Pada Masa kekuasaan Pajang, hutan bekas Mataram Kuno dikenal dengan nama Alas Mentaok. Wilayah alas itulah yang diberikan oleh Sultan Hadiwijaya kepada Ki Ageng Pemanahan, karena berjasa mengalahkan Arya Penangsang.
Dari yang tadinya hutan, oleh Ki Ageng Pemanahan dijadikan desa yang ramai, yang di kemudian hari oleh anaknya (Panembahan Senopati) dijadikan lokasi pusat pemerintahan Mataram Islam yang dikenal dengan nama Kotagede.
Dari Kotagede itulah awal mula munculnya 'kota gede' yang kini dikenal dengan nama Kota Yogyakarta, Ibukota Kasultanan Ngayogyakarta sekaligus Ibukota Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kota Yogyakarta saat ini, secara administratif memiliki luas wilayah 32,81 km² dan menjadi yang terkecil kedua di Jateng-DIY setelah Kota Magelang.
Luas sedemikian itu, dibagi ke dalam 14 Kecamatan atau Kemantren (dalam istilah setempat). Karena cukup kecil, maka wilayah Kemantrennya pun cenderung kecil-kecil pula.
Bahkan, tercatat ada 3 Kemantren yang luasnya kurang dari 1 km², yaitu Kemantren Pakualaman (0,64 km²), Kemantren Ngampilan (0,84 km2), dan Kemantren Gedongtengen (0,98 km²).
Adapun jumlah penduduknya mencapai +- 415.600 (Proyeksi BPS 2024) dan memiliki kepadatan penduduk rata-rata mencapai 12.664 jiwa/km².
Sehingga, secara administratif Kota Yogyakarta menjadi Kota terpadat se-wilayah Jateng dan DIY.
📸: Kepadatan Kota Yogyakarta / @langensare.
©️Jendelajatengdiy.
#profil #geografi #perkotaan #Yogyakarta #JendelaJatengDIY

No comments:
Post a Comment