19 January 2026

Moh Roem ketika ditanya kenapa tidak membenci Bung Karno: "Saya tak punya cukup waktu untuk membenci Sukarno!" Kepada Majalah Intisari, Mohammad Roem pernah menulis perasaannya kepada presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno, yang telah memenjarakannya selama empat tahun tanpa pengadilan. Sekaligus menjawab pertanyaan, kenapa dia tak membenci Bung Karno. Setelah satu setengah bulan ditahan di Jakarta, pada Maret 1962, Roem bersama lima orang lainnya dipindah ke penjara Madiun oleh Sukarno. Lima lainnya adalah Sutan Sjahrir, Prawoto, Sultan Hamid, Subadio, dan Anak Agung Gde Agung. Dari keenamnya, hanya Subadio yang masih bujangan. "Saya perhatikan dia yang paling lambat tidur. Tadinya, saya kira ini kebiasaannya sebagai bujangan. Namun, setelah kami bertambah akrab, Subadio bercerita bahwa dia dipesan oleh ibunya agar jangan tidur sebelum pukul 24.00. Andaikata dia tertidur, setelah pukul 24.00 dia bangun sebentar dan pergi ke halaman di luar kamar tidur untuk memohon kepada Tuhan agar dosa Sukarno dimaafkan," tulis Pak Roem. Subadio sejatinya menceritakannya sambil lalu saja, tetapi Pak Roem mengingatnya lalu sering merenungkannya. Dia juga memperhatikan betapa tertibnya Subadio melaksanakan pesan ibundanya itu. Suatu ketika, ibu Subadio datang besuk. Pak Roem sangat terkesan oleh kepribadiannya. Rupanya, kalimat yang diucapkan setiap hari oleh Subadio sesudah tengah malam itu mengganggu nurani Pak Roem. Berkat pesan ibunya, Subadio bisa menentukan sikap. Bagaimana sikap Pak Roem sendiri? "Saya belum pernah memikirkannya," tulisnya. Tapi yang jelas, pandangan itu merangsang Pak Roem untuk bertanya-tanya di dalam hati, "Bagaimana pandangan Ibu Sastrosatomo sendiri terhadap Sukarno? Apakah dia membela Sukarno? Apakah dia seorang Indonesia suku Jawa yang mengkultuskan Sukarno? Mengapa dia berpesan agar putranya memohon pada Tuhan untuk memaafkan Sukarno?" Pak Roem akhirnya punya kesimpulan, ibunda Subadio tidak membela Sukarno. Dia meminta putranya mengucapkan kalimat yang diajarkannya agar Subadio jangan hidup dengan membenci seseorang, sekalipun orang itu Sukarno yang menjebloskannya ke tahanan. Hal ini dilakukannya terutama demi kesejahteraan batin putranya sendiri. Secara tidak sengaja, Pak Roem merasa tertolong. Dia terbawa untuk tidak membenci Sukarno sebab benci tidak ada gunanya. Walaupun demikian, Pak Roem merasa tidak perlu memintakan maaf untuknya. Agustus 1967 Roem dan istrinya tiba di bandara Schiphol, Belanda. Dia tercengang karena ditunggu sekitar 30 wartawan. Rupanya mereka ingin mendengar komentar dari orang yang belum lama dikeluarkan dari tahanan Sukarno, setelah Orde Lama digantikan Orde Baru. Lalu ada wartawan yang sudah berumur tiba-tiba bertanya, "Meneer Roem, waarom haat U Sukarno niet?" (Bapak Roem, kenapa Anda tidak membenci Sukarno?) Pak Roem tertegun. "Siapa bilang saya tidak membenci Sukarno?" dia balik bertanya. "Saya ditahan empat tahun empat bulan tanpa diadili." Wartawan itu tertawa. "Nou ja, Anda tadi menjawab pelbagai pertanyaan perihal Sukarno tanpa ada tanda-tanda Anda membencinya." "Saya tidak mempunyai cukup waktu untuk membenci Sukarno," jawab Pak Roem. Dia tidak bisa menjelaskan kepada wartawan itu bahwa hal ini disebabkan oleh falsafah seorang perempuan yang bijaksana. Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034342588/mohammad-roem-dan-pertanyaan-mengapa-saya-tidak-membenci-sukarno #mohammadroem #sukarno #soekarno

 Moh Roem ketika ditanya kenapa tidak membenci Bung Karno: "Saya tak punya cukup waktu untuk membenci Sukarno!"



Kepada Majalah Intisari, Mohammad Roem pernah menulis perasaannya kepada presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno, yang telah memenjarakannya selama empat tahun tanpa pengadilan. Sekaligus menjawab pertanyaan, kenapa dia tak membenci Bung Karno.


Setelah satu setengah bulan ditahan di Jakarta, pada Maret 1962, Roem bersama lima orang lainnya dipindah ke penjara Madiun oleh Sukarno. Lima lainnya adalah Sutan Sjahrir, Prawoto, Sultan Hamid, Subadio, dan Anak Agung Gde Agung.


Dari keenamnya, hanya Subadio yang masih bujangan. "Saya perhatikan dia yang paling lambat tidur. Tadinya, saya kira ini kebiasaannya sebagai bujangan. Namun, setelah kami bertambah akrab, Subadio bercerita bahwa dia dipesan oleh ibunya agar jangan tidur sebelum pukul 24.00. Andaikata dia tertidur, setelah pukul 24.00 dia bangun sebentar dan pergi ke halaman di luar kamar tidur untuk memohon kepada Tuhan agar dosa Sukarno dimaafkan," tulis Pak Roem.


Subadio sejatinya menceritakannya sambil lalu saja, tetapi Pak Roem mengingatnya lalu sering merenungkannya. Dia juga memperhatikan betapa tertibnya Subadio melaksanakan pesan ibundanya itu. 


Suatu ketika, ibu Subadio datang besuk. Pak Roem sangat terkesan oleh kepribadiannya.


Rupanya, kalimat yang diucapkan setiap hari oleh Subadio sesudah tengah malam itu mengganggu nurani Pak Roem. Berkat pesan ibunya, Subadio bisa menentukan sikap. Bagaimana sikap Pak Roem sendiri? "Saya belum pernah memikirkannya," tulisnya.


Tapi yang jelas, pandangan itu merangsang Pak Roem untuk bertanya-tanya di dalam hati, "Bagaimana pandangan Ibu Sastrosatomo sendiri terhadap Sukarno? Apakah dia membela Sukarno? Apakah dia seorang Indonesia suku Jawa yang mengkultuskan Sukarno? Mengapa dia berpesan agar putranya memohon pada Tuhan untuk memaafkan Sukarno?"


Pak Roem akhirnya punya kesimpulan, ibunda Subadio tidak membela Sukarno. Dia meminta putranya mengucapkan kalimat yang diajarkannya agar Subadio jangan hidup dengan membenci seseorang, sekalipun orang itu Sukarno yang menjebloskannya ke tahanan. Hal ini dilakukannya terutama demi kesejahteraan batin putranya sendiri.


Secara tidak sengaja, Pak Roem merasa tertolong. Dia terbawa untuk tidak membenci Sukarno sebab benci tidak ada gunanya. Walaupun demikian, Pak Roem merasa tidak perlu memintakan maaf untuknya.


Agustus 1967 Roem dan istrinya tiba di bandara Schiphol, Belanda. Dia tercengang karena ditunggu sekitar 30 wartawan. Rupanya mereka ingin mendengar komentar dari orang yang belum lama dikeluarkan dari tahanan Sukarno, setelah Orde Lama digantikan Orde Baru. 


Lalu ada wartawan yang sudah berumur tiba-tiba bertanya, "Meneer Roem, waarom haat U Sukarno niet?" (Bapak Roem, kenapa Anda tidak membenci Sukarno?) Pak Roem tertegun.


"Siapa bilang saya tidak membenci Sukarno?" dia balik bertanya. "Saya ditahan empat tahun empat bulan tanpa diadili."


Wartawan itu tertawa. "Nou ja, Anda tadi menjawab pelbagai pertanyaan perihal Sukarno tanpa ada tanda-tanda Anda membencinya."


"Saya tidak mempunyai cukup waktu untuk membenci Sukarno," jawab Pak Roem. Dia tidak bisa menjelaskan kepada wartawan itu bahwa hal ini disebabkan oleh falsafah seorang perempuan yang bijaksana.


Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034342588/mohammad-roem-dan-pertanyaan-mengapa-saya-tidak-membenci-sukarno


#mohammadroem #sukarno #soekarno

No comments:

Post a Comment