03 October 2026

KAMSING NUSAKAMBANGAN SETELAH PERISTIWA 1965 Dalam buku Kronik 1965, ada laporan tertanggal 23 Mei 1966 tentang nama-nama tapol (tahanan politik) di Nusakambangan. Dalam laporan tersebut tercatat sebanyak 449 orang menghuni kamp pengasingan (kamsing) di Nusakambangan. Mereka berasal dari pelbagai wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Rinciannya adalah 12 orang berasal dari Temanggung, 5 orang dari Magelang, 56 orang berasal dari Sleman, sebanyak 100 orang dari kota Yogyakarta, 1 orang dari Kalasan, 1 orang dari Prambanan, 26 orang dari Klaten, 19 orang dari Sukoharjo, 3 orang dari Karanganyar, 2 orang dari Wonogiri, 15 orang dari Solo, 3 orang dari Ambarawa, 8 orang dari Salatiga, 17 orang berasal dari Rembang, 1 orang dari Ungaran, 6 orang dari Pati, 23 orang dari Cilacap, 1 orang dari Kroya, 4 orang dari Sragen, 10 orang dari Purworejo, 2 orang Purbalingga, 3 orang dari Banjarnegara, 3 orang berasal dari Bantul, 9 orang dari Wonosari, 30 orang dari Wates, 6 orang dari Banyumas, 19 Orang dari Brebes, 8 orang dari Tegal, 2 orang dari Pemalang, 15 orang berasal dari Pekalongan, 1 Orang dari Kendal, 2 orang dari Semarang, 10 orang dari Kudus dan 6 Orang dari Blora. Sedangkan pada tanggal 4 September 1966, dalam sebuah laporan tentang daftar tahanan politik di pulau Nusakambangan tahap pertama, tercatat sebanyak 520 tahanan yang berasal dari Ambarawa (446 orang), Pekalongan (49 orang) dan Yogyakarta (25 orang) ditempatkan di beberapa kamp pengasingan (kamsing) Nusakambangan, seperti di Nirbaya sebanyak 439 orang, Batu sebanyak 57 orang, Gliger sebanyak 12 orang, Permisan sebanyak 7 orang, dan Kembang Kuning sebanyak 7 orang. (*)

 KAMSING NUSAKAMBANGAN SETELAH PERISTIWA 1965



Dalam buku Kronik 1965, ada laporan tertanggal 23 Mei 1966 tentang nama-nama tapol (tahanan politik) di Nusakambangan. Dalam laporan  tersebut tercatat sebanyak 449 orang menghuni kamp pengasingan (kamsing) di Nusakambangan. Mereka berasal dari pelbagai wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Rinciannya adalah 12 orang berasal dari Temanggung,  5 orang dari Magelang, 56 orang berasal dari Sleman, sebanyak 100 orang dari kota Yogyakarta, 1 orang dari Kalasan, 1 orang dari Prambanan, 26 orang dari Klaten, 19 orang dari Sukoharjo, 3 orang dari Karanganyar, 2 orang dari Wonogiri, 15 orang dari Solo, 3 orang dari Ambarawa, 8 orang dari Salatiga, 17 orang berasal dari Rembang, 1 orang dari Ungaran, 6 orang dari Pati, 23 orang dari Cilacap, 1 orang dari Kroya, 4 orang dari Sragen, 10 orang dari Purworejo, 2 orang Purbalingga, 3 orang dari Banjarnegara, 3 orang berasal dari Bantul, 9 orang dari Wonosari, 30 orang dari Wates, 6 orang dari Banyumas, 19 Orang dari Brebes, 8 orang dari Tegal, 2 orang dari Pemalang, 15 orang berasal dari Pekalongan, 1 Orang dari Kendal, 2 orang dari Semarang, 10 orang dari Kudus dan 6 Orang dari Blora.


Sedangkan pada tanggal 4 September 1966,  dalam sebuah laporan tentang daftar tahanan politik di pulau Nusakambangan tahap pertama, tercatat sebanyak 520 tahanan yang berasal dari Ambarawa (446 orang), Pekalongan (49 orang) dan Yogyakarta (25 orang) ditempatkan di beberapa kamp pengasingan (kamsing) Nusakambangan, seperti di Nirbaya sebanyak 439 orang, Batu sebanyak 57 orang, Gliger sebanyak 12 orang, Permisan sebanyak 7 orang,  dan Kembang Kuning sebanyak 7 orang. (*)


Sumber : Tjilatjap History

No comments:

Post a Comment