23 January 2026

Bupati penggagas tradisi Dugderan Dugderan di Semarang, memiliki pertalian tradisi dengan dandangan di Kudus. Selain kedua tradisi tersebut menjadi momen pengumuman datangnya bulan Ramadhan, tradisi dugderan juga dicetuskan oleh tokoh yang memiliki ikatan batin kuat dengan tradisi dandangan. Dialah Raden Mas Tumenggung Ario Poorbaningrat, yang semasa mudanya bernama Trenggono. Beliau adalah salah satu putra Tjondronegoro IV, Bupati Kudus dan Demak yang memiliki cara pandang dan berpikir sangat modern. Ario Poorbaningrat menjabat sebagai Bupati Demak tahun 1864 (menggantikan Tjondronegoro IV setelah wafat), dan mulai Maret 1881, beliau ditugaskan sebagai Bupati Semarang. Dalam penugasannya di Semarang, Beliau berhasil menyelesaikan pembangunan masjid agung Kauman yang bertahun-tahun terbengkelai. Dan untuk menyeragamkan diawalinya bulan Ramadhan, Beliau menggagas sebuah tradisi. Membawa dandangan sebagai kenangan masa kecilnya di Kudus ke tempat penugasannya, datangnya bulan Ramadhan di Semarang ditandai dengan ditabuhnya bedug dan dibunyikannya meriam. Tradisi ini dikenal dengan nama Dugderan. Setelah wafat, Ario Poorbaningrat dimakamkan di Kudus, tepatnya di Makam Sedomukti, kompleks pemakaman untuk trah Tjondronegaran di Desa Kaliputu. Nisannya berada satu cungkup dengan istri dan anak-anaknya, dengan bentuk makam yang unik, karena mirip dengan makam Belanda. Di kompleks pemakaman yang sama, dimakamkan pula kakeknya (Tjondronegoro III), ayahnya (Tjondronegoro IV), dan saudara-saudaranya: Sosroningrat (Bupati Jepara sekaligus ayah dari RA. Kartini) dan Hadiningrat (Bupati Demak).

 Bupati penggagas tradisi Dugderan



Dugderan di Semarang, memiliki pertalian tradisi dengan dandangan di Kudus. Selain kedua tradisi tersebut menjadi momen pengumuman datangnya bulan Ramadhan, tradisi dugderan juga dicetuskan oleh tokoh yang memiliki ikatan batin kuat dengan tradisi dandangan. Dialah Raden Mas Tumenggung Ario Poorbaningrat, yang semasa mudanya bernama Trenggono. Beliau adalah salah satu putra Tjondronegoro IV, Bupati Kudus dan Demak yang memiliki cara pandang dan berpikir sangat modern.

Ario Poorbaningrat menjabat sebagai Bupati Demak tahun 1864 (menggantikan Tjondronegoro IV setelah wafat), dan mulai Maret 1881, beliau ditugaskan sebagai Bupati Semarang. Dalam penugasannya di Semarang, Beliau berhasil menyelesaikan pembangunan masjid agung Kauman yang bertahun-tahun terbengkelai. Dan untuk menyeragamkan diawalinya bulan Ramadhan, Beliau menggagas sebuah tradisi. Membawa dandangan sebagai kenangan masa kecilnya di Kudus ke tempat penugasannya, datangnya bulan Ramadhan di Semarang ditandai dengan ditabuhnya bedug dan dibunyikannya meriam. Tradisi ini dikenal dengan nama Dugderan. 

Setelah wafat, Ario Poorbaningrat dimakamkan di Kudus, tepatnya di Makam Sedomukti, kompleks pemakaman untuk trah Tjondronegaran di Desa Kaliputu. Nisannya berada satu cungkup dengan istri dan anak-anaknya, dengan bentuk makam yang unik, karena mirip dengan makam Belanda. Di kompleks pemakaman yang sama, dimakamkan pula kakeknya (Tjondronegoro III), ayahnya (Tjondronegoro IV), dan saudara-saudaranya: Sosroningrat (Bupati Jepara sekaligus ayah dari RA. Kartini) dan Hadiningrat (Bupati Demak).

No comments:

Post a Comment