08 October 2026

D.N. AIDIT BERSEMBUNYI DI BALIK LEMARI, KISAH “MENKO” DAN “MENGKO” SAAT PENANGKAPANNYA Setelah pecahnya Gerakan 30 September 1965, Dipa Nusantara Aidit atau D.N. Aidit menjadi salah satu tokoh yang paling dicari aparat. Sebagai Ketua CC PKI, keberadaannya diburu setelah situasi politik dan keamanan berubah drastis pasca-peristiwa 30 September–1 Oktober 1965. Pengejaran terhadap Aidit kemudian meluas hingga Jawa Tengah. Salah satu operasi tersebut dipimpin Kolonel Jasir Hadibroto, Komandan Brigade Infanteri IV Kostrad. Pasukannya mengumpulkan informasi dari berbagai sumber dan mengikuti jejak Aidit yang terus berpindah tempat. Menurut catatan yang dihimpun wartawan Julius Pour, setelah sekitar tiga minggu pengejaran, intelijen memperoleh laporan A-1 mengenai keberadaan Aidit. Pada 21 November 1965, persembunyiannya disebut berpindah dari kawasan Kleco ke Kampung Sambeng, Solo, sekitar 300 meter dari Stasiun Solo Balapan. Aidit kemudian disembunyikan di sebuah rumah yang disebut berkaitan dengan anggota Serikat Buruh Kereta Api. Informasi mengenai keberadaannya membuat pasukan mulai menyusun pengepungan. Malam harinya, sekitar pukul 21.00, pasukan yang dipimpin Letnan II Infanteri Ning Prajitno mengepung rumah tersebut. Mereka kemudian mendobrak masuk dan melakukan penyisiran. Namun, rumah itu tampak kosong. Aidit tidak terlihat di mana pun. Dalam penggeledahan, pasukan menemukan sebuah kacamata baca yang tergeletak di atas meja. Benda tersebut menimbulkan dugaan bahwa orang yang mereka cari sebenarnya masih berada di sekitar rumah. Penyisiran pun dilanjutkan. Seorang prajurit bernama Kosim kemudian menggeser sebuah lemari makan. Di balik lemari tersebut ternyata terdapat pintu menuju sebuah ruang tersembunyi. Di dalam ruang itu terdapat sebuah lemari pakaian. Ketika lemari tersebut diperiksa, prajurit yang membukanya melihat sesuatu yang mencurigakan. Pakaian-pakaian yang tergantung di dalamnya tampak bergerak mengikuti gerakan seseorang. Ternyata ada seseorang yang bersembunyi di balik pakaian tersebut. Orang itu adalah D.N. Aidit. Menurut kisah yang dimuat dalam majalah Senakatha terbitan Pusat Sejarah ABRI pada Januari 1992, prajurit tersebut kemudian memerintahkan Aidit untuk keluar dan menyerah. Terjadilah percakapan singkat. Aidit mengakui identitasnya. Namun, ia kemudian mencoba menggunakan kedudukannya untuk mencegah penangkapan. Ia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang “Menko”, istilah untuk Menteri Koordinator. Di sinilah muncul bagian unik dari kisah penangkapan tersebut. Prajurit yang berasal dari wilayah Kartasura itu disebut salah memahami kata “Menko”. Ia menangkapnya sebagai kata Jawa “mengko”, yang berarti “nanti”. Ketika Aidit mengatakan dirinya seorang “Menko”, prajurit itu justru menjawab dengan kata: “Mengko? Saiki!” Dalam bahasa Indonesia berarti: “Nanti? Sekarang!” Kisah percakapan tersebut memang tercatat dalam sumber sejarah, tetapi detail dialognya sebaiknya dipahami sebagai bagian dari kesaksian atau penuturan yang kemudian dibukukan, bukan sebagai percakapan yang memiliki rekaman langsung. Setelah ditemukan, Aidit akhirnya dibawa keluar dari tempat persembunyiannya. Menurut catatan Julius Pour, Letnan Ning Prajitno kemudian memerintahkan Sersan Idit Sukardi untuk mengikat tangan Aidit. Pelarian selama berminggu-minggu itu pun berakhir. Aidit kemudian dibawa ke markas Brigade Infanteri IV di Loji Gandrung. Di sana, menurut kesaksian Kolonel Jasir Hadibroto yang dikutip sejumlah sumber, Aidit sempat meminta agar dirinya dibawa menghadap Presiden Soekarno. Namun permintaan tersebut tidak dipenuhi. Pada 22 November 1965, Aidit kemudian dibawa menuju wilayah Boyolali. Menurut kesaksian Jasir Hadibroto, perjalanan tersebut tidak berakhir di Semarang sebagaimana rencana awal. Aidit dibawa ke sebuah lokasi yang kemudian disebut sebagai markas Batalyon Infanteri 444. Di tempat itulah Aidit kemudian dibunuh. Jasir Hadibroto dalam kesaksiannya menyebut bahwa Aidit sempat menyampaikan pidato sebelum kematiannya. Setelah itu, Aidit ditembak dan jasadnya kemudian dimasukkan ke sebuah sumur. Rincian mengenai kematian Aidit memiliki beberapa versi dalam sumber-sumber sejarah. Namun, versi yang mengacu pada kesaksian Jasir Hadibroto menyebut bahwa Aidit ditangkap di Sambeng pada 22 November 1965 dan kemudian dibawa ke Boyolali, tempat ia akhirnya tewas. Dengan demikian, kisah penangkapan D.N. Aidit bukan sekadar cerita tentang seorang buronan yang ditemukan di sebuah rumah. Di baliknya terdapat operasi pengejaran selama berminggu-minggu, jaringan intelijen, persembunyian berpindah-pindah, hingga sebuah ruang rahasia di balik lemari. Dan di tengah situasi politik Indonesia yang sangat tegang pada akhir 1965, muncul pula sebuah kisah kecil yang kemudian terus dikenang: ketika kata “Menko” dipahami sebagai “mengko”—dan jawaban “nanti” dibalas dengan “saiki”, atau “sekarang”. Pada akhirnya, persembunyian D.N. Aidit di Sambeng berakhir pada malam itu. Sehari kemudian, 22 November 1965, namanya tercatat dalam sejarah sebagai salah satu tokoh utama PKI yang tewas setelah pengejaran pasca-G30S. Sejarah sering kali dikenang melalui peristiwa-peristiwa besar. Tetapi dalam kisah penangkapan Aidit, detail kecil seperti sebuah kacamata di atas meja, pintu tersembunyi di balik lemari, dan perbedaan makna satu kata justru menjadi bagian yang membuat kisah tersebut begitu melekat dalam ingatan sejarah Indonesia. #kisah #sejarah #viral

 D.N. AIDIT BERSEMBUNYI DI BALIK LEMARI, KISAH “MENKO” DAN “MENGKO” SAAT PENANGKAPANNYA



Setelah pecahnya Gerakan 30 September 1965, Dipa Nusantara Aidit atau D.N. Aidit menjadi salah satu tokoh yang paling dicari aparat. Sebagai Ketua CC PKI, keberadaannya diburu setelah situasi politik dan keamanan berubah drastis pasca-peristiwa 30 September–1 Oktober 1965.


Pengejaran terhadap Aidit kemudian meluas hingga Jawa Tengah. Salah satu operasi tersebut dipimpin Kolonel Jasir Hadibroto, Komandan Brigade Infanteri IV Kostrad. Pasukannya mengumpulkan informasi dari berbagai sumber dan mengikuti jejak Aidit yang terus berpindah tempat.


Menurut catatan yang dihimpun wartawan Julius Pour, setelah sekitar tiga minggu pengejaran, intelijen memperoleh laporan A-1 mengenai keberadaan Aidit. Pada 21 November 1965, persembunyiannya disebut berpindah dari kawasan Kleco ke Kampung Sambeng, Solo, sekitar 300 meter dari Stasiun Solo Balapan.


Aidit kemudian disembunyikan di sebuah rumah yang disebut berkaitan dengan anggota Serikat Buruh Kereta Api. Informasi mengenai keberadaannya membuat pasukan mulai menyusun pengepungan.


Malam harinya, sekitar pukul 21.00, pasukan yang dipimpin Letnan II Infanteri Ning Prajitno mengepung rumah tersebut. Mereka kemudian mendobrak masuk dan melakukan penyisiran.


Namun, rumah itu tampak kosong.


Aidit tidak terlihat di mana pun.


Dalam penggeledahan, pasukan menemukan sebuah kacamata baca yang tergeletak di atas meja. Benda tersebut menimbulkan dugaan bahwa orang yang mereka cari sebenarnya masih berada di sekitar rumah.


Penyisiran pun dilanjutkan.


Seorang prajurit bernama Kosim kemudian menggeser sebuah lemari makan. Di balik lemari tersebut ternyata terdapat pintu menuju sebuah ruang tersembunyi.


Di dalam ruang itu terdapat sebuah lemari pakaian.


Ketika lemari tersebut diperiksa, prajurit yang membukanya melihat sesuatu yang mencurigakan. Pakaian-pakaian yang tergantung di dalamnya tampak bergerak mengikuti gerakan seseorang.


Ternyata ada seseorang yang bersembunyi di balik pakaian tersebut.


Orang itu adalah D.N. Aidit.


Menurut kisah yang dimuat dalam majalah Senakatha terbitan Pusat Sejarah ABRI pada Januari 1992, prajurit tersebut kemudian memerintahkan Aidit untuk keluar dan menyerah.


Terjadilah percakapan singkat.


Aidit mengakui identitasnya. Namun, ia kemudian mencoba menggunakan kedudukannya untuk mencegah penangkapan. Ia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang “Menko”, istilah untuk Menteri Koordinator.


Di sinilah muncul bagian unik dari kisah penangkapan tersebut.


Prajurit yang berasal dari wilayah Kartasura itu disebut salah memahami kata “Menko”. Ia menangkapnya sebagai kata Jawa “mengko”, yang berarti “nanti”.


Ketika Aidit mengatakan dirinya seorang “Menko”, prajurit itu justru menjawab dengan kata:


“Mengko? Saiki!”


Dalam bahasa Indonesia berarti:


“Nanti? Sekarang!”


Kisah percakapan tersebut memang tercatat dalam sumber sejarah, tetapi detail dialognya sebaiknya dipahami sebagai bagian dari kesaksian atau penuturan yang kemudian dibukukan, bukan sebagai percakapan yang memiliki rekaman langsung.


Setelah ditemukan, Aidit akhirnya dibawa keluar dari tempat persembunyiannya. Menurut catatan Julius Pour, Letnan Ning Prajitno kemudian memerintahkan Sersan Idit Sukardi untuk mengikat tangan Aidit.


Pelarian selama berminggu-minggu itu pun berakhir.


Aidit kemudian dibawa ke markas Brigade Infanteri IV di Loji Gandrung. Di sana, menurut kesaksian Kolonel Jasir Hadibroto yang dikutip sejumlah sumber, Aidit sempat meminta agar dirinya dibawa menghadap Presiden Soekarno.


Namun permintaan tersebut tidak dipenuhi.


Pada 22 November 1965, Aidit kemudian dibawa menuju wilayah Boyolali. Menurut kesaksian Jasir Hadibroto, perjalanan tersebut tidak berakhir di Semarang sebagaimana rencana awal. Aidit dibawa ke sebuah lokasi yang kemudian disebut sebagai markas Batalyon Infanteri 444.


Di tempat itulah Aidit kemudian dibunuh.


Jasir Hadibroto dalam kesaksiannya menyebut bahwa Aidit sempat menyampaikan pidato sebelum kematiannya. Setelah itu, Aidit ditembak dan jasadnya kemudian dimasukkan ke sebuah sumur.


Rincian mengenai kematian Aidit memiliki beberapa versi dalam sumber-sumber sejarah. Namun, versi yang mengacu pada kesaksian Jasir Hadibroto menyebut bahwa Aidit ditangkap di Sambeng pada 22 November 1965 dan kemudian dibawa ke Boyolali, tempat ia akhirnya tewas.


Dengan demikian, kisah penangkapan D.N. Aidit bukan sekadar cerita tentang seorang buronan yang ditemukan di sebuah rumah. Di baliknya terdapat operasi pengejaran selama berminggu-minggu, jaringan intelijen, persembunyian berpindah-pindah, hingga sebuah ruang rahasia di balik lemari.


Dan di tengah situasi politik Indonesia yang sangat tegang pada akhir 1965, muncul pula sebuah kisah kecil yang kemudian terus dikenang: ketika kata “Menko” dipahami sebagai “mengko”—dan jawaban “nanti” dibalas dengan “saiki”, atau “sekarang”.


Pada akhirnya, persembunyian D.N. Aidit di Sambeng berakhir pada malam itu. Sehari kemudian, 22 November 1965, namanya tercatat dalam sejarah sebagai salah satu tokoh utama PKI yang tewas setelah pengejaran pasca-G30S.


Sumber : Bang Fit


Sejarah sering kali dikenang melalui peristiwa-peristiwa besar. Tetapi dalam kisah penangkapan Aidit, detail kecil seperti sebuah kacamata di atas meja, pintu tersembunyi di balik lemari, dan perbedaan makna satu kata justru menjadi bagian yang membuat kisah tersebut begitu melekat dalam ingatan sejarah Indonesia.


#kisah #sejarah #viral

No comments:

Post a Comment