06 October 2026

BURHAN “KAMPAK”: SEBUAH WAJAH DARI LEMBARAN GELAP SEJARAH INDONESIA Ada foto-foto yang tidak sekadar menunjukkan wajah seseorang. Ada foto yang seolah membawa kita kembali ke sebuah zaman—ketika Indonesia sedang berada dalam salah satu periode paling penuh ketegangan dalam sejarahnya. Foto ini adalah salah satunya. Namanya Burhanuddin Zainuddin Rusjiman, yang kemudian dikenal dengan julukan Burhan “Kampak”. Ia berasal dari Yogyakarta. Pada masa itu ia masih muda, seorang mahasiswa Fakultas Hukum UGM dan dikenal sebagai aktivis HMI. Namun sejarah kemudian membawanya ke dalam pusaran konflik politik setelah peristiwa G30S 1965. Dalam kesaksiannya, Burhan menceritakan keterlibatannya dalam kelompok anti-komunis di Yogyakarta. Ia mengaku menggunakan sebuah kapak dalam aksi kekerasan terhadap orang-orang yang ketika itu dituduh memiliki keterkaitan dengan PKI. Julukan “Kampak” kemudian melekat pada dirinya. Kisah Burhan menjadi salah satu kesaksian yang kemudian muncul dalam laporan “Pengakuan Algojo 1965” yang diterbitkan Majalah Tempo pada 2012. Kesaksiannya menggambarkan bagaimana kekerasan politik pada masa itu tidak hanya terjadi di tingkat elite, tetapi juga melibatkan orang-orang biasa yang terseret dalam suasana ketakutan, kebencian, dan pertarungan ideologi. Namun, sebuah foto lama tidak pernah mampu menceritakan seluruh kebenaran dengan sendirinya. Di balik satu wajah terdapat sebuah zaman, dan di balik sebuah zaman terdapat banyak sudut pandang serta kesaksian yang perlu dibaca secara kritis. Karena itu, kisah seperti ini sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai cerita tentang satu orang, tetapi sebagai bagian dari sejarah bangsa yang kompleks dan penuh luka. Lebih dari enam dekade telah berlalu. Generasi berganti, tetapi cerita tentang 1965 masih menjadi bagian penting dalam perjalanan Indonesia. Mengingatnya bukan berarti membenarkan kekerasan, juga bukan berarti membuka kembali permusuhan. Justru dengan mempelajarinya, kita dapat memahami betapa mahal harga yang harus dibayar ketika konflik politik berubah menjadi kekerasan terhadap manusia. Satu foto. Satu wajah. Satu nama. Dan satu potongan sejarah yang pernah benar-benar terjadi. Sejarah mungkin tidak selalu nyaman untuk dibaca, tetapi sejarah tetap perlu dicatat—agar generasi berikutnya belajar bahwa perbedaan politik tidak seharusnya berakhir dengan hilangnya kemanusiaan.

 BURHAN “KAMPAK”: SEBUAH WAJAH DARI LEMBARAN GELAP SEJARAH INDONESIA



Ada foto-foto yang tidak sekadar menunjukkan wajah seseorang. Ada foto yang seolah membawa kita kembali ke sebuah zaman—ketika Indonesia sedang berada dalam salah satu periode paling penuh ketegangan dalam sejarahnya. Foto ini adalah salah satunya.


Namanya Burhanuddin Zainuddin Rusjiman, yang kemudian dikenal dengan julukan Burhan “Kampak”. Ia berasal dari Yogyakarta. Pada masa itu ia masih muda, seorang mahasiswa Fakultas Hukum UGM dan dikenal sebagai aktivis HMI. Namun sejarah kemudian membawanya ke dalam pusaran konflik politik setelah peristiwa G30S 1965.


Dalam kesaksiannya, Burhan menceritakan keterlibatannya dalam kelompok anti-komunis di Yogyakarta. Ia mengaku menggunakan sebuah kapak dalam aksi kekerasan terhadap orang-orang yang ketika itu dituduh memiliki keterkaitan dengan PKI. Julukan “Kampak” kemudian melekat pada dirinya.


Kisah Burhan menjadi salah satu kesaksian yang kemudian muncul dalam laporan “Pengakuan Algojo 1965” yang diterbitkan Majalah Tempo pada 2012. Kesaksiannya menggambarkan bagaimana kekerasan politik pada masa itu tidak hanya terjadi di tingkat elite, tetapi juga melibatkan orang-orang biasa yang terseret dalam suasana ketakutan, kebencian, dan pertarungan ideologi.


Namun, sebuah foto lama tidak pernah mampu menceritakan seluruh kebenaran dengan sendirinya. Di balik satu wajah terdapat sebuah zaman, dan di balik sebuah zaman terdapat banyak sudut pandang serta kesaksian yang perlu dibaca secara kritis. Karena itu, kisah seperti ini sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai cerita tentang satu orang, tetapi sebagai bagian dari sejarah bangsa yang kompleks dan penuh luka.


Lebih dari enam dekade telah berlalu. Generasi berganti, tetapi cerita tentang 1965 masih menjadi bagian penting dalam perjalanan Indonesia. Mengingatnya bukan berarti membenarkan kekerasan, juga bukan berarti membuka kembali permusuhan. Justru dengan mempelajarinya, kita dapat memahami betapa mahal harga yang harus dibayar ketika konflik politik berubah menjadi kekerasan terhadap manusia.


Satu foto. Satu wajah. Satu nama. Dan satu potongan sejarah yang pernah benar-benar terjadi.

Sejarah mungkin tidak selalu nyaman untuk dibaca, tetapi sejarah tetap perlu dicatat—agar generasi berikutnya belajar bahwa perbedaan politik tidak seharusnya berakhir dengan hilangnya kemanusiaan.


Sumber : Abraham El Sharawee

No comments:

Post a Comment