Pemberontakan PKI 1926
Musso aktif di PKI sedari masa mudanya. Jauh sebelum pemberontakan di tahun 1948, Musso sudah terbiasa menyusun rencana pemberontakan di tahun 1926. Sebuah rencana pemberontakan yg disusun di berbagai wilayah Jawa dan Sumatra.
Tahun 1924, PKI memindahkan markasnya dari Semarang ke Jakarta. Saat itu Musso menjabat sebagai komisaris. Ide-ide pemberontakan selalu digaungkan oleh para pengurus PKI.
Ide pemberontakan ini ditentang oleh satu pengurus PKI yg lunak yaitu Tan Malaka. Ia menyarankan agar PKI bekerjasama bahu membahu dg organisasi lainnya seperti Syarikat Islam (SI).
Para pengurus PKI pusat yg mayoritas berfaham atheis ingin mengadakan pemberontokan murni karena ingin melenyapkan kaum kapitalis dan borjuis yg dalam hal ini adlh pemerintah kolonial Belanda.
Sementara para pengurus cabang di berbagai wilayah memiliki pandangan lain. Pemberontakan semata2 dimaknai sebagai jihad fie sabilillah. Perlu difahami bahwa saat itu komunis menyebarkan ajarannya di daerah dg mendompleng ajaran agama Islam. Komunis menyusup di Syarikat Islam. Menjadikan para Kyai sebagai corong penyebarannya. Karena konsep yg diajarkan adalah melawan pemerintah kafir nan zalim Hindia Belanda, maka PKI berhasil menyusup dan menjadikan ummat Islam sebagai pion.
Inilah perbedaan PKI di Indonesia dg negara lain. Di masa penjajahan Belanda, PKI menyamar dalam baju Islam. Menyusupi pemimpin agama. Dan ummat di daerah yg minim informasi melihat PKI sebagai wadah yg bisa menyalurkan hasrat mereka utk melawan Belanda. Apalagi saat itu Syarikat Islam sedang lemah dan HOS Tjokroaminoto ditahan. PKI menjadi harapan baru utk mengumandangkan semangat jihad fie sabilillah. Sebuah kondisi unik komunisme yg tidak ditemui di negara lain.
Pemberontakan thd pemerintah kolonial Belanda akhirnya meletus di Batavia pada 12-14 November 1926. Mereka menyerbu penjara Glodok, menguasai kantor telepon, dan beberapa kantor pemerintahan. Namun pemberontakan tsb bisa ditangani dg cepat oleh pemerintah Belanda.
Pemberontakan PKI di Banten terjadi pada bulan Oktober 1926. Dengan dipimpin Kyai Tubagus Achmad Chatib, mantan presiden Syarikat Islam di Labuan. Hampir 1000 orang rakyat bersatu melumpuhkan pemerintahan Belanda.
Kemudian di Ranah Minang juga meletus Pemberontakan PKI. Ilmu komunis yg biasa diucapkan kuminih di ranah minang bukanlah marxisme-leninisme, melainkan sesederhana membenci penguasa kafir. Dengan dalil-dalil agama terutama surah At-Taubah dan surah Al-Anfal, kebencian terhadap penguasa kafir menjadi landasan ilmu kuminih. Tak jadi soal bagi orang minangkabau apa itu PKI atau kuminih, yg terpenting adalah perlawanan thd kolonialisme. Pemberontakan di Minangkabau terjadi pada tahun 1927.
Pemberontakan PKI thd pemerintahan kolonial di Batavia, Banten, dan Minangkabau, meski berbendera PKI namun lebih kental nuansa jihad. Lebih kental seruan anti pemerintah kafir, ketimbang perlawanan kelas.
Tentu hal ini sangat berbeda dg pemberontakan PKI di tahun 1948 ataupun 1965. Pemberontakan pasca kemerdekaan Indonesia ibarat menusuk dari belakang. Mencelakai saudara sebangsa sendiri yg sedang tertatih melawan Agresi Militer Belanda II.
Dan Musso ataupun DN Aidit tidak pernah ambil pusing, tak ada belas kasihan terhadap ratusan ribu nyawa saudara sebangsa yg melayang.
Musso telah belajar dari Stalin yg membantai 5000 rakyat soviet, rakyatnya sendiri. Musso, Semaun, Alimin, selaku petinggi PKI sering terbang ke Moscow untuk meminta arahan dari Stalin.
Sumber : Widi Astuti

No comments:
Post a Comment