Bibit Bebet Bobot.
Ignatius Yogi Supardi (25 Juli 1929 – 15 September 2019) adalah seorang perwira tinggi TNI Angkatan Darat & diplomat Indonesia penganut agama Katholik yg memainkan peran penting dlm perjalanan militer Indonesia sejak masa revolusi, hingga kemudian dipercaya menduduki jabatan2 strategis di Departemen Pertahanan & Keamanan serta mewakili Indonesia sebagai Duta Besar di Jepang.
Yogi lahir di Klaten, Jawa Tengah, ketika wilayah tersebut masih berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda. Pendidikan dasarnya ditempuh di Hollandsch-Inlandsche School, sebuah sekolah kolonial untuk penduduk pribumi yg berprestasi. Ia lulus pada tahun 1942, tepat ketika masa pendudukan Jepang dimulai & melanjutkan pendidikan setingkat SMP hingga selesai pada 1945.
Di thn itulah , ibu saya juga lahir di Klaten sebagai putri dari pasangan R.Ayu Soedarti Martonagoro (buyut K.G.P.A.A.Mangkunagoro V) & dr.R.M.Soedjarwadi, trah K.G.P.A.A.Mangkunagoro II & pendiri R S J.D.dr.R M.Soedjarwadi di Wedi Klaten.
Masa remajanya bertepatan dgn pergolakan nasional menuju kemerdekaan. Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Yogi memilih jalan hidup sebagai tentara & mendaftar di Akademi Militer Yogya yg baru dibentuk pada 31 Oktober 1945. Dari 442 taruna angkatan pertama, hanya 196 yg akhirnya lulus—sebuah seleksi alam yg keras & menunjukkan komitmen Yogi terhadap dunia militer. Ia dilantik sebagai letnan dua pada 28 November 1948 dlm sebuah upacara di Istana Negara.
Sejak masa pendidikannya, Yogi sudah terlibat dlm tugas2 nyata. Pada 1945 ia ikut merebut senjata dari pasukan Jepang & pada 1946 ditempatkan di Front Bandung Utara. Setelah resmi menjadi perwira, ia bergabung dgn Divisi Diponegoro di Magelang & turut serta dlm penumpasan Peristiwa Madiun 1948. Usai konflik, ia dikirim ke Yogyakarta untuk menghadapi agresi militer Belanda.
Pada 1949, ia dipindahkan ke Sumatra Selatan sebagai perwira penghubung antara TNI & tentara Belanda dlm masa transisi politik & keamanan. Tugas ini mengasah kemampuannya dlm diplomasi lapangan & koordinasi antar-militer.
Tahun 1952, Yogi menyelesaikan pendidikan di Sekolah Artileri di India & kembali ke Indonesia dgn kenaikan pangkat menjadi letnan satu. Ia kemudian mengabdi sebagai instruktur di pendidikan artileri selama empat tahun sebelum ditugaskan ke luar negeri.
Pada 4 Agustus 1956, ia menjadi asisten atase militer Indonesia di London, sebuah posisi yg memperkenalkannya pada dunia hubungan pertahanan internasional. Setelah beberapa tahun, ia dipindahkan ke Manila untuk tugas serupa.
Sekembalinya ke Indonesia pada 1960, Yogi dipercaya memimpin Pendidikan Artileri Pusat. Ia kemudian ditunjuk sebagai Komandan Brigade Artileri Kostrad & terus naik melalui struktur organisasi Kostrad. Pada 1968–1969, ia menjalani pendidikan di Lemhannas, yg memperluas perspektif strategis & geopolitiknya.
Pada awal 1970-an, Yogi menjabat Wakil Asisten V (Litbang) Kepala Staf Angkatan Darat. Ia juga terlibat dlm penyusunan rencana regenerasi perwira TNI, terutama dlm mengatur transisi antara Angkatan 1945 & generasi pascaperang. Ia menekankan pentingnya mempertahankan nilai perjuangan kemerdekaan melalui peran para perwira senior di Departemen Pertahanan.
Pada 1972, ia diangkat menjadi Panglima Kodam IX/Udayana di Bali. Dua tahun kemudian, ia menjabat sebagai Komandan Sekolah Staf & Komando Gabungan (Seskogab), tempat ia mengembangkan pendidikan strategis bagi para perwira menengah.
Mulai 21 Januari 1976, Yogi menjabat Asisten Politik, Strategi & Perencanaan Umum Panglima ABRI. Posisi ini membuatnya terlibat dlm proses perumusan kebijakan pertahanan nasional.
Pada 1980, ia ditunjuk sebagai Kepala Staf Administrasi Departemen Pertahanan & Keamanan & tiga tahun kemudian diangkat menjadi Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan & Keamanan, jabatan birokratis tertinggi di kementerian tersebut. Ia menjabat hingga 10 Oktober 1987.
Selama masa jabatannya, struktur organisasi departemen mengalami perubahan sehingga sebagian kewenangan dialihkan kepada Panglima ABRI. Kendati demikian, Yogi tetap berperan sebagai pejabat kunci dlm koordinasi administrasi pertahanan negara.
Setelah pensiun dari dinas militer aktif, Yogi diangkat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Jepang pada 31 Agustus 1987. Selama empat tahun masa baktinya, ia mengembangkan hubungan bilateral Indonesia–Jepang terutama dlm bidang pertahanan, ekonomi & kebudayaan. Ia mengakhiri masa tugas pada 16 Mei 1991.
Setelah kembali ke Tanah Air, Yogi tetap aktif dlm berbagai kegiatan organisasi veteran. Ia menjadi anggota dewan penasihat Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD). Ia juga menghadiri berbagai acara reuni, termasuk pertemuan lulusan Akademi Militer Yogya tahun 1948 pada 1993 bersama sejumlah tokoh nasional.
Yogi menikah dgn Olga Wahyu pada 25 Desember 1955. Pasangan ini dikaruniai tiga anak: dua putra dan satu putri. Putri bungsunya, Prisca Marina, menikah dgn K.G.P.A.A Mangkunagoro IX & menerima gelar permaisuri sebagai : Gusti Kangjeng Putri Mangkunagoro IX. Sebagai bagian dari hubungan keluarga bangsawan Mangkunegaran, Yogi memperoleh gelar kehormatan sebagai : Kangjeng Pangeran Haryo Haryogi Mangun Winoto.
Menurut keterangan dari mas Danang Lawu Sulistiyono, Olga Wahyu yg juga bernama lain : Kangjeng Bandoro Raden Ayu Josephine, adalah salah satu wayahdalem (cucu) dari S.I.S.K. Susuhunan Pakubuwono XI yg menjadikannya juga keponakan dari S.I.S.K.Susuhunan Pakubuwono XII.
Josephine adalah nama baptis Olga Wahyu. Sedangkan adik kandung S.I.S.K.Susuhunan Pakubuwono XII :G.K.R.Kedhaton menikah dgn kerabat ibu saya
Tragedi menimpa keluarga ini pada 2007 ketika Olga Wahyu menjadi salah satu korban kecelakaan Garuda Indonesia Penerbangan 200 di Yogyakarta.
Selain K.B.R.Ayu Josephine Olga Wahyu, yg menjadi korban kecelakaan tersebut salah satunya adalah Prof.Dr.H.Koesnadi Hardjasoemantri SH.ML adalah Rektor Universitas Gajah Mada . Oom Koesnadi menikah dgn tante Nina, salah satu kerabat ibu saya.
Ignatius Yogi Supardi meninggal dunia pada 15 September 2019 di RSPAD Gatot Soebroto di usia 90 thn. Beliau dimakamkan dgn upacara militer di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta, pada 18 September 2019 & dipimpin oleh Pangdam Diponegoro.

No comments:
Post a Comment