Oey Tambahsia, penjahat kelamin dan playboy Betawi yang tewas di tiang gantungan, momok bagi para gadis sekaligus istri orang Batavia abad 19
Dapat warisan besar dari ayahnya, Oey Tambah-sia tumbuh jadi pemuda yang arogan. Selain suka pamer dan sombong, yang meresahkan masyarakat Tionghoa Batavia abad 19 itu adalah ulahnya yang suka mengganggu anak-istri orang. Sekalipun masih terbilang remaja, Tambah sudah terkenal sebagai lelaki hidung belang.
Konon orang sampai menyembunyikan anak daranya, karena khawatir terlihat oleh Oey Tambah atau kaki-tangannya. Umumnya dia mempergunakan kekuatan uang untuk mencapai maksudnya.
Tambahsia punya rumah peristirahatan di Ancol yang diberi nama Bintang Mas. Tempat itu bukan hanya tempat bersenang-senang bagi yang empunya, tetapi juga untuk tempat pertemuan dengan wanita-wanita yang berhasil dibujuk oleh kaki-tangannya atau untuk menyimpan mereka.
Tak hanya dara, istri orang pun diincarnya. Suatu hari, kaki tangannya melihat seorang wanita cantik di daerah Tongkangan. Ternyata wanita itu sudah bersuamikan seorang tukang kelontong. Dengan bantuan seorang 'mak comblang' wanita muda yang hidupnya kekurangan itu berhasil dipikat Tambahsia.
Bila suaminya berkeliling dengan dagangannya, istrinya naik kereta ke Bintang Mas untuk berkencan dengan Tambahsia. Lama-kelamaan penyelewengan itu tercium juga oleh suaminya. Pada puncak pertengkaran si istri diam-diam meninggalkan rumah untuk selanjutnya menetap di Ancol.
Suaminya kelabakan mencari ke mana-mana, tetapi tak ada yang mengetahui ke mana larinya nyonya itu.
Pada suatu hari suami yang malang itu mendapat info bahwa istrinya "disimpan" di Bintang Mas. Tanpa membuang-buang waktu lagi dia mencarinya ke sana. Di depan pesanggrahan itu dia berteriak-teriak memanggil nama istrinya. Dia tak bisa masuk, karena dialangi oleh penjaga. Bahkan mereka berusaha mengusir pembuat gaduh itu, tetapi tak berhasil.
Oey Tambah dan istri tukang kelontong kebetulan sedang di dalam rumah. Akhirnya mereka merasa khawatir juga melihat ulah laki-laki yang seperti orang gila itu. Tambahsia menyuruh menyiapkan kereta agar mereka bisa menyingkir dari tempat terpencil itu.
Kereta berkuda yang membawa pasangan itu berangkat ke arah Pasar Ikan. Laki-laki kalap yang mengetahui istrinya dilarikan segera mengejar kereta yang berlari kencang itu. Setelah berlari sejurus dia sudah tertinggal jauh oleh kereta itu, tetapi di masih nekat mengejar, sehingga akhirnya jatuh terduduk, kehabisan tenaga.
Sejak itu dia tak pernah terlihat lagi. Dia tak pernah pulang, sedangkan rumahnya tetap terkunci rapat-rapat. Desas-desus mengatakan bahwa dia membunuh diri dengan menceburkan diri ke laut, tetapi mayatnya tak pernah ditemukan.
Selanjutnya, istri tukang kelontong itu menjadi "simpanan" favorit Tambahsia. Ibunya khawatir anaknya akan menjadikan janda itu istri tetapnya.
Sebab itu Nyonya Oey membujuk anaknya agar mau menikah baik-baik. Barangkali dia juga mengharapkan, seperti orangtua pada zaman itu, agar anaknya akan berkurang kebinalannya setelah secara resmi berkeluarga.
Tambahsia tidak menolak saran itu, tetapi mengajukan syarat bahwa dia menentukan sendiri pilihannya. Setelah menemukan gadis yang kemudian diperistrinya, toh Tambahsia tak berkurang mata keranjangnya.
Salah satu wanita simpanannya yang paling terkenal adalah seorang sinden bernama Raden Ayu Gunjing, yang dia kenal saat berkunjung ke rumah kerabat di Pekalongan. Meski sudah punya RA Gunjing -- juga istri di rumah, toh wanita favoritnya adalah janda tukang kelontong.
Segala kesombongan dan kebejatan Tambahsia akhirnya mendapat balasannya. Dia terjerat kasus pembunuhan dan hukumannya: tiang gantungan. Bangunan yang sekarang jadi Museum Fatahillah jadi saksi eksekusinya.
Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034339482/oey-tambahsia-playboy-betawi-yang-tewas-di-tiang-gantungan-dara-janda-semua-diembatnya

No comments:
Post a Comment