27 April 2026

SUDARMONO, “SEMUANYA BERKAT DOA DAN IMAN” (Kompas Edisi Jateng, 26 April 2000) Ketika membangun empat cottages di samping Taman Kyai Langgeng, taman rekreasi di jantung Kota Magelang tahun 1988 silam, Sudarmono saat itu tak pernah terpikir usahanya akan menjadi besar seperti sekarang. Sudarmono yang saat itu bekerja sebagai kontraktor menerima tantangan Wali Kota Magelang (waktu itu) Bagus Panuntun membangun hotel melati. Kini Sudarmono sudah bisa tersenyum. Hotel melati dengan empat cottages (15 kamar) dengan luas 5.000 meter persegi itu sudah berkembang menjadi hotel bintang empat dengan 172 kamar dan menempati lahan seluas 10 hektar. Hotel Puri Asri milik Sudarmono pa- da setiap akhir pekan dan hari-hari libur selalu penuh. Hotel atau lebih pas disebut resort ini menjual pemandangan Gunung Sumbing dengan sawah dan gemericik air Sungai Progo. Bagi orang yang biasa hidup di kota, beristirahat di resort yang bernuansa alam ini memang membuat segar kembali. Inilah yang jeli dilihat Sudarmono. Dia membiarkan suasana alam mendominasi resort-nya sehingga mereka yang datang ke sana tinggal menyatu dengan alam. Awalnya, tanah itu memiliki kecuraman 40 derajat dengan ketinggian 55 meter dari permukaan air Sungai Progo. Oleh Sudarmono, lahan itu disulap menjadi resort yang indah dan nyaman. Pengalamannya sebagai kontraktor membuatnya lebih mudah membangun dengan memanfaatkan lahan yang ada. "Bangunannya hanya 10 persen, sedang 90 persen sisanya untuk penghijauan dan taman. Bangunan yang ada harus mengikuti kontur tanah," kata Sudarmono dalam percakapan dengan Kompas, akhir pekan lalu. Jumlah karyawannya saat ini 400-an orang, 85 persen di anta- ranya merupakan warga yang tinggal di sekitar hotel itu. Konsep Sudarmono mempekerjakan warga setempat sebagai karyawan hotel membuat usahanya langgeng dan berkembang. Ia selalu berpesan pada para karyawannya, "bekerjalah tanpa harus ditunggu pimpinan. Sebab, yang membayar gaji kalian adalah tamu. Jadi layanilah tamu sebaik-baiknya." Satu dari dua anaknya, Fransiska Sudarmono (22) yang baru saja lulus sekolah perhotelan di Swiss, kini membawahi bagian sumber daya manusia dan mendidik karyawan hotel itu. *** Masa kecil Sudarmono penuh dengan perjuangan dan kerja keras. Sebagai anak sulung dari 12 bersaudara, lelaki kelahiran Semarang, 21 Juli 1954 ini mengenyam pendidikan sampai lulus SMA Negeri I Magelang tahun 1972. Orangtuanya lahir di Magelang. "Setelah itu, keluarga kami membuka toko mas di Jalan Mataram, Magelang. Papa tak mampu menyekolahkan anak-anaknya masuk perguruan tinggi. Angan-angan kuliah lagi sudah tertutup," cerita Sudarmono yang membantu orangtua mencari uang agar adik-adiknya bisa menyelesaikan sekolah dan melanjutkan ke pendidikan tinggi. Untuk membuka Toko Mas "Merak", keluarganya tidak meminjam uang ke bank, tapi memperoleh modal melalui arisan atau istilah yang dikenal di Magelang, hwe a. Toko mas itu dikelolanya sampai tahun 1978. Setelah itu, ia beralih menjadi kontraktor dan banyak mengerjakan proyek-proyek pemerintah daerah setempat. "Itu pun tidak dengan modal uang. Cukup modal kepercayaan," katanya. Salah sa-tu "karyanya" adalah Taman Kyai Langgeng yang lokasinya persis bersebelahan dengan hotel miliknya. "Saya belajar banyak dari Pak Bagus Panuntun (mantan Wali Kota Magelang). Cita-cita Pak Bagus, membuat Magelang menjadi kota pendidikan, kota bisnis, kota transit. Semua itu sudah dirintis Pak Bagus dari tahun 1981 sampai 1986. Lalu dia juga ingin Magelang punya taman di dalam kota. Tapi, kok tak ada kontraktor yang serius menangani pembangunan taman. Akhirnya Pak Bagus bilang pada saya, sudahlah Anda kan orang Magelang. Kalau tak ada yang menggerakkan perekonomian di sini, Magelang akan mati," kenang Sudarmono. Tantangan pertama yang diterimanya adalah membangun taman kota. "Tapi waktu itu Pak Bagus bilang, pemda tak punya uang. Lalu ada tawaran membangun ruko di Jalan Mataram. Saya membangun 12 ruko dan waktu itu laku semuanya senilai Rp 500 juta. Hasil penjualan ruko untuk pembangunan Taman Kyai Langgeng. Saya kerjakan selama sembilan bulan, Januari sampai September 1987. Taman kota ini diresmikan Gubernur (waktu itu) Ismail. Saya sempat mengelola manajemen Taman Kyai Langgeng selama tiga bulan, setelah itu saya serahkan ke pemda. Jadi, pemda membangun Taman Kyai Langgeng tanpa mengeluarkan uang satu rupiah pun," ujarnya. Taman kota seluas 18 hektar ini kini menjadi kebanggaan Kota Magelang. Kecintaan Sudarmono pada taman membuat lelaki itu juga memberi kontribusi yang besar pada keindahan kota Magelang. Karyawan hotelnya yang bertugas mengurusi taman, dimintanya juga membersihkan taman-taman di kota itu. Ia ingin Magelang juga menjadi daerah tujuan wisata. Candi Borobudur yang merupakan salah satu keajaiban dunia, menjadi daya tarik wisatawan datang ke Magelang. "Tapi mengapa mereka harus menginap di Yogyakarta? Toh Magelang juga punya tempat menginap yang bagus dan nyaman? Tamu harus beli oleh-oleh, makan, dan tidur di Magelang," kata Sudarmono yang kini membangun perumahan mewah Gladiool di kota itu. "Buat saya, ini semua bisa saya jalankan berkat doa dan iman. Kalau iman saya lemah, tak mungkin saya bisa berkarya seperti ini. Saya yakin, ini semua titipan Tuhan. Selama masih diberi kesehatan oleh Tuhan, kita harus selalu berkarya, memikirkan orang lain," ungkap Sudarmono yang aktif dalam Forum Profesional Pengusaha Katolik Magelang, Yayasan Kesetiakawanan Warga Magelang, Paguyuban Umat Beriman Magelang. (ROBERT ADHI KSP) Sumber: Kompas Edisi Jateng, 26 April 2000 Sumber: Herry Anggoro Djatmiko

 SUDARMONO, “SEMUANYA BERKAT DOA DAN IMAN”


(Kompas Edisi Jateng, 26 April 2000)



Ketika membangun empat cottages di samping Taman Kyai Langgeng, taman rekreasi di jantung Kota Magelang tahun 1988 silam, Sudarmono saat itu tak pernah terpikir usahanya akan menjadi besar seperti sekarang. Sudarmono yang saat itu bekerja sebagai kontraktor menerima tantangan Wali Kota Magelang (waktu itu) Bagus Panuntun membangun hotel melati.


Kini Sudarmono sudah bisa tersenyum. Hotel melati dengan empat cottages (15 kamar) dengan luas 5.000 meter persegi itu sudah berkembang menjadi hotel bintang empat dengan 172 kamar dan menempati lahan seluas 10 hektar.


Hotel Puri Asri milik Sudarmono pa- da setiap akhir pekan dan hari-hari libur selalu penuh. Hotel atau lebih pas disebut resort ini menjual pemandangan Gunung Sumbing dengan sawah dan gemericik air Sungai Progo. Bagi orang yang biasa hidup di kota, beristirahat di resort yang bernuansa alam ini memang membuat segar kembali. Inilah yang jeli dilihat Sudarmono. Dia membiarkan suasana alam mendominasi resort-nya sehingga mereka yang datang ke sana tinggal menyatu dengan alam.


Awalnya, tanah itu memiliki kecuraman 40 derajat dengan ketinggian 55 meter dari permukaan air Sungai Progo. Oleh Sudarmono, lahan itu disulap menjadi resort yang indah dan nyaman. Pengalamannya sebagai kontraktor membuatnya lebih mudah membangun dengan memanfaatkan lahan yang ada. "Bangunannya hanya 10 persen, sedang 90 persen sisanya untuk penghijauan dan taman. Bangunan yang ada harus mengikuti kontur tanah," kata Sudarmono dalam percakapan dengan Kompas, akhir pekan lalu.


Jumlah karyawannya saat ini 400-an orang, 85 persen di anta- ranya merupakan warga yang tinggal di sekitar hotel itu. Konsep Sudarmono mempekerjakan warga setempat sebagai karyawan hotel membuat usahanya langgeng dan berkembang. Ia selalu berpesan pada para karyawannya, "bekerjalah tanpa harus ditunggu pimpinan. Sebab, yang membayar gaji kalian adalah tamu. Jadi layanilah tamu sebaik-baiknya." Satu dari dua anaknya, Fransiska Sudarmono (22) yang baru saja lulus sekolah perhotelan di Swiss, kini membawahi bagian sumber daya manusia dan mendidik karyawan hotel itu.


                                              ***


Masa kecil Sudarmono penuh dengan perjuangan dan kerja keras. Sebagai anak sulung dari 12 bersaudara, lelaki kelahiran Semarang, 21 Juli 1954 ini mengenyam pendidikan sampai lulus SMA Negeri I Magelang tahun 1972. Orangtuanya lahir di Magelang. "Setelah itu, keluarga kami membuka toko mas di Jalan Mataram, Magelang. Papa tak mampu menyekolahkan anak-anaknya masuk perguruan tinggi. Angan-angan kuliah lagi sudah tertutup," cerita Sudarmono yang membantu orangtua mencari uang agar adik-adiknya bisa menyelesaikan sekolah dan melanjutkan ke pendidikan tinggi.


Untuk membuka Toko Mas "Merak", keluarganya tidak meminjam uang ke bank, tapi memperoleh modal melalui arisan atau istilah yang dikenal di Magelang, hwe a. Toko mas itu dikelolanya sampai tahun 1978. Setelah itu, ia beralih menjadi kontraktor dan banyak mengerjakan proyek-proyek pemerintah daerah setempat. "Itu pun tidak dengan modal uang. Cukup modal kepercayaan," katanya.


Salah sa-tu "karyanya" adalah Taman Kyai Langgeng yang lokasinya persis bersebelahan dengan hotel miliknya. "Saya belajar banyak dari Pak Bagus Panuntun (mantan Wali Kota Magelang). Cita-cita Pak Bagus, membuat Magelang menjadi kota pendidikan, kota bisnis, kota transit. Semua itu sudah dirintis Pak Bagus dari tahun 1981 sampai 1986. Lalu dia juga ingin Magelang punya taman di dalam kota. Tapi, kok tak ada kontraktor yang serius menangani pembangunan taman. Akhirnya Pak Bagus bilang pada saya, sudahlah Anda kan orang Magelang. Kalau tak ada yang menggerakkan perekonomian di sini, Magelang akan mati," kenang Sudarmono.


Tantangan pertama yang diterimanya adalah membangun taman kota.


"Tapi waktu itu Pak Bagus bilang, pemda tak punya uang. Lalu ada tawaran membangun ruko di Jalan Mataram. Saya membangun 12 ruko dan waktu itu laku semuanya senilai Rp 500 juta. Hasil penjualan ruko untuk pembangunan Taman Kyai Langgeng. Saya kerjakan selama sembilan bulan, Januari sampai September 1987. Taman kota ini diresmikan Gubernur (waktu itu) Ismail. Saya sempat mengelola manajemen Taman Kyai Langgeng selama tiga bulan, setelah itu saya serahkan ke pemda. Jadi, pemda membangun Taman Kyai Langgeng tanpa mengeluarkan uang satu rupiah pun," ujarnya. Taman kota seluas 18 hektar ini kini menjadi kebanggaan Kota Magelang.


Kecintaan Sudarmono pada taman membuat lelaki itu juga memberi kontribusi yang besar pada keindahan kota Magelang. Karyawan hotelnya yang bertugas mengurusi taman, dimintanya juga membersihkan taman-taman di kota itu. Ia ingin Magelang juga menjadi daerah tujuan wisata. Candi Borobudur yang merupakan salah satu keajaiban dunia, menjadi daya tarik wisatawan datang ke Magelang.


"Tapi mengapa mereka harus menginap di Yogyakarta? Toh Magelang juga punya tempat menginap yang bagus dan nyaman? Tamu harus beli oleh-oleh, makan, dan tidur di Magelang," kata Sudarmono yang kini membangun perumahan mewah Gladiool di kota itu.


"Buat saya, ini semua bisa saya jalankan berkat doa dan iman. Kalau iman saya lemah, tak mungkin saya bisa berkarya seperti ini. Saya yakin, ini semua titipan Tuhan. Selama masih diberi kesehatan oleh Tuhan, kita harus selalu berkarya, memikirkan orang lain," ungkap Sudarmono yang aktif dalam Forum Profesional Pengusaha Katolik Magelang, Yayasan Kesetiakawanan Warga Magelang, Paguyuban Umat Beriman Magelang. (ROBERT ADHI KSP)


Sumber: Kompas Edisi Jateng, 26 April 2000

Sumber: Herry Anggoro Djatmiko

No comments:

Post a Comment