30 December 2025

🌳 1. Pohon Asam Jawa sebagai warisan yang masih nyata Penanaman pohon asam jawa (Tamarindus indica) di tepi jalan bukan sekadar kebetulan atau estetika belaka — ini memiliki sejarah panjang sejak masa kolonial Belanda yang terdokumentasi dan dibahas di media arus utama pada 2025. Pakar sejarah mengonfirmasi bahwa pohon ini memang dipilih oleh pemerintah kolonial Belanda untuk beberapa alasan penting pada masa itu: Fungsi praktis seperti memberikan naungan yang signifikan di iklim tropis yang panas, sangat membantu pejalan kaki atau kendaraan sederhana di era sebelum motor dominan. Stabilisasi tanah dan mencegah erosi di pinggir jalan, berkat sistem akar kuat pohon ini. Ketahanan terhadap kondisi keras, seperti kekeringan dan angin, menjadikan pohon ini cocok untuk dibiarkan tumbuh di tepi jalan tanpa perawatan intensif. Nilai ekonomi dan budaya, karena buahnya dapat dimanfaatkan sebagai bumbu masakan, bahan minuman, dan bahkan obat tradisional. 🌱 2. Kenapa masih banyak pohon-pohon itu di jalan sekarang? Keberadaan pohon asam jawa yang ditanam berabad lalu masih terlihat di banyak kota karena: Umurnya panjang: Pohon ini bisa hidup selama puluhan sampai ratusan tahun jika tidak ditebang, sehingga masih berdiri di kota atau desa lama. Adaptasi yang baik dengan lingkungan tropis: Meski bukan asli Indonesia (asalnya berasal dari Afrika), Tamarindus indica telah lama beradaptasi dan menyebar luas di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. 🌍 3. Relevansi masa kini Walau fungsi utamanya di masa kolonial adalah praktis dan taktis untuk menunjang infrastruktur jalan saat itu, pengaruhnya masih dirasakan sampai sekarang: Peneduh alami untuk ruang publik: Di kota-kota yang padat kendaraan, pohon-pohon besar masih membantu mengurangi panas permukaan jalan di beberapa ruas jalan tua. Saksi sejarah dan estetika ruang kota: Banyak pohon tua ini kini menjadi bagian dari identitas sejarah kota dan sering masuk dalam jalur wisata sejarah perkotaan. Nilai ekologis yang diakui sekarang: Di era kekhawatiran perubahan iklim dan urban heat island (efek pulau panas perkotaan), pohon besar seperti asam jawa dipandang kembali penting karena dapat menyerap CO₂, memproduksi oksigen, dan memperbaiki kualitas udara—fungsi yang dulu tidak dipikirkan Belanda dalam konteks modern, namun kini sangat relevan bagi perencana kota. πŸ“Œ Kesimpulan Penanaman pohon asam jawa di pinggir jalan pada masa kolonial oleh Belanda bukan sekadar kebiasaan estetika, melainkan keputusan yang didasarkan pada fungsi ekologis, praktis, dan simbolis. Warisan ini masih terlihat di lanskap perkotaan Indonesia dan kerap dianggap landasan awal pengelolaan ruang hijau jalan di masa kini, meskipun konteksnya telah berubah drastis dari fungsi praktis lalu menjadi bagian dari pelestarian sejarah dan kota berkelanjutan.

 πŸŒ³ 1. Pohon Asam Jawa sebagai warisan yang masih nyata


Penanaman pohon asam jawa (Tamarindus indica) di tepi jalan bukan sekadar kebetulan atau estetika belaka — ini memiliki sejarah panjang sejak masa kolonial Belanda yang terdokumentasi dan dibahas di media arus utama pada 2025. 

Pakar sejarah mengonfirmasi bahwa pohon ini memang dipilih oleh pemerintah kolonial Belanda untuk beberapa alasan penting pada masa itu: 



Fungsi praktis seperti memberikan naungan yang signifikan di iklim tropis yang panas, sangat membantu pejalan kaki atau kendaraan sederhana di era sebelum motor dominan. 


Stabilisasi tanah dan mencegah erosi di pinggir jalan, berkat sistem akar kuat pohon ini. 


Ketahanan terhadap kondisi keras, seperti kekeringan dan angin, menjadikan pohon ini cocok untuk dibiarkan tumbuh di tepi jalan tanpa perawatan intensif. 


Nilai ekonomi dan budaya, karena buahnya dapat dimanfaatkan sebagai bumbu masakan, bahan minuman, dan bahkan obat tradisional. 


🌱 2. Kenapa masih banyak pohon-pohon itu di jalan sekarang?


Keberadaan pohon asam jawa yang ditanam berabad lalu masih terlihat di banyak kota karena:


Umurnya panjang: Pohon ini bisa hidup selama puluhan sampai ratusan tahun jika tidak ditebang, sehingga masih berdiri di kota atau desa lama. 


Adaptasi yang baik dengan lingkungan tropis: Meski bukan asli Indonesia (asalnya berasal dari Afrika), Tamarindus indica telah lama beradaptasi dan menyebar luas di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. 


🌍 3. Relevansi masa kini


Walau fungsi utamanya di masa kolonial adalah praktis dan taktis untuk menunjang infrastruktur jalan saat itu, pengaruhnya masih dirasakan sampai sekarang:


Peneduh alami untuk ruang publik: Di kota-kota yang padat kendaraan, pohon-pohon besar masih membantu mengurangi panas permukaan jalan di beberapa ruas jalan tua. 


Saksi sejarah dan estetika ruang kota: Banyak pohon tua ini kini menjadi bagian dari identitas sejarah kota dan sering masuk dalam jalur wisata sejarah perkotaan. 


Nilai ekologis yang diakui sekarang: Di era kekhawatiran perubahan iklim dan urban heat island (efek pulau panas perkotaan), pohon besar seperti asam jawa dipandang kembali penting karena dapat menyerap CO₂, memproduksi oksigen, dan memperbaiki kualitas udara—fungsi yang dulu tidak dipikirkan Belanda dalam konteks modern, namun kini sangat relevan bagi perencana kota. 


πŸ“Œ Kesimpulan


Penanaman pohon asam jawa di pinggir jalan pada masa kolonial oleh Belanda bukan sekadar kebiasaan estetika, melainkan keputusan yang didasarkan pada fungsi ekologis, praktis, dan simbolis. Warisan ini masih terlihat di lanskap perkotaan Indonesia dan kerap dianggap landasan awal pengelolaan ruang hijau jalan di masa kini, meskipun konteksnya telah berubah drastis dari fungsi praktis lalu menjadi bagian dari pelestarian sejarah dan kota berkelanjutan.



Sumber : Jatmiko Merbabu

No comments:

Post a Comment