13 October 2026

Sebuah koleksi Rijksmuseum berjudul "Keraton Sultan Mataram diserang" dari buku "Oost-Indische Voyagie" oleh Wouter Schouten. Dibuat pada 1677. Meskipun dibuat dengan gaya eropa. Mgkn cerita tentang gonjang-ganjing di Kraton Plered secara lengkap diceritakan hingga Belanda. . Suasana penyerbuan Keraton Pleret pada akhir Juni 1677 adalah suasana ketakutan, perpecahan di lingkungan istana, lalu penjarahan dan kebakaran di ibu kota Mataram. Tanggal yang lazim digunakan ialah 28 Juni 1677, meskipun rincian urutan peristiwanya tidak seluruhnya pasti. H. J. de Graaf menggambarkan rasa takut yang mendalam: nama Trunajaya dan laskarnya saja sudah membuat rakyat gentar. Pasukan pemberontak mendekati jalan-jalan menuju ibu kota, sementara kepemimpinan pertahanan diliputi kebingungan. Sebagai rekonstruksi, kita dapat membayangkan lingkungan istana yang dipenuhi kecemasan: orang menunggu kabar pertahanan, tetapi semakin sulit memastikan siapa yang masih mampu memberi perlindungan. . Pasukan pemberontak kemudian memasuki dan menjarah kompleks istana; pertahanan Pangeran Puger akhirnya juga runtuh. Kepergian raja menjadi tanda bahwa pusat kekuasaan telah kehilangan kendali. . Gambaran paling konkret datang dari Umbul Astrayuda, yang laporannya dibahas de Graaf. Dalam rentang 28 Juni–3 Juli, ia menyaksikan hampir semua rumah pembesar terbakar. Namun, keraton utama dan masjid besar disebut tidak terbakar, bersama beberapa kediaman pangeran. Barang rampasan diangkut dengan kendaraan dan hewan; perempuan lingkungan istana turut dibawa, sedangkan meriam berat ditinggalkan. Sebagai rekonstruksi suasana, asap kebakaran, pengangkutan harta, dan perpindahan paksa penghuni menunjukkan kota yang kehilangan keamanan.

 Sebuah koleksi Rijksmuseum berjudul "Keraton Sultan Mataram diserang" dari buku "Oost-Indische Voyagie" oleh Wouter Schouten. Dibuat pada 1677. Meskipun dibuat dengan gaya eropa. Mgkn cerita tentang gonjang-ganjing di Kraton Plered secara lengkap diceritakan hingga Belanda.

.


Suasana penyerbuan Keraton Pleret pada akhir Juni 1677 adalah suasana ketakutan, perpecahan di lingkungan istana, lalu penjarahan dan kebakaran di ibu kota Mataram. Tanggal yang lazim digunakan ialah 28 Juni 1677, meskipun rincian urutan peristiwanya tidak seluruhnya pasti. 


H. J. de Graaf menggambarkan rasa takut yang mendalam: nama Trunajaya dan laskarnya saja sudah membuat rakyat gentar. Pasukan pemberontak mendekati jalan-jalan menuju ibu kota, sementara kepemimpinan pertahanan diliputi kebingungan. Sebagai rekonstruksi, kita dapat membayangkan lingkungan istana yang dipenuhi kecemasan: orang menunggu kabar pertahanan, tetapi semakin sulit memastikan siapa yang masih mampu memberi perlindungan.

.

Pasukan pemberontak kemudian memasuki dan menjarah kompleks istana; pertahanan Pangeran Puger akhirnya juga runtuh. Kepergian raja menjadi tanda bahwa pusat kekuasaan telah kehilangan kendali.

.

Gambaran paling konkret datang dari Umbul Astrayuda, yang laporannya dibahas de Graaf. Dalam rentang 28 Juni–3 Juli, ia menyaksikan hampir semua rumah pembesar terbakar. Namun, keraton utama dan masjid besar disebut tidak terbakar, bersama beberapa kediaman pangeran. Barang rampasan diangkut dengan kendaraan dan hewan; perempuan lingkungan istana turut dibawa, sedangkan meriam berat ditinggalkan. Sebagai rekonstruksi suasana, asap kebakaran, pengangkutan harta, dan perpindahan paksa penghuni menunjukkan kota yang kehilangan keamanan.


Sumber : Jejak Mataram

No comments:

Post a Comment