ARIEF BUDIMAN: KEMATIAN BRIGJEN TAMPUBOLON HARUS JADI AJANG PERENUNGAN
(DëTIK, 13 – 19 April 1994, NOMOR 057/TAHUN Ke-18)
Bagaimana Anda melihat terbunuhnya Tampubolon berkaitan dengan gejala kehidupan kota besar?
Ketika membaca berita itu, dan kebetulan di Kompas saya juga
membaca berita perusakkan yang dilakukan pelajar terhadap halte bus, bagi saya Jakarta saat ini mengerikan. Mengerikan, karena gejala-gejala kekerasan tidak terkontrol lagi. Gejala ini bukan hanya di Indonesia, tetapi juga kota-kota besar lain di mana terdapat kantong-kantong kemiskinan.
Di New York misalnya. Kalau Anda berjalan di atas Universitas Columbia, maka Anda akan melihat daerah orang-orang kulit hitam, di mana orang-orang kulit putih tidak berani melewati daerah itu ketika hari sudah mulai gelap. Mengapa? Seringkali terjadi perampokan, pemukulan. Jadi adanya kantong-kantong kemiskinan inilah yang menyebabkan orang jadi meledak-ledak.Namun di AS hukumnya relatif berjalan, meskipun sulit dikontrol. Sedangkan di di Indonesia hukumnya boleh dikatakan kurang berjalan.
Di Indonesia, latar belakang apa yang menyebabkan orang gampang menggunakan kekerasan?
Ada dua hal. Pertama hukumnya kurang jalan. Misalnya kalau ada suatu perkelahian, seringkali anak-anak pejabat bebas dari hukuman. Meskipun pimpinan ABRI menyatakan, anak pejabat akan ditindak. Prakteknya kan sulit dilaksanakan. Kedua, itu bisa terjadi karena adanya budaya kekerasan pada skala nasional.
Sekarang ini kalau kita kita tanya pada anak-anak muda siapa yang mereka anggap hero (pahlawan). Jawabnya, hero di mata mereka adalah orang-orang yang berseragam. Artinya, citra militer menjadi citra hero. Lalu bergeser menjadi simbol kekuatan fisik. Dengan kata lain, pada akhirnya mereka punya pikiran, yang bisa menyelesaikan masalah adalah kekuatan fisik. Bukan kemampuan otak. Ini yang menyebabkan kekuatan fisik begitu dipuja-puja. Lalu yang ketiga, seperti yang saya katakan tadi, adanya kantong-kantong kemiskinan di kota-kota besar.
Kekerasan pun tak pandang bulu. Seorang perwira tinggi seperti Tampubolon menjadi korban?
Saya kira tewasnya Brigjen Tampubolon ini merupakan tragedi. Tragedi, karena ini mengenaskan sekali. Bahwa seorang yang berkarier begitu baik di intelijen harus mati dengan cara begitu. Bagaimanapun, tewasnya Tampubolon pasti memukul keluarga besar ABRI. Maka saya harap kematian Tampubolon menjadi semacam ajang perenungan.
Maksud saya, dengan kematian Tampubolon diharapkan akan ada suatu keseriusan yang lebih baik dalam melihat dan menangani gejala yang tumbuh di masyarakat. Jangan dianggap sepele. Tidak cukup hanya dengan menangkap berandal-berandal itu. Ini sebuah masalah yang sangat besar. Dan merupakan perjuangan dari banyak orang.
Tragedi yang menimpa Tampubolon dan kasus-kasus sejenis, benarkah ini isyarat menguatnya pengadilan jalanan atau dark justice?
Itu benar. Memang sedang menguat dan membahayakan kota-kota besar seperti Jakarta. Dan Brigjen Tampubolon merupakan korban dari proses kota semacam ini. Ini memang mengerikan. Suatu hari, di Jakarta saya pernah naik bus kota yang menuju Cempaka Putih, dan tak lama kemudian beberapa pelajar SMA masuk ke bis kota. Di situ seorang pelajar dengan bangga bercerita bagaimana dia distop polisi di depan Hotel Indonesia.
Lalu dia menelepon oomnya yang kebetulan militer. Lalu oomnya datang ke tempat kejadian tanpa berseragam milter, dan kemudian sang polisi dipukuli. Dengan bangganya si pelajar itu bilang, “si polisi itu nggak tahu gue ini siapa dan oom gue itu siapa." Ini kan fenomena yang sangat berbahaya. Cara yang ditempuh Pangdam Jaya Hendropriyono dengan mengirim anak- anak nakal itu ke sekolah khusus, menurut saya kurang tepat. Karena prosesnya bukan terletak aada si anak.
Bagaimana faktor ekonomi dan politik mempengaruhi tumbuhnya budaya kekerasan?
Seperti yang saya katakan tadi, adanya kantong-kantong kemiskinan di kota-kota besar itu erat kaitannya dengan masalah perekonomian. Alhasil, adanya kantong kantong kemiskinan ini menimbulkan gap. Apalagi menjadi orang kaya di In donesia itu prosesnya seringkali tidak wajar. Artinya, semakin kaya semakin tidak wajar.
Jika tidak ditangani, kira-kira pola gerakan massa macam apa yang muncul di masa mendatang?
Gerakan massa akan menjadi dua. Pertama, gerakan massa yang menuju pada kriminalitas. Yaitu seperti gerakan pelajar, gerakan keroyokan terhadap sopir metromini, dan sebagainya. Sedangkan yang kedua, adalah gerakan politik yang dilakukan mahasiswa dengan tujuan memperkuat demokratisasi. Jadi gerakan massa yang muncul saat ini harus dilihat dari dua hal itu. Gerakan massa dengan model yang pertama mungkin negatif, sedangkan model yang kedua positif. Tetapi kedua-duanya merupakan produk dari ketidakpuasan atau keadaan masyarakat yang sedang sakit.
Apakah kejahatan kekerasan yang terjadi di kota-kota besar itu punya kecenderungan untuk memilih-milih korban?
Kalau di basis kriminal saya kira kesadaran kelas itu tidak ada. Jadi mereka ini tidak pandang bulu. Mereka adalah korban dari suatu proses politik di mana kekerasan merupakan suatu cara penyelesaian. Jadi kalau mereka ini kekurangan uang, ya mereka langsung saja menggasak uang pada siapa saja yang paling lemah. Seperti halnya juga pada para pelajar yang merusak halte bus, gerobak tukang martabak digulingkan. Lalu tukang rokok dirampas.
Gejala kekerasan semacam itu tidak memponyai sensitivitas bahwa para penjual itu merupakan orang-orang kecil. Jadi gerakan massa yang berbasis kriminal ini jauh lebih mengerikan karena sasarannya bukan untuk perbaikan masyarakat tapi hanya manifestasi dari penyakit di dalam masyarakat. Lain halnya dengan gerakan politik yang boleh dikatakan sangat terarah dan menuju pada suatu konsep yang lebih baik
Seberapa serius kelompok urban mempengaruhi gejolak sosial di perkotaan?
Saya kira sangat serius. Artinya, gejala ini sudah melewati ambang batas. Di desa telah terjadi proses pemiskinan. Seperti adanya pengambilan tanah, lahan sawah yang dibongkar dan seterusnya. Akibatnya orang-orang desa pergi ke kota. Di kota mereka terbentur pada keterbatasan lapangan kerja. Mereka lalu bergerombol, dan biasanya mereka tersalur pada sektor informal. Tapi di sektor informal pun mereka dikejar-kejar dengan mengatasnamakan keindahan kota demi usaha merebut Adipura. Alhasil, kelompok ini kemudian masuk ke dalam subkultur kekerasan kriminal. Dan kecenderungan ini bukannya berkurang tapi malah bertambah, karena masuknya orang-orang baru yang langsung dikooptasi oleh subkultur kekerasan semacam itu.
Lantas gejala apa pula yang membuat orang dengan gampang membunuh dengan gara-gara yang sepele?
Ini berarti memang ada semacam tingkat penggunaan kekerasan yang lebih tinggi di kalangan orang-orang kecil. Dan ini kalau nantinya ada yang bisa mengorganisir mereka untuk sasaran-sasaran politis, maka itu bisa menimbulkan sebuah revolusi. Tentunya ini tidak kita inginkan, dan harus kita cegah.
Artinya, kita ingin suatu perubahan tanpa harus menimbulkan pertumpahan darah. Tetapi kalau perubahan itu tidak terjadi dan terus-menerus begini, sehingga ada potensi ke arah revolusi yang keras, maka dengan mudah itu bisa meledak karena kondisi kekerasan orang-orang dari lapisan bawah ini nampaknya sudah ada dan sudah dipraktikkan secara kecil-kecilan Saat in kekerasan itu bergerak sporadis dan tanpa sasaran politis.
Sejauh mana relevansi gagasan anti kekerasan?
Saya pada dasarnya tidak percaya dengan gerakan anti-kekerasan. Bagi saya tergantung pada kasus-kasusnya. Ini bukan karena saya senang dengan adanya kekerasan, tetapi kalau dianalisa secara sosiologis, gerakan anti-kekerasan itu berkembang karena adanya gerakan-gerakan yang menggunakan kekerasan. Sehingga pemerintah kemudian memberikan jalan tengah. Jadi efektivitas dari gerakan anti kekerasan itu biasanya karena adanya ancaman kekerasan.
Apakah kekerasan kriminal ini hanya terbatas dilakukan oleh para penganggur perkotaan atau bahkan meluas ke kalangan buruh dan pedagang kecil?
Saya kira semua orang yang termasuk ke dalam lapisan orang-orang miskin. Di samping itu, para pelaku kejahatan kekerasan itu adalah para pemuda kota, termasuk anak orang kaya. Yang terakhir ini bukan masuk ke dalam kelompok mahasiswa melainkan masuk ke dalam kelompok ugal-ugalan yang terlibat narkotika dan seks.■
Sumber: DëTIK, 13 – 19 April 1994, NOMOR 057/TAHUN Ke-18
Sumber : Herry Anggoro Atmodjo

No comments:
Post a Comment