22 April 2026

"Sabtu pagi, ketika jenazah Inggit dimandikan, masih ada usaha pemerintah daerah Jawa Barat untuk menguburkan jenazah itu di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Tetapi pihak keluarga menolak. Dan itu juga sesuai dengan amanat Almarhumah. "Saya ini rakyat biasa, bukan pahlawan. Karena itu, bila kelak saya meninggal, kuburkanlah di tengah-tengah rakyat," tutur Ratna Djoeami menirukan pesan ibundanya." Inggit Ganarsih, perempuan yang berjasa besar dalam hidup Bung Karno merasa dirinya bukan pahlawan. Di sisi lain, pemerintah yang merasa paling berkuasa malahan berniat melanggar wasiat almarhumah. PERPISAHAN DENGAN WANITA PENDAMPING Wanita tua yang tangguh itu telah tiada, setelah satu setengah tahun terbaring sakit. Pribadinya mengilhami perjuangan Bung Karno – yang diantarkannya sebagai pemimpin besar. (TEMPO, No. 8, Thn. XIV, 21 APRIL 1984, “Obituari”) Letusan salvo dari sepuluh moncong bedil menggelegar serempak. Dan tatkala jasad wanita tua itu diangkat dari keranda, diturunkan ke liang lahad dengan hati-hati, cuaca pun perlahan-lahan redup. Awan di langit tampak berserak keabu-abuan, hening, ketika korps musik memainkan lagu Gugur Bunga. Alam di sekitar Permakaman Muslimin Babakan Ciparay, Bandung Selatan, Sabtu siang itu seakan-akan ikut menangisi kepergian Inggit Garnasih, 96, janda presiden pertama RI, Soekarno. Almarhumah meninggal Jumat pekan lalu tepat pukul 19.10 disaksikan dua pembantu setianya Mak Irah, 70, dan Bi Ikah, 50, serta seorang kemenakannya, Jumhana, 55, di rumahnya Jalan Ciateul, Bandung. Pada detik- detik terakhir sebelum menghembuskan napasnya, Inggit memegang erat-erat tangan Mak Irah. "Mungkin itu satu-satunya tanda perpisahan dari Ibu," tutur pembantu yang merawat Inggit sejak 40 tahun lalu itu dengan mata sembab. Hari Jumat itu sesungguhnya tak tampak tanda-tanda Inggit akan berpulang. Sekitar pukul 12.00 ia memang sedikit demam. Satu jam kemudian Eko Antono, dokter pribadinya, datang. "Tidak apa-apa, hanya badannya agak gemetar," katanya. Keadaan seperti itu memang biasa terjadi sejak satu setengah tahun lalu, ketika Inggit mulai sakit keras dan dirawat di RS Hasan Sadikin, Bandung. Penyakitnya ketika itu ialah organic brain syndrome (gangguan mental akibat tidak berfungsinya organ-organ tubuh). Ketika itu tidak ada kelainan yang berarti pada hasil pemeriksaan gelombang otak. Pukul 16.00, Inggit masih bisa disuapi bubur beras. Tapi sore itu, entah mengapa, obat yang tertulis pada resep Dokter Antono tidak tersedia di semua apotek. Dan sore itu, kebetulan pula, Ratna Djoeami Asmarahadi – salah seorang anak angkat yang disayanginya – merasa perlu pulang ke rumahnya di Jalan Cilentah untuk mandi dan berganti pakaian. Tak diduga, "Ibu sudah berpulang sebelum saya sempat kembali mendampinginya," ujar Ratna, 60, menyesali dirinya. Meninggalkan dua orang anak angkat (seorang lagi Kartika) dengan 14 anak dan 28 buyut, perintis kemerdekaan itu tidak bersedia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Sejak mula, wanita itu berpesan agar dimakamkan di Cibintinu, desa kecil di Bandung Selatan. Di sanalah dulu Bung Karno, suaminya, bertemu dengan si Marhaen seorang buruh tani. Tapi menurut Tito Asmarahadi, 36, salah seorang cucu Inggit, Cibintinu termasuk kawasan perluasan Kota Bandung. "Untunglah, pada bulan Januari lalu pihak keluarga, dengan bantuan pemerintah daerah, berhasil mengusahakan tanah untuk makam seluas 120 m2 di Babakan Ciparay," katanya. Dan Inggit setuju dengan rencana itu. Sabtu pagi, ketika jenazah Inggit dimandikan, masih ada usaha pemerintah daerah Jawa Barat untuk menguburkan jenazah itu di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Tetapi pihak keluarga menolak. Dan itu juga sesuai dengan amanat Almarhumah. "Saya ini rakyat biasa, bukan pahlawan. Karena itu, bila kelak saya meninggal, kuburkanlah di tengah-tengah rakyat," tutur Ratna Djoeami menirukan pesan ibundanya. Hanya itu satu-satunya wasiat Inggit. "Sebab, sejak sakit satu setengah tahun lalu itu Ibu sudah tidak bisa kontak lagi dengan orang lain," ujar Tito. "Selama sakit, hanya suara mengaduh saja yang terdengar. Bahkan sejak dua minggu sebelum berpulang, Ibu sudah tak mampu berkata sepatah pun," tambah Ratna Djoeami Hanya tiga di antara putra-putri Bung Karno yang sempat melayat. Rachmawati – bersama suaminya, Dicky Suprapto – sudah hadir di rumah duka sejak pagi hari. Ia tak banyak bicara. "Mas Tok tidak bisa datang karena sakit," katanya. Mas Tok adalah Guntur, kakaknya. Sukmawati juga tidak tampak, sedangkan Guruh dan Megawati baru muncul di makam pukul 14.20 ketika jasad Almarhumah hendak diturunkan ke liang lahad. Di antara para janda Bung Karno yang masih hidup, hanya Hartini saja yang datang takziah. Mengenakan kebaya dan kain warna gelap, Hartini datang sekitar pukul 10.30 dengan sedan Mercy B 623 AB warna abu-abu. Hartini segera bersimpuh di sisi jenazah bekas madunya, dan berdoa. "Hari ini Ibu Inggit telah dipanggil menghadap oleh Tuhan. Saya kira beliau sangat bahagia. Selama ini beliau sudah terlalu lama menderita," katanya tersendat-sendat. "Ibu Inggit adalah salah seorang istri Bapak yang paling setia dalam suka dan duka. Beliaulah yang menunjang Bapak dalam perjuangan," katanya lagi. Pada masa tuanya, Inggit, yang pada saat-saat kembangnya geulis, seperti tak takluk dimangsa usia. Lahir pada abad silam di Desa Banjaran, Kabupaten Bandung, ketika ia mencapai usia 90 tahun kesehatannya tak menggembirakan. Namun, badannya tetap terawat bersih dan giginya putih berseri. Hal itu lantaran Inggit, gadis desa yang hanya berpendidikan madrasah itu gemar minum jamu dan rajin merawat kulit. Sejak Bung Karno dikurung oleh Belanda di penjara Banceuy, kemudian Sukamiskin, Bandung, Inggit mencari nafkah dengan membuat bedak. Salah satu bedaknya dinamainya Ningrum: belakangan ada pula yang disebut bedak Pancasila, karena bersegi lima. Ketika Bung Karno dipenjarakan selama lima tahun di Ende, Flores, sejak 1933, Inggit menyertainya dengan setia. Begitu pula ketika pemimpin pergerakan nasional yang juga populer sebagai "singa podium" itu dibuang ke Bengkulu, Inggit mendampinginya. Soekarno adalah suaminya yang ketiga setelah Sukarta dan Haji Sanusi. Bung Karno sendiri jatuh cinta pada wanita itu ketika ia mondok di rumah Haji Sanusi. Ketika itu Bung Karno yang berusia 20 tahun (sementara Inggit 32 tahun) sudah mengawini Utari, putri H.O.S. Tjokroaminoto. Sumber: TEMPO, No. 8, Thn. XIV, 21 APRIL 1984

 "Sabtu pagi, ketika jenazah Inggit dimandikan, masih ada usaha pemerintah daerah Jawa Barat untuk menguburkan jenazah itu di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Tetapi pihak keluarga menolak. Dan itu juga sesuai dengan amanat Almarhumah. "Saya ini rakyat biasa, bukan pahlawan. Karena itu, bila kelak saya meninggal, kuburkanlah di tengah-tengah rakyat," tutur Ratna Djoeami menirukan pesan ibundanya."



Inggit Ganarsih, perempuan yang berjasa besar dalam hidup Bung Karno merasa dirinya bukan pahlawan. Di sisi lain, pemerintah yang merasa paling berkuasa malahan berniat melanggar wasiat almarhumah.  


PERPISAHAN DENGAN WANITA PENDAMPING


Wanita tua yang tangguh itu telah tiada, setelah satu setengah tahun terbaring sakit. Pribadinya mengilhami perjuangan Bung Karno – yang diantarkannya sebagai pemimpin besar.


(TEMPO, No. 8, Thn. XIV, 21 APRIL 1984, “Obituari”)


Letusan salvo dari sepuluh moncong bedil menggelegar serempak. Dan tatkala jasad wanita tua itu diangkat dari keranda, diturunkan ke liang lahad dengan hati-hati, cuaca pun perlahan-lahan redup. Awan di langit tampak berserak keabu-abuan, hening, ketika korps musik memainkan lagu Gugur Bunga. Alam di sekitar Permakaman Muslimin Babakan Ciparay, Bandung Selatan, Sabtu siang itu seakan-akan ikut menangisi kepergian Inggit Garnasih, 96, janda presiden pertama RI, Soekarno. 


Almarhumah meninggal Jumat pekan lalu tepat pukul 19.10 disaksikan dua pembantu setianya Mak Irah, 70, dan Bi Ikah, 50, serta seorang kemenakannya, Jumhana, 55, di rumahnya Jalan Ciateul, Bandung. Pada detik- detik terakhir sebelum menghembuskan napasnya, Inggit memegang erat-erat tangan Mak Irah. "Mungkin itu satu-satunya tanda perpisahan dari Ibu," tutur pembantu yang merawat Inggit sejak 40 tahun lalu itu dengan mata sembab.


Hari Jumat itu sesungguhnya tak tampak tanda-tanda Inggit akan berpulang. Sekitar pukul 12.00 ia memang sedikit demam. Satu jam kemudian Eko Antono, dokter pribadinya, datang. "Tidak apa-apa, hanya badannya agak gemetar," katanya. Keadaan seperti itu memang biasa terjadi sejak satu setengah tahun lalu, ketika Inggit mulai sakit keras dan dirawat di RS Hasan Sadikin, Bandung.


Penyakitnya ketika itu ialah organic brain syndrome (gangguan mental akibat tidak berfungsinya organ-organ tubuh). Ketika itu tidak ada kelainan yang berarti pada hasil pemeriksaan gelombang otak.


Pukul 16.00, Inggit masih bisa disuapi bubur beras. Tapi sore itu, entah mengapa, obat yang tertulis pada resep Dokter Antono tidak tersedia di semua apotek. Dan sore itu, kebetulan pula, Ratna Djoeami Asmarahadi – salah seorang anak angkat yang disayanginya – merasa perlu pulang ke rumahnya di Jalan Cilentah untuk mandi dan berganti pakaian. Tak diduga, "Ibu sudah berpulang sebelum saya sempat kembali mendampinginya," ujar Ratna, 60, menyesali dirinya.


Meninggalkan dua orang anak angkat (seorang lagi Kartika) dengan 14 anak dan 28 buyut, perintis kemerdekaan itu tidak bersedia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Sejak mula, wanita itu berpesan agar dimakamkan di Cibintinu, desa kecil di Bandung Selatan. Di sanalah dulu Bung Karno, suaminya, bertemu dengan si Marhaen seorang buruh tani.


Tapi menurut Tito Asmarahadi, 36, salah seorang cucu Inggit, Cibintinu termasuk kawasan perluasan Kota Bandung. "Untunglah, pada bulan Januari lalu pihak keluarga, dengan bantuan pemerintah daerah, berhasil mengusahakan tanah untuk makam seluas 120 m2 di Babakan Ciparay," katanya. Dan Inggit setuju dengan rencana itu.


Sabtu pagi, ketika jenazah Inggit dimandikan, masih ada usaha pemerintah daerah Jawa Barat untuk menguburkan jenazah itu di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Tetapi pihak keluarga menolak. Dan itu juga sesuai dengan amanat Almarhumah. "Saya ini rakyat biasa, bukan pahlawan. Karena itu, bila kelak saya meninggal, kuburkanlah di tengah-tengah rakyat," tutur Ratna Djoeami menirukan pesan ibundanya.


Hanya itu satu-satunya wasiat Inggit. "Sebab, sejak sakit satu setengah tahun lalu itu Ibu sudah tidak bisa kontak lagi dengan orang lain," ujar Tito. "Selama sakit, hanya suara mengaduh saja yang terdengar. Bahkan sejak dua minggu sebelum berpulang, Ibu sudah tak mampu berkata sepatah pun," tambah Ratna Djoeami


Hanya tiga di antara putra-putri Bung Karno yang sempat melayat. Rachmawati – bersama suaminya, Dicky Suprapto – sudah hadir di rumah duka sejak pagi hari. Ia tak banyak bicara. "Mas Tok tidak bisa datang karena sakit," katanya. Mas Tok adalah Guntur, kakaknya. Sukmawati juga tidak tampak, sedangkan Guruh dan Megawati baru muncul di makam pukul 14.20 ketika jasad Almarhumah hendak diturunkan ke liang lahad.


Di antara para janda Bung Karno yang masih hidup, hanya Hartini saja yang datang takziah. Mengenakan kebaya dan kain warna gelap, Hartini datang sekitar pukul 10.30 dengan sedan Mercy B 623 AB warna abu-abu.


Hartini segera bersimpuh di sisi jenazah bekas madunya, dan berdoa. "Hari ini Ibu Inggit telah dipanggil menghadap oleh Tuhan. Saya kira beliau sangat bahagia. Selama ini beliau sudah terlalu lama menderita," katanya tersendat-sendat. "Ibu Inggit adalah salah seorang istri Bapak yang paling setia dalam suka dan duka. Beliaulah yang menunjang Bapak dalam perjuangan," katanya lagi.


Pada masa tuanya, Inggit, yang pada saat-saat kembangnya geulis, seperti tak takluk dimangsa usia. Lahir pada abad silam di Desa Banjaran, Kabupaten Bandung, ketika ia mencapai usia 90 tahun kesehatannya tak menggembirakan. Namun, badannya tetap terawat bersih dan giginya putih berseri.


Hal itu lantaran Inggit, gadis desa yang hanya berpendidikan madrasah itu gemar minum jamu dan rajin merawat kulit. Sejak Bung Karno dikurung oleh Belanda di penjara Banceuy, kemudian Sukamiskin, Bandung, Inggit mencari nafkah dengan membuat bedak. Salah satu bedaknya dinamainya Ningrum: belakangan ada pula yang disebut bedak Pancasila, karena bersegi lima.


Ketika Bung Karno dipenjarakan selama lima tahun di Ende, Flores, sejak 1933, Inggit menyertainya dengan setia. Begitu pula ketika pemimpin pergerakan nasional yang juga populer sebagai "singa podium" itu dibuang ke Bengkulu, Inggit mendampinginya. Soekarno adalah suaminya yang ketiga setelah Sukarta dan Haji Sanusi.  


Bung Karno sendiri jatuh cinta pada wanita itu ketika ia mondok di rumah Haji Sanusi. Ketika itu Bung Karno yang berusia 20 tahun (sementara Inggit 32 tahun) sudah mengawini Utari, putri H.O.S. Tjokroaminoto.


Sumber: TEMPO, No. 8, Thn. XIV, 21 APRIL 1984

No comments:

Post a Comment