07 December 2025

YANG PERNAH DITOLAK PAK AR (Bagian 05: Menukar Agama dengan Materi) Sebagai pimpinan organisasi keagamaan, Pak AR sangat menjaga toleransi beragama. Baginya, keyakinan itu urusan hati, bukan kupon undian, bukan pula promo cuci gudang yang berlaku sampai tanggal sekian. Setiap orang bebas meyakini apa yang ia anggap benar, dan tugas pemuka agama adalah menjaga agar kebebasan itu tetap utuh, tak tercederai oleh godaan-godaan yang sifatnya lebih mirip diskon musiman daripada dakwah. Namun kebebasan memilih itu bukan berarti orang boleh “nyulik pelan-pelan” keyakinan orang lain dengan cara-cara yang tak perwira. Pak AR sangat menolak praktik menjebak orang untuk berpindah agama melalui pertolongan yang berbungkus iming-iming. Apalagi kalau iming-imingnya sangat duniawi: bantuan sembako, amplop, rumah sederhana, beasiswa, fasilitas serba wah pokoknya. Menurut Pak AR, itu bukan dakwah. Itu strategi marketing, dan marketing yang buruk pula. Apalagi kondisi mayoritas rakyat pada saat itu masih sulit secara ekonomi. Kalau sedang lapar, ditawari nasi bungkus lalu disuruh ganti keyakinan, ya jelas tak adil. Itu bukan ajakan spiritual, tapi jebakan ekonomi. Dan kalau sudah soal keberpihakan kepada wong cilik, Pak AR biasanya tak menunggu lama untuk bersuara. Bahkan kali ini ia menyampaikan kritik tersebut bukan kepada orang sembarangan, tetapi langsung kepada Paus Yohanes Paulus II, pemimpin tertinggi umat Katolik sedunia, yang pada tahun 1989 berkunjung ke Indonesia dan singgah ke Yogyakarta. Pak AR tahu, kesempatan itu langka. Tidak setiap hari Yogyakarta kedatangan tamu setingkat kepala Vatikan. Maka meskipun sedang dirawat di Rumah Sakit Gatot Subroto, beliau tetap memikirkan umat dan menulis surat panjang lebar dalam bahasa Jawa halus (Kromo Inggil) agar pesannya sampai dengan cara yang santun tapi tegas. Surat itu diberi judul "Sugeng Rawuh, Sugeng Kondur" Selamat Datang, Selamat Jalan. Isinya 12 halaman, dicetak 2000 eksemplar, lengkap dengan gambar Pak AR. Surat itu kemudian disebarkan ke Akademi Kateketik, koran Kedaulatan Rakyat, Bernas, dan berbagai komunitas Katolik. Bayangkan: surat halus, sopan, penuh unggah-ungguh Jawa tapi isinya menegur praktik dakwah yang menurut beliau tidak ksatria. Yang disebut Pak AR sebagai sikap “ngapusi”, menolong tapi dengan maksud tersembunyi. Bagi Pak AR, dakwah itu harus terang benderang, tidak boleh bersayap-sayap. Kalau mau mengajak, ajaklah dengan kejujuran. Jangan membuat orang miskin merasa berhutang budi lalu pelan-pelan digiring ke pintu keluar agamanya sendiri. Itulah sikap yang pernah ditolak Pak AR: menukar agama dengan materi. Sebuah sikap sederhana, tapi jelas. Dan justru karena itulah, beliau menjadi besar.

 YANG PERNAH DITOLAK PAK AR

(Bagian 05: Menukar Agama dengan Materi)



Sebagai pimpinan organisasi keagamaan, Pak AR sangat menjaga toleransi beragama. Baginya, keyakinan itu urusan hati, bukan kupon undian, bukan pula promo cuci gudang yang berlaku sampai tanggal sekian. Setiap orang bebas meyakini apa yang ia anggap benar, dan tugas pemuka agama adalah menjaga agar kebebasan itu tetap utuh, tak tercederai oleh godaan-godaan yang sifatnya lebih mirip diskon musiman daripada dakwah.


Namun kebebasan memilih itu bukan berarti orang boleh “nyulik pelan-pelan” keyakinan orang lain dengan cara-cara yang tak perwira. Pak AR sangat menolak praktik menjebak orang untuk berpindah agama melalui pertolongan yang berbungkus iming-iming. Apalagi kalau iming-imingnya sangat duniawi: bantuan sembako, amplop, rumah sederhana, beasiswa, fasilitas serba wah pokoknya.


Menurut Pak AR, itu bukan dakwah. Itu strategi marketing, dan marketing yang buruk pula. Apalagi kondisi mayoritas rakyat pada saat itu masih sulit secara ekonomi. Kalau sedang lapar, ditawari nasi bungkus lalu disuruh ganti keyakinan, ya jelas tak adil. Itu bukan ajakan spiritual, tapi jebakan ekonomi.


Dan kalau sudah soal keberpihakan kepada wong cilik, Pak AR biasanya tak menunggu lama untuk bersuara. Bahkan kali ini ia menyampaikan kritik tersebut bukan kepada orang sembarangan, tetapi langsung kepada Paus Yohanes Paulus II, pemimpin tertinggi umat Katolik sedunia, yang pada tahun 1989 berkunjung ke Indonesia dan singgah ke Yogyakarta.


Pak AR tahu, kesempatan itu langka. Tidak setiap hari Yogyakarta kedatangan tamu setingkat kepala Vatikan. Maka meskipun sedang dirawat di Rumah Sakit Gatot Subroto, beliau tetap memikirkan umat dan menulis surat panjang lebar dalam bahasa Jawa halus (Kromo Inggil) agar pesannya sampai dengan cara yang santun tapi tegas.


Surat itu diberi judul "Sugeng Rawuh, Sugeng Kondur" Selamat Datang, Selamat Jalan. Isinya 12 halaman, dicetak 2000 eksemplar, lengkap dengan gambar Pak AR. Surat itu kemudian disebarkan ke Akademi Kateketik, koran Kedaulatan Rakyat, Bernas, dan berbagai komunitas Katolik.


Bayangkan: surat halus, sopan, penuh unggah-ungguh Jawa tapi isinya menegur praktik dakwah yang menurut beliau tidak ksatria. Yang disebut Pak AR sebagai sikap “ngapusi”, menolong tapi dengan maksud tersembunyi.


Bagi Pak AR, dakwah itu harus terang benderang, tidak boleh bersayap-sayap. Kalau mau mengajak, ajaklah dengan kejujuran. Jangan membuat orang miskin merasa berhutang budi lalu pelan-pelan digiring ke pintu keluar agamanya sendiri.


Itulah sikap yang pernah ditolak Pak AR: menukar agama dengan materi. Sebuah sikap sederhana, tapi jelas. Dan justru karena itulah, beliau menjadi besar.

No comments:

Post a Comment