06 October 2026

Dirgahayu ke-81 Tentara Nasional Indonesia . Kisah Kangjeng Pangeran Hario Soejarso Soerjosoejarso. K.P.H.Soejarso Soerjosoejarso yg kelak dikenal sebagai Mayjen TNI (Purn.) K.P.H.Soerjosoejarso adalah salah satu kerabat Puro Mangkunegaran. Beliau adalah putra dari K.P.H.Soerarso Soerjosoerarso (adiknya kakek canggah saya : K.P.H.Samekto Soerjokoesoemo) lahir pada Jumat Pahing 25 Agustus 1916 & memperoleh pendidikan militer di Koninklijke Militaire Academie (KMA) di kota Breda, Belanda. Beliau lulus pada 1939, kemudian kembali ke Hindia Belanda sebagai perwira KNIL. Beliau pernah ditempatkan pada satuan kendaraan lapis baja di Bandung (Proef Bataljon Vechtwagens) & kemudian pada satuan infanteri di Bogor. Pengalaman inilah yg kelak sangat penting ketika Republik Indonesia harus membangun angkatan bersenjata modernnya. Setelah Proklamasi 1945 & berakhirnya kekuasaan Belanda, K.P.H.Soerjosoejarso memilih bergabung dgn TNI. Pada periode revolusi, riwayatnya tidak seterkenal tokoh seperti Nasution, Sudirman ataupun Simatupang. Namun beliau kemudian memainkan peranan yg sangat penting dlm bidang yg menjadi spesialisasinya, yaitu pasukan kendaraan lapis baja. Beliau juga pernah berada dlm perjuangan di Sumatra sebelum kemudian ditarik ke Yogyakarta. Pada 1959, dokumen Departemen Angkatan Darat bahkan masih mencatat secara resmi riwayat penugasannya sebagai perwira tinggi. Pada 9 Februari 1950, Kepala Staf Angkatan Darat : Kolonel A.H. Nasution mengeluarkan keputusan No. 5/KSAD/Pntp/50 mengenai pembentukan satuan berlapis baja. Tgl tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kavaleri TNI AD. Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada 26 Juli 1950, Letnan Kolonel K.P.H. Soerjosoejarso mengambil alih secara simbolis kompleks Opleidings Centrum der Pantsertroepen di Bandung, bekas pusat pendidikan pasukan lapis baja KNIL. TNI AD sendiri menyebut peristiwa ini sebagai salah satu tonggak yg menjadi cikal bakal markas korps lapis baja TNI. Dgn demikian, K.P.H.Soerjosoejarso bukan hanya pernah menjadi komandan Kavaleri. Beliau berada pada tahap kelahiran organisasi Kavaleri TNI AD itu sendiri. Pada masa awal tersebut, Komando Pasukan Berlapis Baja berada di bawah pimpinan Letkol Kav. K.P.H.Soerjosoejarso & membawahi empat eskadron di Bandung, Magelang, Palembang & Medan. Kendaraan yg digunakan antara lain kendaraan bekas KNIL seperti Ford Lynx, Humber Scout, Otter, Universal Carrier & Stuart. Kemudian organisasi itu berkembang. Pada 21 April 1952 dibentuklah Inspektorat Kavaleri & pada 1954 telah berkembang menjadi tujuh eskadron. Pada 7 Juni 1956, Inspektorat Kavaleri berubah menjadi Pusat Kavaleri. Karier beliau kemudian beralih ke bidang pendidikan perwira. K.P.H.Soerjosoejarso tercatat sebagai Gubernur Akademi Militer pada periode 1950–1959. Daftar sejarah Gubernur Akademi Militer mencatatnya sebagai Kolonel Kav.R.M.Soerjosoejarso. Arsip Nasional Republik Indonesia juga memiliki dokumentasi mengenai beliau dlm kapasitas tersebut. Dlm Guide Arsip Pertahanan & Keamanan Negara Era Presiden Sukarno 1945–1967, terdapat foto rapat para perwira Angkatan Darat di Istana Merdeka yg a.l. menampilkan Gubernur Akademi Militer Kolonel Kav.R.M.Soerjosoejarso bersama Presiden Soekarno, Mohammad Hatta, Djuanda, A.H. Nasution & GatoSoebroto. Ini menunjukkan bahwa neliau berada dlm lingkaran penting pimpinan militer Republik pada era awal. K.P.H.Soerjosoejarso menikah dgn kakak sepupunya sendiri : Gusti Raden Ajeng Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Koesoemowardhani, yg lebih dikenal sebagai Gusti Noeroel, putri dari K.G.P.A.A.Mangkunagoro VII & Gusti Kangjeng Ratu Timoer pada 24 Maret 1951 di Puro Mangkunegaran Surakarta. Menariknya, pada saat menikah beliau adalah seorang perwira TNI yg selalu berpindah lokasi mengikuti penugasan. Dan Gusti Noeroel pun memilih mengikuti dgn setia kehidupan tersebut. Karena itu, setelah menikah Gusti Noeroel meninggalkan kehidupan di Puro Mangkunegaran & mengikuti suaminya dlm berbagai penempatan. Terdapat satu episode yg memperlihatkan bagaimana kehidupan pribadi mereka bersinggungan langsung dgn situasi politik-militer Indonesia. Menjelang pernikahan, ketika keluarga telah mempersiapkan pertunangan, K.P.H.Soerjosoejarso tidak dapat hadir karena terjadi pemberontakan APRA di Jawa Barat pada Januari 1950. Beliau dikirim untuk menjalankan tugas militer di Jawa Barat. Pertunangan tetap dilaksanakan & ayah beliau : K.P.H.Soerjosoerarso mewakilinya. Ini memperlihatkan bahwa hubungan mereka berlangsung dlm situasi ketika seorang perwira TNI belum tentu dapat mengutamakan acara keluarga dibandingkan tugas negara. Karier beliau berlanjut meningkat. Pada 1 Agustus 1959, K.P.H.Soerjosoejarso diberhentikan secara hormat dari jabatan Gubernur Akademi Militer berdasarkan surat perintah MBAD No. Kpts-674/8/1959. Setelah mengikuti Chursus C Seskoad, beliau naik pangkat menjadi Brigadir Jenderal. Kemudian beliau ditugaskan sebagai Atase Militer Republik Indonesia di Washington, D.C. Gusti Nurul beserta putra putri mereka ikut ke Amerika Serikat. Setelah meninggalkan dinas aktif, Mayjen TNI (Purn.) K.P.H.Soerjosoejarso dipercaya memimpin Institut Teknologi Tekstil (ITT) Bandung. Pada 22 Juni 1966, beliau diangkat sebagai rektor & memimpin lembaga tersebut hingga sekitar 1986 yg menjadikannya salah satu, bahkan menurut sejarah institusi, yg terlama sebagai pemimpin ITT/STTT. Peralihan ini sebenarnya cukup masuk akal bila melihat konteks zaman. Indonesia sedang membangun industri nasional & membutuhkan tenaga ahli tekstil. Pengalaman seorang perwira tinggi yg pernah berkecimpung dlm pengadaan & kebutuhan perlengkapan militer juga memiliki hubungan dgn kebutuhan industri tekstil nasional. K.P.H.Soejarso Soerjosoejarso wafat pada 1999 di usia 83 thn & dimakamkan di Astana Girilayu.

 Dirgahayu ke-81 Tentara Nasional Indonesia .

Kisah Kangjeng Pangeran Hario Soejarso Soerjosoejarso. 



K.P.H.Soejarso Soerjosoejarso yg kelak dikenal sebagai Mayjen TNI (Purn.) K.P.H.Soerjosoejarso adalah salah satu kerabat Puro Mangkunegaran.

Beliau adalah putra dari K.P.H.Soerarso Soerjosoerarso (adiknya kakek canggah saya : K.P.H.Samekto Soerjokoesoemo) lahir pada Jumat Pahing 25 Agustus 1916 & memperoleh pendidikan militer di Koninklijke Militaire Academie (KMA) di kota Breda, Belanda. Beliau lulus pada 1939, kemudian kembali ke Hindia Belanda sebagai perwira KNIL. Beliau pernah ditempatkan pada satuan kendaraan lapis baja di Bandung (Proef Bataljon Vechtwagens) & kemudian pada satuan infanteri di Bogor. 

Pengalaman inilah yg kelak sangat penting ketika Republik Indonesia harus membangun angkatan bersenjata modernnya.


Setelah Proklamasi 1945 & berakhirnya kekuasaan Belanda, K.P.H.Soerjosoejarso memilih bergabung dgn TNI. Pada periode revolusi, riwayatnya tidak seterkenal tokoh seperti Nasution, Sudirman ataupun Simatupang. Namun beliau kemudian memainkan peranan yg sangat penting dlm bidang yg menjadi spesialisasinya, yaitu pasukan kendaraan lapis baja.

Beliau juga pernah berada dlm perjuangan di Sumatra sebelum kemudian ditarik ke Yogyakarta. Pada 1959, dokumen Departemen Angkatan Darat bahkan masih mencatat secara resmi riwayat penugasannya sebagai perwira tinggi. 


Pada 9 Februari 1950, Kepala Staf Angkatan Darat : Kolonel A.H. Nasution mengeluarkan keputusan No. 5/KSAD/Pntp/50 mengenai pembentukan satuan berlapis baja. Tgl tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kavaleri TNI AD. Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada 26 Juli 1950, Letnan Kolonel K.P.H. Soerjosoejarso mengambil alih secara simbolis kompleks Opleidings Centrum der Pantsertroepen di Bandung, bekas pusat pendidikan pasukan lapis baja KNIL. TNI AD sendiri menyebut peristiwa ini sebagai salah satu tonggak yg menjadi cikal bakal markas korps lapis baja TNI. 

Dgn demikian, K.P.H.Soerjosoejarso bukan hanya pernah menjadi komandan Kavaleri. Beliau berada pada tahap kelahiran organisasi Kavaleri TNI AD itu sendiri.

Pada masa awal tersebut, Komando Pasukan Berlapis Baja berada di bawah pimpinan Letkol Kav. K.P.H.Soerjosoejarso & membawahi empat eskadron di Bandung, Magelang, Palembang & Medan. Kendaraan yg digunakan antara lain kendaraan bekas KNIL seperti Ford Lynx, Humber Scout, Otter, Universal Carrier & Stuart. 

Kemudian organisasi itu berkembang. Pada 21 April 1952 dibentuklah Inspektorat Kavaleri & pada 1954 telah berkembang menjadi tujuh eskadron. Pada 7 Juni 1956, Inspektorat Kavaleri berubah menjadi Pusat Kavaleri. 

Karier beliau kemudian beralih ke bidang pendidikan perwira.

K.P.H.Soerjosoejarso tercatat sebagai Gubernur Akademi Militer pada periode 1950–1959. Daftar sejarah Gubernur Akademi Militer mencatatnya sebagai Kolonel Kav.R.M.Soerjosoejarso. 


Arsip Nasional Republik Indonesia juga memiliki dokumentasi mengenai beliau dlm kapasitas tersebut. Dlm Guide Arsip Pertahanan & Keamanan Negara Era Presiden Sukarno 1945–1967, terdapat foto rapat para perwira Angkatan Darat di Istana Merdeka yg a.l. menampilkan Gubernur Akademi Militer Kolonel Kav.R.M.Soerjosoejarso bersama Presiden Soekarno, Mohammad Hatta, Djuanda, A.H. Nasution & GatoSoebroto. 

Ini menunjukkan bahwa neliau berada dlm lingkaran penting pimpinan militer Republik pada era awal.


K.P.H.Soerjosoejarso menikah dgn kakak sepupunya sendiri : Gusti Raden Ajeng Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Koesoemowardhani, yg lebih dikenal sebagai Gusti Noeroel, putri dari K.G.P.A.A.Mangkunagoro VII & Gusti Kangjeng Ratu Timoer pada 24 Maret 1951 di Puro Mangkunegaran Surakarta. 

Menariknya, pada saat menikah beliau adalah seorang perwira TNI yg selalu berpindah lokasi mengikuti penugasan.

Dan Gusti Noeroel pun memilih mengikuti dgn setia kehidupan tersebut.

Karena itu, setelah menikah Gusti Noeroel meninggalkan kehidupan di Puro Mangkunegaran & mengikuti suaminya dlm berbagai penempatan.


Terdapat satu episode yg memperlihatkan bagaimana kehidupan pribadi mereka bersinggungan langsung dgn situasi politik-militer Indonesia.

Menjelang pernikahan, ketika keluarga telah mempersiapkan pertunangan, K.P.H.Soerjosoejarso tidak dapat hadir karena terjadi pemberontakan APRA di Jawa Barat pada Januari 1950. Beliau dikirim untuk menjalankan tugas militer di Jawa Barat. Pertunangan tetap dilaksanakan & ayah beliau : K.P.H.Soerjosoerarso mewakilinya.  

Ini memperlihatkan bahwa hubungan mereka berlangsung dlm situasi ketika seorang perwira TNI belum tentu dapat mengutamakan acara keluarga dibandingkan tugas negara.


Karier beliau berlanjut meningkat.

Pada 1 Agustus 1959, K.P.H.Soerjosoejarso diberhentikan secara hormat dari jabatan Gubernur Akademi Militer berdasarkan surat perintah MBAD No. Kpts-674/8/1959. Setelah mengikuti Chursus C Seskoad, beliau naik pangkat menjadi Brigadir Jenderal. Kemudian beliau ditugaskan sebagai Atase Militer Republik Indonesia di Washington, D.C.

Gusti Nurul beserta putra putri mereka ikut ke Amerika Serikat. 


Setelah meninggalkan dinas aktif, Mayjen TNI (Purn.) K.P.H.Soerjosoejarso dipercaya memimpin Institut Teknologi Tekstil (ITT) Bandung. Pada 22 Juni 1966, beliau diangkat sebagai rektor & memimpin lembaga tersebut hingga sekitar 1986 yg menjadikannya salah satu, bahkan menurut sejarah institusi, yg terlama sebagai pemimpin ITT/STTT.

Peralihan ini sebenarnya cukup masuk akal bila melihat konteks zaman. Indonesia sedang membangun industri nasional & membutuhkan tenaga ahli tekstil. Pengalaman seorang perwira tinggi yg pernah berkecimpung dlm pengadaan & kebutuhan perlengkapan militer juga memiliki hubungan dgn kebutuhan industri tekstil nasional.


K.P.H.Soejarso Soerjosoejarso wafat pada 1999 di usia 83 thn & dimakamkan di Astana Girilayu.


Sumber : Bambang Sujarwanto

No comments:

Post a Comment