Sri Sultan Hamengkubuwono VI
(bertakhta 1855–1877) adalah penguasa ketujuh Kesultanan Yogyakarta yang dikenal sebagai pemimpin tangguh di masa transisi politik dan bencana alam.
Berikut adalah poin-poin penting sejarah beliau:
Naik Takhta: Lahir dengan nama Gusti Raden Mas Mustojo pada 10 Agustus 1821. Beliau naik takhta pada 5 Juli 1855 menggantikan kakaknya, Hamengkubuwono V, yang wafat tanpa meninggalkan putra mahkota yang sudah dewasa pada saat itu.
Kebijakan Politik: Meskipun awalnya sering berbeda pandangan dengan kakaknya, setelah menjadi Sultan, beliau justru melanjutkan banyak kebijakan pendahulunya. Beliau berhasil meredam berbagai pemberontakan internal berkat dukungan Patih Danurejo V.
Hubungan Internasional: Di bawah pemerintahannya, Yogyakarta menjalin hubungan kuat dengan berbagai kerajaan, termasuk melakukan pernikahan politik dengan putri dari Kesultanan Brunei.
Bencana Gempa Besar 1867: Peristiwa paling monumental pada masa pemerintahannya adalah gempa bumi dahsyat pada 10 Juni 1867 yang menghancurkan banyak bangunan penting seperti Tugu Golong Gilig, Masjid Gedhe, dan kompleks Keraton. Sultan HB VI memimpin langsung upaya rehabilitasi dan pembangunan kembali infrastruktur kerajaan.
Akhir Hayat: Beliau wafat pada 20 Juli 1877 dan digantikan oleh putranya, Gusti Raden Mas Murtejo, yang bergelar Hamengkubuwono VII.
Sumber : Abi R Djjadireja

No comments:
Post a Comment