NYONYA SOEBANDRIO, YANG DIJULUKI SEBAGAI "IBU NEGARA BAYANGAN"
Beliau bernama Dr.HURUSTIATI SOEBANDRIO yang merupakan istri dari Dr.Soebandrio, yaitu Wakil Perdana Menteri I dijaman Orde Lama, yang merupakan tokoh "Terkuat Kedua" setelah Presiden Soekarno.
Dr.Hurustiati lahir di Salatiga pada 26 Juli 1917, yang mana beliau tumbuh dalam lingkungan priyayi yang sangat mementingkan pendidikan.
Latar belakang inilah yang mengantarkannya menjadi sosok intelektual dengan bidang jurusan yang masih langka pada jamannya.
Karena beliau adalah seorang dokter lulusan IKA DAIGAKU (sekarang FK-UI), sekaligus ahli Antropologi dari London School of Economics (LSE), Inggris.
Namun sejarah tidak hanya mengingatkan kita pada kecerdasannya saja, melainkan juga pada perannya yang sangat kontroversial di jantung kekuasaan Orde Lama.
SOSOK DI BALIK LAYAR BUNG KARNO
Sebagai istri dari Dr.Soebandrio (Wakil Perdana Menteri I), Dr.Hurustiati memiliki akses yang sangat istimewa di lingkaran terdalam Bung Karno.
Kedekatan intelektual antara Bung Karno dengan Dr.Hurustiati sangat erat, sehingga banyak dari kalangan elit di istana menyebutnya sebagai "IBU NEGARA BAYANGAN".
Istilah itu muncul bukannya tanpa sebab, melainkan karena pengaruhnya yang dianggap melampaui hak dan wewenang dari para istri resmi Bung Karno yang lainnya.
Seperti diketahui bahwa sang Proklamator sangat mengagumi wanita cerdas dan berpendidikan tinggi, hal itu menjadikan Dr.Hurustiati sebagai teman diskusi seputar ideologi, isu² sosial politik, hingga diplomasi internasional, dll.
AMBISI DAN TAKTIK POLITIK
Di lorong-lorong Istana, ketika isu dan desas-desus yang berhembus kencang, terkait adanya sinyalemen bahwa Dr.Soebandrio secara sadar "menempatkan" istrinya di sisi Bung Karno, hal tersebut bertujuan demi mengamankan posisi politiknya sendiri.
Sehingga hasilnya memang terlihat dan tidak main-main, karena akhirnya Dr.Soebandrio berhasil memegang jabatan-jabatan mentereng (dengan status rangkap jabatan), yaitu ;
- Wakil Perdana Menteri I,
- Menteri Luar Negeri,
- Ketua BPI (Badan Pusat Intelijen),
- Pati AURI (pangkat Marsekal Tituler).
Dan keistimewaan Dr.Hurustiati semakin terlihat ketika beliau dipercaya untuk mengelola dana-dana sosial negara, dan menjabat sebagai Ketua LKI (Lembaga Kebudayaan Indonesia).
Selain itu, kedekatan beliau dengan tokoh-tokoh kiri dan GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) juga semakin memperkuat pengaruh politiknya di Republik ini.
Namun di sisi lain juga memicu kecemburuan besar di lingkaran istana, sehingga memancing isu bahwa Dr.Hurustiati "ada main" dengan Bung Karno, bahkan isu tersebut sampai beredar luas keluar negeri.
JATUHNYA PRIMADONA ORDE LAMA
Ketika pada akhirnya nasib berkata lain, seolah mengisyaratkan bahwa Tuhan tidak tidur, karena badai sejarah pasca peristiwa G30S/PKI telah menghancurkan segala "privilege" nya dalam waktu semalam.
Dr.Hurustiati terseret dalam pusaran skandal politik besar, bahkan beliau dituduh terlibat aktivitas subversif yang ingin merebut kepemimpinan negara yang sah.
Suaminya, Dr.Soebandrio yang dijuluki "DURNA" juga divonis mati (lalu menjadi seumur hidup), sementara Dr.Hurustiati harus meninggalkan segala kemewahan istana, karena dirinya harus mendekam dibalik jeruji besi selama bertahun-tahun lamanya.
TRAGEDI BERAKHIR MEMILUKAN
Tokoh wanita yang pernah "sangat" berkuasa ini wafat pada tanggal 15 Januari 1974 dalam usia 56 tahun.
Dia mengembuskan napas terakhir saat suaminya (Dr.Soebandrio) masih mendekam di penjara, tanpa sempat melihat kebebasan sang suami yang baru dibebaskannya pada tahun 1995.
HIMBAUAN
Restorasi ini adalah bentuk apresiasi terhadap kepingan sejarah yang jarang terungkap ke permukaan.
Dimohon untuk berkomentar yang bijak guna menghindari perdebatan yang tidak perlu.
Sehingga kita dapat menghargai martabat para tokoh dan keluarganya yang bersangkutan, terima kasih ๐

No comments:
Post a Comment