Mobil itu seharusnya
membawa seorang gubernur
menuju ke Madiun.
_November 1948.
Gubernur Jawa Timur,
Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo,
sedang dalam perjalanan
pulang dari Yogyakarta
ibu kota RI saat itu.
Di dalam mobil
ada dua perwira polisi
yang mendampinginya.
Kombes Polisi M. Duryat.
Kompol Suroko.
Di kawasan hutan jati Bogo,
Kedunggalar, Ngawi,
sekelompok pasukan
menghentikan mobil mereka.
Gubernur Suryo
dipaksa turun.
Dua pengawalnya
ikut diturunkan.
Mereka kemudian
dibawa menuju
Kantor Kehutanan Sonde.
Tidak ada lagi
kendaraan yang bisa
membawa mereka pulang.
Mereka kemudian
dibawa semakin jauh
ke dalam hutan.
Pakaian mereka
dilucuti.
Tubuh mereka
dibiarkan tanpa perlindungan
di tengah hutan.
Lalu mereka diseret
menuju tepi sungai.
_10 November 1948.
Di tepi Kali Kakah, Ngawi,
ketiganya dieksekusi.
Kepala mereka
dipenggal.
Jasad mereka
ditinggalkan begitu saja
di sekitar sungai.
Empat hari berlalu
sebelum penduduk setempat
menemukannya.
Tiga orang.
Satu gubernur.
Dua perwira polisi.
Semuanya berakhir
di tempat yang sama.
Namun ada satu ihwal
yang membuat kisah ini
jauh lebih ganjil.
Menurut kesaksian
yang kemudian dicatat,
Gubernur Suryo
diduga bukan target utama.
Saat itu,
ia menggunakan mobil
milik Sultan Hamengkubuwono IX.
Mobil yang sedang diburu
kelompok tersebut
diduga justru mobil itu.
Artinya,
orang yang mereka hentikan
bisa jadi bukan orang
yang sebenarnya mereka cari.
Gubernur pertama Jawa Timur
gugur tepat 3 tahun setelah
Pertempuran Surabaya 10 November 1945
yang dipimpinnya.
Ia tewas
di tengah perjalanan pulang.
Sasaran target kendaraannya benar.
Orangnya tidak
_
by AJRaharjo
Sumber : Ajoko Rahardjo

No comments:
Post a Comment