Terjemah
Babad Pakubuwana VI [ 1823 - 1830)
Kita bisa melihat situasi kerajaan, para garwa padmi, pangeran, bupati dll
Nagari Surakarta dipimpin seorang raja bergelar Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana Senapati Ngalaga Mataram Ngabdur Rahman Sayidin Adi Panatagama ingkang jumeneng kaping VI
Raja yang menjalankan syari’at Rasul dan berwatak adil serta murah hati, masih muda dan cakap.
PARA PANGERAN
Kangjeng Gusti Pangeran Ngabei,
Kangjeng Gusti Pangeran Kusumayuda,
Kangjeng Gusti Pangeran Arya Purubaya,
Kangjeng Gusti Pangeran Arya Buminata dan
Kangjeng Gusti Pangeran Arya Mangkubumi.
Satu lagi yang menjadi andalan negeri adalah Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara III, saudara ipar Sang Raja yang mumpuni dalam gelar perang dan menjadi lurah dari para punggawa.
Ada lagi punggawa andalan bernama Raden Mas Arya Cakrakusuma.
MANTRI BUPATI
Patih Adipati Sasraningrat III.
MANTRI KEPARAK LEBET
Arya Jayadiningrat
Purwadiningrat,
Kartadiningrat dan
Suradiningrat.
KEPARAK NJABA
Tumenggung Wiraguna, Prawiraguna, Mangkuyuda dan Hanggawangsa.
Para bupati, yakni Wreksanagara, Yasadipura, Yasanagara, Bujanagara, Jayanagara, Mangunnagara dan Martangara.
Selain yang telah disebut juga ada bupati Panumping, Bupati Gunung, Majegan, Galadhag dan jaksa. Yang menjabat adalah Jaksanagara, Dipadirja, Sumanagara, Mangkudirja, Wangsanagara, Rajamanggal;a, Cakranagara, Sutanagara, Nitipraja, Mangkupraja, Rajaniti, Tirtanagara, Amongpraja.
Para bupati dari mancanagara adalah :
Adipati Natadirja dari Pati,
Yudanagara dari Pasuruan,
Mlayakusuma dari Pace.
Yang dari barat hanya tinggal dua bupati, Prawiranagara dari Banyumas dan Candranagara dari Kedu-Pagelen.
Bupati pesisir selatan hanya punya satu wadana, yakni Adipati Suryanagara di Pacitan. Adapun di pesisir utara adalah Adipati Suryadiningrat di Demak.
GARWA PRAMESWARI
1. Yang pertama masih saudara sepupu dari Ngabean, dan diberi nama Kangjeng Ratu Kencana.
2. Putri Mangkubumen, terhitung masih bibi sepupu dengan Sang Raja, diberi nama Kangjeng Ratu Emas.
3. Putri dari Adinagaran dan diberi nama Kangjeng Ratu Maduretna.
4. Putri Raden Arya Adi Pamenang, canggah dari Sinuhun Pakubuwana II, dan diberi nama Kangjeng Ratu Anom.
Anak ratu anom :
Raden Ayu Gusti Sapariyah
Sang Raja berkehendak mewisuda para adik menjadi pangeran.
Pada suatu hari pisowanan Sang Raja berkenan memberi nama baru dan kedudukan pangeran kepada para adik.
Bertahta di singgasana gading yang dihias permata Kyai Maesanempuh, Sang Raja bertitah kepada Kyai Patih.
1. Raden Mas Abu Yahmin diberi nama Kangjeng Pangeran Arya Suryabrata.
2. Raden Mas Sangadi diberi nama Kangjeng Pangeran Natabrata.
3. Raden Mas Manada diberi nama Pangeran Natadiningrat.
4. Raden Mas Suparman diberi nama Kangjeng Pangeran Santasuma.
5. Raden Mas Suharja diberi nama Kangjeng Pangeran Sumabrata.
6. Raden Mas Yahuda diberi nama Kangjeng Pangeran Arya Pringgakusuma.
7. Raden Mas Semakud diberi nama Kangjeng Pangeran Suryaningrat.
8. Raden Mas Samadiman yang sewaktu muda berada di Banyumas dan setelah diserahkan oleh Belanda ke Surakarta diberi nama Pangeran Tumenggung Sindusena.
9. Raden Mas Sukirman diberi nama Kangjeng Pangeran Suryapura.
10. Raden Mas Salamet diberi nama Kangjeng Pangeran Suryasama.
Kepada para pangeran yang baru saja diwisuda mereka diberi tanah garapan 150 karya dan uang gaji 250 rupiah.
Adapan saudara perempuan Sang Raja yang terhitung lebih muda adalah:
1. Raden Ajeng Sangibah,
2. Raden Ajeng Samaniyah,
3. Raden Ajeng Sangidah,
4. Raden Ajeng Samsiyah,
5. Raden Ajeng Murtasiyah,
6. Raden Ajeng Kadisah dan
7. Raden Ajeng Sasmaniyah.
Saudara perempuan yang lebih tua lahir dari istri permaisuri mendiang Sang Raja Kangjeng Ratu Emas adalah Raden Ajeng Kadibah, telah menikah dengan Pangeran Mangkunagara III dan mendapat gelar Kangjeng Ratu Kedaton.
Sumber
Babad Pakubuwana IV
No comments:
Post a Comment