21 April 2026

Kartini, Sang Santri: Jejak Revolusi Pemikiran di Balik Kitab Pegon NUOKe – Nama Raden Adjeng Kartini selama ini identik dengan kebaya, sanggul, dan perjuangan emansipasi perempuan melalui surat-suratnya kepada sahabat di Eropa. Namun, di balik narasi besar sebagai bangsawan progresif, terselip satu identitas yang kerap luput dari catatan sejarah populer: Kartini adalah seorang santri. Jauh sebelum ia dikenal dunia karena buku Habis Gelap Terbitlah Terang, pola pikir Kartini ditempa oleh kegelisahan spiritual yang mendalam. Ia lahir di tengah tradisi paternalistik Jawa yang kental, di mana perempuan dianggap sekadar pelengkap. Namun, anomali terbesar yang ia rasakan justru muncul saat ia berhadapan dengan kitab sucinya sendiri, Al-Qur'an. Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar pada 1899, Kartini sempat menuangkan rasa frustrasinya. Ia merasa aneh ketika masyarakat diwajibkan membaca Al-Qur'an tanpa diperbolehkan memahami maknanya. "Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca," tulis Kartini. Bagi Kartini kala itu, Islam seolah menjadi rahasia yang terkunci karena kendala bahasa. Ketidakpahaman ini sempat membuatnya merasa jauh dari agamanya sendiri, hingga sebuah pertemuan tak sengaja di rumah pamannya, Bupati Demak, mengubah segalanya. Di sana, Kartini bertemu dengan Kiai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang—ulama besar yang dikenal sebagai Mbah Sholeh Darat. Saat sang kiai membedah tafsir Surah Al-Fatihah dalam bahasa Jawa, Kartini tertegun. Untuk pertama kalinya, ayat-ayat yang selama ini ia hafal tanpa makna, tiba-tiba "berbicara" langsung ke sanubarinya. Nyai Hj. Fadhilah Sholeh, cucu dari Mbah Sholeh Darat, menceritakan bagaimana Kartini kecil mendesak pamannya untuk bertemu sang kiai. Kartini melontarkan pertanyaan tajam: "Kiai, bagaimana hukumnya bila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?" Kartini menggugat para ulama saat itu yang enggan menerjemahkan Al-Qur'an ke bahasa lokal. Padahal, ia haus akan bimbingan hidup yang nyata, bukan sekadar pelafalan hampa. Kritik Kartini menjadi pemantik bagi Mbah Sholeh Darat. Namun, tantangannya tidak mudah. Pemerintah kolonial Belanda melarang keras penerjemahan Al-Qur'an ke bahasa daerah karena takut pemahaman agama akan memicu semangat perlawanan dan jiwa merdeka. Untuk menyiasatinya, Mbah Sholeh Darat menggunakan aksara Arab Pegon (bahasa Jawa bertuliskan huruf Arab). Dengan cara ini, penjajah tidak curiga karena menganggapnya sebagai teks doa biasa. Lahirlah kitab Faidhur-Rohman, tafsir Al-Qur'an pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa. Kitab inilah yang kemudian menjadi kado pernikahan Kartini saat dipinang oleh Bupati Rembang, RM Joyodiningrat. Kartini menyebut hadiah itu sebagai cahaya yang menerangi kegelapannya selama ini. Inspirasi utama kalimat ikonik "Habis Gelap Terbitlah Terang" disinyalir kuat berasal dari ayat Al-Qur'an yang sangat menyentuh hati Kartini: Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur—"Dari kegelapan menuju cahaya" (QS. Al-Baqarah: 257). Dalam surat-suratnya ke Nyai Abendanon, Kartini sering mengulang frasa Door Duisternis Toot Licht. Judul yang kemudian diterjemahkan oleh Armijn Pane sebagai judul buku kumpulan suratnya tersebut bukan sekadar metafora sosial, melainkan kristalisasi pengalaman spiritualnya setelah belajar agama. Meski Mbah Sholeh Darat wafat sebelum menyelesaikan seluruh terjemahan Al-Qur'an (hanya sampai Surah Ibrahim), pengaruhnya telah tertanam kuat. Kartini bukan lagi sekadar putri bangsawan yang mengeluh tentang tradisi pingitan, melainkan seorang intelektual Muslimah yang sadar bahwa kemerdekaan berpikir dimulai dari pemahaman terhadap ilmu. Selamat Hari Kartini. Seorang santri, seorang pemikir, dan ibu bagi kemajuan bangsa. Sumber: NU Online Content Curator NUOKe #Kartini #HariKartini #RAKartini #IbuKartini #SholehDarat #MbahSholehDarat #TokohBangsa #PahlawanNasional #SejarahIndonesia #SejarahIslamNusantara #BiografiTokoh #JejakLangkahKartini #HabisGelapTerbitlahTerang

 Kartini, Sang Santri: Jejak Revolusi Pemikiran di Balik Kitab Pegon


NUOKe  – Nama Raden Adjeng Kartini selama ini identik dengan kebaya, sanggul, dan perjuangan emansipasi perempuan melalui surat-suratnya kepada sahabat di Eropa. Namun, di balik narasi besar sebagai bangsawan progresif, terselip satu identitas yang kerap luput dari catatan sejarah populer: Kartini adalah seorang santri.



Jauh sebelum ia dikenal dunia karena buku Habis Gelap Terbitlah Terang, pola pikir Kartini ditempa oleh kegelisahan spiritual yang mendalam. Ia lahir di tengah tradisi paternalistik Jawa yang kental, di mana perempuan dianggap sekadar pelengkap. Namun, anomali terbesar yang ia rasakan justru muncul saat ia berhadapan dengan kitab sucinya sendiri, Al-Qur'an.


Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar pada 1899, Kartini sempat menuangkan rasa frustrasinya. Ia merasa aneh ketika masyarakat diwajibkan membaca Al-Qur'an tanpa diperbolehkan memahami maknanya.


"Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca," tulis Kartini.


Bagi Kartini kala itu, Islam seolah menjadi rahasia yang terkunci karena kendala bahasa. Ketidakpahaman ini sempat membuatnya merasa jauh dari agamanya sendiri, hingga sebuah pertemuan tak sengaja di rumah pamannya, Bupati Demak, mengubah segalanya.


Di sana, Kartini bertemu dengan Kiai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang—ulama besar yang dikenal sebagai Mbah Sholeh Darat. Saat sang kiai membedah tafsir Surah Al-Fatihah dalam bahasa Jawa, Kartini tertegun. Untuk pertama kalinya, ayat-ayat yang selama ini ia hafal tanpa makna, tiba-tiba "berbicara" langsung ke sanubarinya.


Nyai Hj. Fadhilah Sholeh, cucu dari Mbah Sholeh Darat, menceritakan bagaimana Kartini kecil mendesak pamannya untuk bertemu sang kiai. Kartini melontarkan pertanyaan tajam: "Kiai, bagaimana hukumnya bila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?"


Kartini menggugat para ulama saat itu yang enggan menerjemahkan Al-Qur'an ke bahasa lokal. Padahal, ia haus akan bimbingan hidup yang nyata, bukan sekadar pelafalan hampa.


Kritik Kartini menjadi pemantik bagi Mbah Sholeh Darat. Namun, tantangannya tidak mudah. Pemerintah kolonial Belanda melarang keras penerjemahan Al-Qur'an ke bahasa daerah karena takut pemahaman agama akan memicu semangat perlawanan dan jiwa merdeka.


Untuk menyiasatinya, Mbah Sholeh Darat menggunakan aksara Arab Pegon (bahasa Jawa bertuliskan huruf Arab). Dengan cara ini, penjajah tidak curiga karena menganggapnya sebagai teks doa biasa. Lahirlah kitab Faidhur-Rohman, tafsir Al-Qur'an pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa.


Kitab inilah yang kemudian menjadi kado pernikahan Kartini saat dipinang oleh Bupati Rembang, RM Joyodiningrat. Kartini menyebut hadiah itu sebagai cahaya yang menerangi kegelapannya selama ini.


Inspirasi utama kalimat ikonik "Habis Gelap Terbitlah Terang" disinyalir kuat berasal dari ayat Al-Qur'an yang sangat menyentuh hati Kartini: Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur—"Dari kegelapan menuju cahaya" (QS. Al-Baqarah: 257).


Dalam surat-suratnya ke Nyai Abendanon, Kartini sering mengulang frasa Door Duisternis Toot Licht. Judul yang kemudian diterjemahkan oleh Armijn Pane sebagai judul buku kumpulan suratnya tersebut bukan sekadar metafora sosial, melainkan kristalisasi pengalaman spiritualnya setelah belajar agama.


Meski Mbah Sholeh Darat wafat sebelum menyelesaikan seluruh terjemahan Al-Qur'an (hanya sampai Surah Ibrahim), pengaruhnya telah tertanam kuat. Kartini bukan lagi sekadar putri bangsawan yang mengeluh tentang tradisi pingitan, melainkan seorang intelektual Muslimah yang sadar bahwa kemerdekaan berpikir dimulai dari pemahaman terhadap ilmu.


Selamat Hari Kartini. Seorang santri, seorang pemikir, dan ibu bagi kemajuan bangsa.


Sumber: NU Online Content Curator NUOKe


#Kartini #HariKartini #RAKartini #IbuKartini #SholehDarat #MbahSholehDarat #TokohBangsa #PahlawanNasional #SejarahIndonesia #SejarahIslamNusantara #BiografiTokoh #JejakLangkahKartini #HabisGelapTerbitlahTerang

No comments:

Post a Comment