22 October 2026

Pada 5 Agustus 1965, dua bulan sebelum G30S, DN Aidit menemui Mao Zedong. Mereka mendiskusikan perebutan kekuasaan dengan militer saat Soekarno wafat, juga rencana terkait angkatan kelima. Berikut percakapannya dari buku Taomo Zhou. Mao: Menurut saya sayap kanan Indonesia sangat bertekad untuk merebut kekuasaan. Apakah anda juga bertekad demikian? Aidit: (Mengangguk) Jika Soekarno meninggal, masalahnya adalah siapa yang akan unggul dan memegang kendali. Mao: Saya sarankan agar anda tidak terlalu sering pergi ke luar negeri. Anda bisa membiarkan orang nomor dua [di partai Anda] yang pergi ke luar negeri sebagai gantinya. Aidit: Sayap kanan bisa mengambil dua kemungkinan tindakan. Pertama, mereka bisa menyerang kita. Jika mereka melakukannya, kita punya alasan untuk melakukan serangan balik. Kedua, mereka bisa menggunakan cara yang lebih moderat dengan membentuk pemerintahan Nasakom. Tanpa Soekarno, akan sangat mudah bagi sayap kanan untuk meraih dukungan dari kelompok tengah demi mengisolasi kita. Skenario kedua ini akan menyulitkan kita. Namun, apa pun yang terjadi, kita harus menghadapi mereka. AS telah menasihati Nasution agar tidak memulai kudeta. Hal ini karena jika dia memulai kudeta, kelompok kiri juga akan mengambil tindakan yang sama. Orang-orang Amerika memberi tahu Nasution bahwa dia harus menunggu dengan sabar; bahkan jika Soekarno meninggal, dia [Nasution] harus bersikap fleksibel ketimbang [melakukan] kudeta. Dia menerima saran dari orang-orang Amerika tersebut. Mao: Itu tidak bisa diandalkan. Situasi saat ini telah berubah. Aidit: Dalam skenario pertama, kami berencana untuk membentuk sebuah komite militer. Mayoritas anggota komite tersebut adalah kelompok kiri, tetapi harus mencakup juga beberapa elemen moderat. Dengan cara ini, kita dapat membingungkan musuh-musuh kita. Musuh kita akan ragu mengenai sifat dari komite ini, dan oleh karena itu para komandan militer yang bersimpati pada sayap kanan tidak akan langsung menentang kita. Jika kita langsung menunjukkan bendera merah kita, mereka akan segera menentang kita. Ketua dari komite militer ini adalah anggota rahasia (underground) dari partai kami, tetapi dia akan mengidentifikasikan dirinya sebagai pihak yang netral. Komite militer ini tidak boleh bertahan terlalu lama. Jika tidak, orang baik bisa berubah menjadi orang jahat. Setelah komite ini terbentuk, kita perlu mempersenjatai para buruh dan petani pada waktu yang tepat.

 Pada 5 Agustus 1965, dua bulan sebelum G30S, DN Aidit menemui Mao Zedong. Mereka mendiskusikan perebutan kekuasaan dengan militer saat Soekarno wafat, juga rencana terkait angkatan kelima.



Berikut percakapannya dari buku Taomo Zhou.


Mao: Menurut saya sayap kanan Indonesia sangat bertekad untuk merebut kekuasaan. Apakah anda juga bertekad demikian?


Aidit: (Mengangguk) Jika Soekarno meninggal, masalahnya adalah siapa yang akan unggul dan memegang kendali.


Mao: Saya sarankan agar anda tidak terlalu sering pergi ke luar negeri. Anda bisa membiarkan orang nomor dua [di partai Anda] yang pergi ke luar negeri sebagai gantinya.


Aidit: Sayap kanan bisa mengambil dua kemungkinan tindakan. Pertama, mereka bisa menyerang kita. Jika mereka melakukannya, kita punya alasan untuk melakukan serangan balik. Kedua, mereka bisa menggunakan cara yang lebih moderat dengan membentuk pemerintahan Nasakom. Tanpa Soekarno, akan sangat mudah bagi sayap kanan untuk meraih dukungan dari kelompok tengah demi mengisolasi kita. Skenario kedua ini akan menyulitkan kita. Namun, apa pun yang terjadi, kita harus menghadapi mereka. AS telah menasihati Nasution agar tidak memulai kudeta. Hal ini karena jika dia memulai kudeta, kelompok kiri juga akan mengambil tindakan yang sama. Orang-orang Amerika memberi tahu Nasution bahwa dia harus menunggu dengan sabar; bahkan jika Soekarno meninggal, dia [Nasution] harus bersikap fleksibel ketimbang [melakukan] kudeta. Dia menerima saran dari orang-orang Amerika tersebut.


Mao: Itu tidak bisa diandalkan. Situasi saat ini telah berubah.


Aidit: Dalam skenario pertama, kami berencana untuk membentuk sebuah komite militer. Mayoritas anggota komite tersebut adalah kelompok kiri, tetapi harus mencakup juga beberapa elemen moderat. Dengan cara ini, kita dapat membingungkan musuh-musuh kita. Musuh kita akan ragu mengenai sifat dari komite ini, dan oleh karena itu para komandan militer yang bersimpati pada sayap kanan tidak akan langsung menentang kita. Jika kita langsung menunjukkan bendera merah kita, mereka akan segera menentang kita. Ketua dari komite militer ini adalah anggota rahasia (underground) dari partai kami, tetapi dia akan mengidentifikasikan dirinya sebagai pihak yang netral. Komite militer ini tidak boleh bertahan terlalu lama. Jika tidak, orang baik bisa berubah menjadi orang jahat. Setelah komite ini terbentuk, kita perlu mempersenjatai para buruh dan petani pada waktu yang tepat.


Sumber : Bacaan Santai

No comments:

Post a Comment