24 January 2026

Mohammad Roem yang tak percaya jimat, pernah dibekali jimat oleh Bung Karno dan Jenderal Soedirman untuk "pegangan" selama diplomasi, bingung bagaimana menyingkirkannya... Pada Majalah Intisari edisi Februari 1971, Mohammad Roem menceritakan pengalamannya mendapat jimat dari seorang dukun atas perintah Presiden Sukarno yang disaksikan Panglima Besar Jenderal Sudirman. Ketika itu, Pak Roem bertugas sebagai Ketua Delegasi Indonesia dalam perundingan dengan Belanda sebagai pelaksanaan Persetujuan Renville. Perundingan itu berjalan seret. Karena itu kedua pemimpin bangsa itu merasa perlu untuk memperkuat jiwa Mohammad Roem. Yang menarik, Mohammad Roem sempat kebingungan untuk melepaskan diri dari jimat itu. Soalnya, dia dipesan bahwa jimat itu tak boleh berpisah dari dirinya. Tanpa sengaja, Nyonya Roem memberi “jalan keluar”. "Tidak pernah saya duga bahwa untuk kedua kalinya dalam hidup saya harus memakai jimat. Untunglah ayah memberi pelajaran bagaimana harus menghadapinya, meskipun ayah mengajarkan tidak perlu percaya jimat. Pada waktu itu saya teringat pelajaran ayah, tentang menghormati kepercayaan nenek. Presiden dan Panglima Besar teranglah harus saya hormati, mungkin lebih dari saya menghormati nenek. Panglima Besar menambahkan, "Jimat ini tidak boleh terpisah dari Saudara. Di situ letak kekuatannya, kalau hilang, kekuatan mungkin berbalik. Jagalah sebaik-baiknya." Karena sang dukun berdiri waktu menyampaikan jimat itu, maka saya pun berdiri menerimanya, dan terus saya masukkan ke saku celana. Bagi pakaian sehari-hari di Yogya waktu itu, saku celana tempat yang paling baik. "Simpan di saku kemeja saja," kata Panglima Besar. "Saku di celana kurang hormat." Dengan tidak berpikir panjang lagi saya menyahut, "Celana saya tidak kurang hormatnya dari kemeja. Barang-barang yang penting dan berharga, saya simpan di celana. Saku kemeja kurang aman, mudah jatuh.” SAYA senang melihat bahwa saya dapat meyakinkan Panglima Besar bahwa celana tempat menyimpan yang paling aman. Kalau saya buang jimat itu, tidak ada orang yang akan tahu. Presiden dan Panglima Besar tidak akan menanyakan. Tapi bagi saya sendiri terasa tidak cukup menghormati kedua pejabat tinggi dari negara kita. Maka selama beberapa hari jimat itu tidak terpisah dari saya, tersimpan di saku celana dengan aman dan sebagai rahasia besar...." Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034342834/saat-mohammad-roem-dibekali-jimat-oleh-bung-karno-dan-jenderal-soedirman-untuk-sangu-diplomasi #mohammadroem #jimat #bungkarno #jenderalsoedirman

 Mohammad Roem yang tak percaya jimat, pernah dibekali jimat oleh Bung Karno dan Jenderal Soedirman untuk "pegangan" selama diplomasi, bingung bagaimana menyingkirkannya...



Pada Majalah Intisari edisi Februari 1971, Mohammad Roem menceritakan pengalamannya mendapat jimat dari seorang dukun atas perintah Presiden Sukarno yang disaksikan Panglima Besar Jenderal Sudirman.


Ketika itu, Pak Roem bertugas sebagai Ketua Delegasi Indonesia dalam perundingan dengan Belanda sebagai pelaksanaan Persetujuan Renville. Perundingan itu berjalan seret. Karena itu kedua pemimpin bangsa itu merasa perlu untuk memperkuat jiwa Mohammad Roem.


Yang menarik, Mohammad Roem sempat kebingungan untuk melepaskan diri dari jimat itu. Soalnya, dia dipesan bahwa jimat itu tak boleh berpisah dari dirinya. Tanpa sengaja, Nyonya Roem memberi “jalan keluar”.


"Tidak pernah saya duga bahwa untuk kedua kalinya dalam hidup saya harus memakai jimat. Untunglah ayah memberi pelajaran bagaimana harus menghadapinya, meskipun ayah mengajarkan tidak perlu percaya jimat. Pada waktu itu saya teringat pelajaran ayah, tentang menghormati kepercayaan nenek. Presiden dan Panglima Besar teranglah harus saya hormati, mungkin lebih dari saya menghormati nenek.


Panglima Besar menambahkan, "Jimat ini tidak boleh terpisah dari Saudara. Di situ letak kekuatannya, kalau hilang, kekuatan mungkin berbalik. Jagalah sebaik-baiknya."


Karena sang dukun berdiri waktu menyampaikan jimat itu, maka saya pun berdiri menerimanya, dan terus saya masukkan ke saku celana. Bagi pakaian sehari-hari di Yogya waktu itu, saku celana tempat yang paling baik.


"Simpan di saku kemeja saja," kata Panglima Besar. "Saku di celana kurang hormat."


Dengan tidak berpikir panjang lagi saya menyahut, "Celana saya tidak kurang hormatnya dari kemeja. Barang-barang yang penting dan berharga, saya simpan di celana. Saku kemeja kurang aman, mudah jatuh.”


SAYA senang melihat bahwa saya dapat meyakinkan Panglima Besar bahwa celana tempat menyimpan yang paling aman.


Kalau saya buang jimat itu, tidak ada orang yang akan tahu. Presiden dan Panglima Besar tidak akan menanyakan. Tapi bagi saya sendiri terasa tidak cukup menghormati kedua pejabat tinggi dari negara kita. Maka selama beberapa hari jimat itu tidak terpisah dari saya, tersimpan di saku celana dengan aman dan sebagai rahasia besar...."


Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034342834/saat-mohammad-roem-dibekali-jimat-oleh-bung-karno-dan-jenderal-soedirman-untuk-sangu-diplomasi


#mohammadroem #jimat #bungkarno #jenderalsoedirman

No comments:

Post a Comment