Sri Sultan Hamengkubuwono VIII
Memerintah Kesultanan Yogyakarta dari tahun 1921 hingga 1939, dikenal sebagai raja yang visioner dan modern yang membawa banyak kemajuan di bidang pendidikan, kesehatan, seni, dan arsitektur keraton.
Kehidupan Awal dan Pemerintahan
Kelahiran dan Nama Kecil: Lahir pada tanggal 3 Maret 1880 dengan nama Gusti Raden Mas Sujadi, putra dari Sri Sultan Hamengkubuwono VII.
Pendidikan: Menempuh pendidikan di Belanda, yang memengaruhinya dalam membawa ide-ide modern ke keraton.
Naik Takhta: Dinobatkan sebagai Sultan Yogyakarta pada tanggal 8 Februari 1921, setelah ayahandanya menyatakan niat untuk lengser keprabon (turun takhta).
Kontribusi dan Warisan
Masa pemerintahan Hamengkubuwono VIII dikenal sebagai periode kemajuan pesat dan masa keemasan budaya Jawa.
Administrasi dan Politik:
Mengajukan perubahan lambang kebesaran kesultanan dari yang mengadopsi lambang Belanda menjadi lambang keraton sendiri, menumbuhkan identitas lokal.
Mereorganisasi birokrasi keraton dengan membentuk jawatan-jawatan (semacam departemen) dan menghapus fungsi Patih Dalem yang sering digunakan Belanda sebagai alat politik, sehingga Sultan dapat memerintah daerahnya secara langsung.
Budaya dan Seni:
Melakukan perombakan signifikan pada arsitektur fisik keraton, yang bentuknya banyak terlihat hingga saat ini.
Menciptakan banyak tarian klasik Gaya Yogyakarta, seperti Beksan Srimpi Layu-layu, dan memulai pembakuan pakem tari klasik.
Masa ini juga menjadi masa keemasan pementasan wayang wong (wayang orang) besar-besaran yang sering diadakan di keraton.
Sosial:
Membawa kemajuan di bidang pendidikan dan kesehatan di lingkungan keraton dan masyarakat terbatas pada saat itu.
Hamengkubuwono VIII mangkat pada tanggal 22 Oktober 1939. Ia meninggalkan warisan kepemimpinan visioner yang menjadi jembatan antara pemerintahan tradisional Jawa dengan birokrasi modern, serta pelestarian dan pengembangan budaya yang kaya.
Sumber : Abi R Djajadireja

No comments:
Post a Comment