Mengenang PB XII “The Last Mataram Emperor” Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat
Sinuhun Bobby punya “wit and pun” yang lucu diterjemahkan Bhs. Indonesia. Ketemu Kanjeng Romo selaku ‘Holland Sprekken’ (bahasa Belanda). Ceritera Ada abdi dalem merasa dekat dengan Kraton minta diangkat sebagai proyayi. Kata Sinuhun” Deze persoon blijft maar aandringen, alsof hij zich tegen de natuur (de staat/het paleis) wil verzetten. Ja, ik heb de naam RT Suronegoro gegeven - dapper tegen de staat. Eh, er verschijnt weer een elektriciteitsaannemer, ik heb Broer Daryonegoro opdracht gegeven om de naam RT Suryodipuro te geven - tintir (olielampen voor de verlichting van huizen). Laat Go Tik Swan, de marktmeester van RT Harjonegoro (de naam van de grote markt van Solo), vrienden hebben." (Orang ini mendesak terus sepertinya mau menentang kodrat (negara / kraton. Ya sudah kukasih nama RT Suronegoro - berani terhadap negara. Eeeh, muncul lagi pemborong listrik, kuperintahkan Daryonegoro memberi nama RT Suryodipuro - tintir (lampu minyak penerang rumah). Biar Go Tik Swan bupati pasar RT Harjonegoro (nama pasar besar Solo) punya teman 😝)
Keluargaku menyimpan kisah-kesan khusus terhadap Sinuhun Bobby, The Last Emperor of Mataram Kingdom - begitu Kanjeng Ibu-Romo menyebut Susuhunan Pakubuwono XII. Selain kita masih Trah PB VI, GRM Soerjo Guritno adalah ‘klasgenoot’ - konco sekolah gymnasium , meskipun lebih senior.
“Pak Letnan, ayo mlebu Kraton mengko tak angkat Riyo Hinggil (Kangjeng Raden Mas Haryo) KRMH nunggak semi ramamu, demikian Sinuhun Bobby tiap kali ‘ameng ameng’ di Kamandungan lihat Kanjeng Romo pulang kantor naik Vespa / mobil Gaz dinas TNI. Bapak turun hormat (PB XII adalah Kolonel tituler) dan mereka lantas ‘ngganyik’ (asyik bicara)”
Sering pula kudengar perdebatan antara Bapak vs Ibu bahkan Kanjeng Eyang soal ‘dawuh dalem’ - perintah Sinuhun. Bapak lantas menegaskan, “dadi Kanjeng iku abot sanggane; ora ming pasowanan, ananging kudu ngugemi jejering bendoro. Bahwa menyandang gelar bangsawan atau jenjang kepangkatan ningrat konsekuensinya besar. Tak sebatas ikut adat acara upacara kerajaan.
Dictum ‘Trahing Kusuma rembesing madu, wijining tapa tedhak ing andanawarih, Sinatrya datan kenging wirang’ - seorang bendoro (noble) bangsawan keturunan ningrat, harus menunjukkan kewibawaan manusia beradab berwawasan agama, dan pantang berbuat tercela misalnya melanggar kode etik) (paugeran dan protokol), suba-sita, tata-krama, unggah-ungguh. Termasuk pelanggaran hukum positif kenegaraan NKRI.
Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa Sinuhun Bobby C.q. Kraton Kasunanan pada era PB XII minim resources. Sinuhun dengan beban moral dan jabatan sebagai Nata Ing Mataram Islam bhumi Surakarta harus ‘bekerja’ di departemen Hankam dengan status awal sebagai Letnan Kolonel tituler. Bergaji terbatas hanya dapat mobil Peugeot 504 Ingatku warna merah, tinggal di kompleks Hankam Kebayoran Lama. Beberapa putra putri ikut merantau sekolah / mencari pekerjaan. Mulai dari Mas Bei GRM Suryo Partono (PB XIII), Mbahjo GRM Suryo Tejo KGPA Tejowulan, disusul Toki Gray Kus Sapartiah yang jadi pramugari Garuda - mengilhami putri narpa antara lain Yu Kenil Dewi Salendrastuti. Jamanku merantau ke Jakarta seiring Kamas BRM Suryo Pujendro mas Jeni, KRMT Purbodiningrat Sigit Nurrochmat, dll, Ingatku menyusul kuliah / bekerja di Jakarta Saban GRAy Koes Sabandiyah dan Dano GRM Suryo Darsono.
Pertemuanku terakhir dengan PB XII terjadi awal 2000 waktu diundang Pengacara (kondang) Warsito Sanyoto anak abdi dalem KRT Tondonrgoro (administrator Museum Radyapustaka) yang kaparingan anon anon (gelar tituler). Sinuhun Bobby dijemput Indriyah (vide: ada ceritera lucu di keputren kiita menggoda dia waktu kecil sampainya mewek gulung) sebab gerah masuk angin rawuh terlambat.
Saya baru berbincang dengan Siwo Kamto GPH Haryomataram, mas Djon KRMH Brotodiningrat, GPH Hadi Prabowo. Sinuhun masuk, lantas ngendika (bicara), “Lik kapan giliranmu?” (Vide: Lik adalah panggilan untuk anak lelaki). Wo Kamto senyum-senyum dan Mas Djon berbisik, “Oom Hat wis raono saiki giliranmu dioyak Sampean nDalem” (Kanjeng Romo sudah almarhum, kini giliran saya dikejar-kejar Sinuhun Bobby).
Kesempatan saya ‘matur’ berkilah, “Matur sembah nuwun. Menika dalem aturaken yoga kawula kaparingan tetenger Haryo Prabowo Kalyan Bapak. Nyuwun avenging pangaksami munyuk Ngersa Dalem kangge gantosipun” (mengucapkan terima kasih pada PBXII dan berkilah bahwa Bapak menamakan anakku Haryo).
“Aaach je bent net als je moeder Andriany - slim in het ontwijken”, celetuk Sampean Dalem (wah, kau ini persis ibumu Andriany pinter ngeles / mengelak).
Wo Kamto satu-satunya pinisepuh yang masih ‘bekwaam’ coro Londo (vloeiend spreek Nederlands) ketawa terbahak-bahak. Tahun 2004 sebelum kita pindah Canada Sinuhun Bobby surud. Itulah kenangan terakhir bisa bertatap muka dan ‘wawan rembag’ dengan Sampean nDalem.
In sum, noble blue blood, ningrat kebangsawanan dalam keluarga kita diinterpretasikan sebagai ujud manusia beradab yang tahu etika dan patuh hukum - law abiding citizen; meskipun tak dapat dipungkiri bahwa eyang eyang kita berasal dari Trah Mataram. Jika nasab dirunut bisa sampai Majapahit bahkan ke Era Rakryan Sanjaya Mataram Kuno (Hindu Buddha). Anak wanita kita diberi nama Pramudawardhani - kakak Balaputera Dewa, maharaja Sriwijaya, pendiri Universitas Nalanda dan pembangun mahakarya candi Borobudur. JamanNow menurut alm Kanjeng Romo titel kita sama dengan semua warga masyarakat NKRI: citoyen, bung / saudara saudari
Husnul Khatimah Sinuhun Bobby. Semoga Sampean Dalem faham bahwa penolakan Kanjeng Romo yang kuwarisi adalah sikap sebagai WNI

No comments:
Post a Comment