11 January 2026

Promosi Rokok Faroka Malang di Magelang tahun 1935. Rokok Faroka adalah rokok yang cukup dikenal pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda. Rokok putih tersebut dibuat di pabrik rokok Faroka yang cukup canggih di masanya. Rokok legendaris yang pernah ada di Malang ini sekarang sudah tidak ada karena sudah diakuisisi oleh Rothmans of Pall Mall (Australia). . Pabrik Faroka didirikan pada 13 Juni 1931 oleh pengusaha Belgia. Saat didirikan, pabrik ini bernama Naamloose Vennotschap (NV) tot Exploitatie van Ciggarettenfabrieken Faroka milik perusahaan Belgia NV Tobacofina. Pendirian pabrik itu merupakan pengembangan dari jaringan internasional yang sebelumnya sudah ada di Belanda, Zaire dan Swiss. Di Indonesia pabrik ini ada dua yakni di Solo dan Malang. Saat ini lokasi pabrik ini ada di Industri Weg atau Jalan Peltu Sujono Malang sekarang, sedangkan luas pabriknya adalah 32.000 meter persegi. Rokok Faroka diluncurkan pertama pada 2 April 1932. Adanya Faroka ini merupakan pabrik rokok kedua setelah rokok Hien An Konsie jang didirikan pada tahun 1930 oleh Ong Hok Liong dan kemudian berganti nama menjadi Bentoel. #fotojadul #hindiabelanda #sejarahrokokfaroka #rokokindonesia #rokokkretek #fotolawas #indonesiatempodoeloe

 Promosi Rokok Faroka Malang di Magelang tahun 1935. Rokok Faroka adalah rokok yang cukup dikenal pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda. Rokok putih tersebut dibuat di pabrik rokok Faroka yang cukup canggih di masanya. Rokok legendaris yang pernah ada di Malang ini sekarang sudah tidak ada karena sudah diakuisisi oleh Rothmans of Pall Mall (Australia). . Pabrik Faroka didirikan pada 13 Juni 1931 oleh pengusaha Belgia. Saat didirikan, pabrik ini bernama Naamloose Vennotschap (NV) tot Exploitatie van Ciggarettenfabrieken Faroka milik perusahaan Belgia NV Tobacofina. Pendirian pabrik itu merupakan pengembangan dari jaringan internasional yang sebelumnya sudah ada di Belanda, Zaire dan Swiss. Di Indonesia pabrik ini ada dua yakni di Solo dan Malang. Saat ini lokasi pabrik ini ada di Industri Weg atau Jalan Peltu Sujono Malang sekarang, sedangkan luas pabriknya adalah 32.000 meter persegi. Rokok Faroka diluncurkan pertama pada 2 April 1932. Adanya Faroka ini merupakan pabrik rokok kedua setelah rokok Hien An Konsie jang didirikan pada tahun 1930 oleh Ong Hok Liong dan kemudian berganti nama menjadi Bentoel.



#fotojadul

#hindiabelanda

#sejarahrokokfaroka

#rokokindonesia

#rokokkretek

#fotolawas

#indonesiatempodoeloe


Sรนmber : Cindy

09 January 2026

Dokumentasi baju yang dikenakan oleh bupati di bawah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Foto pertama adalah Bupati Magelang Raden Tumenggung Danuningrat III sedangkan foto kedua adalah Bupati Kalasan Kanjeng Raden Tumenggung Pringgodiningrat. Untuk Kanjeng Raden Tumenggung Pringgodiningrat merupakan Mbah Canggah saya untuk tahun berapa menjabat sebagai Bupati Kalasan kita anak turunnya kurang begitu paham karena kita hanya mewarisi foto beliau saja tetapi tidak mewarisi kisah perjalanan beliau saat jadi bupati. Sejarah Kabupaten Kalasan. Pada tahun 1905 Kasultanan Yogyakarta membagi wilayahnya menjadi tiga kawasan yaitu Kawasan Mataram, Kawasan Kulon Progo, dan Kawasan Gunungkidul. Kawasan Mataram sendiri terdiri dari beberapa daerah, antara lain Kabupaten dan Kota yaitu Kabupaten Pakualaman, kabupaten Bantul, Kabupaten Kalasan, dan Kabupaten Sleman. Kabupaten Sleman terjadi menjadi tujuh wilayah distrik yaitu Godean, Joesmeneng, Mlati, Ngijon, Gamping, Klegung, dan Balong. Sedangkan Kabupaten Kalasan juga terbagi menjadi lima distrik yaitu Berbah, Kejambon, Krapyak, Prambanan dan Kota Gedhe. Pada Tahun 1916 terjadi perubahan pembagian wilayah sesuai dengan Riksblad Van Jogyakarta No.11 Tahun 1916. Kasultanan Yogyakarta membagi wilayahnya menjadi tiga Kabupaten, yaitu Kalasan, Bantul, dan Sleman dengan masing-masing memiliki seorang Bupati sebagai kepala wilayahnya. Namun Tahun 1927 terjadi perubahan nama kabupaten dan pengurangan jumlahnya menjadi empat kabupaten yang menghilangkan Kabupaten Sleman dan Kabupaten Kalasan dihapus. Tapi berdasarkan data ini dimana Kabupaten Kasalan itu ada sekitar tahun 1916 sampai dengan 1927. Kanjeng Raden Tumenggung Pringgodiningrat sebelum menjadi Bupati beliau merupakan penari Garuda kekasihipun Sultan Hamengkubuwono VII. KRT Pringgodiningrat sempat menjadi Bupati Kalasan dan menurut cerita tutur orang tua saya beliau sanggup meredam huru hara yang terjadi di daerah Ploso Kuning. Dan kalau dilihat dari sorosilah beliau merupakan cicit dari Raden Haryo Hadipati Citrosoma. Dan ini masih menjadi tanda tanya besar kami apakah Raden Haryo Citrosoma tersebut yang merupakan Bupati Jepara kita masih berusaha mencari data validnya. Putri KRT Pringgodiningrat ada yang bernama R. Ngt. Mangundiwarno dari beliau inilah kami memiliki jalur keturunan dari Raden Fattah Sultan Demak yang pertama. Akan tetapi surat kekancingan kami menggunakan jalur dari Bondan Kejawan dari R Mangundiwarno (suami dari R. Ngt. Mangundiwarno) yang merupakan putra mantu dari KRT Pringgodiningrat. R Mangundiwarno ini biasa kita sebut sebagai Mbah Bei. Sedangkan cucu dari KRT Pringgodiningrat ada yang menjadi Assisten Wedana yang pernah bertugas di Lendah Kulon Progo dan memiliki rumah di daerah Stan Depok Sleman dan di daerah Ngadisuryan persis di baratnya dapurnya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Beliau biasa kita panggil dengan sebutan Pakdhe Penewu (dalam keluarga kami Eyang biasa dipanggil Pakdhe atau Budhe). Dan kakak perempuan Assisten Wedana tersebut adalah Eyang Putri kami R. Ngt Subarsinah. Salah satu putra R. Ngt. Subarsinah adalah R. Sukirman Karsono Seputro yang merupakan ayah saya. Brawijaya V | _______________________ | | Bondan Gejawan Raden Patah | | K. Ag. Getas Pandawa Sultan Trenggono | | K. Ag. Selo K. R. M. D. Mantingan | | K. Ag. Anis R. H. Joyo Prono | | K. Ag. Mataram R. H. Dandang Sumpyung | | G. A. Ap. Tepasana R. H. Martataka | | R. Salamhiman KRT Suronoto | | R. Darmahita R. H. A. Citrosoma | | R. Darpatruna KRT Mangunyudho | | R. Tamakariya Kyai Gunoyudho | | R. Atmawinata KRT Pringgodiningrat | | R. Mangundiwarno + R. Ngt. Mangundiwarno | R. Ngt. Subarsinah Martokarsono | R. Sukirman

 Dokumentasi baju yang dikenakan oleh bupati di bawah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Foto pertama adalah Bupati Magelang Raden Tumenggung Danuningrat III sedangkan foto kedua adalah Bupati Kalasan Kanjeng Raden Tumenggung Pringgodiningrat.





Untuk Kanjeng Raden Tumenggung Pringgodiningrat merupakan Mbah Canggah saya untuk tahun berapa menjabat sebagai Bupati Kalasan kita anak turunnya kurang begitu paham karena kita hanya mewarisi foto beliau saja tetapi tidak mewarisi kisah perjalanan beliau saat jadi bupati.

Sejarah Kabupaten Kalasan.

Pada tahun 1905 Kasultanan Yogyakarta membagi wilayahnya menjadi tiga kawasan yaitu Kawasan Mataram, Kawasan Kulon Progo, dan Kawasan Gunungkidul.

Kawasan Mataram sendiri terdiri dari beberapa daerah, antara lain Kabupaten dan Kota yaitu Kabupaten Pakualaman, kabupaten Bantul, Kabupaten Kalasan, dan Kabupaten Sleman.

Kabupaten Sleman terjadi menjadi tujuh wilayah distrik yaitu Godean, Joesmeneng, Mlati, Ngijon, Gamping, Klegung, dan Balong. Sedangkan Kabupaten Kalasan juga terbagi menjadi lima distrik yaitu Berbah, Kejambon, Krapyak, Prambanan dan Kota Gedhe.

Pada Tahun 1916 terjadi perubahan pembagian wilayah sesuai dengan Riksblad Van Jogyakarta No.11 Tahun 1916. Kasultanan Yogyakarta membagi wilayahnya menjadi tiga Kabupaten, yaitu Kalasan, Bantul, dan Sleman dengan masing-masing memiliki seorang Bupati sebagai kepala wilayahnya.

Namun Tahun 1927 terjadi perubahan nama kabupaten dan pengurangan jumlahnya menjadi empat kabupaten yang menghilangkan Kabupaten Sleman dan Kabupaten Kalasan dihapus.

Tapi berdasarkan data ini dimana Kabupaten Kasalan itu ada sekitar tahun 1916 sampai dengan 1927.

Kanjeng Raden Tumenggung Pringgodiningrat sebelum menjadi Bupati beliau merupakan penari Garuda kekasihipun Sultan Hamengkubuwono VII.

KRT Pringgodiningrat sempat menjadi Bupati Kalasan dan menurut cerita tutur orang tua saya beliau sanggup meredam huru hara yang terjadi di daerah Ploso Kuning. 

Dan kalau dilihat dari sorosilah beliau merupakan cicit dari Raden Haryo Hadipati Citrosoma. Dan ini masih menjadi tanda tanya besar kami apakah Raden Haryo Citrosoma tersebut yang merupakan Bupati Jepara kita masih berusaha mencari data validnya. 

Putri KRT Pringgodiningrat ada yang bernama R. Ngt. Mangundiwarno dari beliau inilah kami memiliki jalur keturunan dari Raden Fattah Sultan Demak yang pertama. Akan tetapi surat kekancingan kami menggunakan jalur dari Bondan Kejawan dari R Mangundiwarno (suami dari R. Ngt. Mangundiwarno) yang merupakan putra mantu dari KRT Pringgodiningrat. R Mangundiwarno ini biasa kita sebut sebagai Mbah Bei. 

Sedangkan cucu dari KRT Pringgodiningrat ada yang menjadi Assisten Wedana yang pernah bertugas di Lendah Kulon Progo dan memiliki rumah di daerah Stan Depok Sleman dan di daerah Ngadisuryan persis di baratnya dapurnya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Beliau biasa kita panggil dengan sebutan Pakdhe Penewu (dalam keluarga kami Eyang biasa dipanggil Pakdhe atau Budhe). Dan kakak perempuan Assisten Wedana tersebut adalah Eyang Putri kami R. Ngt Subarsinah. Salah satu putra R. Ngt. Subarsinah adalah R. Sukirman Karsono Seputro yang merupakan ayah saya.


                            Brawijaya V

                                      |            

               _______________________                              

              |                                          |

Bondan Gejawan                Raden Patah

              |                                          |

K. Ag. Getas Pandawa       Sultan Trenggono

              |                                          |

K. Ag. Selo                           K. R. M. D. Mantingan

              |                                          |

K. Ag. Anis                           R. H. Joyo Prono

              |                                          |

K. Ag. Mataram                   R. H. Dandang Sumpyung

              |                                          |

G. A. Ap. Tepasana             R. H. Martataka

              |                                          |

R. Salamhiman                    KRT Suronoto

              |                                          |

R. Darmahita                        R. H. A. Citrosoma

              |                                          |

R. Darpatruna                       KRT Mangunyudho 

              |                                          |

R. Tamakariya                      Kyai Gunoyudho

              |                                          |

R. Atmawinata                     KRT Pringgodiningrat      

              |                                          |

R. Mangundiwarno       +      R. Ngt. Mangundiwarno

                                           |                                     

            R. Ngt. Subarsinah Martokarsono

                                           |                                          

                                 R. Sukirman



Sumber : Orchid Breeeder

Oey Tambahsia, penjahat kelamin dan playboy Betawi yang tewas di tiang gantungan, momok bagi para gadis sekaligus istri orang Batavia abad 19 Dapat warisan besar dari ayahnya, Oey Tambah-sia tumbuh jadi pemuda yang arogan. Selain suka pamer dan sombong, yang meresahkan masyarakat Tionghoa Batavia abad 19 itu adalah ulahnya yang suka mengganggu anak-istri orang. Sekalipun masih terbilang remaja, Tambah sudah terkenal sebagai lelaki hidung belang. Konon orang sampai menyembunyikan anak daranya, karena khawatir terlihat oleh Oey Tambah atau kaki-tangannya. Umumnya dia mempergunakan kekuatan uang untuk mencapai maksudnya. Tambahsia punya rumah peristirahatan di Ancol yang diberi nama Bintang Mas. Tempat itu bukan hanya tempat bersenang-senang bagi yang empunya, tetapi juga untuk tempat pertemuan dengan wanita-wanita yang berhasil dibujuk oleh kaki-tangannya atau untuk menyimpan mereka. Tak hanya dara, istri orang pun diincarnya. Suatu hari, kaki tangannya melihat seorang wanita cantik di daerah Tongkangan. Ternyata wanita itu sudah bersuamikan seorang tukang kelontong. Dengan bantuan seorang 'mak comblang' wanita muda yang hidupnya kekurangan itu berhasil dipikat Tambahsia. Bila suaminya berkeliling dengan dagangannya, istrinya naik kereta ke Bintang Mas untuk berkencan dengan Tambahsia. Lama-kelamaan penyelewengan itu tercium juga oleh suaminya. Pada puncak pertengkaran si istri diam-diam meninggalkan rumah untuk selanjutnya menetap di Ancol. Suaminya kelabakan mencari ke mana-mana, tetapi tak ada yang mengetahui ke mana larinya nyonya itu. Pada suatu hari suami yang malang itu mendapat info bahwa istrinya "disimpan" di Bintang Mas. Tanpa membuang-buang waktu lagi dia mencarinya ke sana. Di depan pesanggrahan itu dia berteriak-teriak memanggil nama istrinya. Dia tak bisa masuk, karena dialangi oleh penjaga. Bahkan mereka berusaha mengusir pembuat gaduh itu, tetapi tak berhasil. Oey Tambah dan istri tukang kelontong kebetulan sedang di dalam rumah. Akhirnya mereka merasa khawatir juga melihat ulah laki-laki yang seperti orang gila itu. Tambahsia menyuruh menyiapkan kereta agar mereka bisa menyingkir dari tempat terpencil itu. Kereta berkuda yang membawa pasangan itu berangkat ke arah Pasar Ikan. Laki-laki kalap yang mengetahui istrinya dilarikan segera mengejar kereta yang berlari kencang itu. Setelah berlari sejurus dia sudah tertinggal jauh oleh kereta itu, tetapi di masih nekat mengejar, sehingga akhirnya jatuh terduduk, kehabisan tenaga. Sejak itu dia tak pernah terlihat lagi. Dia tak pernah pulang, sedangkan rumahnya tetap terkunci rapat-rapat. Desas-desus mengatakan bahwa dia membunuh diri dengan menceburkan diri ke laut, tetapi mayatnya tak pernah ditemukan. Selanjutnya, istri tukang kelontong itu menjadi "simpanan" favorit Tambahsia. Ibunya khawatir anaknya akan menjadikan janda itu istri tetapnya. Sebab itu Nyonya Oey membujuk anaknya agar mau menikah baik-baik. Barangkali dia juga mengharapkan, seperti orangtua pada zaman itu, agar anaknya akan berkurang kebinalannya setelah secara resmi berkeluarga. Tambahsia tidak menolak saran itu, tetapi mengajukan syarat bahwa dia menentukan sendiri pilihannya. Setelah menemukan gadis yang kemudian diperistrinya, toh Tambahsia tak berkurang mata keranjangnya. Salah satu wanita simpanannya yang paling terkenal adalah seorang sinden bernama Raden Ayu Gunjing, yang dia kenal saat berkunjung ke rumah kerabat di Pekalongan. Meski sudah punya RA Gunjing -- juga istri di rumah, toh wanita favoritnya adalah janda tukang kelontong. Segala kesombongan dan kebejatan Tambahsia akhirnya mendapat balasannya. Dia terjerat kasus pembunuhan dan hukumannya: tiang gantungan. Bangunan yang sekarang jadi Museum Fatahillah jadi saksi eksekusinya. Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034339482/oey-tambahsia-playboy-betawi-yang-tewas-di-tiang-gantungan-dara-janda-semua-diembatnya

 Oey Tambahsia, penjahat kelamin dan playboy Betawi yang tewas di tiang gantungan, momok bagi para gadis sekaligus istri orang Batavia abad 19



Dapat warisan besar dari ayahnya, Oey Tambah-sia tumbuh jadi pemuda yang arogan. Selain suka pamer dan sombong, yang meresahkan masyarakat Tionghoa Batavia abad 19 itu adalah ulahnya yang suka mengganggu anak-istri orang. Sekalipun masih terbilang remaja, Tambah sudah terkenal sebagai lelaki hidung belang. 


Konon orang sampai menyembunyikan anak daranya, karena khawatir terlihat oleh Oey Tambah atau kaki-tangannya. Umumnya dia mempergunakan kekuatan uang untuk mencapai maksudnya. 


Tambahsia punya rumah peristirahatan di Ancol yang diberi nama Bintang Mas. Tempat itu bukan hanya tempat bersenang-senang bagi yang empunya, tetapi juga untuk tempat pertemuan dengan wanita-wanita yang berhasil dibujuk oleh kaki-tangannya atau untuk menyimpan mereka.


Tak hanya dara, istri orang pun diincarnya. Suatu hari, kaki tangannya melihat seorang wanita cantik di daerah Tongkangan. Ternyata wanita itu sudah bersuamikan seorang tukang kelontong. Dengan bantuan seorang 'mak comblang' wanita muda yang hidupnya kekurangan itu berhasil dipikat Tambahsia. 


Bila suaminya berkeliling dengan dagangannya, istrinya naik kereta ke Bintang Mas untuk berkencan dengan Tambahsia. Lama-kelamaan penyelewengan itu tercium juga oleh suaminya. Pada puncak pertengkaran si istri diam-diam meninggalkan rumah untuk selanjutnya menetap di Ancol.


Suaminya kelabakan mencari ke mana-mana, tetapi tak ada yang mengetahui ke mana larinya nyonya itu.


Pada suatu hari suami yang malang itu mendapat info bahwa istrinya "disimpan" di Bintang Mas. Tanpa membuang-buang waktu lagi dia mencarinya ke sana. Di depan pesanggrahan itu dia berteriak-teriak memanggil nama istrinya. Dia tak bisa masuk, karena dialangi oleh penjaga. Bahkan mereka berusaha mengusir pembuat gaduh itu, tetapi tak berhasil.


Oey Tambah dan istri tukang kelontong kebetulan sedang di dalam rumah. Akhirnya mereka merasa khawatir juga melihat ulah laki-laki yang seperti orang gila itu. Tambahsia menyuruh menyiapkan kereta agar mereka bisa menyingkir dari tempat terpencil itu.


Kereta berkuda yang membawa pasangan itu berangkat ke arah Pasar Ikan. Laki-laki kalap yang mengetahui istrinya dilarikan segera mengejar kereta yang berlari kencang itu. Setelah berlari sejurus dia sudah tertinggal jauh oleh kereta itu, tetapi di masih nekat mengejar, sehingga akhirnya jatuh terduduk, kehabisan tenaga.


Sejak itu dia tak pernah terlihat lagi. Dia tak pernah pulang, sedangkan rumahnya tetap terkunci rapat-rapat. Desas-desus mengatakan bahwa dia membunuh diri dengan menceburkan diri ke laut, tetapi mayatnya tak pernah ditemukan.


Selanjutnya, istri tukang kelontong itu menjadi "simpanan" favorit Tambahsia. Ibunya khawatir anaknya akan menjadikan janda itu istri tetapnya. 


Sebab itu Nyonya Oey membujuk anaknya agar mau menikah baik-baik. Barangkali dia juga mengharapkan, seperti orangtua pada zaman itu, agar anaknya akan berkurang kebinalannya setelah secara resmi berkeluarga.


Tambahsia tidak menolak saran itu, tetapi mengajukan syarat bahwa dia menentukan sendiri pilihannya. Setelah menemukan gadis yang kemudian diperistrinya, toh Tambahsia tak berkurang mata keranjangnya.


Salah satu wanita simpanannya yang paling terkenal adalah seorang sinden bernama Raden Ayu Gunjing, yang dia kenal saat berkunjung ke rumah kerabat di Pekalongan. Meski sudah punya RA Gunjing -- juga istri di rumah, toh wanita favoritnya adalah janda tukang kelontong.


Segala kesombongan dan kebejatan Tambahsia akhirnya mendapat balasannya. Dia terjerat kasus pembunuhan dan hukumannya: tiang gantungan. Bangunan yang sekarang jadi Museum Fatahillah jadi saksi eksekusinya.


Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034339482/oey-tambahsia-playboy-betawi-yang-tewas-di-tiang-gantungan-dara-janda-semua-diembatnya

07 January 2026

Baca sejarah jangan setengah-setengah, entar pemahamannya stunting. ๐Ÿง  Kalau masih nganggep Prasasti Kota Kapur itu catatan tertua soal Pulau Jawa, fiks butuh asupan omega-3 tambahan. Kota Kapur itu soal Sriwijaya, Bosku! Jawa (Yawadwipa) udah nampang di Ramayana sampe catatan Yunani pas orang lain masih belajar bikin pantun. Yuk, asupan nutrisinya dikencengin biar nggak salah server! ๐Ÿฅ›๐ŸŸ" Dalam naskah asli India (Sanskerta), latar tempatnya ya di India. Tapi begitu dipegang pujangga kita (seperti dalam Kakawin Bharatayuddha), tiba-tiba Gunung Mahameru dipindah ke Jawa. Para dewa yang tadinya "asing" jadi terasa seperti tetangga sendiri karena setting-nya diubah ke lanskap Jawa yang hijau dan subur. Jejak Awal Nama Jawa: Dari Epik India hingga Catatan Yunani Pulau Jawa, salah satu pusat peradaban tertua di Nusantara, memiliki sejarah penamaan yang sangat panjang. Nama "Jawa" tidak muncul begitu saja, melainkan telah terekam dalam berbagai naskah kuno dari belahan dunia yang berbeda, mulai dari daratan India hingga kekaisaran Romawi-Yunani. 1. Sumber India Kuno: Yawadwipa dalam Epos Sanskrit Catatan tertua mengenai Pulau Jawa ditemukan dalam kesusastraan India kuno, khususnya dalam kitab Ramayana dan Mahabharata (sekitar abad ke-4 SM hingga abad ke-1 M). Dalam kitab Ramayana, dikisahkan tokoh Sugriwa mengirim utusan ke seluruh penjuru dunia untuk mencari Sita. Salah satu tempat yang disebutkan adalah Yawadwipa yang digambarkan sebagai "Pulau Jelai" ( Yawa berarti jelai/padi-padian, dan Dwipa berarti pulau). Tempat ini digambarkan sebagai wilayah yang kaya akan emas dan perak serta memiliki tujuh kerajaan. 2. Catatan Geografer Yunani: Iabadiu atau Labadiu Pada abad ke-2 Masehi, seorang ahli geografi dan astronom terkenal dari Aleksandria, Claudius Ptolemy, menulis karya monumental berjudul Geographia. Dalam catatannya, ia menyebutkan sebuah pulau bernama Iabadiu atau Labadiu. Berdasarkan deskripsi fonetik dan geografisnya, para sejarawan meyakini bahwa kata tersebut merupakan transliterasi Yunani dari Yawadwipa. Ptolemy mencatat bahwa pulau ini sangat subur dan menghasilkan banyak emas, yang memperkuat hubungan dagang antara Nusantara dengan dunia Barat melalui perantara India pada masa itu. 3. Bukti Arkeologis: Prasasti Canggal (732 M) Meskipun literatur luar negeri telah menyebut Jawa sejak awal milenium, bukti tertulis tertua yang ditemukan secara fisik di Pulau Jawa sendiri adalah Prasasti Canggal. Prasasti berangka tahun 654 Saka atau 732 Masehi ini ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir, Magelang, Jawa Tengah. Prasasti ini ditulis menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta. Di dalamnya, secara eksplisit disebutkan nama Jawadwipa untuk merujuk pada pulau tempat Raja Sanjaya bertahta. "Terdapat sebuah pulau yang sangat indah bernama Jawadwipa, yang kaya akan hasil bumi seperti biji-bijian (padi) dan tambang emas..." (Petikan makna isi Prasasti Canggal). Perubahan penyebutan dari Yawadwipa (India), Iabadiu (Yunani), hingga Jawadwipa (Prasasti Canggal) menunjukkan bahwa Pulau Jawa telah dikenal sebagai wilayah yang makmur dan strategis sejak ribuan tahun lalu. Nama ini terus bertahan hingga hari ini sebagai identitas geografis dan budaya yang kuat di Indonesia. menganggap Prasasti Kota Kapur (yang jelas-jelas soal sumpah setia kepada Sriwijaya di Sumatra) sebagai bukti tertua yang menyebut nama Jawa itu bukan cuma salah baca, tapi salah alamat. Itu ibarat orang baca sertifikat tanah tetangga tapi diklaim sebagai akta kelahiran sendiri. #SejarahNusantara #Yawadwipa #Jawadwipa #SejarahJawa #ArkeologiIndonesia #PrasastiCanggal #LiterasiSejarah #BelajarSejarah #NusantaraKuno

 Baca sejarah jangan setengah-setengah, entar pemahamannya stunting. ๐Ÿง  Kalau masih nganggep Prasasti Kota Kapur itu catatan tertua soal Pulau Jawa, fiks butuh asupan omega-3 tambahan. Kota Kapur itu soal Sriwijaya, Bosku! Jawa (Yawadwipa) udah nampang di Ramayana sampe catatan Yunani pas orang lain masih belajar bikin pantun. Yuk, asupan nutrisinya dikencengin biar nggak salah server! ๐Ÿฅ›๐ŸŸ"

Dalam naskah asli India (Sanskerta), latar tempatnya ya di India. Tapi begitu dipegang pujangga kita (seperti dalam Kakawin Bharatayuddha), tiba-tiba Gunung Mahameru dipindah ke Jawa. Para dewa yang tadinya "asing" jadi terasa seperti tetangga sendiri karena setting-nya diubah ke lanskap Jawa yang hijau dan subur.



Jejak Awal Nama Jawa: Dari Epik India hingga Catatan Yunani


Pulau Jawa, salah satu pusat peradaban tertua di Nusantara, memiliki sejarah penamaan yang sangat panjang. Nama "Jawa" tidak muncul begitu saja, melainkan telah terekam dalam berbagai naskah kuno dari belahan dunia yang berbeda, mulai dari daratan India hingga kekaisaran Romawi-Yunani.


1. Sumber India Kuno: Yawadwipa dalam Epos Sanskrit

Catatan tertua mengenai Pulau Jawa ditemukan dalam kesusastraan India kuno, khususnya dalam kitab Ramayana dan Mahabharata (sekitar abad ke-4 SM hingga abad ke-1 M).


Dalam kitab Ramayana, dikisahkan tokoh Sugriwa mengirim utusan ke seluruh penjuru dunia untuk mencari Sita. Salah satu tempat yang disebutkan adalah Yawadwipa yang digambarkan sebagai "Pulau Jelai" ( Yawa berarti jelai/padi-padian, dan Dwipa berarti pulau). Tempat ini digambarkan sebagai wilayah yang kaya akan emas dan perak serta memiliki tujuh kerajaan.


2. Catatan Geografer Yunani: Iabadiu atau Labadiu

Pada abad ke-2 Masehi, seorang ahli geografi dan astronom terkenal dari Aleksandria, Claudius Ptolemy, menulis karya monumental berjudul Geographia. Dalam catatannya, ia menyebutkan sebuah pulau bernama Iabadiu atau Labadiu.


Berdasarkan deskripsi fonetik dan geografisnya, para sejarawan meyakini bahwa kata tersebut merupakan transliterasi Yunani dari Yawadwipa. Ptolemy mencatat bahwa pulau ini sangat subur dan menghasilkan banyak emas, yang memperkuat hubungan dagang antara Nusantara dengan dunia Barat melalui perantara India pada masa itu.


3. Bukti Arkeologis: Prasasti Canggal (732 M)

Meskipun literatur luar negeri telah menyebut Jawa sejak awal milenium, bukti tertulis tertua yang ditemukan secara fisik di Pulau Jawa sendiri adalah Prasasti Canggal.


Prasasti berangka tahun 654 Saka atau 732 Masehi ini ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir, Magelang, Jawa Tengah. Prasasti ini ditulis menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta. Di dalamnya, secara eksplisit disebutkan nama Jawadwipa untuk merujuk pada pulau tempat Raja Sanjaya bertahta.


"Terdapat sebuah pulau yang sangat indah bernama Jawadwipa, yang kaya akan hasil bumi seperti biji-bijian (padi) dan tambang emas..." (Petikan makna isi Prasasti Canggal).


Perubahan penyebutan dari Yawadwipa (India), Iabadiu (Yunani), hingga Jawadwipa (Prasasti Canggal) menunjukkan bahwa Pulau Jawa telah dikenal sebagai wilayah yang makmur dan strategis sejak ribuan tahun lalu. Nama ini terus bertahan hingga hari ini sebagai identitas geografis dan budaya yang kuat di Indonesia.


menganggap Prasasti Kota Kapur (yang jelas-jelas soal sumpah setia kepada Sriwijaya di Sumatra) sebagai bukti tertua yang menyebut nama Jawa itu bukan cuma salah baca, tapi salah alamat. Itu ibarat orang baca sertifikat tanah tetangga tapi diklaim sebagai akta kelahiran sendiri.


#SejarahNusantara #Yawadwipa #Jawadwipa #SejarahJawa #ArkeologiIndonesia #PrasastiCanggal #LiterasiSejarah #BelajarSejarah #NusantaraKuno


Sumber : Wukir Mahendra

Kenapa di sebut Pulau Jawa? Belanda membagi wilayah di Jawa menjadi, Jawa barat, Jawa tengah, Jawa timur dan Madura. Sebelumnya Ahli2 Sejarah Belanda sudah mempelajari sumber2 Sejarah sejaman tentunya bekerjasama dengan ahli ahli lokal. Jangan salah sangka Sejarawan Belanda adalah pecinta Sains. Nah Sumber sejarah yang termasuk Tua menyebut Pulau Jawa adalah Prasasti Canggal, artinya Belanda tidak salah membagi nama2 Di Pulau Jawa, Prasasti lainya pada era Kerajaan Medang menulis nama nama sapradesa di Wilayah Jawa barat, prades artinya distrik atau daerah bukan seperti menyebut Kambujadesa yang artinya kerajaan Kambuja. Sapradesa di Jawa barat itu pada zaman prasasti Salingsingan dibuat adalah seperti Taku, luitan, Kuningan, Sunda itulah Sapradesa yang dikenali saat itu di Pulau Jawa. Memang salah satu Peta di Alexandria pernah menulis peta Barus, Sindae, dan Jawa tetapi letak Sindae dan Jawa terpisah oleh air yang luas, jika tidak percaya bisa dilihat di Peta itu sendiri. Tetapi dua sumber Prasasti Sejaman Yaitu Canggal dan Salingsingan sudah menjelaskan bahwa di Jawa barat ada bebebrapa Sapradesa, dan di wilayah sebelah tengah dan timur dalam Prasasri2 lain era Medang banyak watak2 yang menyusun Kerajaan Medang. Termasuuk menjelaskan bahwa Ratu Sanjaya Raja Medang itu adalah Rakai dari wilayah Mataram.

 Kenapa di sebut  Pulau Jawa?



Belanda membagi wilayah di Jawa menjadi, Jawa barat, Jawa tengah, Jawa timur dan Madura. Sebelumnya Ahli2 Sejarah Belanda sudah mempelajari sumber2 Sejarah sejaman tentunya  bekerjasama dengan ahli ahli lokal. Jangan  salah sangka Sejarawan Belanda adalah pecinta Sains.


Nah Sumber sejarah yang termasuk Tua menyebut Pulau Jawa adalah Prasasti Canggal, artinya Belanda tidak salah membagi nama2 Di Pulau Jawa, Prasasti lainya pada era Kerajaan Medang menulis nama nama sapradesa di Wilayah Jawa barat, prades artinya distrik atau daerah bukan seperti menyebut Kambujadesa  yang artinya kerajaan Kambuja. Sapradesa di Jawa barat itu pada zaman prasasti Salingsingan dibuat adalah seperti  Taku, luitan, Kuningan, Sunda  itulah Sapradesa yang dikenali saat itu di Pulau Jawa.


Memang salah satu Peta di Alexandria pernah menulis peta Barus, Sindae, dan Jawa tetapi letak Sindae dan Jawa terpisah oleh air yang luas, jika tidak percaya bisa dilihat di Peta itu sendiri.


Tetapi dua sumber Prasasti Sejaman Yaitu Canggal dan Salingsingan sudah menjelaskan bahwa di Jawa barat ada bebebrapa Sapradesa, dan di wilayah sebelah tengah dan timur dalam Prasasri2 lain era Medang banyak watak2  yang menyusun Kerajaan Medang. Termasuuk menjelaskan bahwa Ratu Sanjaya Raja Medang itu adalah Rakai dari wilayah Mataram.

06 January 2026

TRAH ARYA LEMBU PETENG ING MADURA ( Salah Satu Leluhur Raja Kraton Surakarta ) Arya Lembu Peteng adalah satu putra Prabu Brawijaya V , Raja Majapahit . Setelah Kerajaan Majapahit mengalami masa masa kejatuhan, para putra raja Majapahit sebagian besar keluar dari Keraton dan berkelana menyebar di daerah daerah lain di Pulau Jawa. Salah satunya Arya Lembu Peteng yang mendirikan kerajaan di tanah Madura tepatnya di Keraton yang dinamakan Keraton Gilimandhangin Sampang. Banyak sekali trah keturunan dari Arya Lembu Peteng yang menikah dengan keturunan keluarga Keraton Mataram. 1. RAy Handoyo menikah dgn Pangeran Adipati Anom ( Sunan PB IV ) melahirkan Sunan PB V 2. RAy Sakaptinah menikah dengan Sunan PB IV melahirkan Sunan PB VII Silsilah Trah Lembu Peteng Sbb: Arya Lรชmbupรชtรชng jumรชnรชng ing Madura, kรชkutha ing Gilimandhangin Sampang, memiliki 3 putra : 1. Arya Mรชngรชr, ing Gilimandhangin Sampang, dikenal dengan nama Kyai Agรชng Sampang. 2. Arya Mรชnga ing Pamรชkasan, dikenal dengan nama Kyai Agรชng Pamรชkasan. 3. Rรชtna Dรจwi, menikah dengan Maulana Agung, putra dari Maulana Iskak. Kyai Agรชng Sampang Memiliki 3 putra : 1. Kyai Agรชng Pambayun, ing Langgar. 2. Kyai Agรชng Panรชngah. 3. Kyai Agรชng Waruju menggantikan ayahandanya bertahta di Gilimandhangin Sampang, dengan nama Arya Patikรชl. Arya Patikel Memiliki putra : 1. Nyai Agรชng Buda, menikah dengan Arya Pucuk, canggah dari Arya Damar ing Palembang. Arya Pucuk menggantikan sang mertua ,bertahta di Gilimandhangin Sampang. Nyai Agรชng Buda pรชputra: 1. Kyai Dรชmung Walakaran ing Ngarisbaya tanah Madura. Kyai Dรชmung Walakaran pรชputra delapan: 1. Adipati Prawana ing Pamรชkasan. 2. Kyai Pramawa, nama Adipati Malaya. 3. Kyai Pragalba, nama Pangeran Agung ing Palakaran Ngarisbaya. 4. Kyai Pratala, nama Pangeran Rumbasan. 5. Kyai Pratali, nama Pangeran Pasapรจn. 6. Kyai Prabawa, nama Pangeran Panangkan. 7. Kyai Prabata, nama Pangeran Pakacangan. 8. Kyai Pragota, nama Pangeran Balega. Pangeran Agung ing Palakaran Ngarisbaya garwa dari Pamandhรชgan Sampang, pรชputra lima: 1. Kyai Pratanu (putra dari garwa Pamandhรชgan) menikah dengan putri dari Keraton Pajang, bergelar Panรชmbahan Lรชmahdhuwur ing Ngarisbaya. 2. Kyai Pradana (putra dari garwa Pramoh) bergelar Pangeran Malaya. 3. Kyai Pradata (id.) banjur nama Pangeran Kรชdhung Baringin. 4. Kyai Prakana (dari garwa Pamandhรชgan) bergelar Pangeran Pamรชlaran. 5. Kyai Pranata (dari garwa Pamandhengan bergelar Pangeran Tunjungpura. Panรชmbahan Lรชmahdhuwur ing Ngarisbaya pรชputra lima belas: a. Dari garwa Pajang: 1. Pangeran Sampang, seda ing Gili. 2. Ratu Mas, krama olรจh Adipati Kapulungan, ing Pasuruan, pรชgat banjur krama manรจh olรจh Pangeran BungKarang pรชpatih ing Sampang. 3. Radรจn Karah, menggantikan sang ayahanda bertahta di Ngarisbaya, nama Panรชmbahan Tรชngah. 4. Radรจn Sakatah menjadi Adipati ing Balega, bergelar Pangeran Balega. 5. Pangeran Adipati Ngarisbaya, menggantikan sang kakak ,Panรชmbahan Tรชngah 6. Ratu Ayu Kalidran, krama olรจh Pangeran Kalidran. b. Dari garwa ampil : 7. Pangeran Tumรชnggung. 8. Pangeran Rฤƒngga. 9. Pangeran Dรชmang. 10. Pangeran Pagadhangan. 11. Pangeran Padmanagara. 12. Pangeran Puspanagara. 13. Mas Ayu Irรชng, krama olรจh Kyai ฤ‚nggadipa. 14. Mas Kuning, seda timur. 15. Mas Nungsantara. Panรชmbahan Tรชngah pรชputra: 1. Radรจn Prasena, menjadi Adipati. Di Sampang, ketika Sampang diserang pasukan Mataram, Radรจn Prasena dibawa ke Mataram dan diangkat sebagai putra oleh Sinuhun Sultan Agung, bergelar Pangeran Cakraningrat, tidak ama panรชmbahan, seda ing Imagiri. Panรชmbahan Cakraningrat Memiliki 3 garwa : I. Putrane Pangeran Sampang seda ing Gili. II. Wayahe Jaran Panolih. III. Putrane Pangeran Rฤƒngga ing Giri. Panรชmbahan Cakraningrat, pรชputra sebelas : 1. Pangeran Agung (saka garwa I) sumare ing Gunung Poju. 2. Radรจn Dรชmang Mlaya (saka garwa II) dadi adipati ing Sampang. 3. Radรจn Arya Suma Tรชnaya (saka klangรชnan). 4. Ratu Maospati (saka garwa I). 5. Ratu Mรชgatsari ing Pathi (saka garwa II). 6. Radรจn Arya Atmajanagara (saka garwa III). 7. Radรจn Undhakan (id.) anggรชntรจni kang raka (2) dadi adipati ing Sampang nama Pangeran Cakraningrat, barรชng Kangjรชng Susuhunan Pakubuwana I jumรชnรชng ana ing Samarang, Pangeran Cakraningrat, kajunjung nama panรชmbahan, seda ana ing Kamal tanah Madura, karan Pangeran Cakraningrat Seda Kamal. 8. Ratu Martapati (id.) 9. Radรจn Mantri (saka buri). 10. Radรจn Ayu Wiragala (id.). 11. Radรจn Ayu Rฤƒndha (id.). Panรชmbahan Cakraningrat seda Kamal, garwane lima: I. Radรจn Ayu Sรชpuh putrane Pangeran Dรชmang Madura. II. Ratu Arรจn, putrane Tumรชnggung Singaranu. III. Radรจn Ayu Giri. IV. Radรจn Ayu Kudus. V. Radรจn Pakuwati. Panรชmbahan Cakraningrat pรชputra tรชlungpuluh siji: 1. Radรจn Kunta (saka garwa I) nama Dรชmang Pasisir. 2. Radรจn Tumรชnggung Sasradiningrat (id.) anggรชntรจni kang rama nama Panรชmbahan Cakraningrat, seda kapal (ngamuk ana sajroning kapal api). 3. Radรจn Tumรชnggung Suradiningrat, anggรชntรจni kang raka (2) nama Pangeran Cakraningrat, kaparingan triman dening Kangjรชng Susuhunan Prabu Mangkurat, ing Kartasura, rayi dalรชm nama Kangjรชng Ratu Ayunan, Pangeran Cakraningrat seda ngรชkap. 4. Radรจn Arya Tohpati (saka garwa II). 5. Radรจn Aryajaya (saka garwa II). 6. Radรจn Arya Purwanagara (saka garwa II). 7. Ratu Madurรชtna (id.) krama olรจh Radรจn Arya Purwanagara, putrane pangeran radรจn ing Ngarisbaya, pรชgat krama manรจh olรจh Radรจn Winong. 8. Radรจn Arya Cakranagara (id.) banjur nama Pangeran Jimat. 9. Radรจn Arya Suradigjaya (saka klangรชnan). 10. Radรจn Tumรชnggung Suradipura (saka klangรชnan). 11. Radรจn Dรชmang Wiryanagara (saka klangรชnan). 12. Radรจn Ayu Suradiwira (saka klangรชnan). 13. Radรจn Arya Jayรจngrat (saka klangรชnan). 14. Ratu Dipanagara (saka garwa III). 15. Radรจn Ayu Ranamรชnggala (saka klangรชnan). 16. Radรจn Arya Wiranagara (saka garwa III). 17. Radรจn Purbanagara (saka klangรชnan). 18. Radรจn Ayu Padmanagara (saka klangรชnan). 19. Radรจn Arya Jayanagara (saka garwa III). 20. Radรจn Ayu Wiryanagara (saka klangรชnan). 21. Radรจn Ayu Tirtanagara (saka buri). 22. Ratu Wฤƒngsarรชja (saka garwa III). 23. Radรจn Ayu Jangpati (saka klangรชnan). 24. Ratu Jayakusuma (saka garwa III). 25. Radรจn Ayu Tumรชnggung Sidayu (saka klangรชnan). 26. Radรจn Arya Rambut (saka garwa IV) sumare Jipang. 27. Radรจn Arya Purbayuda (saka klangรชnan). 28. Ratu Malaya (saka garwa III). 29. Radรจn Arya Maospati (saka klangรชnan). 30. Ratu Purba (saka garwa III). 31. Radรจn Ayu Purba (saka klangรชnan) ngarangulu Kangbok Ayu Ratu Purba (30). Pangeran Cakraningrat seda ngรชkap, garwane papat: I. Ratu Ayunan. II. Ratu Ayu. III. Radรจn Ayu Pรชpuh.[23] IV. Radรจn Ayu Tรชngah. Putrane Pangeran Cakraningrat kabรจh sapuluh: 1. Radรจn Tumรชnggung Suradiningrat, ing Sidayu (saka garwa III) anggรชntรจni kang rama nama Radรจn Adipati Sรชcadiningrat, banjur nama Panรชmbahan Cakraningrat, seda mukti kaparingan triman putra dalรชm Kangjรชng Susuhunan Prabu Mangkurat IV , nama Kangjรชng Ratu Madurรชtna. 2. Radรจn Tumรชnggung Sasradiningrat (id.). 3. Radรจn Tumรชnggung Ranadiningrat (saka garwa IV). 4. Radรจn Ayu Roman (saka garwa I) nama Ratu Sugih, krama olรจh Sultan Banjar, pรชgat krama manรจh olรจh Radรจn Panji Wiradiningrat. 5. Radรจn Tumรชnggung Wiradiningrat (saka Nyai Manih). 6. Radรจn Ayu Dhรชmรจs (saka garwa I) nama Ratu Anom, dhaup olรจh kang rayi sultan ing Banjar pรชgat banjur olรจh Radรจn Suradilaya. 7. Ratu Mas Adiningrat (id.). 8. Radรจn Ayu Lรจngsรจr (saka garwa II) seda prawan. 9. Kakung (saka garwa I) seda timur. 10. Radรจn Ayu Carang (saka Nyai Murnรจh). Panรชmbahan Cakraningrat seda mukti garwane tรชlu: I. Kangjรชng Ratu Madurรชtna. II. Ratu Adipati. III. Radรจn Ayu รŠlor. Putrane Panรชmbahan Cakraningrat, seda mukti kabรจh sangalikur: 1. Radรจn Ayu Tumรชnggung Cakraningrat, ing Pamรชkasan, (saka garwa II) pรชputra: 1.1.Radรจn Ayu Adipati Anom garwa dalรชm Kangjรชng Susuhunan Pakubuwana kaping IV ing Surakarta.menurunkan Sunan Pakubuwana V 1.2. Kangjรชng Ratu Kรชncana, garwa dalem Sunan Pakubuwana IV menurunkan Sunan Pakubuwana VII 2. Radรจn Sรชntara (id.) nama Radรจn Tumรชnggung Natadiningrat. 3. Ratu Anggรจr (id.). 4. Radรจn Ayu Tumรชnggung Kaji (id.). 5. Radรจn Angkara (saka garwa III) nama Radรจn Tumรชnggung Jayadiningrat. 6. Radรจn Jamali (saka garwa I) nama Radรจn Tumรชnggung Suradiningrat, pรชputra Panรชmbahan Adipati Cakraningrat, seda kadhaton. 7. Radรจn Tawangalun (id.) nama Radรจn Tumรชnggung Suradiningrat, nunggaksรชmi asmane kang raka (6) banjur anggรชntรจni putra kaponakan (6) nama Panรชmbahan Cakraningrat, barรชng jumรชnรชng sultan sรชpuh nganggo ajรชjuluk Ngabdul Cakraningrat. 8. Radรจn Ayu Tumรชnggung Kaliwungu (id.). 9. Radรจn Ayu Sarse (id.). 10. Radรจn Ayu Wuku (id.) nama Kangjรชng Ratu Kรชncana, garwa dalรชm Kangjรชng Susuhunan Pakubuwana kaping III karan Kangjรชng Ratu Kรชncana kendhang, digantikan Kangjรชng Ratu Kรชncana / Kangjeng Ratu Bรชruk). 11. Radรจn Arya Jayรจngrana. 12. Radรจn Arya Cakranagara. 13. Radรจn Dรชmang Jayasupรชna. 14. Radรจn Arya Juminah. 15. Radรจn Arya Panular. 16. Radรจn Panji Dewakusuma, ngalih nama Radรจn Tumรชnggung Suradiningrat, ing Sidayu. 17. Radรจn Srabakan. 18. Radรจn Arya Mlayakusuma. 19. Radรจn Sadaka. 20. Radรจn Arya Dikara, ing Pamรชkasan. 21. Ratu Kรชnya. 22. Radรจn Ayu Tumรชnggung ing Sumรชkar. 23. Radรจn Ayu Natakusuma ing Pasuruan. 24. Radรจn Ayu Panji Suranata. 25. Radรจn Ayu Arya Adikusuma. 26. Radรจn Ayu Jayรจngkusuma. 27. Radรจn Ayu Tumรชnggung ing Blambangan. 28. Radรจn Ayu Purwadiningrat ing Bela. 29. Radรจn Ayu Adipati Adiningrat ing Pasuruan. Kangjรชng Sultan Sรชpuh Ngabdul Cakraningrat garwane loro: I. Radรจn Ayu Sรชpuh. II. Radรจn Ayu Sruni. Kangjรชng sultan pรชputra sawรชlas: 1. Radรจn Ayu Arya Prawiradiningrat, ing Tuban (saka garwa I). 2. Radรจn Tayip (saka Bok Ajรชng Asmara) nama Radรจn Arya Sumadiningrat. 3. Radรจn Ngabdul Kadirun (saka garwa II) nama Radรจn Tumรชnggung Mangkudiningrat, salin nama Pangeran Sรชcadiningrat, barรชng anggรชntรจni kang rama ajรชjuluk Kangjรชng Sultan Cakraningrat kaping II. 4. Radรจn Palguna (saka nyai Kadarmanik) nama Radรจn Arya Wiradiningrat, banjur nama Radรจn Adipati Mangkudiningrat, ing Pamรชkasan. 5. Radรจn Sajarah (saka Mas Ajรชng Dewaningsih). 6. Radรจn Ayu Arya Jayรจngrat, saka klangรชnan. 7. Radรจn Ayu Patih Arya Purwanagara, saka klangรชnan. 8. Radรจn Ayu Arya Sasradiningrat, saka klangรชnan. 9. Radรจn Ayu Arya Bratadirja, saka klangรชnan. 10. Radรจn Ayu Arya Cakranagara, saka klangรชnan. 11. Radรจn Ayu Aminah, saka klangรชnan. 173. Kangjรชng Sultan Cakraningrat kaping II garwane loro: I. Ratu Ayunan. II. Ratu Wetan. Kangjรชng sultan pรชputra tรชlung puluh wolu: a. Saka garwa I: 1. Radรจn Ayu Tumรชnggung Cakradiningrat. 2. Radรจn Ayu Raiyah seda timur. 3. Radรจn Kusรจn, nama Pangeran Natadiningrat. 4. Radรจn Ayu Tumรชnggung Mangkudiningrat. 5. Radรจn Ayu Saleka. 6. Radรจn Ayu Patimah seda timur. 7. Radรจn Yusup, nama Pangeran Adipati Sรชcadiningrat. 8. Radรจn Ngabdul Sรชnรจn. 9. Kangjรชng Ratu Pakubuwana, garwa dalรชm Kangjรชng Susuhunan Pakubuwana kaping VII ing Surakarta. 10. Radรจn Ayu Srigantรชn. b. Saka garwa II: 11. Radรจn Ngabdul Bakir, seda timur. 12. Radรจn Ngabdulrahman, nama Pangeran Sasradiningrat. 13. Radรจn Ayu Nurina. c. Saka klangรชnan: 14. Putri (saka Mas Ayu Rรชsminingsih) seda timur. 15. Radรจn Ayu Sapiyah (id.), seda timur. 16. Radรจn Ayu Maryam (saka nyai Kimah), seda timur. 17. Putri (saka Nyai Jae) seda timur. 18. Radรจn Ibrahisman (saka Nyai Manih). 19. Radรจn Ayu Janibah (saka Radรจn Kรชnakawati). 20. Radรจn Ayu Janiyah id. 21. Radรจn Ayu Asiyah (saka Radรจn Wingasmara). 22. Radรจn Alit id. seda timur. 23. Radรจn Ayu Srimah (saka Mas Aidah). 24. Radรจn Kasan (saka Nyai Agรชng Tisnawati). 25. Radรจn Ngabdurrasid (saka Radรจn Widasmara). 26. Radรจn Ayu Sapteyah (saka Mas Saidah). 27. Radรจn Ayu Rasiyah (saka Nyai Raina) seda. 28. Radรจn Ayu Kalimah (saka Nyai Ajรชng Tisnawati). 29. Radรจn Ayu Satriyah id. 30. Radรจn NgabdulKasan id. 31. Radรจn Ayu Jumantรชn (saka badhaya Nyai Manis). 32. Radรจn Ngabdul Jamilul (saka Nyai Ajรชng Tisnawati). 33. Kakung (saka Radรจn Citrawati) seda. 34. Radรจn Sapingun (saka Nyai Ajรชng Tisnawati). 35. Radรจn Ngabdur Sulo id. 36. Radรจn Ngabdul Amir (saka badhaya Mas Srimah). 37. Radรจn Ayu Nurani (saka Nyai Raina). 38. Radรจn Ayu Sripah (saka Nyai Ajรชng Tisnawati). Oleh KRT Koesrahadi S Jayaningrat Foto : Makam Pangeran Cakraningrat di komplek Sultan Agungan no urut 19 Astana Imogiri

 TRAH ARYA LEMBU PETENG ING MADURA

( Salah Satu Leluhur Raja Kraton Surakarta )



Arya Lembu Peteng adalah satu putra Prabu Brawijaya V , Raja Majapahit . Setelah Kerajaan Majapahit mengalami masa masa kejatuhan, para putra raja Majapahit sebagian besar keluar dari Keraton dan berkelana menyebar di daerah daerah lain di Pulau Jawa. Salah satunya Arya  Lembu Peteng yang mendirikan kerajaan di tanah Madura tepatnya di Keraton yang dinamakan Keraton Gilimandhangin  Sampang.

Banyak sekali trah  keturunan dari Arya Lembu Peteng yang menikah dengan keturunan  keluarga Keraton Mataram.

1. RAy Handoyo menikah dgn Pangeran Adipati Anom ( Sunan PB IV ) melahirkan Sunan PB V

2. RAy Sakaptinah menikah dengan Sunan PB IV melahirkan Sunan PB VII


Silsilah Trah Lembu Peteng Sbb:

Arya Lรชmbupรชtรชng

jumรชnรชng ing Madura, kรชkutha ing Gilimandhangin Sampang, memiliki 3 putra :


1. Arya Mรชngรชr, ing Gilimandhangin Sampang, dikenal dengan nama Kyai Agรชng Sampang.


2. Arya Mรชnga ing Pamรชkasan, dikenal dengan nama Kyai Agรชng Pamรชkasan.


3. Rรชtna Dรจwi, menikah dengan Maulana Agung, putra dari Maulana Iskak.


Kyai Agรชng Sampang

Memiliki 3 putra :


1. Kyai Agรชng Pambayun, ing Langgar.


2. Kyai Agรชng Panรชngah.


3. Kyai Agรชng Waruju menggantikan ayahandanya  bertahta di Gilimandhangin Sampang, dengan nama Arya Patikรชl.


Arya Patikel

Memiliki putra :


1. Nyai Agรชng Buda, menikah dengan Arya Pucuk, canggah dari  Arya Damar ing Palembang. Arya Pucuk menggantikan sang mertua ,bertahta di Gilimandhangin Sampang.


Nyai Agรชng Buda

pรชputra: 1. Kyai Dรชmung Walakaran ing Ngarisbaya tanah Madura.


Kyai Dรชmung Walakaran

pรชputra delapan:


1. Adipati Prawana ing Pamรชkasan.


2. Kyai Pramawa, nama Adipati Malaya.


3. Kyai Pragalba, nama Pangeran Agung ing Palakaran Ngarisbaya.


4. Kyai Pratala, nama Pangeran Rumbasan.


5. Kyai Pratali, nama Pangeran Pasapรจn.


6. Kyai Prabawa, nama Pangeran Panangkan.


7. Kyai Prabata, nama Pangeran Pakacangan.


8. Kyai Pragota, nama Pangeran Balega.


Pangeran Agung ing Palakaran Ngarisbaya

garwa dari Pamandhรชgan Sampang, pรชputra lima:


1. Kyai Pratanu (putra dari garwa Pamandhรชgan) menikah dengan putri dari Keraton Pajang, bergelar Panรชmbahan Lรชmahdhuwur  ing Ngarisbaya.


2. Kyai Pradana (putra dari garwa Pramoh) bergelar Pangeran Malaya.


3. Kyai Pradata (id.) banjur nama Pangeran Kรชdhung Baringin.


4. Kyai Prakana (dari garwa Pamandhรชgan) bergelar Pangeran Pamรชlaran.


5. Kyai Pranata (dari garwa Pamandhengan bergelar Pangeran Tunjungpura.


Panรชmbahan Lรชmahdhuwur ing Ngarisbaya

pรชputra lima belas:


a. Dari garwa Pajang:


1. Pangeran Sampang, seda ing Gili.


2. Ratu Mas, krama olรจh Adipati Kapulungan, ing Pasuruan, pรชgat banjur krama manรจh olรจh Pangeran BungKarang pรชpatih ing Sampang.


3. Radรจn Karah, menggantikan sang ayahanda bertahta di  Ngarisbaya, nama Panรชmbahan Tรชngah.


4. Radรจn Sakatah menjadi Adipati ing Balega, bergelar Pangeran Balega.


5. Pangeran Adipati Ngarisbaya, menggantikan sang kakak ,Panรชmbahan Tรชngah 


6. Ratu Ayu Kalidran, krama olรจh Pangeran Kalidran.


b. Dari garwa ampil :


7. Pangeran Tumรชnggung.


8. Pangeran Rฤƒngga.


9. Pangeran Dรชmang.


10. Pangeran Pagadhangan.


11. Pangeran Padmanagara.


12. Pangeran Puspanagara.


13. Mas Ayu Irรชng, krama olรจh Kyai ฤ‚nggadipa.


14. Mas Kuning, seda timur.


15. Mas Nungsantara.


Panรชmbahan Tรชngah

pรชputra:


1. Radรจn Prasena, menjadi Adipati. Di  Sampang, ketika Sampang diserang pasukan Mataram, Radรจn Prasena dibawa ke Mataram dan diangkat sebagai putra oleh Sinuhun Sultan Agung, bergelar Pangeran Cakraningrat, tidak ama panรชmbahan, seda ing Imagiri.


Panรชmbahan Cakraningrat

Memiliki 3 garwa :


I. Putrane Pangeran Sampang seda ing Gili.


II. Wayahe Jaran Panolih.


III. Putrane Pangeran Rฤƒngga ing Giri.


Panรชmbahan Cakraningrat, pรชputra sebelas :


1. Pangeran Agung (saka garwa I) sumare ing Gunung Poju.


2. Radรจn Dรชmang Mlaya (saka garwa II) dadi adipati ing Sampang.


3. Radรจn Arya Suma Tรชnaya (saka klangรชnan).


4. Ratu Maospati (saka garwa I).


5. Ratu Mรชgatsari ing Pathi (saka garwa II).


6. Radรจn Arya Atmajanagara (saka garwa III).


7. Radรจn Undhakan (id.) anggรชntรจni kang raka (2) dadi adipati ing Sampang nama Pangeran Cakraningrat, barรชng Kangjรชng Susuhunan Pakubuwana I jumรชnรชng ana ing Samarang, Pangeran Cakraningrat, kajunjung nama panรชmbahan, seda ana ing Kamal tanah Madura, karan Pangeran Cakraningrat Seda Kamal.


8. Ratu Martapati (id.)


9. Radรจn Mantri (saka buri).


10. Radรจn Ayu Wiragala (id.).


11. Radรจn Ayu Rฤƒndha (id.).


Panรชmbahan Cakraningrat

seda Kamal, garwane lima:


I. Radรจn Ayu Sรชpuh putrane Pangeran Dรชmang Madura.


II. Ratu Arรจn, putrane Tumรชnggung Singaranu.


III. Radรจn Ayu Giri.


IV. Radรจn Ayu Kudus.


V. Radรจn Pakuwati.


Panรชmbahan Cakraningrat pรชputra tรชlungpuluh siji:


1. Radรจn Kunta (saka garwa I) nama Dรชmang Pasisir.


2. Radรจn Tumรชnggung Sasradiningrat (id.) anggรชntรจni kang rama nama Panรชmbahan Cakraningrat, seda kapal (ngamuk ana sajroning kapal api).


3. Radรจn Tumรชnggung Suradiningrat, anggรชntรจni kang raka (2) nama Pangeran Cakraningrat, kaparingan triman dening Kangjรชng Susuhunan Prabu Mangkurat, ing Kartasura, rayi dalรชm nama Kangjรชng Ratu Ayunan, Pangeran Cakraningrat seda ngรชkap.


4. Radรจn Arya Tohpati (saka garwa II).


5. Radรจn Aryajaya (saka garwa II).


6. Radรจn Arya Purwanagara (saka garwa II).


7. Ratu Madurรชtna (id.) krama olรจh Radรจn Arya Purwanagara, putrane pangeran radรจn ing Ngarisbaya, pรชgat krama manรจh olรจh Radรจn Winong.


8. Radรจn Arya Cakranagara (id.) banjur nama Pangeran Jimat.


9. Radรจn Arya Suradigjaya (saka klangรชnan).


10. Radรจn Tumรชnggung Suradipura (saka klangรชnan).


11. Radรจn Dรชmang Wiryanagara (saka klangรชnan).


12. Radรจn Ayu Suradiwira (saka klangรชnan).


13. Radรจn Arya Jayรจngrat (saka klangรชnan).


14. Ratu Dipanagara (saka garwa III).


15. Radรจn Ayu Ranamรชnggala (saka klangรชnan).


16. Radรจn Arya Wiranagara (saka garwa III).


17. Radรจn Purbanagara (saka klangรชnan).


18. Radรจn Ayu Padmanagara (saka klangรชnan).


19. Radรจn Arya Jayanagara (saka garwa III).


20. Radรจn Ayu Wiryanagara (saka klangรชnan).


21. Radรจn Ayu Tirtanagara (saka buri).


22. Ratu Wฤƒngsarรชja (saka garwa III).


23. Radรจn Ayu Jangpati (saka klangรชnan).


24. Ratu Jayakusuma (saka garwa III).


25. Radรจn Ayu Tumรชnggung Sidayu (saka klangรชnan).


26. Radรจn Arya Rambut (saka garwa IV) sumare Jipang.


27. Radรจn Arya Purbayuda (saka klangรชnan).


28. Ratu Malaya (saka garwa III).


29. Radรจn Arya Maospati (saka klangรชnan).


30. Ratu Purba (saka garwa III).


31. Radรจn Ayu Purba (saka klangรชnan) ngarangulu Kangbok Ayu Ratu Purba (30).


Pangeran Cakraningrat

seda ngรชkap, garwane papat:


I. Ratu Ayunan.


II. Ratu Ayu.


III. Radรจn Ayu Pรชpuh.[23]


IV. Radรจn Ayu Tรชngah.


Putrane Pangeran Cakraningrat kabรจh sapuluh:


1. Radรจn Tumรชnggung Suradiningrat, ing Sidayu (saka garwa III) anggรชntรจni kang rama nama Radรจn Adipati Sรชcadiningrat, banjur nama Panรชmbahan Cakraningrat, seda mukti kaparingan triman putra dalรชm Kangjรชng Susuhunan Prabu Mangkurat IV , nama Kangjรชng Ratu Madurรชtna.


2. Radรจn Tumรชnggung Sasradiningrat (id.).


3. Radรจn Tumรชnggung Ranadiningrat (saka garwa IV).


4. Radรจn Ayu Roman (saka garwa I) nama Ratu Sugih, krama olรจh Sultan Banjar, pรชgat krama manรจh olรจh Radรจn Panji Wiradiningrat.


5. Radรจn Tumรชnggung Wiradiningrat (saka Nyai Manih).


6. Radรจn Ayu Dhรชmรจs (saka garwa I) nama Ratu Anom, dhaup olรจh kang rayi sultan ing Banjar pรชgat banjur olรจh Radรจn Suradilaya.


7. Ratu Mas Adiningrat (id.).


8. Radรจn Ayu Lรจngsรจr (saka garwa II) seda prawan.


9. Kakung (saka garwa I) seda timur.


10. Radรจn Ayu Carang (saka Nyai Murnรจh).


Panรชmbahan Cakraningrat

seda mukti garwane tรชlu:


I. Kangjรชng Ratu Madurรชtna.


II. Ratu Adipati.


III. Radรจn Ayu รŠlor.


Putrane Panรชmbahan Cakraningrat, seda mukti kabรจh sangalikur:


1. Radรจn Ayu Tumรชnggung Cakraningrat, ing Pamรชkasan, (saka garwa II) pรชputra:


1.1.Radรจn Ayu Adipati Anom garwa dalรชm Kangjรชng Susuhunan Pakubuwana kaping IV ing Surakarta.menurunkan Sunan Pakubuwana V

1.2. Kangjรชng Ratu Kรชncana, garwa dalem Sunan Pakubuwana IV menurunkan Sunan Pakubuwana VII


2. Radรจn Sรชntara (id.) nama Radรจn Tumรชnggung Natadiningrat.


3. Ratu Anggรจr (id.).


4. Radรจn Ayu Tumรชnggung Kaji (id.).


5. Radรจn Angkara (saka garwa III) nama Radรจn Tumรชnggung Jayadiningrat.


6. Radรจn Jamali (saka garwa I) nama Radรจn Tumรชnggung Suradiningrat, pรชputra Panรชmbahan Adipati Cakraningrat, seda kadhaton.


7. Radรจn Tawangalun (id.) nama Radรจn Tumรชnggung Suradiningrat, nunggaksรชmi asmane kang raka (6) banjur anggรชntรจni putra kaponakan (6) nama Panรชmbahan Cakraningrat, barรชng jumรชnรชng sultan sรชpuh nganggo ajรชjuluk Ngabdul Cakraningrat.


8. Radรจn Ayu Tumรชnggung Kaliwungu (id.).


9. Radรจn Ayu Sarse (id.).


10. Radรจn Ayu Wuku (id.) nama Kangjรชng Ratu Kรชncana, garwa dalรชm Kangjรชng Susuhunan Pakubuwana kaping III karan Kangjรชng Ratu Kรชncana kendhang, digantikan Kangjรชng Ratu Kรชncana / Kangjeng Ratu Bรชruk).


11. Radรจn Arya Jayรจngrana.


12. Radรจn Arya Cakranagara.


13. Radรจn Dรชmang Jayasupรชna.


14. Radรจn Arya Juminah.


15. Radรจn Arya Panular.


16. Radรจn Panji Dewakusuma, ngalih nama Radรจn Tumรชnggung Suradiningrat, ing Sidayu.


17. Radรจn Srabakan.


18. Radรจn Arya Mlayakusuma.


19. Radรจn Sadaka.


20. Radรจn Arya Dikara, ing Pamรชkasan.


21. Ratu Kรชnya.


22. Radรจn Ayu Tumรชnggung ing Sumรชkar.


23. Radรจn Ayu Natakusuma ing Pasuruan.


24. Radรจn Ayu Panji Suranata.


25. Radรจn Ayu Arya Adikusuma.


26. Radรจn Ayu Jayรจngkusuma.


27. Radรจn Ayu Tumรชnggung ing Blambangan.


28. Radรจn Ayu Purwadiningrat ing Bela.


29. Radรจn Ayu Adipati Adiningrat ing Pasuruan.


Kangjรชng Sultan Sรชpuh Ngabdul Cakraningrat

garwane loro:


I. Radรจn Ayu Sรชpuh.


II. Radรจn Ayu Sruni.


Kangjรชng sultan pรชputra sawรชlas:


1. Radรจn Ayu Arya Prawiradiningrat, ing Tuban (saka garwa I).


2. Radรจn Tayip (saka Bok Ajรชng Asmara) nama Radรจn Arya Sumadiningrat.


3. Radรจn Ngabdul Kadirun (saka garwa II) nama Radรจn Tumรชnggung Mangkudiningrat, salin nama Pangeran Sรชcadiningrat, barรชng anggรชntรจni kang rama ajรชjuluk Kangjรชng Sultan Cakraningrat kaping II.


4. Radรจn Palguna (saka nyai Kadarmanik) nama Radรจn Arya Wiradiningrat, banjur nama Radรจn Adipati Mangkudiningrat, ing Pamรชkasan.


5. Radรจn Sajarah (saka Mas Ajรชng Dewaningsih).


6. Radรจn Ayu Arya Jayรจngrat, saka klangรชnan.


7. Radรจn Ayu Patih Arya Purwanagara, saka klangรชnan.


8. Radรจn Ayu Arya Sasradiningrat, saka klangรชnan.


9. Radรจn Ayu Arya Bratadirja, saka klangรชnan.


10. Radรจn Ayu Arya Cakranagara, saka klangรชnan.


11. Radรจn Ayu Aminah, saka klangรชnan.


173. Kangjรชng Sultan Cakraningrat kaping II

garwane loro:


I. Ratu Ayunan.


II. Ratu Wetan.


Kangjรชng sultan pรชputra tรชlung puluh wolu:


a. Saka garwa I:


1. Radรจn Ayu Tumรชnggung Cakradiningrat.


2. Radรจn Ayu Raiyah seda timur.


3. Radรจn Kusรจn, nama Pangeran Natadiningrat.


4. Radรจn Ayu Tumรชnggung Mangkudiningrat.


5. Radรจn Ayu Saleka.


6. Radรจn Ayu Patimah seda timur.


7. Radรจn Yusup, nama Pangeran Adipati Sรชcadiningrat.


8. Radรจn Ngabdul Sรชnรจn.


9. Kangjรชng Ratu Pakubuwana, garwa dalรชm Kangjรชng Susuhunan Pakubuwana kaping VII ing Surakarta.


10. Radรจn Ayu Srigantรชn.


b. Saka garwa II:


11. Radรจn Ngabdul Bakir, seda timur.


12. Radรจn Ngabdulrahman, nama Pangeran Sasradiningrat.


13. Radรจn Ayu Nurina.


c. Saka klangรชnan:


14. Putri (saka Mas Ayu Rรชsminingsih) seda timur.


15. Radรจn Ayu Sapiyah (id.), seda timur.


16. Radรจn Ayu Maryam (saka nyai Kimah), seda timur.


17. Putri (saka Nyai Jae) seda timur.


18. Radรจn Ibrahisman (saka Nyai Manih).


19. Radรจn Ayu Janibah (saka Radรจn Kรชnakawati).


20. Radรจn Ayu Janiyah id.


21. Radรจn Ayu Asiyah (saka Radรจn Wingasmara).


22. Radรจn Alit id. seda timur.


23. Radรจn Ayu Srimah (saka Mas Aidah).


24. Radรจn Kasan (saka Nyai Agรชng Tisnawati).


25. Radรจn Ngabdurrasid (saka Radรจn Widasmara).


26. Radรจn Ayu Sapteyah (saka Mas Saidah).


27. Radรจn Ayu Rasiyah (saka Nyai Raina) seda.


28. Radรจn Ayu Kalimah (saka Nyai Ajรชng Tisnawati).


29. Radรจn Ayu Satriyah id.


30. Radรจn NgabdulKasan id.


31. Radรจn Ayu Jumantรชn (saka badhaya Nyai Manis).


32. Radรจn Ngabdul Jamilul (saka Nyai Ajรชng Tisnawati).


33. Kakung (saka Radรจn Citrawati) seda.


34. Radรจn Sapingun (saka Nyai Ajรชng Tisnawati).


35. Radรจn Ngabdur Sulo id.


36. Radรจn Ngabdul Amir (saka badhaya Mas Srimah).


37. Radรจn Ayu Nurani (saka Nyai Raina).


38. Radรจn Ayu Sripah (saka Nyai Ajรชng Tisnawati).


Oleh KRT Koesrahadi S Jayaningrat

Foto : Makam Pangeran Cakraningrat di komplek Sultan Agungan no urut 19 Astana Imogiri

PANEMBAHAN SENOPATI PENDIRI KERAJAAN MATARAM ISLAM " Ki Ageng Juru Mertani menghadap Sultan Hadiwijaya di kraton Pajang untuk mengabarkan perihal wafatnya Ki Ageng Pemanahan, serta memohon perintah siapa yang berhak menggantikan kedudukan Ki Ageng Mataram. Sultan Hadiwijaya memberikan perintah kepada Ki Juru Mertani untuk disampaikan kepada Danang Sutawijaya bahwa Beliau mengangkat nya sebagai Senapati Ing Alaga. Dan menggantikan kedudukan Ki Ageng Pemanahan sebagai Penguasa Perdikan Mataram selanjutnya " Danang Sutawijaya terlahir dengan nama Raden Bagus Srubut atau Raden Danar Atau Raden Danang. Beliau adalah putra dari Ki Ageng Pemanahan dan Nyai Ageng Sabinah. Silsilah Danang Sutawijaya dari kedua orangtuanya sbb: 1. Dari sisi Ki Ageng Pemanahan. Prabu Brawijaya V Raja Majapahit VII menikah dengan Wandansari menurunkan Raden Bondhan Kajawan. Raden Bondhan Kajawan menikah dengan Dewi Nawangsih, putri Ki Ageng Tarub II menurunkan Ki Getas Pandowo. Ki Getas Pandowo menikah dengan putri Sunan Mojogung melahirkan Ki Ageng Selo. Ki Ageng Selo menikah dengan putri Ki Ageng Ngerang menurunkan Ki Ageng Henis. Ki Ageng Henis menikah dengan Nyai Ageng Henis menurunkan Ki Ageng Pemanahan. Ki Ageng Pemanahan menikah dengan Nyai Ageng Sabinah menurunkan Danang Sutawijaya. 2. Dari sisi Nyai Ageng Sabinah Sunan Giri Prabhu Satmoto menikah dengan Nyai Ageng Ratu putri Sunan Ngampeldento menurunkan Sunan Giri II. Sunan Giri II atau Sunan Giri Dalem menurunkan Ki Ageng Kawisguwo. Ki Ageng Kawisguwo atau Pangeran Sobo menikah dengan Nyai Ageng Sobo putri Ki Ageng Selo dari garwa putri Ki Ageng Wonosobo menurunkan : 1. Nyai Ageng Sabinah. 2. Ki Ageng Juru Mertani Danang Sutawijaya sejak muda sudah terlihat mewarisi sifat sifat luhur pendahulunya. Beliau memiliki sifat ksatria, pemberani, dan jiwa pemimpin, tekun semedi, gemar mempelajari dan berlatih ilmu kanuragan dan ilmu perang. Dan ahli dalam berkuda. Danang sejak muda sudah memiliki aura kharismatik. Dan bukan tidak mungkin Beliau adalah seseorang yang kelak akan mewujudkan impian leluhurnya ( Ki Ageng Selo ) menjadi Penguasa di Tanah Jawa. Demikian kenyataannya, takdir membawanya terpilih menjadi putra angkat Sultan Hadiwijaya Raja Pajang, dengan nama Danang Sutawijaya dan Sultan Hadiwijaya berkenan memberi tempat tinggal di sebelah utara pasar kemudian kelak Danang Sutawijaya mendapat julukan Raden Ngabehi Sak Loring Pasar. Sejarah awal berdirinya Kerajaan Mataram dimulai dengan terbunuhnya Pangeran Hadlirin suami Kanjeng Ratu Kalinyamat oleh Haryo Penangsang Pada tahun 1548 Sultan Hadiwijaya Raja Pajang berangkat menengok kakak iparnya yaitu Kanjeng Ratu Kalinyamat yang baru saja berduka kehilangan suaminya yang wafat terbunuh oleh Haryo Penangsang. Di daerah Kalinyamat, Ratu Kalinyamat menceritakan kejadian naas yang dialami oleh Pangeran Hadlirin . Ratu Kalinyamat meminta bantuan Sultan Hadiwijaya untuk membalaskan dendamnya kepada Haryo Penangsang yang menyebabkan kematian suaminya. Pada tahun 1549 Sultan Hadiwijaya mengadakan sayembara kepada siapapun yang berhasil menundukkan Haryo Penangsang akan mendapatkan hadiah Tanah Perdikan. Sayembara akhirnya jatuh kepada Ki Ageng Pemanahan dan saudara saudaranya Ki Juru Mertani juga Raden Penjawi. Ketika rombongan Ki Ageng Pemanahan akan berangkat ke medan laga, tiba tiba Danang Sutawijaya dengan berkuda tampil mendampingi Bapaknya, Ki Ageng Pemanahan. Beliau tidak tega Bapaknya berangkat ke medan laga sendiri disamping itu beliau sebagai putra angkat Raja Pajang merasa terpanggil untuk membela negerinya. Hingga akhirnya Prabu Hadiwijaya memerintahkan para prajuritnya untuk membantu Danang Sutawijaya. Singkat cerita akhirnya Ki Ageng Pemanahan berhasil membuat kocar kacir pasukan musuh, bahkan berkat kecerdikan Ki Ageng Jurumertani akhirnya Danang Sutawijaya berhasil menundukkan Haryo Penangsang. Demikianlah akhirnya Ki Ageng Pemanahan dan saudara saudaranya berhasil menyelesaikan perintah dari Sultan Hadiwijaya, tetapi Sultan Hadiwijaya belum berkenan untuk memberikan hadiah untuk Ki Ageng Pemanahan yaitu Tanah Mentaok, karena ramalan dari Kangjeng Sunan Giri Prapen bahwa di Alas Mentaok kelak berdiri sebuah Kerajaan yang lebih mulia daripada Kerajaan Pajang. Sementara itu Raden Pendjawi mendapat Tanah Pathi sebagai ganjarannya. Ketika Ki Ageng Pemanahan menghadap Sunan Kalijaga, beliau malah diperintahkan untuk bertapa dan laku prihatin ke daerah yang kemudian disebut " Kembang Semampir " hingga akhirnya beliau mendapat " Wahyu Gagak Emprit " Akhirnya tujuh tahun kemudian pada tahun 1556 Masehi, Sultan Hadiwijaya berkenan memberikan Alas Mentaok kepada Ki Ageng Pemanahan. Kemudian Ki Ageng Pemanahan dan keluarga besarnya dan pendukung setianya berangkat ke Alas Mentaok. Dan membuka Alas Mentaok untuk tempat tinggal beliau dan keluarga besarnya, daerah tersebut kemudian dinamakan Perdikan Mataram dan Ki Ageng Pemanahan sebagai sesepuhnya dengan julukan Ki Ageng Mataram. Ki Ageng Pemanahan wafat tahun 1575 Masehi, dimakamkan di Dalem beliau di samping Masjid di Kotagedhe. Sepeninggal Ki Ageng Pemanahan , Danang Sutawijaya menggantikan kedudukan beliau dengan nama Adipati ing Ngalaga dan harus setia kepada Kerajaan Pajang. Sementara itu Danang Sutawijaya berkeinginan melepaskan diri dari Kerajaan Pajang dan berkeinginan mendirikan sebuah Kerajaan. Oleh Ki Ageng Juru Mertani, paman beliau, Danang Sutawijaya diberi wejangan dan nasehat serta peringatan kepada Panembahan Senopati untuk tidak pernah memusuhi Sultan Hadiwijaya : “ Ngger janganlah kamu memusuhi Sultan Hadiwijaya yang tak lain adalah orangtuamu dan juga gurumu, Aku malu karena kita yang berada di Perdikan Mataram sepertinya tidak tahu membalas budi baiknya. Bukankah kita telah diberi tanah dan wilayah untuk kita tempati dan kita bangun oleh Beliau? Aku minta Ngger, lebih baik sekarang mintalah dan berdoalah kepada Allah jikalau Sultan Hadiwijaya wafat Angger bisa menggantikan Keratonnya.Tapi sekarang jangan sekali kali memusuhi Beliau,justru sebaliknya balaslah kebaikannya supaya batinnya rela jika Angger kelak menggantikannya sebagai Raja.” Dan atas saran Ki Ageng Juru Mertani, berangkatlah Danang Sutawijaya ke suatu tempat untuk menenangkan pikiran dan berdoa kepada Allah. Dimana ditempat itu ada semacam danau yang tengahnya ada Watu Gilang. Di Watu Gilang itulah Danang Sutawijaya bersemedi, sholat bahkan tidur. Kelak daerah tersebut dinamakan Lipuro berasal dari kata penglipur lara. Dan kelak Watu Gilang tersebut dibawa ke Keraton Kotagede sebagai Palenggahan Beliau. Pada tahun 1582 Masehi Sultan Hadiwijaya wafat. Sebagai Raja Pajang selanjutnya adalah menantu Sultan Hadiwijaya yaitu Arya Pangiri. Sementara Sultan Hadiwijaya memiliki seorang putra yaitu Pangeran Benowo yg berhak menggantikan Sultan Hadiwijaya. Demi melihat kondisi Keraton Pajang yang tidak stabil, Danang Sutawijaya akhirnya bertekad melepaskan diri dari ikatan Keraton Pajang dan mendirikan kerajaan baru. Pada awalnya Beliau akan membangun Kedaton pusat pemerintahan di daerah dekat daerah kekuasaan Ki Ageng Mangir tetapi dilarang oleh Ki Juru Mertani. Kemudian pada suatu hari disaat Danang Sutawijaya sedang di Lipura untuk bermunajad dan berdoa kepada Allah tiba tiba ada sebuah sinar terang jatuh menuju kearahnya hingga ada sebuah bisikan untuk mendirikan Keraton Mataram di Kotagedhe. Kejadian tersebut kemudian dinamakan “Wahyu Lintang Jauhari “ Danang Sutawijaya akhirnya mendirikan kerajaan yang bernama Mataram dengan pusat pemerintahan di Kotagedhe Upacara pelantikan Sutawijaya menjadi Penguasa Mataram yang dilakukan oleh Ki Penjawi yang disaksikan oleh kawula Mataram. Pelantikan dilakukan pada tahun Jimawal sinengkalan Nawa Purna Tataning Rat atau jika dikonversikan kedalam tahun Masehi berarti 1587 Masehi. gelar : " Sampeyan Dalem Ingkang Jumeneng Kangjeng Panembahan Senapati ing Ngalaga Sayidin Panatagama Khalifatullah ing Tanah Jawa " Pada masa pemerintahannya Panembahan Senopati memperluas daerah kekuasaan dan menaklukkan kerajaan kerajaan maupun Kadipaten disekitarnya seperti Pajang tahun 1587, Demak tahun 1588, Madiun tahun 1590, Kediri tahun 1591, Ponorogo tahun 1591. Panembahan Senopati memiliki beberapa istri 1. Nyai Adisara 2. Kanjeng Ratu Mas Semangkin 3. Kanjeng Ratu Mas Prihatin 4. Kangjeng Ratu Waskita Jawi 5. Kangjeng Ratu Giring 6. Kangjeng Ratu Retno Dumilah 7. Nyai Bramit 8. Nyai Riyo Suwanda Para putra: 1. Raden Ronggo, Pangeran Adipati Pati 2. RM Tembaga / Pangeran Adipati Puger, Pangeran Adipati Demak 3. RM Kedawung / Pangeran Demang Tanpa Nangkil 4. RM Damar / Pangeran Purbaya 5. RM Djulig / Raden Adipati Pringgalaya, Bupati Madiun. 6. RM Bagus / Pangeran Blitar / Panembahan Juminah, Bupati Madiun. 7. RM Kanistren / Pangeran Adipati Martalaya, Bupati Madiun 8. RM Betatat / Pangeran Jayaraga, Bupati Ponorogo 9. RM Jolang / Panembahan Cakrawati 10. Pangeran Pringgalaya 11. Pangeran Silarong 12. Raden Ayu Pembayun 13. Raden Ayu Tg Tanpa Nangkil 14. Raden Ayu Tepasana 15. Raden Ayu Wangsa Cipta / RAy Kajoran Panembahan Senopati bertahta tahun 1586 sampai tahun 1601. Beliau adalah Pendiri sekaligus peletak nilai nilai dasar Kerajaan Mataram. Beliau wafat tanggal 30 Juli 1601 di Dalem Bale Kajenar di Kraton Karta maka kemudian beliau dijuluki Sinuwun Kangjeng Susuhunan Seda Kadjenar. Jenasah Beliau dimakamkan di Astana Kotagedhe Al Fatihah kagem Eyang Panembahan Senopati

 PANEMBAHAN SENOPATI

PENDIRI KERAJAAN MATARAM ISLAM



" Ki Ageng Juru Mertani menghadap Sultan Hadiwijaya di kraton Pajang untuk mengabarkan perihal wafatnya Ki Ageng Pemanahan, serta memohon perintah siapa yang berhak menggantikan kedudukan  Ki Ageng Mataram. Sultan Hadiwijaya memberikan perintah kepada Ki  Juru Mertani untuk disampaikan  kepada Danang Sutawijaya bahwa Beliau mengangkat nya sebagai Senapati Ing Alaga. Dan menggantikan kedudukan Ki Ageng Pemanahan sebagai Penguasa Perdikan Mataram selanjutnya "


Danang Sutawijaya terlahir dengan nama Raden Bagus Srubut atau Raden Danar Atau Raden Danang. Beliau adalah putra dari Ki Ageng Pemanahan dan Nyai Ageng Sabinah.


Silsilah Danang Sutawijaya dari kedua orangtuanya sbb:

1. Dari sisi Ki Ageng Pemanahan.

Prabu Brawijaya V Raja Majapahit VII menikah dengan Wandansari menurunkan Raden Bondhan Kajawan. Raden Bondhan Kajawan menikah dengan Dewi Nawangsih, putri Ki Ageng Tarub II menurunkan Ki Getas Pandowo. Ki Getas Pandowo menikah dengan putri Sunan Mojogung melahirkan Ki Ageng Selo. Ki Ageng Selo menikah dengan putri Ki Ageng Ngerang menurunkan Ki Ageng Henis. Ki Ageng Henis menikah dengan Nyai Ageng Henis menurunkan Ki Ageng Pemanahan. Ki Ageng Pemanahan menikah dengan Nyai Ageng Sabinah menurunkan Danang Sutawijaya.


2. Dari sisi Nyai Ageng Sabinah 

Sunan Giri Prabhu Satmoto menikah dengan Nyai Ageng Ratu putri Sunan Ngampeldento menurunkan Sunan Giri II. Sunan Giri II atau Sunan Giri Dalem menurunkan Ki Ageng Kawisguwo. Ki Ageng Kawisguwo atau Pangeran Sobo menikah dengan Nyai Ageng Sobo putri Ki Ageng Selo dari garwa putri Ki Ageng Wonosobo menurunkan :

1. Nyai Ageng Sabinah.

2. Ki Ageng Juru Mertani


Danang Sutawijaya sejak muda sudah terlihat mewarisi sifat sifat luhur pendahulunya. Beliau memiliki sifat ksatria, pemberani, dan jiwa pemimpin, tekun semedi, gemar mempelajari dan berlatih ilmu kanuragan dan ilmu perang. Dan ahli dalam berkuda. Danang sejak muda sudah memiliki aura kharismatik. Dan bukan tidak mungkin Beliau adalah seseorang yang kelak akan mewujudkan impian leluhurnya ( Ki Ageng Selo ) menjadi Penguasa di Tanah Jawa.

Demikian kenyataannya, takdir membawanya terpilih menjadi putra angkat Sultan Hadiwijaya Raja Pajang, dengan nama Danang Sutawijaya dan Sultan Hadiwijaya berkenan memberi tempat tinggal di sebelah utara pasar kemudian kelak Danang Sutawijaya mendapat julukan Raden Ngabehi Sak Loring Pasar.


Sejarah awal berdirinya Kerajaan Mataram dimulai dengan terbunuhnya Pangeran Hadlirin suami Kanjeng Ratu Kalinyamat oleh Haryo Penangsang

Pada tahun 1548 Sultan Hadiwijaya Raja Pajang berangkat menengok kakak iparnya yaitu Kanjeng Ratu Kalinyamat yang baru saja berduka  kehilangan suaminya yang wafat terbunuh oleh Haryo Penangsang. Di daerah Kalinyamat, Ratu Kalinyamat menceritakan kejadian naas  yang dialami oleh Pangeran Hadlirin . Ratu Kalinyamat meminta bantuan Sultan Hadiwijaya untuk membalaskan dendamnya kepada Haryo Penangsang yang menyebabkan kematian suaminya.

Pada tahun 1549 Sultan Hadiwijaya mengadakan sayembara kepada siapapun yang berhasil menundukkan Haryo Penangsang akan mendapatkan hadiah Tanah Perdikan. Sayembara akhirnya jatuh kepada Ki Ageng Pemanahan dan saudara saudaranya Ki Juru Mertani juga Raden Penjawi. 

Ketika rombongan Ki Ageng Pemanahan akan berangkat ke medan laga, tiba tiba Danang Sutawijaya dengan berkuda tampil mendampingi Bapaknya, Ki Ageng Pemanahan. Beliau tidak tega Bapaknya berangkat ke medan laga sendiri disamping itu beliau sebagai putra angkat Raja Pajang merasa terpanggil untuk membela negerinya. Hingga akhirnya Prabu Hadiwijaya memerintahkan para prajuritnya untuk membantu Danang Sutawijaya. Singkat cerita akhirnya Ki Ageng Pemanahan berhasil membuat kocar kacir pasukan musuh, bahkan berkat kecerdikan Ki Ageng Jurumertani akhirnya Danang Sutawijaya berhasil menundukkan Haryo Penangsang.


Demikianlah akhirnya Ki Ageng Pemanahan dan saudara saudaranya berhasil menyelesaikan perintah dari Sultan Hadiwijaya, tetapi Sultan Hadiwijaya belum berkenan untuk memberikan hadiah untuk Ki Ageng Pemanahan yaitu Tanah Mentaok, karena ramalan dari Kangjeng Sunan Giri Prapen bahwa di Alas Mentaok kelak berdiri sebuah Kerajaan yang lebih mulia daripada Kerajaan Pajang. Sementara itu Raden Pendjawi mendapat Tanah Pathi sebagai ganjarannya.

Ketika Ki Ageng Pemanahan menghadap Sunan Kalijaga, beliau malah diperintahkan untuk bertapa dan laku prihatin ke daerah yang kemudian disebut " Kembang Semampir " hingga akhirnya beliau mendapat " Wahyu Gagak Emprit "

Akhirnya tujuh tahun kemudian pada tahun 1556 Masehi, Sultan Hadiwijaya berkenan memberikan Alas Mentaok kepada Ki Ageng Pemanahan. Kemudian Ki Ageng Pemanahan dan keluarga besarnya dan pendukung setianya berangkat ke Alas Mentaok. Dan membuka Alas Mentaok untuk tempat tinggal beliau dan keluarga besarnya, daerah tersebut kemudian dinamakan Perdikan Mataram dan Ki Ageng Pemanahan sebagai sesepuhnya dengan julukan Ki Ageng Mataram. Ki Ageng Pemanahan wafat tahun 1575 Masehi, dimakamkan di Dalem beliau di samping Masjid di Kotagedhe.


Sepeninggal Ki Ageng Pemanahan , Danang Sutawijaya menggantikan kedudukan beliau dengan nama Adipati ing Ngalaga dan harus setia kepada Kerajaan Pajang. Sementara itu Danang Sutawijaya berkeinginan melepaskan diri dari Kerajaan Pajang dan berkeinginan mendirikan sebuah Kerajaan. Oleh Ki Ageng Juru Mertani, paman beliau, Danang Sutawijaya diberi wejangan dan  nasehat serta peringatan kepada Panembahan Senopati untuk tidak pernah memusuhi Sultan Hadiwijaya :


 “ Ngger janganlah kamu memusuhi Sultan Hadiwijaya  yang tak lain adalah orangtuamu dan juga gurumu, Aku malu karena kita yang berada di Perdikan Mataram sepertinya tidak tahu membalas budi baiknya. Bukankah kita telah diberi tanah dan wilayah untuk kita tempati dan kita bangun oleh Beliau? Aku minta Ngger, lebih baik sekarang mintalah dan berdoalah kepada Allah jikalau Sultan Hadiwijaya wafat  Angger bisa menggantikan Keratonnya.Tapi sekarang jangan sekali kali memusuhi Beliau,justru sebaliknya balaslah kebaikannya supaya batinnya rela jika Angger kelak menggantikannya sebagai Raja.” 


Dan atas saran Ki Ageng Juru Mertani, berangkatlah Danang Sutawijaya ke suatu tempat untuk menenangkan pikiran dan berdoa kepada Allah. Dimana ditempat itu ada semacam danau yang tengahnya ada Watu Gilang. Di Watu Gilang itulah Danang Sutawijaya bersemedi, sholat bahkan tidur. Kelak daerah tersebut dinamakan Lipuro berasal dari kata penglipur lara. Dan kelak Watu Gilang tersebut dibawa ke Keraton Kotagede sebagai Palenggahan Beliau.


Pada tahun 1582 Masehi Sultan Hadiwijaya wafat. Sebagai Raja Pajang selanjutnya adalah menantu Sultan Hadiwijaya yaitu Arya Pangiri. Sementara Sultan Hadiwijaya memiliki seorang putra yaitu Pangeran Benowo yg berhak menggantikan Sultan Hadiwijaya. Demi melihat kondisi Keraton Pajang yang tidak stabil, Danang Sutawijaya akhirnya bertekad melepaskan diri dari ikatan Keraton Pajang dan mendirikan kerajaan baru.

Pada awalnya Beliau akan membangun Kedaton pusat pemerintahan di daerah dekat daerah kekuasaan Ki Ageng Mangir tetapi dilarang oleh Ki Juru Mertani. 

Kemudian pada suatu hari disaat Danang Sutawijaya sedang di Lipura untuk bermunajad dan berdoa kepada Allah tiba tiba ada sebuah sinar terang jatuh menuju kearahnya hingga ada sebuah bisikan untuk mendirikan Keraton Mataram di Kotagedhe. Kejadian tersebut kemudian dinamakan “Wahyu Lintang Jauhari “  


Danang Sutawijaya akhirnya mendirikan kerajaan yang bernama Mataram dengan pusat pemerintahan di Kotagedhe

Upacara pelantikan Sutawijaya menjadi Penguasa Mataram  yang dilakukan oleh Ki Penjawi yang disaksikan oleh kawula Mataram. Pelantikan dilakukan pada tahun Jimawal sinengkalan Nawa Purna Tataning Rat atau jika dikonversikan kedalam tahun Masehi berarti 1587 Masehi.

 gelar :


" Sampeyan Dalem Ingkang Jumeneng Kangjeng Panembahan Senapati ing Ngalaga Sayidin Panatagama Khalifatullah ing Tanah Jawa "


Pada masa pemerintahannya Panembahan Senopati memperluas daerah kekuasaan dan menaklukkan kerajaan kerajaan maupun Kadipaten disekitarnya seperti Pajang tahun 1587, Demak tahun 1588, Madiun tahun 1590, Kediri tahun 1591, Ponorogo tahun 1591.


Panembahan Senopati memiliki beberapa istri

1. Nyai Adisara

2. Kanjeng Ratu Mas Semangkin

3. Kanjeng Ratu Mas Prihatin

4. Kangjeng Ratu Waskita Jawi

5. Kangjeng Ratu Giring

6. Kangjeng Ratu Retno Dumilah

7. Nyai Bramit

8. Nyai Riyo Suwanda


Para putra:

1. Raden Ronggo, Pangeran Adipati Pati

2. RM Tembaga / Pangeran Adipati Puger, Pangeran Adipati Demak

3. RM Kedawung / Pangeran Demang Tanpa Nangkil

4. RM Damar / Pangeran Purbaya

5. RM Djulig / Raden Adipati Pringgalaya, Bupati Madiun.

6. RM Bagus / Pangeran Blitar / Panembahan Juminah, Bupati Madiun.

7. RM Kanistren / Pangeran Adipati Martalaya, Bupati Madiun

8. RM Betatat / Pangeran Jayaraga, Bupati Ponorogo

9. RM Jolang / Panembahan Cakrawati

10. Pangeran Pringgalaya

11. Pangeran Silarong

12. Raden Ayu Pembayun

13. Raden Ayu Tg Tanpa Nangkil

14. Raden Ayu Tepasana

15. Raden Ayu Wangsa Cipta / RAy Kajoran


Panembahan Senopati bertahta tahun 1586 sampai tahun 1601. Beliau adalah Pendiri sekaligus peletak nilai nilai dasar Kerajaan Mataram. Beliau wafat tanggal 30 Juli 1601 di Dalem Bale Kajenar di Kraton Karta maka kemudian beliau dijuluki Sinuwun Kangjeng Susuhunan Seda Kadjenar.

Jenasah Beliau dimakamkan di Astana Kotagedhe


Al Fatihah kagem Eyang Panembahan Senopati