Di tanah asing yang jauh dari kemilau takhta emasnya, Bahadur Shah Zafar—sang penguasa terakhir dari Dinasti Mughal yang agung—menghembuskan napas terakhirnya dalam kesunyian pengasingan di Rangoon, Burma. Namun, sebelum maut menjemput dalam sunyi, ia adalah sumbu dari sebuah ledakan besar yang mengguncang dunia.
Bara Perlawanan Sang Raja Tua
Tahun 1857, saat fajar pembero.ntakan menyulut daratan India, sang Sultan yang telah berusia 81 tahun itu tidak memilih untuk tunduk. Di bawah panjinya, sebuah persatuan suci terbentuk: pejuang Hindu dan Muslim berdiri tegak, bahu-membahu menghunus pe..dang melawan tirani Inggris dalam Pe..rang Kemerdekaan Pertama yang banjir da..rah.
Namun, takdir berkata lain. Perlawanan itu dipatahkan, dan Delhi pun jatuh ke tangan penjajah.
Kota Para Penyair yang Menjadi Padang Mayat
Penulis William Dalrymple melukiskan tragedi itu dengan tinta kepedihan:
"Di antara tumpukan ma.yat, terbaring para penyair dan seniman paling berbakat yang pernah dimiliki Delhi. Mereka adalah marwah dan kebanggaan kota ini," tulis Zahir Dehlavi. "Tiada tandingan bagi mereka di zamannya, dan dunia takkan pernah lagi melihat sosok-sosok seperti mereka."
Sang Sultan, dalam keputusasaan terakhirnya, mencari perlindungan di balik dinding megah Makam Humayun. Namun, di sanalah ia ditangkap. Delhi—metropolis Mughal yang pernah menjadi pusat peradaban Hindustan—seketika berubah menjadi kota hantu yang gersang, sebuah monumen bisu bagi mereka yang telah tiada.
Tragedi di Gerbang Berdarah
Setelah pengadilan yang memilukan, Bahadur Shah Zafar dibuang layaknya pesakitan ke Rangoon, tempat ia akhirnya wafat dan dikuburkan dalam kehampaan pada tahun 1862.
Namun, kekejaman Inggris belum usai. Hanya selang sehari setelah penangkapan sang Sultan, tepat pada 21 September, William Hodson melakukan tindakan biadab di luar batas kemanusiaan.
Tanpa perintah resmi, dengan tangan dingin yang haus darah, ia menembak mati putra-putra Sultan—Mirza Mughal dan Mirza Khizr—serta cucunya, Mirza Abu Bakr.
Pembantaian itu terjadi di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai "Khooni Darwaza" atau Gerbang Berdarah. Di sanalah, hanya tiga kilometer dari Benteng Merah yang perkasa, garis keturunan agung Dinasti Mughal diputus paksa oleh timah panas, meninggalkan luka yang takkan pernah mengering dalam sejarah India.
Sumber Utama:
• The Last Mughal: The Fall of a Dynasty: Delhi, 1857 oleh William Dalrymple

No comments:
Post a Comment