Pada 17 April 1969 Menteri Keuangan, Drs. Frans Seda menjadi penceramah di Universitas Katholik Nijmegen, Belanda. Begitu Frans Seda naik ke panggung untuk mulai berceramah, Y.van Herte seorang mahasiswa menyela dan bertanya perihal peristiwa pembunuhan massal anggota PKI selama bulan Oktober 1965. Frans menyanggupi menjawab pertanyaan itu setelah ia diberi kesempatan untuk memberikan ceramah terlebih dahulu. Namun ditolak dan Frans dimintai pertanggungjawaban atas pembunuhan massal itu. Suasana menjadi kacau dan Frans Seda diteriaki sebagai Moordenaar (Pembunuh) dan Lafaard (Pengecut). Ceramah akhirnya dibatalkan dan Frans Seda keluar meninggalkan Aula Universitas lewat pintu belakang.
Peristiwa tersebut berhubungan dengan terbongkarnya Peristiwa Pembantaian Massal di Purwodadi. Ini terjadi ketika muncul pernyataan pers pada 26 Februari 1969 dari Haji Johannes Cornelis Princen atau lebih dikenal dengan Poncke Princen yang menyatakan ada pembunuhan terhadap 860 orang yang ditahan di Grobogan. Orang-orang yang ditangkap di kamp tahanan Grobogan adalah orang-orang yang terdampak dari pembersihan komunis oleh Rezim Militer Orde Baru. Paska ditahan para tahanan dibunuh dengan sangat keji dengan cara dipukuli saat malam hari.
Berita itu menyulut reaksi dan gelombang protes dari masyarakat internasional, khususnya di Belanda terhadap Rezim Orde Baru. Surat kabar Belanda Trouw edisi 19 April 1969 menyiarkan “surat terbuka” dari Komite Indonesia yang keberatan dengan niat jalinan Kerjasama Belanda – Indonesia karena dengan demikian melegalkan pembunuhan massal. Oleh karenannya, Soeharto yang merasa terganggu oleh peristiwa itu, akhirnya membatalkan kunjungannya ke sejumlah negara Eropa yang seharusnya dia lakukan pada April 1969 dan memutuskan baru akan dilakukan pada tahun 1970.
Melipat Ganda, Membakar Tirani!
#momentumsejarah
#arahjuang
http://linktr.ee/arahjuang

No comments:
Post a Comment