20 January 2026

MENGGEBRAK SISA GALI 1983 (TEMPO, No. 47, Tahun XIV, 19 Januari 1985) Beberapa orang yang disebut "gali", yang tempo hari lari, tahu-tahu sudah tewas. Di Yogya, operasi memberantas kejahatan tetap berjalan. Operasi memberantas kejahatan di Yogyakarta menghangat lagi. Selama sebulan terakhir ini, sedikitnya ditemukan enam mayat "gali", dengan luka yang mematikan di leher dan kepala. Dua di antaranya adalah mayat Budi alias Tentrem, 29, dan Samudi Blekok, alias Black Sam, 28, yang dikenal sebagai pentolan. Mayat Budi, yang dulu dikenal dengan gang Mawar Ireng-nya, di- temukan dalam parit di tepi jalan di daerah Bantul, tepat pada awal tahun 1985. Sedangkan mayat Blekok diketahui tergeletak di belukar di daerah Kotagede, sehari sebelumnya. "Mukanya rusak, hampir tak bisa dikenali lagi," ujar seseorang yang mengenal Blekok. Menurut sumber TEMPO, Budi dan Blekok termasuk pentolan gali. Ketika di Yogyakarta dan sekitarnya ada Operasi Pemberantasan Kejahatan (OPK), 1983, keduanya memilih lari daripada menyerahkan diri. Entah kapan keduanya kembali ke Yogya, tahu-tahu mereka dijumpai sudah menjadi mayat. "Kami tak mau ambil risiko terhadap mereka yang membandel dan beberapa kali melarikan diri. Tapi, terhadap mereka yang mau sadar dan kembali ke masyarakat secara baik-baik, kami menerimanya dengan baik pula," ujar Letnan Kolonel Tuswandi, 43, komandan Kodim 0734 merangkap kepala staf Garnisun Yogya, kepada TEMPO, mengomentari penemuan beberapa mayat gali. Dikatakan bahwa Blekok dan Budi selama ini memang sudah masuk daftar hitam – karena tak mau menyerah itu. Pada masa jayanya, Blekok dikenal sebagai orang kuat dalam kelompok Slamet Gaplek. Kelompok ini mempunyai daerah kekuasaan di seputar pertokoan Ngampilan dan Wirobrajan. Setiap bulan, mereka rajin sekali menarik upeti dari pemilik toko. Bila ada yang berani membangkang, tak segan-segan mereka melakukan tindak kekerasan. Blekok, menurut sumber yang mengetahui, bertubuh kekar dan berkulit hitam. Ke mana-mana ia biasa mengendarai sepeda motor bersetang tinggi. Di pinggang, senantiasa terselip senjata kebanggaannya, trisula. Dia gemar mengenakan celana jin butut, bajunya berbunga warna-warni, lengkap dengan selendang di lehernya. Ia pintar main gitar dan sering membawakan lagu-lagu dari Rolling Stone. Sedikit-sedikit, ia bisa berbahasa Inggris. Tak heran bila di kalangan turis bule – yang biasa nongkrong di seputar Sosrowijayan – namanya cukup populer. "Ia mendapat panggilan akrab Black Sam, dan sering kelihatan runtang-runtung bersama cewek kulitputih sepanjang Malioboro,” kata sebuah sumber kepada E.H. Kartanegara dari TEMPO. Ia cepat menjadi akrab dengan para turis itu, barangkali, karena sering mengisap ganja dengan cara ngebung – mengisap dengan pipa da- ri bambu. Ketika pada Maret 1983 ada operasi besar-besaran terhadap gali yang dimotori komandan Garnisun Yogya, Letkol M. Hasbi (kini bupati Boyolali), Blekok meninggalkan Yogya. Rupanya, Yogya dinilainya sudah "aman", hingga ia pun berani kembali. Tapi, ternyata ia kembali untuk menjemput maut. Akan halnya Tentrem, dulu menguasai daerah Bantul Barat. Tak hanya mengutip upeti, kelompok Tentrem ini juga diketahui beberapa kali melakukan perampokan dan tindak kejahatan lain. Ia menyelamatkan diri sampai ke Jambi, sewaktu rekan-rekannya kena dor. Di sana, kabarnya, ia sempat terlibat pencurian kayu, dan tengah dicari petugas. Bisa jadi, di rantau ia tak kerasan, dan memilih balik ke Yogya. Apa mau dikata, ternyata kemudian ia tewas, menyusul rekan-rekannya yang sudah kena dor pada April-Mei 1983 lalu. Ketika itu, tercatat paling tidak empat pentolan gali yang tertembak mati, yaitu Suwahyono, Ismoyo, Supeno, dan Slamet Gaplek – bosnya Blekok. Belasan gali lain, yang mencoba melawan atau melarikan diri, pun ikut tertembak mati. Suwahyono, 31, merupakan tokoh yang pertama kali kena tembak. Petugas terpaksa menghajarnya dengan peluru, karena ia mencoba lari saat digerebek di lokalisasi WTS Sanggrahan. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai "penguasa di seputar Gondomanan. Ismoyo, 35, tewas tak lama kemudian akibat keroyokan massa. Ia merupakan tokoh "gali intelek" – tamatan Fakultas Sosial Politik UGM. Akan halnya Supeno, sebelum tewas tembak, sempat ditahan di Garnisun Yogya. Pengelola perjudian di dekat Stasiun Tugu yang mempunyai puluhan anak buah, akhirnya tertembak karena – kabarnya – mencoba melarikan diri. Slamet Gaplek diri, 30, tertembak di tempat persembunyiannya di Pakis Gunung, Surabaya, awal Mei 1983. Para pentolan itu, dari hasil kutipan sana-sini, berpenghasilan lumayan: Rp 1 juta sampai Rp 2,5 juta sebulan. Tak heran bila mereka bisa hidup berfoya-foya, mempunyai istri lebih dari satu, dan punya beberapa rumah yang cukup mentereng. "Organisasi mereka sudah meniru mafia, dan jaringannya sudah mengakar di mana-mana," ujar Hasbi, ketika itu. Menurut Tuswandi, operasi memberantas kejahatan di Yogya memang berjalan terus. Sebab, "Kejahatan 'kan juga masih tetap ada." Ia tetap mengimbau agar gali yang belum menyerah segera kembali menjadi orang baik-baik. Kini, tercatat hampir 600 gali di Yogya yang sudah bertekad untuk insaf. Mereka mendapat pembinaan dan pengawasan dari pamong setempat. Sebagian ada yang masih dikenai wajib lapor. Ada yang setiap hari, seminggu sekali, atau sebulan sekali. Dan bagi yang enggan dibina, "pembinaan paksa" tampaknya akan diterapkan. Sumber: TEMPO, No. 47, Tahun XIV, 19 Januari 1985

 MENGGEBRAK SISA GALI 1983


(TEMPO, No. 47, Tahun XIV, 19 Januari 1985)


Beberapa orang yang disebut "gali", yang tempo hari lari, tahu-tahu sudah tewas. Di Yogya, operasi memberantas kejahatan tetap berjalan.



Operasi memberantas kejahatan di Yogyakarta menghangat lagi. Selama sebulan terakhir ini, sedikitnya ditemukan enam mayat "gali", dengan luka yang mematikan di leher dan kepala. Dua di antaranya adalah mayat Budi alias Tentrem, 29, dan Samudi Blekok, alias Black Sam, 28, yang dikenal sebagai pentolan.


Mayat Budi, yang dulu dikenal dengan gang Mawar Ireng-nya, di- temukan dalam parit di tepi jalan di daerah Bantul, tepat pada awal tahun 1985. Sedangkan mayat Blekok diketahui tergeletak di belukar di daerah Kotagede, sehari sebelumnya. "Mukanya rusak, hampir tak bisa dikenali lagi," ujar seseorang yang mengenal Blekok.


Menurut sumber TEMPO, Budi dan Blekok termasuk pentolan gali. Ketika di Yogyakarta dan sekitarnya ada Operasi Pemberantasan Kejahatan (OPK), 1983, keduanya memilih lari daripada menyerahkan diri. Entah kapan keduanya kembali ke Yogya, tahu-tahu mereka dijumpai sudah menjadi mayat.


"Kami tak mau ambil risiko terhadap mereka yang membandel dan beberapa kali melarikan diri. Tapi, terhadap mereka yang mau sadar dan kembali ke masyarakat secara baik-baik, kami menerimanya dengan baik pula," ujar Letnan Kolonel Tuswandi, 43, komandan Kodim 0734 merangkap kepala staf Garnisun Yogya, kepada TEMPO, mengomentari penemuan beberapa mayat gali. Dikatakan bahwa Blekok dan Budi selama ini memang sudah masuk daftar hitam – karena tak mau menyerah itu.


Pada masa jayanya, Blekok dikenal sebagai orang kuat dalam kelompok Slamet Gaplek. Kelompok ini mempunyai daerah kekuasaan di seputar pertokoan Ngampilan dan Wirobrajan. Setiap bulan, mereka rajin sekali menarik upeti dari pemilik toko. Bila ada yang berani membangkang, tak segan-segan mereka melakukan tindak kekerasan.


Blekok, menurut sumber yang mengetahui, bertubuh kekar dan berkulit hitam. Ke mana-mana ia biasa mengendarai sepeda motor bersetang tinggi. Di pinggang, senantiasa terselip senjata kebanggaannya, trisula. Dia gemar mengenakan celana jin butut, bajunya berbunga warna-warni, lengkap dengan selendang di lehernya. Ia pintar main gitar dan sering membawakan lagu-lagu dari Rolling Stone. Sedikit-sedikit, ia bisa berbahasa Inggris.


Tak heran bila di kalangan turis bule – yang biasa nongkrong di seputar Sosrowijayan – namanya cukup populer. "Ia mendapat panggilan akrab Black Sam, dan sering kelihatan runtang-runtung bersama cewek kulitputih sepanjang Malioboro,” kata sebuah sumber kepada E.H. Kartanegara dari TEMPO. Ia cepat menjadi akrab dengan para turis itu, barangkali, karena sering mengisap ganja dengan cara ngebung – mengisap dengan pipa da- ri bambu.


Ketika pada Maret 1983 ada operasi besar-besaran terhadap gali yang dimotori komandan Garnisun Yogya, Letkol M. Hasbi (kini bupati Boyolali), Blekok meninggalkan Yogya. Rupanya, Yogya dinilainya sudah "aman", hingga ia pun berani kembali. Tapi, ternyata ia kembali untuk menjemput maut.


Akan halnya Tentrem, dulu menguasai daerah Bantul Barat. Tak hanya mengutip upeti, kelompok Tentrem ini juga diketahui beberapa kali melakukan perampokan dan tindak kejahatan lain. Ia menyelamatkan diri sampai ke Jambi, sewaktu rekan-rekannya kena dor. Di sana, kabarnya, ia sempat terlibat pencurian kayu, dan tengah dicari petugas. Bisa jadi, di rantau ia tak kerasan, dan memilih balik ke Yogya.


Apa mau dikata, ternyata kemudian ia tewas, menyusul rekan-rekannya yang sudah kena dor pada April-Mei 1983 lalu. Ketika itu, tercatat paling tidak empat pentolan gali  yang tertembak mati, yaitu Suwahyono, Ismoyo, Supeno, dan Slamet Gaplek – bosnya Blekok. Belasan gali lain, yang mencoba melawan atau melarikan diri, pun ikut tertembak mati.


Suwahyono, 31, merupakan tokoh yang pertama kali kena tembak. Petugas terpaksa menghajarnya dengan peluru, karena ia mencoba lari saat digerebek di lokalisasi WTS Sanggrahan. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai "penguasa di seputar Gondomanan. Ismoyo, 35, tewas tak lama kemudian akibat keroyokan massa. Ia merupakan tokoh "gali intelek" – tamatan Fakultas Sosial Politik UGM. 


Akan halnya Supeno, sebelum tewas tembak, sempat ditahan di Garnisun Yogya. Pengelola perjudian di dekat Stasiun Tugu yang mempunyai puluhan anak buah, akhirnya tertembak karena – kabarnya – mencoba melarikan diri. Slamet Gaplek diri, 30, tertembak di tempat persembunyiannya di Pakis Gunung, Surabaya, awal Mei 1983.


Para pentolan itu, dari hasil kutipan sana-sini, berpenghasilan lumayan: Rp 1 juta sampai Rp 2,5 juta sebulan. Tak heran bila mereka bisa hidup berfoya-foya, mempunyai istri lebih dari satu, dan punya beberapa rumah yang cukup mentereng. "Organisasi mereka sudah meniru mafia, dan jaringannya sudah mengakar di mana-mana," ujar Hasbi, ketika itu.


Menurut Tuswandi, operasi memberantas kejahatan di Yogya memang berjalan terus. Sebab, "Kejahatan 'kan juga masih tetap ada." Ia tetap mengimbau agar gali yang belum menyerah segera kembali menjadi orang baik-baik. Kini, tercatat hampir 600 gali di Yogya yang sudah bertekad untuk insaf. Mereka mendapat pembinaan dan pengawasan dari pamong setempat. Sebagian ada yang masih dikenai wajib lapor. Ada yang setiap hari, seminggu sekali, atau sebulan sekali. Dan bagi yang enggan dibina, "pembinaan paksa" tampaknya akan diterapkan. 


Sumber: TEMPO, No. 47, Tahun XIV, 19 Januari 1985

Herry Anggoro Djatmiko

No comments:

Post a Comment