Pahlawan yang mematahkan pedang Mongol dan menyelamatkan leher umat Islam, ternyata tak mampu melindungi lehernya sendiri dari pedang kawan seperjuangannya.
Momentum itu bukan sekadar pembunuhan biasa; itu adalah sebuah gempa politik yang selamanya mengubah garis takdir dunia Islam. Hanya berselang beberapa minggu setelah kemenangan legendaris di Ain Jalut (1260 M), di tengah sorak-sorai Damaskus dan Kairo, sang Sultan Penyelamat, Saifuddin Qutuz, tersungkur bersimbah darah. Pelakunya? Sekutu terdekatnya, sang "Singa" yang berbagi panggung kemenangan bersamanya: Zahir Baibars.
Inilah rincian benturan epik antara dua raksasa Mamluk dalam sejarah, di mana pragmatisme politik berbicara lebih keras daripada air mata kesetiaan.
1. Tragedi di Al-Qusayr: Khianat dalam Genggaman
Setelah badai Mongol dipadamkan—untuk pertama kalinya dalam sejarah—ketakutan yang mencekam hati Muslimin sirna. Rakyat menanti kepulangan sang Sultan yang telah mengusir kiamat kecil dari tanah mereka.
Namun, di dalam iring-iringan kemenangan itu, ada hati yang tidak tenang. Di sebuah tempat bernama Al-Qusayr, Qutuz keluar dari perkemahannya untuk berburu, mencari sejenak ketenangan di tengah hiruk-pukuk perang. Di sana, Baibars mendekat, berpura-pura ingin membicarakan suatu urusan.
Dengan kepercayaan penuh, Qutuz mengulurkan tangannya. Saat itulah maut menjemput. Baibars mencengkeram tangan sang Sultan—sebuah isyarat bagi para konspirator lain untuk menghunus pedang. Qutuz jatuh, menatap tajam ke arah sahabatnya dengan tatapan tak percaya yang menyayat hati:
"Beginikah caramu, wahai Rukn al-Din?"
2. Ambisi Aleppo: Percikan Api Pertama
Baibars bukanlah tipe pria yang puas berdiri di bayang-bayang selamanya. Ia merasa keberaniannya di medan Ain Jalut setara dengan sang Sultan. Ia menginginkan Aleppo sebagai imbalan atas darah yang ia tumpahkan.
Namun, Qutuz berpikir dengan otak seorang penguasa, bukan dengan hati seorang kawan. Ia khawatir jika Baibars menguasai kota sebesar Aleppo, maka akan lahir "negara di dalam negara". Penolakan itu, meski secara politik masuk akal, menjadi sumbu pendek yang meledakkan dendam dalam diri Baibars.
3. Bayang-Bayang Masa Lalu: Dendam Aktai yang Belum Usai
Perselisihan soal Aleppo hanyalah permukaan. Jauh di lubuk hati mereka, ada luka lama yang tak pernah benar-benar mengering.
Dulu, Baibars adalah pengikut setia Farisuddin Aktai, pemimpin Mamluk Bahri yang sangat disegani. Qutuz adalah salah satu orang yang membantu Sultan Muiz Aibek mengeksekusi Aktai. Sejak saat itu, mereka berpencar sebagai musuh. Mongol-lah yang memaksa mereka bersatu. Kebutuhan mendesak memaksa tubuh mereka berdekatan, namun hati mereka tetap saling menghunus pedang. Darah Aktai menuntut tebusan, dan ingatan itu hanya menunggu waktu yang tepat untuk menagih janji.
4. Hukum Rimba Mamluk: Takhta Milik Sang Pemenang
Era Mamluk adalah era tanpa garis keturunan suci. Singgasana tidak diwariskan lewat rahim, melainkan diraih lewat tajamnya pedang. Sejak kecil, seorang Mamluk dididik bahwa kekuatan adalah satu-satunya bahasa yang dipahami dunia.
Baibars tidak memandang tindakannya sebagai pengkhianatan dalam kacamata moral kita. Baginya, itu adalah kelanjutan alami dari hukum yang mereka semua imani:
"Al-Mulku Liman Ghalaba" — Kekuasaan adalah milik dia yang menang.
Ia sadar, jika Qutuz menginjakkan kaki di Kairo sebagai pahlawan besar, tak akan ada lagi celah untuk menggulingkannya. Pilihannya hanya dua: tetap menjadi pelayan selamanya, atau menjadi penguasa hari ini. Ia memilih jalan darah.
5. Ironi Sejarah: Sang Syahid dan Sang Pendiri
Setibanya di Kairo dengan tangan yang masih merah, rakyat dan petinggi militer tak banyak bertanya. Di zaman itu, darah adalah tinta yang biasa dalam menulis politik. Panglima militer (Atabeg) bertanya padanya dengan dingin:
"Apakah kau yang membunuhnya dengan tanganmu sendiri?"
Baibars menjawab dengan ketegasan yang mencekam: "Ya."
Maka jawabannya singkat: "Kalau begitu, duduklah di kursinya. Kekuasaan adalah milik pemenang."
Dalam satu helaan napas, berakhirlah era sang penyelamat, dan dimulailah era sang pembangun.
Kesimpulan: Sisi Terang dan Gelap Rembulan
Qutuz dibunuh karena politik saat itu tidak mengenal kata "terima kasih", melainkan "keberlangsungan". Ia gugur setelah menuntaskan misi sejarahnya melindungi Islam dari Tartar. Namun, kematiannya memberi jalan bagi Baibars untuk membangun imperium yang lebih perkasa—penguasa yang menjalani 9 pertempuran melawan Mongol dan puluhan kampanye melawan Tentara Salib tanpa sekalipun kalah.
Qutuz pergi sebagai "Syahid", Baibars bertahan sebagai "Sang Pendiri". Keduanya menulis sejarah kita dengan tinta cahaya... dan genangan darah. Sejarah memang tak pernah murni putih atau hitam; ia seperti rembulan, memiliki sisi yang terang benderang sekaligus sisi gelap yang misterius.

No comments:
Post a Comment