbes Wilson memajukan tubuhnya, meraih pena, lalu membubuhkan tanda tangannya di atas dokumen Kontrak Karya Pertama (KK I).
Goresan tinta hitam itu mengunci kesepakatan. Kamera-kamera analog milik jurnalis meletupkan kilatan cahaya, mengabadikan setiap detik dari momen yang begitu tenang namun bermakna masif ini. Slamet Bratanata menyaksikan dengan perasaan berkecamuk. Di satu sisi, ketukan palu kesepakatan ini berarti modal asing akan segera mengalir masuk dalam Sistem ekonomi Orde Baru .
Di sisi lain, sebuah babak baru eksploitasi kekayaan alam skala raksasa di tanah Papua resmi dimulai. Gunung suci di pedalaman Mimika itu, kini tak lagi hanya milik angin dan awan, melainkan telah berpindah ke dalam radar industri global. Foto hitam-putih itu menangkap segalanya: formalitas setelan jas, senyuman tipis penuh arti, dan selembar kertas yang menjadi saksi bisu lahirnya salah satu operasi tambang terbesar di muka bumi.
#tambang #sejarah #freeport #papua #indonesia
Sumber : Herdi Mangkubumi

No comments:
Post a Comment