13 April 2025

Bukit Gununggono Banyubiru Magelang thn 1938

 Bukit Gununggono Banyubiru Magelang thn 1938




12 April 2025

Pembangunan monas tahun 1963.

 Pembangunan monas tahun 1963.



Kisah G.K.R.Kencono Salah satu sosok perempuan tangguh di Kraton Yogyakarta. Gusti Kangjeng Ratu Kencono dgn nama lahir : B.R.Ajeng Puspitoretno Sriwulan adalah permaisuri ke-2 Sultan Hamengkubuwono VII, raja Kasultanan Yogyakarta yg bertahta dari 1877 hingga 1921. Beliau adalah putri dari B.P.H.Tejokusumo (B.P.H.Hadinegoro) & cucu dari Sultan Hamengkubuwono II. Beliau diangkat menjadi garwo padmi alias permaisuri atau ratu Sultan Hamengkubuwono VII pada 1895 & menerima anugerah gelar & nama : G.K.R.Kencono II. Mereka di karunia 14 anak : 6 laki-laki & 8 perempuan.Dari arsip Cathetan Kahartakan (W.254) Ratu Kencono dikenal sebagai sosok yg berkepribadian sangat cerdas & berwibawa & sebagai permaisuri Sultan Hamengku Buwono VII, merupakan perempuan yg mengatur ekonomi keraton Ibu 14 anak itulah yg mengelola anggaran belanja kraton hingga busana Sultan & kerabat. Tak hanya itu, dlm arsip Pratelan Bayar Trah lan Abdi Dalem (W.258), disebutkan juga bahwa G.K.R.Kencono mengatur pula pengeluaran gaji & imbalan bagi para istri, putra, cucu, hingga kerabat Keraton & para abdidalem. Dan besarnya gaji tersebut diselaraskan dgn gelar kebangsawanan yg diterimakan kepada yg menerimanya maupun gelar turun trah. Semakin tinggi gelarnya, semakin tinggi gajinya. Di Keraton Yogyakarta, permaisuri juga memiliki andil dalam mengatur ekonomi kerajaan. Pada arsip Cathetan Kahartakan (W.254) disebutkan bahwa Ratu Kencono, permaisuri Sultan Hamengku Buwono VII merupakan perempuan yang mengatur ekonomi keraton. Ratu Kencono mengelola anggaran belanja keraton hingga busana Sultan dan kerabat. Bahkan dalam arsip Pratelan Bayar Trah lan Abdi Dalem, (W.258) Ratu Kencono turut mengatur pengeluaran gaji dan imbalan bagi para istri, putra, dan cucu, serta kerabat keraton dan para Abdi Dalem. Kepiawaian beliau ini merupakan salah satu cerminan bahwa sejak dulu banyak kiprah perempuan di lingkungan keraton Yogyakarta. Semoga semangat GKR Kencono ini dapat mengilhami para perempuan untuk menebar terang dalam kegelapan. Selamat Hari Kartini 2025 Photo Source: Cephas, Kassian. Photography in The Service of the Sultan Sumber dari keraton yogyakarta #KartiniDay #Kartini #HariKartini #jogja #mataram #heritage #yogyakarta #kartini2025

 Kisah G.K.R.Kencono 

Salah satu sosok perempuan tangguh di Kraton Yogyakarta.


Gusti Kangjeng Ratu Kencono dgn nama lahir : B.R.Ajeng Puspitoretno Sriwulan adalah permaisuri ke-2 Sultan Hamengkubuwono VII, raja Kasultanan Yogyakarta yg bertahta dari 1877 hingga 1921. Beliau adalah putri dari B.P.H.Tejokusumo (B.P.H.Hadinegoro) & cucu dari Sultan Hamengkubuwono II. 



Beliau diangkat menjadi garwo padmi alias permaisuri atau ratu Sultan Hamengkubuwono VII pada 1895 & menerima anugerah gelar & nama : G.K.R.Kencono II. Mereka di karunia 14 anak : 6 laki-laki & 8 perempuan.Dari arsip Cathetan Kahartakan (W.254)


Ratu Kencono dikenal sebagai sosok yg berkepribadian sangat cerdas & berwibawa & sebagai permaisuri Sultan Hamengku Buwono VII, merupakan perempuan yg mengatur ekonomi keraton


Ibu 14 anak itulah yg mengelola anggaran belanja kraton hingga busana Sultan & kerabat. Tak hanya itu, dlm arsip Pratelan Bayar Trah lan Abdi Dalem (W.258), disebutkan juga bahwa G.K.R.Kencono mengatur pula pengeluaran gaji & imbalan bagi para istri, putra, cucu, hingga kerabat Keraton & para abdidalem. Dan besarnya gaji tersebut diselaraskan dgn gelar kebangsawanan yg diterimakan kepada yg menerimanya maupun gelar turun trah. Semakin tinggi gelarnya, semakin tinggi gajinya.


Di Keraton Yogyakarta, permaisuri juga memiliki andil dalam mengatur ekonomi kerajaan. Pada arsip Cathetan Kahartakan (W.254) disebutkan bahwa Ratu Kencono, permaisuri Sultan Hamengku Buwono VII merupakan perempuan yang mengatur ekonomi keraton. Ratu Kencono mengelola anggaran belanja keraton hingga busana Sultan dan kerabat. Bahkan dalam arsip Pratelan Bayar Trah lan Abdi Dalem, (W.258) Ratu Kencono turut mengatur pengeluaran gaji dan imbalan bagi para istri, putra, dan cucu, serta kerabat keraton dan para Abdi Dalem. Kepiawaian beliau ini merupakan salah satu cerminan bahwa sejak dulu banyak kiprah perempuan di lingkungan keraton Yogyakarta. Semoga semangat GKR Kencono ini dapat mengilhami para perempuan untuk menebar terang dalam kegelapan.


Selamat Hari Kartini 2025


Photo Source: Cephas, Kassian. Photography in The Service of the Sultan


Sumber dari keraton yogyakarta


#KartiniDay #Kartini #HariKartini  #jogja #mataram #heritage #yogyakarta #kartini2025

ILMU KEBAL LETNAN KOMARUDIN Letnan Komarudin atau yang memiliki nama asli Eli Yakim Teniwut, adalah salah satu prajurit yang dikenal dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret. Letnan Komarudin juga dikenal sebagai sosok yang kebal peluru. Letnan Komarudin adalah komandan peleton di SWK 101, Brigade X pimpinan Mayor Sardjono (saat itu anak buah Letnan Kolonel Soeharto). Sebelumnya, Komarudin adalah mantan prajurit PETA. Pria kelahiran Maluku Tenggara ini dikenal sebagai sosok yang kebal peluru oleh anak buahnya. Kisah ini sering diceritakan oleh para mantan anak buahnya. Dalam setiap pertempuran yang dilaluinya, Letnan Komarudin selalu dikenal sebagai sosok yang pemberani dan kebal peluru. Ketika memimpin serangan terhadap tentara Belanda, Letnan Komarudin sering kali maju menyerang sendirian. Menariknya, meskipun pasukan Belanda terus meluncurkan pelurunya, tapi tak ada satupun yang mengenai Letnan Komarudin. “Entah mungkin karena nasib Komarudin waktu itu belum waktunya atau betul-betul karena dia anti peluru. Tapi yang jelas Komarudin tidak mati,” ungkap Hendi Jo, seorang sejarawan. Anak buahnya menyebut Letnan Komarudin kebal peluru karena diyakini memiliki garis keturunan dari Bantengwareng, salah satu panglima perang Pasukan Diponegoro. Berkat darah keturunan dari orang-orang sakti tersebut, banyak anggota pasukannya percaya bahwa ia kebal terhadap senjata apa pun.

 ILMU KEBAL LETNAN KOMARUDIN

Letnan Komarudin atau yang memiliki nama asli Eli Yakim Teniwut, adalah salah satu prajurit yang dikenal dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret.



Letnan Komarudin juga dikenal sebagai sosok yang kebal peluru. Letnan Komarudin adalah komandan peleton di SWK 101, Brigade X pimpinan Mayor Sardjono (saat itu anak buah Letnan Kolonel Soeharto).

Sebelumnya, Komarudin adalah mantan prajurit PETA. Pria kelahiran Maluku Tenggara ini dikenal sebagai sosok yang kebal peluru oleh anak buahnya. Kisah ini sering diceritakan oleh para mantan anak buahnya.

Dalam setiap pertempuran yang dilaluinya, Letnan Komarudin selalu dikenal sebagai sosok yang pemberani dan kebal peluru. Ketika memimpin serangan terhadap tentara Belanda, Letnan Komarudin sering kali maju menyerang sendirian.

Menariknya, meskipun pasukan Belanda terus meluncurkan pelurunya, tapi tak ada satupun yang mengenai Letnan Komarudin.

“Entah mungkin karena nasib Komarudin waktu itu belum waktunya atau betul-betul karena dia anti peluru. Tapi yang jelas Komarudin tidak mati,” ungkap Hendi Jo, seorang sejarawan.

Anak buahnya menyebut Letnan Komarudin kebal peluru karena diyakini memiliki garis keturunan dari Bantengwareng, salah satu panglima perang Pasukan Diponegoro. 

Berkat darah keturunan dari orang-orang sakti tersebut, banyak anggota pasukannya percaya bahwa ia kebal terhadap senjata apa pun.

Prostitusi kelas atas semasa zaman pendudukan Jepang Prostitusi semasa pendudukan Jepang adalah tema yang jarang dibahas atau didokumentasikan meski keberadaannya tidak bisa dipungkiri. Salah satu tempat "hiburan" untuk para pembesar Jepang ini bernama "Akebono", yang dulunya bernama "Trianon". Foto di bawah adalah salah dua dari sedikit rekaman jejak yang memperlihatkan penampakan dari establishment semacam ini. Foto kedua memperlihatkan para tamu yang tampaknya para pembesar Jepang, beberapa di antaranya berseragam militer, dilayani oleh para pramusaji berseragan blangkon, kain, dan setelan pakaian daerah. Di latar belakang tampak para perempuan penghibur berbaris di belakang sebuah mikrofon. Foto memperlihatkan para awak dari Akebono ini, yang antara lain terdiri dari para pramusaji, pemusik bersetelan putih dengan dasi kupu-kupu, para wanita penghibur, dan tampaknya pasangan pengelola atau mucikari dari tempat hiburan ini. Pasangan pengelola memiliki wajah Eropa atau Indo, kecuali seorang pria yang bertampang Asia Timur. Para perempuan penghibur didominasi oleh para wanita berwajah Indo, meski kemungkinan ada Juga yang berwajah lokal Beeldbank WO2/NIOD #sejarah #tempodulu

 Prostitusi kelas atas semasa zaman pendudukan Jepang


Prostitusi semasa pendudukan Jepang adalah tema yang jarang dibahas atau didokumentasikan meski keberadaannya tidak bisa dipungkiri. Salah satu tempat "hiburan" untuk para pembesar Jepang ini bernama "Akebono", yang dulunya bernama "Trianon". Foto di bawah adalah salah dua dari sedikit rekaman jejak yang memperlihatkan penampakan dari establishment semacam ini.



Foto kedua memperlihatkan para tamu yang tampaknya para pembesar Jepang, beberapa di antaranya berseragam militer, dilayani oleh para pramusaji berseragan blangkon, kain, dan setelan pakaian daerah. Di latar belakang tampak para perempuan penghibur berbaris di belakang sebuah mikrofon.


Foto memperlihatkan para awak dari Akebono ini, yang antara lain terdiri dari para pramusaji, pemusik bersetelan putih dengan dasi kupu-kupu, para wanita penghibur, dan tampaknya pasangan pengelola atau mucikari dari tempat hiburan ini. Pasangan pengelola memiliki wajah Eropa atau Indo, kecuali seorang pria yang bertampang Asia Timur. Para perempuan penghibur didominasi oleh para wanita berwajah Indo, meski kemungkinan ada Juga yang berwajah lokal


Beeldbank WO2/NIOD


#sejarah #tempodulu

Potret pasukan Inggris dari Resimen india menangkap empat pemuda pejuang yang mereka sebut sebagai anggota Banteng Hitam. Menariknya dari foto di bawah, keempat pemuda pejuang ini tidak dilucuti, mereka masih tampak memegang pedang katana dan senapan. Bekasi, antara tahun 1945-1946 | Imperial War Museum | #sejarah #jejakkolonial #nostalgianusantara #sejarahindonesia

 Potret pasukan Inggris dari Resimen india menangkap empat pemuda pejuang yang mereka sebut sebagai anggota Banteng Hitam. Menariknya dari foto di bawah, keempat pemuda pejuang ini tidak dilucuti, mereka masih tampak memegang pedang katana dan senapan. Bekasi, antara tahun 1945-1946 | Imperial War Museum |  #sejarah #jejakkolonial #nostalgianusantara #sejarahindonesia



Jalan di Badaan, Magelang, sekitar tahun 1910 Weg te Badaan. Magelang, ca 1910

 Jalan di Badaan, Magelang, sekitar tahun 1910


Weg te Badaan. Magelang, ca 1910



Sumber : Bintoro Hoepoedio

10 April 2025

Ramai di jagat maya memperbincangkan lukisan kuno dengan penjelasan profil orang Jawa dibanding orang Melayu. Menurut si penulis naskah dikatakan orang Melayu lebih sopan dan beradab daripada orang Jawa. Kesimpulan si penulis ini berdasar cara berpakaian dimana suku Melayu sudah mengenal mode berpakaian yang menunjukkan kemajuan dunia tekstil sementara Jawa masih suka bertelanjang dada dan hanya bercawat. Netizen pun perang opini dengan mengedepankan "Baper" daripada nalar sehat dan nalar intelek. Memahami sejarah berarti memahami perubahan dari masa ke masa sebagai upaya menjawab tantangan jaman dan menyongsong kemajuan peradaban. Pergeseran kebudayaan adalah keniscayaan bukan aib karena hukum alam mendalilkan bahwa yang bertahan hidup bukan hanya yang KUAT saja tetapi yang lebih penting adalah yang paling ADAPTIF menghadapi tantangan. Bahwa Jawa jaman dulu ketinggalan dalam dunia tekstil adalah fakta. Orang Jawa mayoritas petani, pencari ikan tawar dan laut, seniman ukir (batu, kayu, logam) dan iklim tropis menjadi faktor kurangnya orang Jawa untuk terdorong mengembangkan tekstil. Mode penampilan yang populer adalah penggunaan emas untuk hiasan tubuh. Telanjang dada dianggap bukan kerendahan moral/budi. Dalam relief candi ditemukan cara berpenampilan orang Jawa yang telanjang dada dan hanya bercawat. Pramudya Ananta Toer dalam buku Arok Dedes menggambarkan masyarakat kala itu bertelanjang dada dan bercawat. Pengaruh budaya luar mendorong pergeseran budaya berpakaian masyarakat Jawa. Orang Jawa melakukan adaptasi yang menghasilkan cara berpakaian yang unik. Jika orang Belanda saat itu menganggap bertelanjang dada dan bercawat tidak sopan dan keterbelakangan budaya lalu bagaimana dengan pelancong luar negeri yang bertelanjang dada di Bali?

 Ramai di jagat maya memperbincangkan lukisan  kuno dengan penjelasan profil orang Jawa dibanding orang Melayu. Menurut si penulis naskah dikatakan orang Melayu lebih sopan dan beradab daripada orang Jawa. Kesimpulan si penulis ini berdasar cara berpakaian dimana suku Melayu sudah mengenal mode berpakaian yang menunjukkan kemajuan dunia tekstil sementara Jawa masih suka bertelanjang dada dan hanya bercawat. Netizen pun  perang opini dengan mengedepankan "Baper" daripada nalar sehat dan nalar intelek.



Memahami sejarah berarti memahami perubahan dari masa ke masa sebagai upaya menjawab tantangan jaman dan menyongsong kemajuan peradaban. Pergeseran kebudayaan adalah keniscayaan bukan aib karena hukum alam mendalilkan bahwa yang bertahan hidup bukan hanya yang KUAT saja tetapi yang lebih penting adalah yang paling ADAPTIF menghadapi tantangan.


Bahwa Jawa jaman dulu ketinggalan dalam dunia tekstil adalah fakta. Orang Jawa mayoritas petani, pencari ikan tawar dan laut, seniman ukir (batu, kayu, logam) dan iklim tropis menjadi faktor kurangnya orang Jawa untuk terdorong mengembangkan tekstil. Mode penampilan yang populer adalah penggunaan emas untuk hiasan tubuh. Telanjang dada dianggap bukan kerendahan moral/budi.


Dalam relief candi ditemukan cara berpenampilan orang Jawa  yang telanjang dada dan hanya bercawat. Pramudya Ananta Toer dalam buku Arok Dedes menggambarkan masyarakat kala itu bertelanjang dada dan bercawat. Pengaruh budaya luar mendorong pergeseran budaya berpakaian masyarakat Jawa. Orang Jawa melakukan adaptasi yang menghasilkan cara berpakaian yang unik.


Jika orang Belanda saat itu menganggap bertelanjang dada dan bercawat tidak sopan dan keterbelakangan budaya lalu bagaimana dengan pelancong luar negeri yang bertelanjang dada di Bali?

Jejak Sejarah Pabrik Gula Zaman Belanda di Yogyakarta Pada masa kolonial Belanda, industri gula merupakan salah satu pilar ekonomi yang sangat penting di Hindia Belanda, termasuk di wilayah Yogyakarta. Berkat kesuburan tanah dan jaringan irigasi yang memadai, daerah ini menjadi lokasi strategis untuk pembangunan pabrik gula. Tercatat, terdapat lebih dari 15 pabrik gula yang pernah beroperasi di wilayah ini, tersebar di Kabupaten Sleman, Bantul, dan Kulon Progo. Pabrik Gula di Kabupaten Sleman Sleman merupakan wilayah dengan jumlah pabrik gula terbanyak di Yogyakarta pada masa itu. Di antaranya adalah PG Beran, PG Klaci (Klatjie), PG Medari, PG Rewulu, PG Randugunting, PG Sendangpitu, hingga PG Cebongan. Beberapa pabrik bahkan meninggalkan jejak arsitektur dan kawasan industri yang kini menjadi bagian dari kawasan pendidikan atau pemukiman. Pabrik Gula di Kabupaten Bantul Bantul juga menjadi pusat penting industri gula dengan pabrik-pabrik seperti PG Padokan, PG Bantul, PG Gondanglipuro, PG Pundong, dan PG Barongan. Salah satu pabrik legendaris, PG Padokan, bahkan menjadi cikal bakal berdirinya Pabrik Gula Madukismo, satu-satunya pabrik gula di Yogyakarta yang masih beroperasi hingga kini. Kejayaan dan Keruntuhan Sebagian besar pabrik gula tersebut dibangun pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Mereka beroperasi dengan sistem tanam paksa maupun swasta, menyerap banyak tenaga kerja lokal, serta menjadi penggerak ekonomi desa. Namun, masa kejayaan itu tidak bertahan lama. Krisis ekonomi global tahun 1929, Perang Dunia II, serta nasionalisasi industri Belanda setelah kemerdekaan Indonesia membuat banyak pabrik gulung tikar atau dihancurkan. Warisan Budaya dan Edukasi Meskipun banyak pabrik yang kini tinggal puing atau berubah fungsi, jejak sejarahnya tetap hidup. Bangunan-bangunan tua, peralatan produksi, dan cerita masyarakat setempat menjadi bagian penting dari warisan industri kolonial. Beberapa lokasi bahkan potensial dikembangkan menjadi wisata edukatif dan sejarah industri gula di Indonesia.

 Jejak Sejarah Pabrik Gula Zaman Belanda di Yogyakarta


Pada masa kolonial Belanda, industri gula merupakan salah satu pilar ekonomi yang sangat penting di Hindia Belanda, termasuk di wilayah Yogyakarta. Berkat kesuburan tanah dan jaringan irigasi yang memadai, daerah ini menjadi lokasi strategis untuk pembangunan pabrik gula. Tercatat, terdapat lebih dari 15 pabrik gula yang pernah beroperasi di wilayah ini, tersebar di Kabupaten Sleman, Bantul, dan Kulon Progo.



Pabrik Gula di Kabupaten Sleman


Sleman merupakan wilayah dengan jumlah pabrik gula terbanyak di Yogyakarta pada masa itu. Di antaranya adalah PG Beran, PG Klaci (Klatjie), PG Medari, PG Rewulu, PG Randugunting, PG Sendangpitu, hingga PG Cebongan. Beberapa pabrik bahkan meninggalkan jejak arsitektur dan kawasan industri yang kini menjadi bagian dari kawasan pendidikan atau pemukiman.


Pabrik Gula di Kabupaten Bantul


Bantul juga menjadi pusat penting industri gula dengan pabrik-pabrik seperti PG Padokan, PG Bantul, PG Gondanglipuro, PG Pundong, dan PG Barongan. Salah satu pabrik legendaris, PG Padokan, bahkan menjadi cikal bakal berdirinya Pabrik Gula Madukismo, satu-satunya pabrik gula di Yogyakarta yang masih beroperasi hingga kini.


Kejayaan dan Keruntuhan


Sebagian besar pabrik gula tersebut dibangun pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Mereka beroperasi dengan sistem tanam paksa maupun swasta, menyerap banyak tenaga kerja lokal, serta menjadi penggerak ekonomi desa. Namun, masa kejayaan itu tidak bertahan lama. Krisis ekonomi global tahun 1929, Perang Dunia II, serta nasionalisasi industri Belanda setelah kemerdekaan Indonesia membuat banyak pabrik gulung tikar atau dihancurkan.


Warisan Budaya dan Edukasi


Meskipun banyak pabrik yang kini tinggal puing atau berubah fungsi, jejak sejarahnya tetap hidup. Bangunan-bangunan tua, peralatan produksi, dan cerita masyarakat setempat menjadi bagian penting dari warisan industri kolonial. Beberapa lokasi bahkan potensial dikembangkan menjadi wisata edukatif dan sejarah industri gula di Indonesia.

Mereka yang ada dalam foto antara tahun 1946-1950 ini bukan petugas kebersihan ya guys.. Tapi mereka adalah mahasiswa baru(kemungkinan dari UGM) yang sedang diplonco oleh seniornya untuk membersihkan jalan di kota Yogyakarta. Jaman dulu kegiatan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus atau OSPEK lebih dikenal sebagai tradisi Plonco. Istilah Plonco mulai dikenal pada jaman penjajahan Jepang sebagai tradisi menggunduli prajurit atau siswa baru sebagai lambang "anak kecil yang belum tahu apa-apa''. Istilah Plonco mulai tidak digunakan atau dilarang setelah banyak kejadian kekerasan fisik yang dilakukan oleh para senior kepada yuniornya dalam dunia pendidikan. Sumber foto : wereldmuseum.nl

 Mereka yang ada dalam foto antara tahun 1946-1950 ini bukan petugas kebersihan ya guys..

Tapi mereka adalah mahasiswa baru(kemungkinan dari UGM) yang sedang diplonco oleh seniornya untuk membersihkan jalan di kota Yogyakarta.

Jaman dulu kegiatan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus atau OSPEK lebih dikenal sebagai tradisi Plonco.



Istilah Plonco mulai dikenal pada jaman penjajahan Jepang sebagai tradisi menggunduli prajurit atau siswa baru sebagai lambang "anak kecil yang belum tahu apa-apa''.



Istilah Plonco mulai tidak digunakan atau dilarang setelah banyak kejadian kekerasan fisik yang dilakukan oleh para senior kepada yuniornya dalam dunia pendidikan.


Sumber foto : wereldmuseum.nl

Stasiun Secang, Magelang 1912

 Stasiun Secang, Magelang 1912



Menguak Sejarah Stasiun Mertoyudan Magelang: Dari Jalur Kereta ke Tempat Nongkrong Stasiun Mertoyudan adalah sebuah stasiun kereta api nonaktif yang terletak di Desa Mertoyudan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Meskipun kini tak lagi melayani perjalanan kereta, stasiun ini menyimpan banyak cerita sejarah yang menarik untuk ditelusuri. Dibangun di Era Kolonial Belanda Stasiun Mertoyudan dibangun oleh perusahaan kereta api Hindia Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Stasiun ini resmi beroperasi pada 1 Juli 1898 sebagai bagian dari jalur kereta api yang menghubungkan Yogyakarta dan Magelang. Pada masa jayanya, stasiun ini menjadi salah satu simpul transportasi penting di kawasan Kedu. Arsitektur Bergaya Limasan Renovasi bangunan stasiun dilakukan sekitar tahun 1950-an. Arsitekturnya bergaya limasan khas Jawa, dengan sentuhan modern berupa ventilasi bulat berterali dan pintu-pintu bergaya minimalis. Desain ini mirip dengan beberapa stasiun lain di wilayah Daerah Operasi VI Yogyakarta seperti Stasiun Bantul, Palbapang, Rewulu, dan Winongo. Dekat dengan Seminari Mertoyudan Salah satu fungsi penting Stasiun Mertoyudan di masa lalu adalah melayani mobilitas para siswa Seminari Menengah Mertoyudan, yang dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan calon imam Katolik tertua di Indonesia. Tak heran jika stasiun ini kerap ramai oleh para pelajar dan pengunjung seminari. Terbengkalai dan Kini Bertransformasi Seiring waktu, jalur kereta api Yogyakarta–Magelang ditutup, dan Stasiun Mertoyudan pun dinonaktifkan. Bangunan stasiun sempat terbengkalai, kusam, dan mengalami kerusakan karena tidak lagi digunakan. Namun, pada tahun 2023, muncul inisiatif untuk menghidupkan kembali kawasan ini. Kini, bangunan bekas stasiun dimanfaatkan sebagai area foodcourt. Dengan renovasi ringan dan penataan ulang, area ini kembali hidup sebagai tempat berkumpul dan kuliner masyarakat sekitar. Meski fungsinya telah berganti, nilai historis bangunan tetap dipertahankan, menjadikannya destinasi menarik bagi pecinta sejarah dan arsitektur.

 Menguak Sejarah Stasiun Mertoyudan Magelang: Dari Jalur Kereta ke Tempat Nongkrong



Stasiun Mertoyudan adalah sebuah stasiun kereta api nonaktif yang terletak di Desa Mertoyudan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Meskipun kini tak lagi melayani perjalanan kereta, stasiun ini menyimpan banyak cerita sejarah yang menarik untuk ditelusuri.


Dibangun di Era Kolonial Belanda


Stasiun Mertoyudan dibangun oleh perusahaan kereta api Hindia Belanda, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Stasiun ini resmi beroperasi pada 1 Juli 1898 sebagai bagian dari jalur kereta api yang menghubungkan Yogyakarta dan Magelang. Pada masa jayanya, stasiun ini menjadi salah satu simpul transportasi penting di kawasan Kedu.


Arsitektur Bergaya Limasan


Renovasi bangunan stasiun dilakukan sekitar tahun 1950-an. Arsitekturnya bergaya limasan khas Jawa, dengan sentuhan modern berupa ventilasi bulat berterali dan pintu-pintu bergaya minimalis. Desain ini mirip dengan beberapa stasiun lain di wilayah Daerah Operasi VI Yogyakarta seperti Stasiun Bantul, Palbapang, Rewulu, dan Winongo.


Dekat dengan Seminari Mertoyudan


Salah satu fungsi penting Stasiun Mertoyudan di masa lalu adalah melayani mobilitas para siswa Seminari Menengah Mertoyudan, yang dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan calon imam Katolik tertua di Indonesia. Tak heran jika stasiun ini kerap ramai oleh para pelajar dan pengunjung seminari.


Terbengkalai dan Kini Bertransformasi


Seiring waktu, jalur kereta api Yogyakarta–Magelang ditutup, dan Stasiun Mertoyudan pun dinonaktifkan. Bangunan stasiun sempat terbengkalai, kusam, dan mengalami kerusakan karena tidak lagi digunakan. Namun, pada tahun 2023, muncul inisiatif untuk menghidupkan kembali kawasan ini.


Kini, bangunan bekas stasiun dimanfaatkan sebagai area foodcourt. Dengan renovasi ringan dan penataan ulang, area ini kembali hidup sebagai tempat berkumpul dan kuliner masyarakat sekitar. Meski fungsinya telah berganti, nilai historis bangunan tetap dipertahankan, menjadikannya destinasi menarik bagi pecinta sejarah dan arsitektur.

Taruna Ekspres Lembah Tidar: Jejak Kereta Api Wisata Taruna Akmil Pada masa awal 1970-an, sebuah layanan kereta api unik pernah hadir di jalur selatan Pulau Jawa. Dikenal dengan nama Taruna Ekspres, kereta ini dirancang khusus untuk mengangkut para taruna Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) dari Magelang ke Yogyakarta. Layanan ini menjadi penghubung strategis sekaligus sarana rekreasi bagi para calon perwira militer yang tengah menempuh pendidikan di kawasan Lembah Tidar, lokasi Akademi Militer (Akmil) berada. Sejarah dan Latar Belakang Taruna Ekspres pertama kali dioperasikan oleh Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) pada tanggal 30 November 1972. Peresmiannya dilakukan oleh Sarwo Edhie Wibowo. Tujuan utama dari kereta ini adalah memberikan fasilitas perjalanan bagi para taruna yang hendak berkunjung ke Yogyakarta, kota budaya yang sekaligus menjadi tempat rekreasi dan pembelajaran informal. Untuk mendukung operasionalnya, dibangun sebuah halte baru yang diberi nama Halte Lembah Tidar, letaknya sangat dekat dengan kompleks Akademi Militer Magelang. Halte ini menjadi titik awal keberangkatan Taruna Ekspres menuju Stasiun Yogyakarta, menempuh perjalanan melewati jalur antara Magelang dan Yogyakarta. Jadwal dan Layanan Taruna Ekspres dijadwalkan beroperasi empat kali seminggu, yaitu setiap Selasa, Kamis, Sabtu, dan Minggu. Meskipun bersifat reguler, kereta ini tidak dibuka untuk umum dan hanya diperuntukkan bagi kebutuhan Akabri. Dalam setiap perjalanannya, kereta ini menjadi ruang pertemuan, hiburan, dan pembauran bagi para taruna dari berbagai matra. Akhir Operasional Sayangnya, masa kejayaan Taruna Ekspres tidak berlangsung lama. Pada bulan Desember 1976, bencana alam melanda. Banjir lahar dingin dari Gunung Merapi menghantam wilayah perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, merusak jembatan Krasak—salah satu infrastruktur vital di jalur kereta ini. Akibat kerusakan tersebut, operasional Taruna Ekspres terpaksa dihentikan secara permanen. Warisan dan Kenangan Meski hanya beroperasi selama sekitar empat tahun, Taruna Ekspres meninggalkan jejak sejarah yang unik dalam dunia perkeretaapian Indonesia. Ia menjadi simbol bagaimana moda transportasi bisa bersinergi dengan institusi militer dalam bentuk layanan eksklusif, yang sekaligus memperkaya nilai-nilai pendidikan dan budaya para taruna. Hari ini, nama Taruna Ekspres mungkin hanya tinggal kenangan, namun keberadaannya tetap hidup dalam cerita-cerita para alumni Akmil dan penggemar sejarah perkeretaapian nasional.

 Taruna Ekspres Lembah Tidar: Jejak Kereta Api Wisata Taruna Akmil


Pada masa awal 1970-an, sebuah layanan kereta api unik pernah hadir di jalur selatan Pulau Jawa. Dikenal dengan nama Taruna Ekspres, kereta ini dirancang khusus untuk mengangkut para taruna Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) dari Magelang ke Yogyakarta. Layanan ini menjadi penghubung strategis sekaligus sarana rekreasi bagi para calon perwira militer yang tengah menempuh pendidikan di kawasan Lembah Tidar, lokasi Akademi Militer (Akmil) berada.



Sejarah dan Latar Belakang


Taruna Ekspres pertama kali dioperasikan oleh Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) pada tanggal 30 November 1972. Peresmiannya dilakukan oleh Sarwo Edhie Wibowo. Tujuan utama dari kereta ini adalah memberikan fasilitas perjalanan bagi para taruna yang hendak berkunjung ke Yogyakarta, kota budaya yang sekaligus menjadi tempat rekreasi dan pembelajaran informal.


Untuk mendukung operasionalnya, dibangun sebuah halte baru yang diberi nama Halte Lembah Tidar, letaknya sangat dekat dengan kompleks Akademi Militer Magelang. Halte ini menjadi titik awal keberangkatan Taruna Ekspres menuju Stasiun Yogyakarta, menempuh perjalanan melewati jalur antara Magelang dan Yogyakarta.


Jadwal dan Layanan


Taruna Ekspres dijadwalkan beroperasi empat kali seminggu, yaitu setiap Selasa, Kamis, Sabtu, dan Minggu. Meskipun bersifat reguler, kereta ini tidak dibuka untuk umum dan hanya diperuntukkan bagi kebutuhan Akabri. Dalam setiap perjalanannya, kereta ini menjadi ruang pertemuan, hiburan, dan pembauran bagi para taruna dari berbagai matra.


Akhir Operasional


Sayangnya, masa kejayaan Taruna Ekspres tidak berlangsung lama. Pada bulan Desember 1976, bencana alam melanda. Banjir lahar dingin dari Gunung Merapi menghantam wilayah perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, merusak jembatan Krasak—salah satu infrastruktur vital di jalur kereta ini. Akibat kerusakan tersebut, operasional Taruna Ekspres terpaksa dihentikan secara permanen.


Warisan dan Kenangan


Meski hanya beroperasi selama sekitar empat tahun, Taruna Ekspres meninggalkan jejak sejarah yang unik dalam dunia perkeretaapian Indonesia. Ia menjadi simbol bagaimana moda transportasi bisa bersinergi dengan institusi militer dalam bentuk layanan eksklusif, yang sekaligus memperkaya nilai-nilai pendidikan dan budaya para taruna.


Hari ini, nama Taruna Ekspres mungkin hanya tinggal kenangan, namun keberadaannya tetap hidup dalam cerita-cerita para alumni Akmil dan penggemar sejarah perkeretaapian nasional.

09 April 2025

TERBUNUHNYA JAYA NEGARA Membunuh Jaya Negara terbilang susah, sebab selain seorang Raja yang selalu dijaga ketat oleh Para Bhayangkara, Jaya Negara juga memiliki ilmu kebal, begitulah yang diinformasikan serat Pararaton pada bagian ke 8. Meskipun begitu Ra Tanca rupanya punya teknik jitu untuk membunuhnya. Jaya Negara adalah Raja kedua Majapahit, menurut Negara Kertagama Jaya Negara naik tahta pada 1309 Masehi dengan Gelar Abhiseka Wiralandaghopala, ia naik tahta selepas kemangkatan ayahnya Dyah Wijaya. Jaya Negara merupakan anak laki-laki satu-satunya Dyah Wijaya, ibunya adalah Indradewi atau Dara Petak seorang Putri Melayu dari Kerajaan Dhamasraya. Meskipun Jaya Negara terlahir dari seorang selir, akan tetapi karena sejak kecil ia diakui anak oleh Sri Prameswari Dyah Dewi Tribuaneswari (Permaisuri) maka secara otomatis kedudukan Jaya Negara berubah menjadi Putra Mahkota, apalagi Permaisuri tidak mempunyai anak laki-laki sehingga kedudukan Jaya Negara sebagai penerus tahta tidak ada yang membantah. Pada masa Jaya Negara memerintah Majapahit, kondisi kerajaan dirundung banyak masalah, karena Jaya Negara termakan hasutan Dyah Halayuda yang dikenal menghalalkan segala cara demi memperoleh jabatan sebagai Mahapatih. Pada masa Jaya Negara memerintah 1309-1328 tercatat beberapa kali terjadi pemberontakan yang diakibatkan oleh hasutan Dyah Halyuda, diantaranya Pemberontakan Mahapatih Nambi, dan Pemberontakan Ra Kuti. Semua pemberontakan pada akhirnya mampu dipadamkan Jaya Negara, biang perusak kerajaanpun (Dyah Halayuda) akhirnya dibunuh Jaya Negara melalui tangan Gajah Mada. Meskipun demikian asap dari Pemberontakan rupanya masih tetap ada. Ra Tanca salah satu dari 7 Pejabat Dharmaputra yang berprofesi sebagai Tabib Istana menyimpan dendam dalam-dalam terhadap Jaya Negara. Dalam Serat Pararaton disebutkan bahwa dendam Jaya Negara muncul selepas istrinya diperlakukan tidak senonoh oleh Raja, selain itu, ia juga masih menyimpan dendam terhadap kematian teman-teman seperjuangannya di Dharmaputra. Ra Tanca tidak menyukai kelakuan Jaya Negara yang a moral, dalam serat Pararaton, Jaya Negara dikisahkan sebagai Raja yang banyak membuat kecewa dan sengsara rakyat, juga dikenal sebagai Raja yang mau mengawini adik perempuannya sendiri agar tahta Majapahit tetap utuh ditangannya. Kemuakan Ra Tanca pada Jaya Negara melahirkan rencana pembunuhan, ia berniat menghabisinya. Akan tetapi karena ketatnya penjagaan, Ra Tanca memilih untuk bersabar, hingga suatu ketika datang kesempatan yang ia tunggu-tunggu. Serat Pararaton menceritakan, bahwa suatu ketika Jaya Negara terkena sakit bisul, sehingga ia tidak bisa berjalan karena mengalami pembengkakan. Gajah Mada kemudian memanggil Ra Tanca ke Istana untuk mengoperasi penyakit Raja. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan Ra Tanca, iapun mempersiapkan alat oprasi yang sanggup dijadikan sebagai alat bunuh, mengingat dalam kamar Raja, Ra Tanca tidak diperkenankan membawa senjata. Ketika kesempatan membunuh didepan mata, Ra Tanca menusukan pisau operasi (Taji) pada bagian tubuh Jaya Negara yang membengkak, namun sang Raja rupanya tak bergeming, Jaya Negara kebal senjata. Dengan alasan hendak mengoperasi penyakit sang Raja, Ra Tanca akhirnya merayu Rajanya untuk melepaskan jimat kekebalan yang dimiliki, malangnya Jaya Negara menurutinya, sehingga pembunuhan pun akhirnya terjadi. Jaya Negara dihujani pisau operasi berkali-kali hingga tewas. Sementara disisi lain, Gajah Mada dan para Bhayangkara yang memergoki peristiwa pembunuhan menjadi kalang kabut, Gajah Mada kemudian menusuk Ra Tanca dengan sebilah keris, Ra Tancapun akhirnya tewas bersimbah darah.

 TERBUNUHNYA JAYA NEGARA

Membunuh Jaya Negara terbilang susah, sebab selain seorang Raja yang selalu dijaga ketat oleh Para Bhayangkara, Jaya Negara juga memiliki ilmu kebal, begitulah yang diinformasikan serat Pararaton pada bagian ke 8. Meskipun begitu Ra Tanca rupanya punya teknik jitu untuk membunuhnya.



Jaya Negara adalah Raja kedua Majapahit, menurut Negara Kertagama Jaya Negara naik tahta pada 1309 Masehi dengan Gelar Abhiseka Wiralandaghopala, ia naik tahta selepas kemangkatan ayahnya Dyah Wijaya. Jaya Negara merupakan anak laki-laki satu-satunya Dyah Wijaya, ibunya adalah Indradewi atau Dara Petak seorang Putri Melayu dari Kerajaan Dhamasraya.

Meskipun Jaya Negara terlahir dari seorang selir, akan tetapi karena sejak kecil ia diakui anak  oleh Sri Prameswari Dyah Dewi Tribuaneswari (Permaisuri) maka secara otomatis kedudukan Jaya Negara berubah menjadi Putra Mahkota, apalagi Permaisuri tidak mempunyai anak laki-laki sehingga kedudukan Jaya Negara sebagai penerus tahta tidak ada yang membantah.

Pada masa Jaya Negara memerintah Majapahit, kondisi kerajaan dirundung banyak masalah, karena Jaya Negara termakan hasutan Dyah Halayuda yang dikenal menghalalkan segala cara demi memperoleh jabatan sebagai Mahapatih.

Pada masa Jaya Negara memerintah 1309-1328 tercatat beberapa kali terjadi pemberontakan yang diakibatkan oleh hasutan Dyah Halyuda, diantaranya Pemberontakan Mahapatih Nambi, dan Pemberontakan Ra Kuti.

Semua pemberontakan pada akhirnya mampu dipadamkan Jaya Negara, biang perusak kerajaanpun (Dyah Halayuda) akhirnya dibunuh Jaya Negara melalui tangan Gajah Mada. Meskipun demikian asap dari Pemberontakan rupanya masih tetap ada.

Ra Tanca salah satu dari 7 Pejabat Dharmaputra yang berprofesi sebagai Tabib Istana menyimpan dendam dalam-dalam terhadap Jaya Negara. Dalam Serat Pararaton disebutkan bahwa dendam Jaya Negara muncul selepas istrinya diperlakukan tidak senonoh oleh Raja, selain itu,  ia juga masih menyimpan dendam terhadap kematian teman-teman seperjuangannya di Dharmaputra.

Ra Tanca tidak menyukai kelakuan Jaya Negara yang a moral, dalam serat Pararaton, Jaya Negara dikisahkan sebagai Raja yang banyak membuat kecewa dan sengsara rakyat, juga dikenal sebagai Raja yang mau mengawini adik perempuannya sendiri agar tahta Majapahit tetap utuh ditangannya.

Kemuakan Ra Tanca pada Jaya Negara melahirkan rencana pembunuhan, ia berniat menghabisinya. Akan tetapi karena ketatnya penjagaan, Ra Tanca memilih untuk bersabar, hingga suatu ketika datang kesempatan yang ia tunggu-tunggu.

Serat Pararaton menceritakan, bahwa suatu ketika Jaya Negara terkena sakit bisul, sehingga ia tidak bisa berjalan karena mengalami pembengkakan. Gajah Mada kemudian memanggil Ra Tanca ke Istana untuk mengoperasi penyakit Raja.

Kesempatan tersebut tidak disia-siakan Ra Tanca, iapun mempersiapkan alat oprasi yang sanggup dijadikan sebagai alat bunuh, mengingat dalam kamar Raja, Ra Tanca tidak diperkenankan membawa senjata.

Ketika kesempatan membunuh didepan mata, Ra Tanca menusukan pisau operasi (Taji) pada bagian tubuh Jaya Negara yang membengkak, namun sang Raja rupanya tak bergeming, Jaya Negara kebal senjata.

Dengan alasan hendak mengoperasi penyakit sang Raja, Ra Tanca akhirnya merayu Rajanya untuk melepaskan jimat kekebalan yang dimiliki, malangnya Jaya Negara menurutinya, sehingga pembunuhan pun akhirnya terjadi. Jaya Negara dihujani pisau operasi berkali-kali hingga tewas.

Sementara disisi lain, Gajah Mada dan para Bhayangkara yang memergoki peristiwa pembunuhan menjadi kalang kabut, Gajah Mada kemudian menusuk Ra Tanca dengan sebilah keris, Ra Tancapun akhirnya tewas bersimbah darah.

GARRY KASAPAROV MANUSIA YANG MENGALAHKAN KOMPUTER Garry Kasparov, lahir pada 13 April 1963 di Baku, Azerbaijan, adalah nama yang tak tertandingi dalam dunia catur. Terkenal karena kejeniusan strategis dan kemampuan taktisnya, Kasparov tidak hanya mendominasi papan catur, tetapi juga mengubah cara kita memandang permainan catur modern. Kasparov mulai dikenal sejak usia muda sebagai seorang prodigy. Pada usia 17 tahun, ia meraih gelar Grandmaster, dan pada tahun 1985, ia membuat sejarah dengan menjadi Juara Dunia Catur termuda sepanjang masa setelah mengalahkan Anatoly Karpov dalam sebuah pertandingan yang sangat intens. Kemenangan ini menandai awal dari era dominasi Kasparov dalam dunia catur, yang bertahan selama lebih dari dua dekade. Selama kariernya, Kasparov berhasil mempertahankan gelar Juara Dunia Catur selama 15 tahun, dari 1985 hingga 2000. Selama periode ini, ia dikenal karena pendekatan inovatif dan agresif dalam permainan, seringkali memperkenalkan strategi baru yang merevolusi cara permainan dimainkan. Karya-karyanya, seperti pertarungan catur melawan Karpov, bukan hanya sekadar pertandingan, tetapi juga menjadi studi kasus yang penting dalam strategi dan psikologi catur. Kasparov juga dikenal karena pertempurannya melawan komputer, khususnya pertandingan legendarisnya melawan IBM Deep Blue pada tahun 1996 dan 1997. Pada pertandingan pertama, Kasparov mengalahkan Deep Blue, tetapi dalam pertandingan balasan di tahun 1997, komputer tersebut berhasil mengalahkannya dalam sebuah pertandingan yang menarik perhatian global. Momen ini menandai salah satu titik puncak dalam sejarah interaksi antara manusia dan teknologi, menunjukkan bagaimana kecerdasan buatan mulai mempengaruhi dunia catur. Setelah pensiun dari catur profesional pada tahun 2005, Kasparov tidak hanya berhenti berinovasi. Ia beralih ke dunia politik dan penulisan, menjadi seorang aktivis politik dan penulis yang terkemuka. Kasparov menulis berbagai buku tentang politik, sejarah, dan catur, dan secara aktif terlibat dalam advokasi untuk demokrasi dan hak asasi manusia. Garry Kasparov adalah simbol dari intelektualitas dan strategi catur yang tak tertandingi. Dengan kecerdasan, dedikasi, dan inovasinya, ia telah meninggalkan jejak yang mendalam di dunia catur dan melampaui batasan olahraga itu sendiri. Namanya selalu dikenang sebagai salah satu pemain catur terbesar yang pernah ada, dan kontribusinya terus menginspirasi generasi baru pecatur di seluruh dunia.

 GARRY KASAPAROV MANUSIA YANG MENGALAHKAN KOMPUTER 


Garry Kasparov, lahir pada 13 April 1963 di Baku, Azerbaijan, adalah nama yang tak tertandingi dalam dunia catur. Terkenal karena kejeniusan strategis dan kemampuan taktisnya, Kasparov tidak hanya mendominasi papan catur, tetapi juga mengubah cara kita memandang permainan catur modern. 



Kasparov mulai dikenal sejak usia muda sebagai seorang prodigy. Pada usia 17 tahun, ia meraih gelar Grandmaster, dan pada tahun 1985, ia membuat sejarah dengan menjadi Juara Dunia Catur termuda sepanjang masa setelah mengalahkan Anatoly Karpov dalam sebuah pertandingan yang sangat intens. Kemenangan ini menandai awal dari era dominasi Kasparov dalam dunia catur, yang bertahan selama lebih dari dua dekade.


Selama kariernya, Kasparov berhasil mempertahankan gelar Juara Dunia Catur selama 15 tahun, dari 1985 hingga 2000. Selama periode ini, ia dikenal karena pendekatan inovatif dan agresif dalam permainan, seringkali memperkenalkan strategi baru yang merevolusi cara permainan dimainkan. Karya-karyanya, seperti pertarungan catur melawan Karpov, bukan hanya sekadar pertandingan, tetapi juga menjadi studi kasus yang penting dalam strategi dan psikologi catur.


Kasparov juga dikenal karena pertempurannya melawan komputer, khususnya pertandingan legendarisnya melawan IBM Deep Blue pada tahun 1996 dan 1997. Pada pertandingan pertama, Kasparov mengalahkan Deep Blue, tetapi dalam pertandingan balasan di tahun 1997, komputer tersebut berhasil mengalahkannya dalam sebuah pertandingan yang menarik perhatian global. Momen ini menandai salah satu titik puncak dalam sejarah interaksi antara manusia dan teknologi, menunjukkan bagaimana kecerdasan buatan mulai mempengaruhi dunia catur.


Setelah pensiun dari catur profesional pada tahun 2005, Kasparov tidak hanya berhenti berinovasi. Ia beralih ke dunia politik dan penulisan, menjadi seorang aktivis politik dan penulis yang terkemuka. Kasparov menulis berbagai buku tentang politik, sejarah, dan catur, dan secara aktif terlibat dalam advokasi untuk demokrasi dan hak asasi manusia. 


Garry Kasparov adalah simbol dari intelektualitas dan strategi catur yang tak tertandingi. Dengan kecerdasan, dedikasi, dan inovasinya, ia telah meninggalkan jejak yang mendalam di dunia catur dan melampaui batasan olahraga itu sendiri. Namanya selalu dikenang sebagai salah satu pemain catur terbesar yang pernah ada, dan kontribusinya terus menginspirasi generasi baru pecatur di seluruh dunia.

𝗝𝗶𝗸𝗮 𝗥𝗮𝗷𝗮/𝗸𝗲𝗿𝗮𝗯𝗮𝘁 𝗿𝗮𝗷𝗮 𝘄𝗮𝗳𝗮𝘁 (𝗹𝗲𝗹𝗮𝘆𝘂) Berdasarkan Babad Alit (1921) Jika ada yang wafat dari Surakarta maka harus dibawa dengan kereta api khusus (𝘬ê𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘴ê𝘱𝘶𝘳𝘢𝘬ê𝘯 𝘮𝘪𝘳𝘶𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯/𝘦𝘹𝘵𝘳𝘢𝘵𝘳𝘦𝘪𝘯) Turun di setasiun Lempuyangan (𝘮ê𝘥𝘩𝘢𝘬𝘪𝘱𝘶𝘯 𝘸𝘰𝘯𝘵ê𝘯 𝘪𝘯𝘨 𝘴ê𝘵𝘢𝘵𝘴𝘪𝘶𝘯 𝘕. 𝘐. 𝘚. 𝘪𝘯𝘨 𝘓ê𝘮𝘱𝘶𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯) dijemput para abdi dalêm yang bertugas di Yogyakarta (𝘬𝘢𝘱ê𝘵𝘩𝘶𝘬 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘢𝘣𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭ê𝘮 𝘪𝘯𝘨 𝘕𝘨𝘢𝘺𝘰𝘨𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘪 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴𝘪𝘴𝘪𝘳𝘢𝘯/ 𝘬𝘢𝘣ê𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘨𝘢𝘥𝘩𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘮𝘱𝘢𝘩 𝘯𝘢𝘨𝘢𝘳𝘪). Setelah itu lalu menuju ke Kotagede (𝘭𝘢𝘫ê𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘩𝘢𝘵ê𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘳𝘦𝘢𝘯 𝘗𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘎ê𝘥𝘩𝘦) * diinapkan semalam (𝘪𝘯𝘨 𝘯𝘨𝘳𝘪𝘬𝘶 𝘯𝘺𝘢𝘳é 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘭𝘶). Pagi harinya lalu diberangkatkan ke Imogiri (𝘦𝘯𝘫𝘪𝘯𝘨𝘪𝘱𝘶𝘯 𝘭𝘢𝘫ê𝘯𝘨 𝘵ê𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘩𝘢𝘵ê𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘳𝘦𝘢𝘯 𝘐𝘮𝘢𝘨𝘪𝘳𝘪). Untuk tatacaranya ada perbedaan antara Surakarta dan Yogya (𝘔ê𝘯𝘨𝘨𝘢𝘩 𝘶𝘱𝘢𝘳ê𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘺𝘰𝘯, 𝘱𝘶𝘯𝘪𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘺𝘰𝘯 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘯𝘨 𝘕𝘨𝘢𝘺𝘰𝘨𝘺𝘢). Lelayu dari Surakarta (jenazah) dimasukkan peti seperti cara bangsa belanda, dan memakai kereta yg dihias indah (𝘠è𝘯 𝘭𝘢𝘺𝘰𝘯 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘯𝘨 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘬𝘢𝘳𝘵𝘢, 𝘱𝘶𝘯𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘱ê𝘵𝘩𝘪 𝘬𝘢𝘥𝘰𝘴𝘥𝘦𝘯𝘦 𝘭𝘢𝘺𝘰𝘯𝘦 𝘣ă𝘯𝘨𝘴𝘢 𝘞𝘢𝘭𝘢𝘯𝘥𝘪, 𝘴𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘮𝘢𝘸𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘵𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘪𝘯𝘢𝘫𝘢𝘯𝘨-𝘱𝘢𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘱è𝘯𝘪). Sedangkan lelayu dari Yogya -walau pun yang meninggal sinuhun masih memakai cara jawa lama (𝘔𝘢𝘯𝘢𝘸𝘪 𝘭𝘢𝘺𝘰𝘯 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘯𝘨 𝘕𝘨𝘢𝘺𝘰𝘨𝘺𝘢, 𝘴𝘢𝘯𝘢𝘫𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘺𝘰𝘯𝘪𝘱𝘶𝘯 𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘪𝘯𝘶𝘩𝘶𝘯, 𝘵𝘢𝘬𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘳è𝘴 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘑𝘢𝘸𝘪 𝘬𝘪𝘯𝘢)** Katrangan : *) rute di Surakarta adalah kraton - alun2 kidul - gapura gadhing - belok kanan/ke barat menuju Stasiun Balapan Dari Lempuyangan Yogya lewat Stasiun weg (jln lempuyangan) sampai perempatan Juminahan/Bausasran - Kauman Pakualaman (jln gajahmada) lalu depan Pakualaman belok Sentul ke Gevangenis laan (jln tamansiswa) hingga perempatan tungkak/lowanu ke kiri Sidikan ke selatan Tegal Gendu - Mondorakan - Makam Kotagede. **) cara jawi kinå maksudnya tidak dimasukkan peti tetapi bandosa untuk membawa ke imogiri lalu jenazah dimakamkan

 𝗝𝗶𝗸𝗮 𝗥𝗮𝗷𝗮/𝗸𝗲𝗿𝗮𝗯𝗮𝘁 𝗿𝗮𝗷𝗮 𝘄𝗮𝗳𝗮𝘁 (𝗹𝗲𝗹𝗮𝘆𝘂)

Berdasarkan Babad Alit (1921)



Jika ada yang wafat dari Surakarta maka harus dibawa dengan kereta api khusus 

(𝘬ê𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘴ê𝘱𝘶𝘳𝘢𝘬ê𝘯 𝘮𝘪𝘳𝘶𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯/𝘦𝘹𝘵𝘳𝘢𝘵𝘳𝘦𝘪𝘯)


Turun di setasiun Lempuyangan 

(𝘮ê𝘥𝘩𝘢𝘬𝘪𝘱𝘶𝘯 𝘸𝘰𝘯𝘵ê𝘯 𝘪𝘯𝘨 𝘴ê𝘵𝘢𝘵𝘴𝘪𝘶𝘯 𝘕. 𝘐. 𝘚. 𝘪𝘯𝘨 𝘓ê𝘮𝘱𝘶𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯)


dijemput para abdi dalêm yang bertugas di Yogyakarta (𝘬𝘢𝘱ê𝘵𝘩𝘶𝘬 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘢𝘣𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭ê𝘮 𝘪𝘯𝘨 𝘕𝘨𝘢𝘺𝘰𝘨𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘪 𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴𝘪𝘴𝘪𝘳𝘢𝘯/ 𝘬𝘢𝘣ê𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘨𝘢𝘥𝘩𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘮𝘱𝘢𝘩 𝘯𝘢𝘨𝘢𝘳𝘪). 


Setelah itu lalu menuju ke Kotagede 

(𝘭𝘢𝘫ê𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘩𝘢𝘵ê𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘳𝘦𝘢𝘯 𝘗𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘎ê𝘥𝘩𝘦) * 


diinapkan semalam (𝘪𝘯𝘨 𝘯𝘨𝘳𝘪𝘬𝘶 𝘯𝘺𝘢𝘳é 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘭𝘶).


Pagi harinya lalu diberangkatkan ke Imogiri  

(𝘦𝘯𝘫𝘪𝘯𝘨𝘪𝘱𝘶𝘯 𝘭𝘢𝘫ê𝘯𝘨 𝘵ê𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘩𝘢𝘵ê𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘳𝘦𝘢𝘯 𝘐𝘮𝘢𝘨𝘪𝘳𝘪).


Untuk tatacaranya ada perbedaan antara Surakarta dan Yogya 

(𝘔ê𝘯𝘨𝘨𝘢𝘩 𝘶𝘱𝘢𝘳ê𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘺𝘰𝘯, 𝘱𝘶𝘯𝘪𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘺𝘰𝘯 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘯𝘨 𝘕𝘨𝘢𝘺𝘰𝘨𝘺𝘢).


Lelayu dari Surakarta (jenazah) dimasukkan peti seperti cara bangsa belanda, dan memakai kereta yg dihias indah 

(𝘠è𝘯 𝘭𝘢𝘺𝘰𝘯 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘯𝘨 𝘚𝘶𝘳𝘢𝘬𝘢𝘳𝘵𝘢, 𝘱𝘶𝘯𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘱ê𝘵𝘩𝘪 𝘬𝘢𝘥𝘰𝘴𝘥𝘦𝘯𝘦 𝘭𝘢𝘺𝘰𝘯𝘦 𝘣ă𝘯𝘨𝘴𝘢 𝘞𝘢𝘭𝘢𝘯𝘥𝘪, 𝘴𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘮𝘢𝘸𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘵𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘪𝘯𝘢𝘫𝘢𝘯𝘨-𝘱𝘢𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘱è𝘯𝘪).


Sedangkan lelayu dari Yogya -walau pun yang meninggal sinuhun masih memakai cara jawa lama (𝘔𝘢𝘯𝘢𝘸𝘪 𝘭𝘢𝘺𝘰𝘯 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘯𝘨 𝘕𝘨𝘢𝘺𝘰𝘨𝘺𝘢, 𝘴𝘢𝘯𝘢𝘫𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘺𝘰𝘯𝘪𝘱𝘶𝘯 𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘪𝘯𝘶𝘩𝘶𝘯, 𝘵𝘢𝘬𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘳è𝘴 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘑𝘢𝘸𝘪 𝘬𝘪𝘯𝘢)**


Katrangan :


*) rute di Surakarta adalah kraton - alun2 kidul - gapura gadhing - belok kanan/ke barat menuju Stasiun Balapan 


Dari Lempuyangan Yogya lewat Stasiun weg (jln lempuyangan) sampai perempatan Juminahan/Bausasran - Kauman Pakualaman (jln gajahmada) lalu depan Pakualaman belok Sentul ke Gevangenis laan (jln tamansiswa) hingga perempatan tungkak/lowanu ke kiri Sidikan ke selatan Tegal Gendu - Mondorakan - Makam Kotagede.


**) cara jawi kinå maksudnya tidak dimasukkan peti tetapi bandosa untuk membawa ke imogiri lalu jenazah dimakamkan

Profil 9 Istri Bung Karno

 Profil 9 Istri Bung Karno



Geger Sepehi adalah sebuah peristiwa sejarah yang menarik dan penuh makna, namun belum banyak dikenal luas, terutama di luar kalangan sejarawan. Berikut beberapa fakta unik tentang Geger Sepehi yang bisa kamu nikmati seperti menggali kisah lama dari balik kabut masa lalu: ⸻ 🔥 1. “Geger Sepehi” bukan sekadar kerusuhan Nama “Geger Sepehi” merujuk pada kerusuhan yang melibatkan pasukan Sepoy (Sepehi), yakni prajurit India yang bekerja untuk militer Inggris di Hindia Timur. Namun, istilah “geger” dalam bahasa Jawa mencerminkan betapa heboh dan gentingnya suasana saat itu—lebih dari sekadar kerusuhan, ini adalah momen kegemparan besar yang mengguncang. ⸻ 🪖 2. Terjadi di Yogyakarta pada 1812 Peristiwa ini meletus ketika pasukan Inggris yang dibantu oleh pasukan Sepehi menyerbu Keraton Yogyakarta. Ini adalah satu-satunya penyerbuan langsung terhadap keraton oleh kekuatan asing dalam sejarah Jawa. Dampaknya besar: Sultan Hamengkubuwono II dilengserkan, dan sistem kekuasaan Jawa dirombak. ⸻ 🇮🇳 3. Pasukan Sepehi adalah orang India! Sepehi atau Sepoy adalah prajurit India yang bertugas di bawah komando Inggris. Ironisnya, dalam Geger Sepehi, orang-orang India bertempur di tanah Jawa untuk kepentingan kolonial Inggris, menghadapi penguasa lokal Nusantara. ⸻ 🏰 4. Geger Sepehi jadi awal sistem “divide et impera” gaya Inggris Setelah penyerbuan, Inggris memecah kekuasaan di Yogyakarta menjadi beberapa bagian—mulai dari Kesultanan, Pakualaman, dan pengaruh langsung Inggris. Ini adalah cikal bakal strategi “pecah belah” yang dikenal luas dalam kolonialisme. ⸻ 🧨 5. Disulut oleh ketegangan antara Sultan dan Inggris Hubungan antara Sultan Hamengkubuwono II dan Inggris memanas karena Inggris ingin mengendalikan lebih banyak aspek pemerintahan. Ketegangan memuncak ketika Sultan dianggap membangkang, memicu serangan oleh Inggris. ⸻ 🧭 6. Thomas Stamford Raffles terlibat langsung Ya, Raffles—tokoh yang dikenal karena mendirikan Singapura—terlibat langsung dalam peristiwa ini. Ia memimpin misi politik dan militer untuk menaklukkan Yogyakarta dan mengubah tata kelola kerajaannya.

 Geger Sepehi adalah sebuah peristiwa sejarah yang menarik dan penuh makna, namun belum banyak dikenal luas, terutama di luar kalangan sejarawan. Berikut beberapa fakta unik tentang Geger Sepehi yang bisa kamu nikmati seperti menggali kisah lama dari balik kabut masa lalu:




🔥 1. “Geger Sepehi” bukan sekadar kerusuhan


Nama “Geger Sepehi” merujuk pada kerusuhan yang melibatkan pasukan Sepoy (Sepehi), yakni prajurit India yang bekerja untuk militer Inggris di Hindia Timur. Namun, istilah “geger” dalam bahasa Jawa mencerminkan betapa heboh dan gentingnya suasana saat itu—lebih dari sekadar kerusuhan, ini adalah momen kegemparan besar yang mengguncang.



🪖 2. Terjadi di Yogyakarta pada 1812


Peristiwa ini meletus ketika pasukan Inggris yang dibantu oleh pasukan Sepehi menyerbu Keraton Yogyakarta. Ini adalah satu-satunya penyerbuan langsung terhadap keraton oleh kekuatan asing dalam sejarah Jawa. Dampaknya besar: Sultan Hamengkubuwono II dilengserkan, dan sistem kekuasaan Jawa dirombak.



🇮🇳 3. Pasukan Sepehi adalah orang India!


Sepehi atau Sepoy adalah prajurit India yang bertugas di bawah komando Inggris. Ironisnya, dalam Geger Sepehi, orang-orang India bertempur di tanah Jawa untuk kepentingan kolonial Inggris, menghadapi penguasa lokal Nusantara.



🏰 4. Geger Sepehi jadi awal sistem “divide et impera” gaya Inggris


Setelah penyerbuan, Inggris memecah kekuasaan di Yogyakarta menjadi beberapa bagian—mulai dari Kesultanan, Pakualaman, dan pengaruh langsung Inggris. Ini adalah cikal bakal strategi “pecah belah” yang dikenal luas dalam kolonialisme.



🧨 5. Disulut oleh ketegangan antara Sultan dan Inggris


Hubungan antara Sultan Hamengkubuwono II dan Inggris memanas karena Inggris ingin mengendalikan lebih banyak aspek pemerintahan. Ketegangan memuncak ketika Sultan dianggap membangkang, memicu serangan oleh Inggris.



🧭 6. Thomas Stamford Raffles terlibat langsung


Ya, Raffles—tokoh yang dikenal karena mendirikan Singapura—terlibat langsung dalam peristiwa ini. Ia memimpin misi politik dan militer untuk menaklukkan Yogyakarta dan mengubah tata kelola kerajaannya.

MISTERI TOILET DUDUK KAYU YANG BERUSIA 3.700 TAHUN. Ketika Peradaban Minos Melampaui Zaman Bayangkan sebuah toilet duduk dari kayu dengan sistem pembilasan dan saluran pembuangan limbah yang sudah digunakan bukan di abad ke-19 atau ke-20, tetapi lebih dari 3.700 tahun yang lalu. Ini bukan fiksi ilmiah, melainkan kenyataan luar biasa dari Istana Knossos di Pulau Kreta, peninggalan peradaban Minos yang penuh misteri dan kejutan teknologi. Dibangun sekitar tahun 1700 SM, toilet ini bukan sekadar tempat buang air. Ia adalah simbol dari kecanggihan sanitasi kuno. Dudukan kayunya dirancang untuk kenyamanan, dan lebih hebat lagi, sistem pembilasannya bekerja dengan bantuan air yang dialirkan melalui jaringan pipa tanah liat yang terkoneksi langsung ke drainase istana. Yang lebih mencengangkan, sistem ini tidak hanya berfungsi untuk limbah, tapi juga menyatu dengan sistem distribusi air hujan dan air bersih. Ini berarti, orang Minos sudah memikirkan sistem daur ulang air dan sanitasi yang efisien ribuan tahun sebelum teknologi ini muncul di dunia modern. Penemuan ini bukan hanya bukti kecanggihan arsitektur, tetapi juga membuka mata kita bahwa peradaban kuno memiliki standar kebersihan dan pemahaman teknik yang sering kali diremehkan. Mereka bukan hanya bertahan hidup, tapi membangun kehidupan yang nyaman dan sehat dengan cara yang belum tentu bisa ditiru oleh semua peradaban setelahnya. Dalam sejarah teknologi sanitasi, toilet kayu dari Knossos adalah tonggak awal yang membuktikan bahwa inovasi sejati tak mengenal batas waktu. #sejarah #misteri #teknologikuno

 MISTERI TOILET DUDUK  KAYU YANG BERUSIA 3.700 TAHUN. 


Ketika Peradaban Minos Melampaui Zaman

Bayangkan sebuah toilet duduk dari kayu dengan sistem pembilasan dan saluran pembuangan limbah yang sudah digunakan bukan di abad ke-19 atau ke-20, tetapi lebih dari 3.700 tahun yang lalu. Ini bukan fiksi ilmiah, melainkan kenyataan luar biasa dari Istana Knossos di Pulau Kreta, peninggalan peradaban Minos yang penuh misteri dan kejutan teknologi.


Dibangun sekitar tahun 1700 SM, toilet ini bukan sekadar tempat buang air. Ia adalah simbol dari kecanggihan sanitasi kuno. Dudukan kayunya dirancang untuk kenyamanan, dan lebih hebat lagi, sistem pembilasannya bekerja dengan bantuan air yang dialirkan melalui jaringan pipa tanah liat yang terkoneksi langsung ke drainase istana.



Yang lebih mencengangkan, sistem ini tidak hanya berfungsi untuk limbah, tapi juga menyatu dengan sistem distribusi air hujan dan air bersih. Ini berarti, orang Minos sudah memikirkan sistem daur ulang air dan sanitasi yang efisien ribuan tahun sebelum teknologi ini muncul di dunia modern.


Penemuan ini bukan hanya bukti kecanggihan arsitektur, tetapi juga membuka mata kita bahwa peradaban kuno memiliki standar kebersihan dan pemahaman teknik yang sering kali diremehkan. Mereka bukan hanya bertahan hidup, tapi membangun kehidupan yang nyaman dan sehat dengan cara yang belum tentu bisa ditiru oleh semua peradaban setelahnya.


Dalam sejarah teknologi sanitasi, toilet kayu dari Knossos adalah tonggak awal yang membuktikan bahwa inovasi sejati tak mengenal batas waktu.


#sejarah

#misteri

#teknologikuno

Prajurit Sepoy "Prajurit Sepoy" merujuk pada tentara India yang direkrut oleh kekuatan kolonial, terutama oleh Perusahaan Hindia Timur Britania, selama abad ke-18 dan 19. Kata "sepoy" berasal dari kata Persia sipahi yang berarti prajurit. Beberapa poin penting tentang prajurit sepoy: 1. Peran dalam Kolonialisme: Sepoy memainkan peran penting dalam menjaga kekuasaan kolonial Inggris di India. Mereka direkrut dari berbagai wilayah di India dan dilatih dalam gaya militer Eropa. 2. Pemberontakan Sepoy 1857: Salah satu peristiwa paling terkenal yang melibatkan sepoy adalah Pemberontakan India 1857, juga dikenal sebagai Pemberontakan Sepoy. Ini adalah pemberontakan besar terhadap kekuasaan Perusahaan Hindia Timur, yang dipicu oleh ketidakpuasan luas terhadap perlakuan terhadap sepoy, termasuk isu pelanggaran terhadap praktik keagamaan dan budaya mereka. 3. Setelah Pemberontakan: Setelah pemberontakan 1857, kekuasaan Perusahaan Hindia Timur diambil alih langsung oleh Pemerintah Inggris, dan struktur militer, termasuk perekrutan sepoy, direformasi.

 Prajurit Sepoy


"Prajurit Sepoy" merujuk pada tentara India yang direkrut oleh kekuatan kolonial, terutama oleh Perusahaan Hindia Timur Britania, selama abad ke-18 dan 19. Kata "sepoy" berasal dari kata Persia sipahi yang berarti prajurit.



Beberapa poin penting tentang prajurit sepoy:


1. Peran dalam Kolonialisme: Sepoy memainkan peran penting dalam menjaga kekuasaan kolonial Inggris di India. Mereka direkrut dari berbagai wilayah di India dan dilatih dalam gaya militer Eropa.


2. Pemberontakan Sepoy 1857: Salah satu peristiwa paling terkenal yang melibatkan sepoy adalah Pemberontakan India 1857, juga dikenal sebagai Pemberontakan Sepoy. Ini adalah pemberontakan besar terhadap kekuasaan Perusahaan Hindia Timur, yang dipicu oleh ketidakpuasan luas terhadap perlakuan terhadap sepoy, termasuk isu pelanggaran terhadap praktik keagamaan dan budaya mereka.


3. Setelah Pemberontakan: Setelah pemberontakan 1857, kekuasaan Perusahaan Hindia Timur diambil alih langsung oleh Pemerintah Inggris, dan struktur militer, termasuk perekrutan sepoy, direformasi.

08 April 2025

Operasi Tahap VII Yonif Linud 328 1988/1989 di Sektor Timur. Berdasarkan Surat Telegram Dan Sektor 3, Yonif Linud 328 mendapatkan tugas melaksanakan penumpasan dan pengendapan di sekitar Vinilale, untuk itu Tim Alfa 2 bertindak sebagai Tim Penyerbu sementara Tim Alfa 3-9 dan kelompok Kompi Alfa mengadakan penutupan di ketinggian 1214 sampai dengan Kordinat 13904080. Kompi B melanjutkan pencarian dan penghancuran GPK di Uaimori, G. Ossoala dan mengeluarkan Tim Bravo 2 sebagai tim penyerbu, Tim Bravo 4 dan 6 sebagai penutup dalam operasi Hari Paskah di G. Lairubi Karvak 1440. Kompi C dengan Tim Cakra 4-9 melakukan penutupan sasaran G. Lairubi. Kompi Bantuan melanjutkan pencarian dan penghancuran GPK di daerah G. Builo Karvak 2230. Hasil yang dicapai dalampenugasan ini adalah Tim Alfa 2 dan Bravo 2 dengan kekuatan 15 orang dipimpin Lettu Sugeng Raharjo berhasil menyergap 6 orang bersenjata 4 pucuk bermacam jenis pada tanggal 25 Maret 1988 Jam 07.30 di ketinggian 631 daerah G. Lairubi. Kedua orang tersebut adalah Marshal yang jabatan sehari-harinya sebagai Komisaris Politik David Alex dan Martinho anggota GPK, selain itu berhasil dirampas 1 pucuk senjata G-3 berikut peluru sejumlah 25 butir. Sementara Letda Wagino yang memimpin Tim Cakra 3 dengan kekuatan 15 orang kontak tembak dengan GPK berkekuatan 10 orang bersenjata 4 pucuk di Karvak 2427, GPK berhasil meloloskan diri. SCAN : "KARYA JUANG BRIGIF LINUD 17 KUJANG I (1977-1996) Foto : scan Inside Indonesia 1994 #operasiseroja #davidalex #daitula #sejarahtimorleste

 Operasi Tahap VII Yonif Linud 328 1988/1989 di Sektor Timur.


 Berdasarkan Surat Telegram Dan Sektor 3, Yonif Linud 328 mendapatkan tugas melaksanakan penumpasan dan pengendapan di sekitar Vinilale, untuk itu Tim Alfa 2 bertindak sebagai Tim Penyerbu sementara Tim Alfa 3-9 dan kelompok Kompi Alfa mengadakan penutupan di ketinggian 1214 sampai dengan Kordinat 13904080. Kompi B melanjutkan pencarian dan penghancuran GPK di Uaimori, G. Ossoala dan

mengeluarkan Tim Bravo 2 sebagai tim penyerbu, Tim Bravo 4 dan 6 sebagai penutup dalam operasi Hari Paskah di G. Lairubi Karvak 1440. Kompi C dengan Tim Cakra 4-9 melakukan penutupan sasaran G. Lairubi. Kompi Bantuan melanjutkan pencarian dan penghancuran GPK di daerah G. Builo Karvak 2230. Hasil yang dicapai dalampenugasan ini adalah Tim Alfa 2 dan Bravo 2 dengan kekuatan 15 orang dipimpin Lettu Sugeng Raharjo berhasil menyergap 6 orang bersenjata 4 pucuk bermacam jenis pada tanggal 25 Maret 1988 Jam 07.30 di ketinggian 631 daerah G. Lairubi. Kedua orang tersebut adalah Marshal yang jabatan sehari-harinya sebagai Komisaris Politik David Alex dan Martinho anggota GPK, selain itu berhasil dirampas 1 pucuk senjata G-3 berikut peluru sejumlah 25 butir. Sementara Letda Wagino yang memimpin Tim Cakra 3 dengan kekuatan 15 orang kontak tembak dengan GPK berkekuatan 10 orang bersenjata 4 pucuk di Karvak 2427, GPK berhasil meloloskan diri.



SCAN : "KARYA JUANG BRIGIF LINUD 17 KUJANG I (1977-1996)

 Foto : scan Inside Indonesia 1994


#operasiseroja

#davidalex

#daitula

#sejarahtimorleste

Potret Kecelakaan lalu lintas di Surabaya antara mobil dan sepeda motor, sekitar tahun 1920-1930. Sumber foto : rijksmuseum.nl

 Potret Kecelakaan lalu lintas di Surabaya antara mobil dan sepeda motor, sekitar tahun 1920-1930.



Sumber foto : rijksmuseum.nl

Sebelum ditemukan mesin huller, untuk mengupas biji kopi dengan menggunakan mulut. Proses ini bisa dilakukan pada saat buah kopi baru dipetik dari pohonnya atau buah kopi basah. Seperti terlihat dalam foto yang diambil sekitar tahun 1910, para pekerja perkebunan kopi di Jawa Barat sedang mengupas biji kopi menggunakan mulut. Sumber foto : universiteitleiden.nl/KITLV

 Sebelum ditemukan mesin huller, untuk mengupas biji kopi dengan menggunakan mulut. 

Proses ini bisa dilakukan pada saat buah kopi baru dipetik dari pohonnya atau buah kopi basah.


Seperti terlihat dalam foto yang diambil sekitar tahun 1910, para pekerja perkebunan kopi di Jawa Barat sedang mengupas biji kopi menggunakan mulut.



Sumber foto : universiteitleiden.nl/KITLV

07 April 2025

Orang-orang Indo Di Kota Magelang Orang-orang Indo di Magelang banyak yang telah melakukan pernikahan secara resmi dan membentuk keluarga. Mereka menikah dengan laki-laki Eropa totok yang bekerja sebagai tentara atau pegawai pemerintah. Mereka juga memiliki rumah-rumah pribadi yang berada di kota di sekitar alun-alun kota atau dekat tangsi militer. Jumlah orang Indo di perkebunan menjadi yang paling sedikit di Magelang. Mereka adalah anak-anak orang Indo yang terpandang karena memiliki tanah yang luas.Anak-anak ini mendapat sekolah yang lebih baik dari anak-anak Indo yang lainnya. Sejak Magelang menjadi daerah kotapradja, pegawai pemerintah banyak yang dipegang oleh laki-laki Eropa dan Indo. Mereka disebut para ambtenaar. Anak-anak pegawai (ambtenaar) ini cukup banyak. Mereka juga lahir dari laki-laki Eropa dan perempuan bumiputera yang mendapat pendidikan memadai dan bekerja sebagai juru tulis, pemilik toko-toko dagang atau pelayan toko.Orang-orang yang duduk dalam pemerintahan cukup banyak. Orang-orang Eropa selalu mengisi jabatan-jabatan strategis. Di Magelang atau di kota-kota lainnya, pada dasarnya para ambtenaar yang berasal dari orang Eropa, bumiputera dan Tiongkok ini terbagi ke dalam dua wilayah pekerjaan, yaitu mereka yang bekerja untuk pemerintah (sipil) dan pegawai swasta. Mereka yang bekerja sebagai pegawai sipil bekerja untuk pemerintah Hindia Belanda yang bertugas sesuai birokrasi pemerintahan. Orang-orang Indo yang bekerja sebagai pegawai swasta banyak yang bekerja di bidang pariwisata. Mereka mendirikan toko-toko, hotel-hotel. Banyak diantara mereka yang bekerja menjadi pemandu wisata karena kemampuan bahasa Melayu dan Belanda sangat bagus.Sebagian dari mereka juga mampu berbahasa Inggris dengan baik. Orang-orang sipil bekerja di kantor-kantor pemerintahan bekerja sebagai residen, asisten residen, sekretaris, juru tulis dan kepala-kepala bagian yang mengepalai suatu badan tertentu. Dari catatan pengeluaran gaji bisa diketahui jabatan-jabatan yang diduduki orang-orang ini. Pada tahun 1930, orang-orang Eropa di kota Magelang banyak yang bekerja sebagai opas kantor (kantoor oppasser), pegawai kantor (persooneel), sekretaris (secretarie), komisaris (commisarie), ajudan komisaris (adjudant commisarie) dan komisaris besar (hoofd commisarie). Orang-orang Indo sipil ada yang bekerja dalam kemiliteran. Mereka yang hidup di dalam lingkungan tangsi adalah orang-orang militer. Jabatan tinggi dipegang oleh Eropa totok sementara jabatan di bawahnya dipegang oleh orang-orang Indo seperti juru tulis dan pengajar di dalam tangsi. Namun, orang-orang Indo justru lebih banyak dari istri-istri anggota militer dan anak-anaknya. Mereka membina keluarga di dalam maupun di luar tangsi. Mereka sebagian besar adalah para pendatang yang tinggal di kota Magelang selama masa tugasnya. source ; https://kotatoeamagelang.wordpress.com

 Orang-orang Indo Di Kota Magelang


Orang-orang Indo di Magelang banyak yang telah melakukan pernikahan secara resmi dan membentuk keluarga. Mereka menikah dengan laki-laki Eropa totok yang bekerja sebagai tentara atau pegawai pemerintah. Mereka juga memiliki rumah-rumah pribadi yang berada di kota di sekitar alun-alun kota atau dekat tangsi militer.



Jumlah orang Indo di perkebunan menjadi yang paling sedikit di Magelang. Mereka adalah anak-anak orang Indo yang terpandang karena memiliki tanah yang luas.Anak-anak ini mendapat sekolah yang lebih baik dari anak-anak Indo yang lainnya. Sejak Magelang menjadi daerah kotapradja, pegawai pemerintah banyak yang dipegang oleh laki-laki Eropa dan Indo. Mereka disebut para ambtenaar. 


Anak-anak pegawai (ambtenaar) ini cukup banyak. Mereka juga lahir dari laki-laki Eropa dan perempuan bumiputera yang mendapat pendidikan memadai dan bekerja sebagai juru tulis, pemilik toko-toko dagang atau pelayan toko.Orang-orang yang duduk dalam pemerintahan cukup banyak. Orang-orang Eropa selalu mengisi jabatan-jabatan strategis. 


Di Magelang atau di kota-kota lainnya, pada dasarnya para ambtenaar yang berasal dari orang Eropa, bumiputera dan Tiongkok ini terbagi ke dalam dua wilayah pekerjaan, yaitu mereka yang bekerja untuk pemerintah (sipil) dan pegawai swasta. Mereka yang bekerja sebagai pegawai sipil bekerja untuk pemerintah Hindia Belanda yang bertugas sesuai birokrasi pemerintahan.  


Orang-orang Indo yang bekerja sebagai pegawai swasta banyak yang bekerja di bidang pariwisata. Mereka mendirikan toko-toko, hotel-hotel. Banyak diantara mereka yang bekerja menjadi pemandu wisata karena kemampuan bahasa Melayu dan Belanda sangat bagus.Sebagian dari mereka juga mampu berbahasa Inggris dengan baik.


Orang-orang sipil bekerja di kantor-kantor pemerintahan bekerja sebagai residen, asisten residen, sekretaris, juru tulis dan kepala-kepala bagian yang mengepalai suatu badan tertentu. Dari catatan pengeluaran gaji bisa diketahui jabatan-jabatan yang diduduki orang-orang ini. Pada tahun 1930, orang-orang Eropa di kota Magelang banyak yang bekerja sebagai opas kantor (kantoor oppasser), pegawai kantor (persooneel), sekretaris (secretarie), komisaris (commisarie), ajudan komisaris (adjudant commisarie) dan komisaris besar (hoofd commisarie).


Orang-orang Indo sipil ada yang bekerja dalam kemiliteran. Mereka yang hidup di dalam lingkungan tangsi adalah orang-orang militer. Jabatan tinggi dipegang oleh Eropa totok sementara jabatan di bawahnya dipegang oleh orang-orang Indo seperti juru tulis dan pengajar di dalam tangsi. Namun, orang-orang Indo justru lebih banyak dari istri-istri anggota militer dan anak-anaknya. Mereka membina keluarga di dalam maupun di luar tangsi. Mereka  sebagian besar adalah para pendatang yang tinggal di kota Magelang selama masa tugasnya.


source ; https://kotatoeamagelang.wordpress.com

Seorang Pria Lokal Yang Bertugas Membawa Peralatan Radio Dan Prajurit Belanda Tengah Beristirahat Di Lahan Bebatuan Di Daerah Solo, Jawa Tengah Sekitar Tahun 1949 M.

 Seorang Pria Lokal Yang Bertugas Membawa Peralatan Radio Dan Prajurit Belanda Tengah Beristirahat Di Lahan Bebatuan Di Daerah Solo, Jawa Tengah Sekitar Tahun 1949 M.



Berikut adalah daftar jabatan atau gelar prajurit Keraton Yogyakarta yang dikenal dalam tradisi dan upacara kerajaan. Tiap kelompok prajurit memiliki pakaian, senjata, dan fungsi simbolik yang khas: Daftar Prajurit Keraton Yogyakarta: 1. Prajurit Wirobrojo Ciri khas: Seragam berwarna merah menyala. Posisi: Pengawal utama Sultan. Senjata: Senapan dan pedang. 2. Prajurit Dhaeng Asal-usul: Mewarisi nama dari prajurit Bugis-Makassar. Seragam: Kombinasi warna biru dan putih. Tugas: Pasukan elit berkarakter pemberani. 3. Prajurit Patangpuluh Nama berarti "empat puluh". Seragam dominan hitam. Tugas: Simbol jumlah kekuatan dan stabilitas. 4. Prajurit Jagakarya Fungsi: Menjaga keamanan lingkungan keraton. Seragam: Hitam dengan ikat kepala khas. 5. Prajurit Mantrijero Ciri: Seragam warna hijau tua. Tugas: Mengatur urusan internal dan upacara dalam keraton. 6. Prajurit Prawirotomo Fungsi: Pasukan pemberani yang tangguh. Seragam: Khas dengan hiasan perak. 7. Prajurit Surokarso Warna seragam: Abu-abu kebiruan. Ciri khas: Barisan rapi dan tertib. 8. Prajurit Surokarsan Saudara dari Surokarso secara simbolik. Seragam dan tugas mirip, namun berasal dari kamp khusus. 9. Prajurit Bugis Warisan prajurit asal Sulawesi Selatan. Seragam khas budaya Bugis. Simbol keberanian dan loyalitas. 10. Prajurit Ketanggung Seragam: Warna cokelat tua. Tugas: Menjaga dan bertugas dalam kegiatan ritual. 11. Prajurit Nyutra Dikenal sebagai pasukan halus dan disiplin. Seragam: Warna biru muda. Peran: Pendukung dalam barisan simbolik dan budaya. --- Setiap prajurit tampil dalam upacara penting seperti Grebeg, Sekaten, dan acara kenegaraan lainnya.

 Berikut adalah daftar jabatan atau gelar prajurit Keraton Yogyakarta yang dikenal dalam tradisi dan upacara kerajaan. Tiap kelompok prajurit memiliki pakaian, senjata, dan fungsi simbolik yang khas:



Daftar Prajurit Keraton Yogyakarta:


1. Prajurit Wirobrojo


Ciri khas: Seragam berwarna merah menyala.


Posisi: Pengawal utama Sultan.


Senjata: Senapan dan pedang.


2. Prajurit Dhaeng


Asal-usul: Mewarisi nama dari prajurit Bugis-Makassar.


Seragam: Kombinasi warna biru dan putih.


Tugas: Pasukan elit berkarakter pemberani.


3. Prajurit Patangpuluh


Nama berarti "empat puluh".


Seragam dominan hitam.


Tugas: Simbol jumlah kekuatan dan stabilitas.


4. Prajurit Jagakarya


Fungsi: Menjaga keamanan lingkungan keraton.


Seragam: Hitam dengan ikat kepala khas.


5. Prajurit Mantrijero


Ciri: Seragam warna hijau tua.


Tugas: Mengatur urusan internal dan upacara dalam keraton.


6. Prajurit Prawirotomo


Fungsi: Pasukan pemberani yang tangguh.


Seragam: Khas dengan hiasan perak.


7. Prajurit Surokarso


Warna seragam: Abu-abu kebiruan.


Ciri khas: Barisan rapi dan tertib.


8. Prajurit Surokarsan


Saudara dari Surokarso secara simbolik.


Seragam dan tugas mirip, namun berasal dari kamp khusus.


9. Prajurit Bugis


Warisan prajurit asal Sulawesi Selatan.


Seragam khas budaya Bugis.


Simbol keberanian dan loyalitas.


10. Prajurit Ketanggung


Seragam: Warna cokelat tua.


Tugas: Menjaga dan bertugas dalam kegiatan ritual.


11. Prajurit Nyutra


Dikenal sebagai pasukan halus dan disiplin.


Seragam: Warna biru muda.


Peran: Pendukung dalam barisan simbolik dan budaya.


---


Setiap prajurit tampil dalam upacara penting seperti Grebeg, Sekaten, dan acara kenegaraan lainnya.

06 April 2025

Prajurit KNIL Belanda tengah berbincang dengan warga setempat di Magelang, Desember 1948 | Spaarnestad photo | #sejarah #jejakkolonial #nostalgianusantara #sejarahindonesia

 Prajurit KNIL Belanda tengah berbincang dengan warga setempat di Magelang, Desember 1948 | Spaarnestad photo |  #sejarah #jejakkolonial #nostalgianusantara #sejarahindonesia #sejarahbangsaku



PANGLIMA TIBANG Panglima Tibang Muhammad adalah bangsawan Aceh yang dalam sejarah perang Aceh dianggap sebagai penghianat. Sebenarnya Panglima Tibang bukanlah orang Aceh asli, melainkan seorang imigran yang datang dari Lahore(sekarang wilayah di Pakistan) yang bernama Ramasamy. Ramasamy berhasil masuk dilingkungan istana Kesultanan Aceh Darussalam berkat keahlihannya sebagai seorang Dekorator dan pemain sulap. Dia berhasil menjadi orang kepercayaan Sultan Mahmud Alauddin Syah(Sultan Aceh Darussalam pada saat itu) dan mengangkatnya menjadi Panglima pelabuhan Aceh dengan gelar Teuku Panglima Tibang Muhammad. Panglima Tibang dianggap berkhianat karena telah membocorkan rencana Kesultanan Aceh yang meminta bantuan Amerika dan Italia kepada pihak Belanda. Ada juga yang menyebutkan penghianatan Panglima Tibang karena konflik politik dengan Perdana Menteri Kerajaan Aceh Habib Abdurrahman el Zahir. Seperti halnya Panglima Tibang, Habib Abdurrahman juga bukan orang Aceh asli, tapi imigran yang berasal dari Malabar India. Habib Abdurrahman el Zahir masih mempunyai keturunan keluarga Hadhrami yang berasal dari Sadah Alawiyyin yang merupakan bagian dari tarekat Alawiyah atau Ba'Alawi. Habib Abdurrahman el Zahir bersama tokoh Aceh yang lainnya memimpin perlawanan Aceh melawan invansi kolonial Belanda. Namum pada akhir karirnya di Aceh, Habib Abdurrahman el Zahir juga dicap sebagai penghianat oleh pejuang Aceh karena menyerahkan diri kepada pemerintah kolonial Belanda. Sumber foto : wereldmuseum.nl Sumber narasi : acehinfo.id wikipedia.org https://www.lintasatjeh.com/2015/07/kisah-pengkhianatan-pang-tibang.html https://steemit.com/esteem/@radiosbsfm/pang-tibang

 PANGLIMA TIBANG

Panglima Tibang Muhammad adalah bangsawan Aceh yang dalam sejarah perang Aceh dianggap sebagai penghianat.


Sebenarnya Panglima Tibang bukanlah orang Aceh asli, melainkan seorang imigran yang datang dari Lahore(sekarang wilayah di Pakistan) yang bernama Ramasamy.


Ramasamy berhasil masuk dilingkungan istana Kesultanan Aceh Darussalam berkat keahlihannya sebagai seorang Dekorator dan pemain sulap.

Dia berhasil menjadi orang kepercayaan Sultan Mahmud Alauddin Syah(Sultan Aceh Darussalam pada saat itu) dan mengangkatnya menjadi Panglima pelabuhan Aceh dengan gelar Teuku Panglima Tibang Muhammad.


Panglima Tibang dianggap berkhianat karena telah membocorkan rencana Kesultanan Aceh yang meminta b


antuan Amerika dan Italia kepada pihak Belanda.


Ada juga yang menyebutkan penghianatan Panglima Tibang karena konflik politik dengan  Perdana Menteri Kerajaan Aceh Habib Abdurrahman el Zahir.


Seperti halnya Panglima Tibang,  Habib Abdurrahman juga bukan orang Aceh asli, tapi imigran yang berasal dari Malabar India.


Habib Abdurrahman el Zahir masih mempunyai keturunan keluarga Hadhrami yang berasal dari Sadah Alawiyyin yang merupakan bagian dari tarekat Alawiyah atau Ba'Alawi. 


Habib Abdurrahman el Zahir bersama tokoh Aceh yang lainnya memimpin perlawanan Aceh melawan invansi kolonial Belanda. 


Namum pada akhir karirnya di Aceh, Habib Abdurrahman el Zahir juga dicap sebagai penghianat oleh pejuang Aceh karena menyerahkan diri kepada pemerintah kolonial Belanda.


Sumber foto : wereldmuseum.nl

Sumber narasi : 

acehinfo.id

wikipedia.org

https://www.lintasatjeh.com/2015/07/kisah-pengkhianatan-pang-tibang.html

https://steemit.com/esteem/@radiosbsfm/pang-tibang

05 April 2025

KAREL VAN DER HEIJDEN Karel Van der Heijden adalah Gubernur Militer Hindia Belanda wilayah Aceh yang bertugas tahun 1878 sampai tahun 1881. Karel Van der Heijden dijuluki sebagai Jenderal Mata Satu, karena mata sebelah kirinya terkena peluru pejuang Aceh saat ditugaskan memimpin pasukan merebut daerah Samalanga pada tahun 1877. Karir militernya di Aceh membuat dirinya kemudian ditunjuk menjadi Gubernur Militer Aceh dengan pangkat Mayor Jenderal. Namun selama 3 tahun kepemimpinannya, Karel dianggap tidak mampu menundukan Aceh dan dituduh melakukan pemborosan yang merugikan pemerintah kolonial Belanda, sehingga pada tahun 1881 Gubernur Jendral Hindia Belanda memintanya untuk mundur dari jabatannya. Teungku Syik Kutakarang seorang ulama Aceh dalam kitabnya Tadzkiratur Rakidin menyebutkan bahwa pada masa Jenderal Van De Heijden menjabat sebagai Gubernur Militer di Aceh, keadaan di Aceh relatif baik, tensi perang agak menurun. Abdul Kariam alias Dokarim penulis hikayat Prang Kompeuni Sumber menyebutkan, pada masa Jeundran buta siblah (julukan rakyat Aceh untuk Karel Van Der Hejden) banyak pejuang Aceh yang berada di hutan kembali ke rumahnya masing masing dan hidup seperti tidak dalam suasana perang. Keadaan Aceh seperti dalam keadaan masa tenang selama militer kolonial Belanda di Aceh dipimpin oleh Karel Van de Heijden, sehingga banyak pejuang Aceh menaruh rasa hormat kepada Jenderal bermata satu tersebut, karena setelah Karel Van de Heijden dipecat dari Aceh, tensi perang kembali bergejolak dan semakin memanas. Christiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah kolonial untuk pribumi yang kemudian ditugaskan ke Aceh sempat mempelajari masa kepemimpinan Karel saat di Aceh dan menyimpulkan bahwa rakyat Aceh tidak akan bisa ditundukan dengan kekerasan. Lalu siapa sebenarnya Karel Van de Heijden ini ? Konon Karel Van de Heijden adalah seorang Indo kelahiran Batavia. Saat masih kecil Karel diadopsi oleh keluarga Van de Heijden. Orangtua Karel adalah seorang perwira KNIL Belanda yang menjalin hubungan asmara dengan wanita Bugis saat ditugaskan di Bone Sulawesi.

 KAREL VAN DER HEIJDEN

Karel Van der Heijden adalah Gubernur Militer Hindia Belanda wilayah Aceh yang bertugas tahun 1878 sampai tahun 1881.



Karel Van der Heijden dijuluki sebagai Jenderal Mata Satu, karena mata sebelah kirinya terkena peluru pejuang Aceh saat ditugaskan memimpin pasukan merebut daerah Samalanga pada tahun 1877.


Karir militernya di Aceh membuat dirinya kemudian ditunjuk menjadi Gubernur Militer Aceh dengan pangkat Mayor Jenderal.


Namun selama 3 tahun kepemimpinannya, Karel dianggap tidak mampu menundukan Aceh dan dituduh melakukan pemborosan yang merugikan pemerintah kolonial Belanda, sehingga pada tahun 1881 Gubernur Jendral Hindia Belanda memintanya untuk mundur dari jabatannya.


Teungku Syik Kutakarang seorang ulama Aceh dalam kitabnya Tadzkiratur Rakidin menyebutkan bahwa pada masa  Jenderal Van De Heijden menjabat sebagai Gubernur Militer di Aceh, keadaan di Aceh relatif baik, tensi perang agak menurun. 


Abdul Kariam alias Dokarim penulis hikayat Prang Kompeuni Sumber menyebutkan, pada masa Jeundran buta siblah (julukan rakyat Aceh untuk Karel Van Der Hejden) banyak pejuang Aceh yang berada di hutan kembali ke rumahnya masing masing dan hidup seperti tidak dalam suasana perang.

Keadaan Aceh seperti dalam keadaan masa tenang selama militer kolonial Belanda di Aceh dipimpin oleh Karel Van de Heijden, sehingga banyak pejuang Aceh menaruh rasa hormat kepada Jenderal bermata satu tersebut, karena setelah Karel Van de Heijden dipecat dari Aceh, tensi perang kembali bergejolak dan semakin memanas.


Christiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah kolonial untuk pribumi yang kemudian ditugaskan ke Aceh sempat mempelajari masa kepemimpinan Karel saat di Aceh dan menyimpulkan bahwa rakyat Aceh tidak akan bisa ditundukan dengan kekerasan.


Lalu siapa sebenarnya Karel Van de Heijden ini ?

Konon Karel Van de Heijden adalah seorang Indo kelahiran Batavia.

Saat masih kecil Karel diadopsi oleh keluarga Van de Heijden.

Orangtua Karel adalah seorang perwira KNIL Belanda yang menjalin hubungan asmara dengan wanita Bugis saat ditugaskan di Bone Sulawesi.

Ki Hadi Sugito (1942-2008) adalah seorang dalang wayang kulit terkenal dari Kulon Progo, Yogyakarta. Ia dikenal karena kemampuannya dalam bercanda dan guyonan yang orisinal. Keunikan Ki Hadi Sugito : ~ Tidak menggunakan basa krama yang terlalu tinggi sehingga banyak disukai kawula muda ~ Menguasai semua unsur pakeliran atau pertunjukan wayang, seperti gedhog, suluk, catur, banyol, dan gending ~ Suara yang ajeg atau stabil dan konsisten walaupun pertunjukan wayang memerlukan waktu berjam-jam lamanya ~ Mampu lucu, nyeleneh tetapi tidak pernah kehilangan wibawa Penghargaan : Pada tahun 2014, Ki Hadi Sugito bersama Ki Timbul Hadiprayitno mendapatkan gelar "Maestro Seni Pedhalangan" dari Dinas Kebudayaan Taman Budaya Yogyakarta.

 Ki Hadi Sugito (1942-2008) adalah seorang dalang wayang kulit terkenal dari Kulon Progo, Yogyakarta. Ia dikenal karena kemampuannya dalam bercanda dan guyonan yang orisinal.



Keunikan Ki Hadi Sugito :

~ Tidak menggunakan basa krama yang terlalu tinggi sehingga banyak disukai kawula muda 

~ Menguasai semua unsur pakeliran atau pertunjukan wayang, seperti gedhog, suluk, catur, banyol, dan gending 

~ Suara yang ajeg atau stabil dan konsisten walaupun pertunjukan wayang memerlukan waktu berjam-jam lamanya 

~ Mampu lucu, nyeleneh tetapi tidak pernah kehilangan wibawa


Penghargaan :

Pada tahun 2014, Ki Hadi Sugito bersama Ki Timbul Hadiprayitno mendapatkan gelar "Maestro Seni Pedhalangan" dari Dinas Kebudayaan Taman Budaya Yogyakarta.

Sutradara film Usmar Ismail menemukan bakat bintang film pada seorang gadis yang waktu itu menjadi peserta Lomba Ratu Kebaya Domas di Bandung pada tahun 1970. Gadis yang biasa dipanggil Nonon tersebut pada saat itu masih berusia 16 tahun, mungkin masih duduk dibangku SMA kelas satu. Sang sutradara akhirnya melakukan casting terhadap Nonon untuk menjadikannya sebagai pemeran utama dalam film 'Ananda' yang juga dibintangi oleh Mieke Wijaya pada tahun 1970. Berkat peran pertamanya dalam film tersebut, Nonon mendapat gelar Pendatang Baru Terbaik Asian Film Festival di Malaysia pada tahun 1971. Karirnya akhirnya melejit dengan membintangi beberapa film di tanah air. Artis yang oleh orang Bandung dijuluki 'Si Lenny dari Ciateul' ini berhenti dari dunia entertain setelah menikah dengan politikus Bambang W. Suharto.

 Sutradara film Usmar Ismail menemukan bakat bintang film pada seorang gadis yang waktu itu menjadi peserta Lomba Ratu Kebaya Domas di Bandung pada tahun 1970.



Gadis yang biasa dipanggil Nonon tersebut pada saat itu masih berusia 16 tahun, mungkin masih duduk dibangku SMA kelas satu.


Sang sutradara akhirnya melakukan casting terhadap Nonon untuk menjadikannya sebagai pemeran utama dalam film 'Ananda' yang juga dibintangi oleh Mieke Wijaya pada tahun 1970.


Berkat peran pertamanya dalam film tersebut, Nonon mendapat gelar Pendatang Baru Terbaik Asian Film Festival di Malaysia pada tahun 1971.


Karirnya akhirnya melejit dengan membintangi beberapa film di tanah air.


Artis yang oleh orang Bandung dijuluki 'Si Lenny dari Ciateul' ini berhenti dari dunia entertain setelah menikah dengan politikus Bambang W. Suharto.

04 April 2025

Potret 5 Raja kerajaan yang ada di pulau Flores Nusa Tenggara Timur sekitar tahun 1915. 5 kerajaan tersebut adalah kerajaan Larantuka, kerajaan Sikka, kerajaan Nita, kerajaan Kangae dan kerajaan Lio. Kerajaan kerajaan tersebut dulu merupakan koloni Portugis yang berhasil direbut oleh Belanda. Koloni Portugis lainnya yang berhasil direbut oleh Belanda adalah Timor Barat. Seandainya wilayah2 tersebut tidak direbut oleh Belanda dan tetap menjadi koloni Portugis, kemungkinan sejarah selanjutnya seperti Timor Timur yang say goodby dengan Indonesia. Sumber foto : universiteitleiden.nl/KITLV

 Potret 5 Raja kerajaan yang ada di pulau Flores Nusa Tenggara Timur sekitar tahun 1915.

5 kerajaan tersebut adalah kerajaan Larantuka, kerajaan Sikka, kerajaan Nita, kerajaan Kangae dan kerajaan Lio.


Kerajaan kerajaan tersebut dulu merupakan koloni Portugis yang berhasil direbut oleh Belanda.


Koloni Portugis lainnya yang berhasil direbut oleh Belanda adalah Timor Barat.


Seandainya wilayah2 tersebut tidak direbut oleh Belanda dan tetap menjadi koloni Portugis, kemungkinan sejarah selanjutnya seperti Timor Timur yang say goodby dengan Indonesia.



Sumber foto : universiteitleiden.nl/KITLV

Hotel Loze. Magelang. Pulau Jawa, sekitar tahun 1910 Hotel Loze. Magelang. Java, ca 1910

 Hotel Loze. Magelang. Pulau Jawa, sekitar tahun 1910


Hotel Loze. Magelang. Java, ca 1910




Sumber : Bintoro Hoepoedio

PENANGKAPAN PANGERAN DIPONEGORO DALAM DUA VERSI PERINGATAN 195 TAHUN BERAKHIRNYA PERANG JAWA Pernah tidak kita perhatiin ada 2 lukisan tentang saat Pangeran Diponegoro " ditangkap". Ya ada 2 lukisan tentang kisah itu yang beredar selama ini. Lukisan atas adalah karya pelukis Raden Saleh Bustaman yang diberi judul " Penangkapan Pangeran Diponegoro", sedang lukisan bawah adalah lukisan yang diberi judul "Penyerahan Diri Pangeran Diponegoro" karya pelukis Belanda Nicolaas Pieneman. Yang jarang kita perhatikan adalah cara detail kedua pelukis itu dalam menggambarkan liciknya Belanda dalam menjebak pimpinan perang Jawa ini. Pieneman melukis Penyerahan Diri Diponegoro pada tahun 1835, atas pesanan Jenderal De Kock saat jenderal itu sudah kembali ke Belanda, sebagai semacam tanda keberhasilan karir militernya menumpas Perang Jawa. Raden Saleh gusar melihat bagaimana sosok Pangeran Diponegoro digambarkan sebagai pihak yang pasrah dan kalah. Maka sekembalinya Raden Saleh ke tanah Jawa, ia mengumpulkan informasi tentang hari penangkapan itu dari kerabat-kerabat Pangeran Diponegoro. Ia melukis penangkapan Sang Pangeran versinya, dua dekade setelah lukisan Pieneman dibuat. Dua lukisan ini memang menceritakan satu peristiwa yang sama, namun dari dua sudut pandang yang jauh berbeda. Kalau kita simak, banyak detil yang menarik untuk dibandingkan. Dalam lukisan Pieneman Pangeran Diponegoro digambarkan berdiri di anak tangga yang posisinya lebih rendah dari Jenderal De Kock, dengan wajah lelah dan kedua tangan terentang seolah menyerah. Beberapa prajuritnya duduk bersimpuh tertunduk, lesu. Tombak-tombak mereka tergeletak di tanah sebagai tanda penyerahan diri. Sementara itu Jenderal De Kock bertolak pinggang dengan ekspresi jumawa. Di latar belakangnya bendera kebangsaan Belanda berkibar gagah. Begitulah peristiwa itu dilihat dari mata bangsa Belanda. Sedangkan Raden Saleh tidak memandang kejadian itu sebagai penyerahan diri. Sesungguhnya, Pangeran Diponegoro memang tidak pernah menyerah kalah. Ia ditangkap melalui tipu muslihat. Kolonel Cleerens, atas perintah Jenderal De Kock, membujuk Sang Pangeran untuk datang ke sebuah perundingan damai di gedung Karesidenan Magelang, yang ternyata jebakan belaka. Karena itulah dalam lukisannya " Penangkapan Pangeran Diponegoro", Raden Saleh melukiskan Sang Pangeran, meski perjuangannya dipatahkan hari itu, tidak pernah mengalah dengan mudah. Ia tetap berdiri dengan kepala tegak dan raut wajah berapi-api, sejajar di hadapan Jenderal De Kock. Pangeran dan para pengikutnya tidak membawa senjata karena mereka memang datang dengan niat baik menyambut tawaran Belanda yang meminta gencatan senjata. Konon mereka tiba tanpa persenjataan juga karena saat itu sedang Idul Fitri bulan yang pantang untuk berperang. Tepat hari ini 195 tahun Berakhirnya Perang Jawa Beny Rusmawan

 PENANGKAPAN PANGERAN DIPONEGORO

DALAM DUA VERSI

PERINGATAN 195 TAHUN BERAKHIRNYA PERANG JAWA


Pernah tidak kita perhatiin ada 2 lukisan tentang saat Pangeran Diponegoro " ditangkap".


Ya ada 2 lukisan tentang kisah itu yang beredar selama ini.


Lukisan atas adalah karya pelukis Raden Saleh Bustaman yang diberi judul " Penangkapan Pangeran Diponegoro", sedang lukisan bawah adalah lukisan yang diberi judul "Penyerahan Diri Pangeran Diponegoro" karya pelukis Belanda Nicolaas Pieneman.



Yang jarang kita perhatikan adalah cara detail kedua pelukis itu dalam menggambarkan liciknya Belanda dalam menjebak pimpinan perang Jawa ini.


Pieneman melukis Penyerahan Diri Diponegoro pada tahun 1835, atas pesanan Jenderal De Kock saat jenderal itu sudah kembali ke Belanda, sebagai semacam tanda keberhasilan karir militernya menumpas Perang Jawa. 


Raden Saleh gusar melihat bagaimana sosok Pangeran Diponegoro digambarkan sebagai pihak yang pasrah dan kalah.


Maka sekembalinya Raden Saleh ke tanah Jawa, ia mengumpulkan informasi tentang hari penangkapan itu dari kerabat-kerabat Pangeran Diponegoro. Ia melukis penangkapan Sang Pangeran versinya, dua dekade setelah lukisan Pieneman dibuat.


Dua lukisan ini memang menceritakan satu peristiwa yang sama, namun dari dua sudut pandang yang jauh berbeda. Kalau kita simak, banyak detil yang menarik untuk dibandingkan.


Dalam lukisan Pieneman Pangeran Diponegoro digambarkan berdiri di anak tangga yang posisinya lebih rendah dari Jenderal De Kock, dengan wajah lelah dan kedua tangan terentang seolah menyerah. Beberapa prajuritnya duduk bersimpuh tertunduk, lesu. Tombak-tombak mereka tergeletak di tanah sebagai tanda penyerahan diri. Sementara itu Jenderal De Kock bertolak pinggang dengan ekspresi jumawa. Di latar belakangnya bendera kebangsaan Belanda berkibar gagah. Begitulah peristiwa itu dilihat dari mata bangsa Belanda.


Sedangkan Raden Saleh tidak memandang kejadian itu sebagai penyerahan diri. Sesungguhnya, Pangeran Diponegoro memang tidak pernah menyerah kalah. Ia ditangkap melalui tipu muslihat. Kolonel Cleerens, atas perintah Jenderal De Kock, membujuk Sang Pangeran untuk datang ke sebuah perundingan damai di gedung Karesidenan Magelang, yang ternyata jebakan belaka.


Karena itulah dalam lukisannya " Penangkapan Pangeran Diponegoro", Raden Saleh melukiskan Sang Pangeran, meski perjuangannya dipatahkan hari itu, tidak pernah mengalah dengan mudah. Ia tetap berdiri dengan kepala tegak dan raut wajah berapi-api, sejajar di hadapan Jenderal De Kock. 


Pangeran dan para pengikutnya tidak membawa senjata karena mereka memang datang dengan niat baik menyambut tawaran Belanda yang meminta gencatan senjata. Konon mereka tiba tanpa persenjataan juga karena saat itu sedang Idul Fitri bulan yang pantang untuk berperang.


Tepat hari ini 195 tahun Berakhirnya Perang Jawa 


Beny Rusmawan

Orang jarang yg tahu klw RASUNA SAID yg namanya di abadikan sbg nama jalan di jakarta selatan, adalah seorang wanita, termasuk Pribumi BETAWI jarang yg tau. Hajjah Rangkayo Rasuna Said lahir di Maninjau, Agam, Sumatera Barat, 14 September 1910 – meninggal di Jakarta, 2 November 1965 pada umur 55 tahun, adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia dan juga merupakan pahlawan nasional Indonesia. Seperti Kartini, ia juga memperjuangkan adanya persamaan hak antara pria dan wanita. Ia dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Persatoean Indonesia 1933/es." Credit: Perpustakaan Nasional

 Orang jarang yg tahu klw RASUNA SAID yg namanya di abadikan sbg nama jalan di jakarta selatan, adalah seorang wanita, termasuk Pribumi BETAWI jarang yg tau. 



Hajjah Rangkayo Rasuna Said lahir di Maninjau, Agam, Sumatera Barat, 14 September 1910 – meninggal di Jakarta, 2 November 1965 pada umur 55 tahun,  adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia dan juga merupakan pahlawan nasional Indonesia.

Seperti Kartini, ia juga memperjuangkan adanya persamaan hak antara pria dan wanita.  Ia dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Persatoean Indonesia 1933/es."


Credit: Perpustakaan Nasional

03 April 2025

Baju PDL Brimob Hijau ini di pakai Taruna Akpol tahun 1985 an, setelah AKABRI KEPOLISIAN menjadi AKPOL.. Yang Sebelumnya menggunakan PDL hijau Army. Macan Akademi Kepolisian sedang makan di Rukan, sepertinya benderanya lagi naik atau karena Taruna tingkat III sedang Latja 😂😂 kok dak nampak ya Taruna Tingkat satu PW Foto tahun 1990

 Baju PDL Brimob Hijau ini di pakai Taruna Akpol tahun 1985 an, setelah AKABRI KEPOLISIAN menjadi AKPOL..


Yang Sebelumnya menggunakan PDL hijau Army.


Macan Akademi Kepolisian sedang makan di Rukan, sepertinya benderanya lagi naik atau karena Taruna tingkat III sedang Latja 😂😂 kok dak nampak ya Taruna Tingkat satu PW 



Foto tahun 1990

Konvoi truck militer Belanda tiba di sebuah kampung saat gencatan senjata pasca perjanjian Renville. Tampak para pejuang indonesia berdiri dan duduk di sepanjang jalan, kemungkinan sebelum keberangkatan ke wilayah Jawa Tengah untuk hijrah. Sukabumi, Februari 1948. (MOHON TAMBAHAN LITERASINYA................) Nationaal Archief #sejarah #jejakkolonial #nostalgianusantara #sejarahindonesia

 Konvoi truck militer Belanda tiba di sebuah kampung saat gencatan senjata pasca perjanjian Renville. Tampak para pejuang indonesia berdiri dan duduk di sepanjang jalan, kemungkinan sebelum keberangkatan ke wilayah Jawa Tengah untuk hijrah. Sukabumi, Februari 1948. 



  Nationaal Archief

 #sejarah #jejakkolonial #nostalgianusantara #sejarahindonesia

Para lelaki pribumi yang di pekerjakan oleh militer Belanda untuk membawa peralatan militer dengan di pikul di wilayah Surabaya, 23 Juli 1947 Nationaal Archief #sejarah #jejakkolonial #nostalgianusantara #sejarahindonesia

 Para lelaki pribumi yang di pekerjakan oleh militer Belanda untuk membawa peralatan militer dengan di pikul di wilayah Surabaya, 23 Juli 1947




  Nationaal Archief

 #sejarah #jejakkolonial #nostalgianusantara #sejarahindonesia

KERUNTUHAN PAKWAN PADJADJARAN VERSI CARITA PARAHYANGAN DAN SADJARAH BANTEN Oleh: Wanto Rangkaian keruntuhan Pakwan Padjadjaran selama 1530-1580 ditulis oleh kedua pihak yang bertikai dalam perspektif masing-masing. Naskah pihak Padjadjaran menuliskan otokritik yang keras terutama pada raja-rajanya, sementara Banten berusaha menarasikan penaklukan yang humanis dan menampilkan Ki Jongjo, orang Pakwan yang berpihak ke Banten dalam peristiwa ini. Padjadjaran mewakili entitas politik pedalaman yang homogen dan berbasis tradisi Austronesia/Austroasitic yang dipengaruhi peradaban Jambudvīpa. Sementara Banten tampil sebagai negeri pesisir, multinasional, dan berideologi Islam yang masih menampilkan diksi-diksi Sansekerta. Mengingatkan pada rangkaian ekspedisi Taruma yang pesisir-kosmopolis terhadap kekuatan pedalaman di muara Sungai Ciaruteun satu millenium sebelumnya. Tradisi literasi yang dimulai akhir 1300an ini terhenti ketika VOC mulai menancapkan kuasanya, terutama di Priangan yang menjadi bagian dari rantai pasok global komoditas pertanian. Sementara Banten yang kewalahan bersaing dengan kekuatan modal global VOC, lebih fokus pada tradisi literasi keislaman yang berpuncak pada sosok Syekh Nawawi al-Bantani. CARITA PARAHYANGAN Naskah ini ditulis sekitar akhir 1500an. Menurut naskah ini, setidaknya ada tiga kali serangan yang ditujukan ke Dayeuh Pakwan pasca Surawisésa. Pertama pada masa Prebu Ratudéwata, dilakukan oleh kelompok rahasia yang disebut Tambuh Sangkané. Serangan ini mencapai Buruan Ageung (alun-alun?) dan memakan korban Tohaan Saréndét dan Tohaan Ratu Sanghiyang. Serangan berikutnya terjadi pada masa Sang Nilakéndra atau Tohaan Di Majaya yang menyebabkan dirinya terusir dari Pakwan. Mungkin satu-satunya raja yang terpaksa meninggalkan kadatwan sejak Trarusbawa memindahkan axis mundi Tatar Sunda ini ke hulu Cipakancilan sembilan abad sebelumnya. Serangan pamungkas terjadi pada masa Nusiya Mulya yang sudah tidak berkedudukan di Pakwan. Carita Parahyangan mencatatnya sebagai sanghara ti Selam, dalam hal ini Demak dan Cirebon. Anehnya, penulis naskah tidak menyebut Banten ketika menulis sanghara ti Selam, padahal naskah ditulis ketika Banten mulai menapaki kejayaannya. SADJARAH BANTEN Naskah ini disusun sekitar tahun 1662/63. Dicatat bahwa Ekspedisi Maulana Hasanuddin (Panĕmbahan) ke Pakwan membawa beberapa kontingen yang dipimpin oleh Utama Diradja, Ki Mahapatih, Senapati Demak Bulu Kanduruhan Pase, Dipati Tĕguh Sela, Ki Laksamana, Ki Kĕtib Pandjang Radja, Radja Balo (Lampung), Ki Danurĕdja dan Syahbandar Kĕling (Tamil). Tugas menduduki Pakwan diserahkan pada Ki Jongjo, mantan punggawa Pakwan yang memihak Banten. Ekspedisi ini diawasi oleh Maulana Jodah (Jeddah). Didalamnya juga terdapat pasukan dari Pakungwati, Angké dan Dĕmak. Sebelum menyerang Pakwan, pasukan ini mendirikan perkemahan di Parungsiaji. Pada malam penyerangan, Ki Jongjo beserta 500 pasukan lebih dulu memasuki gerbang Saharta di selatan Pakwan yang dibukakan dari dalam oleh saudaranya, seorang punggawa Pakwan yang juga mertua Prabu Seda yang sakit hati karena tidak diangkat menjadi seorang sanghyang. Penyerangan tersebut berhasil, Pakwan berhasil direbut. Prabu Seda, Pucuk Umun, Prabu Aleng-Aleng dan Sanghyang Kakaleng menghilang. Para Punggawa yang menyerah kemudian memeluk Islam dan tetap memegang jabatannya. Apakah Prabu Seda adalah Sang Nilakéndra dalam Carita Parahyangan? Sepertinya ada lebih dari satu ekspedisi Banten ke Pakwan karena keberangkatan pasukan dicatat dalam sangkala “Bumi Rusak Rekeh Iki” (1579/80 M) pada masa Maulana Yusup. Menurut Hoesein Djajadiningrat, ada kemungkinan penulis Sadjarah Banten mencampuradukan penyerangan pada masa Maulana Hasanuddin dan Maulana Yusup. Referensi: Drs.Atja & Drs. Saleh Dana Sasmita. (1981). Carita Parahiyangan. Hoesein Djajadiningrat. (1913). Tinjauan Kritis Tentang Sajarah Banten. *Gambar-gambar hanya ilustrasi.

 KERUNTUHAN PAKWAN PADJADJARAN VERSI CARITA PARAHYANGAN DAN SADJARAH BANTEN


Oleh: Wanto 


Rangkaian keruntuhan Pakwan Padjadjaran selama 1530-1580 ditulis oleh kedua pihak yang bertikai dalam perspektif masing-masing. Naskah pihak Padjadjaran menuliskan otokritik yang keras terutama pada raja-rajanya, sementara Banten berusaha menarasikan penaklukan yang humanis dan menampilkan Ki Jongjo, orang Pakwan yang berpihak ke Banten dalam peristiwa ini.



Padjadjaran mewakili entitas politik pedalaman yang homogen dan berbasis tradisi Austronesia/Austroasitic yang dipengaruhi peradaban Jambudvīpa. Sementara Banten tampil sebagai negeri pesisir, multinasional, dan berideologi Islam yang masih menampilkan diksi-diksi Sansekerta. Mengingatkan pada rangkaian ekspedisi Taruma yang pesisir-kosmopolis terhadap kekuatan pedalaman di muara Sungai Ciaruteun satu millenium sebelumnya.


Tradisi literasi yang dimulai akhir 1300an ini terhenti ketika VOC mulai menancapkan kuasanya, terutama di Priangan yang menjadi bagian dari rantai pasok global komoditas pertanian. Sementara Banten yang kewalahan bersaing dengan kekuatan modal global VOC, lebih fokus pada tradisi literasi keislaman yang berpuncak pada sosok Syekh Nawawi al-Bantani.


CARITA PARAHYANGAN


Naskah ini ditulis sekitar akhir 1500an. Menurut naskah ini, setidaknya ada tiga kali serangan yang ditujukan ke Dayeuh Pakwan pasca Surawisésa. Pertama pada masa Prebu Ratudéwata, dilakukan oleh kelompok rahasia yang disebut Tambuh Sangkané. Serangan ini mencapai Buruan Ageung (alun-alun?) dan memakan korban Tohaan Saréndét dan Tohaan Ratu Sanghiyang.


Serangan berikutnya terjadi pada masa Sang Nilakéndra atau Tohaan Di Majaya yang menyebabkan dirinya terusir dari Pakwan. Mungkin satu-satunya raja yang terpaksa meninggalkan kadatwan sejak Trarusbawa memindahkan axis mundi Tatar Sunda ini ke hulu Cipakancilan sembilan abad sebelumnya.


Serangan pamungkas terjadi pada masa Nusiya Mulya yang sudah tidak berkedudukan di Pakwan. Carita Parahyangan mencatatnya sebagai sanghara ti Selam, dalam hal ini Demak dan Cirebon.


Anehnya, penulis naskah tidak menyebut Banten ketika menulis sanghara ti Selam, padahal naskah ditulis ketika Banten mulai menapaki kejayaannya.


SADJARAH BANTEN


Naskah ini disusun sekitar tahun 1662/63. Dicatat bahwa Ekspedisi Maulana Hasanuddin (Panĕmbahan) ke Pakwan membawa beberapa kontingen yang dipimpin oleh Utama Diradja, Ki Mahapatih, Senapati Demak Bulu Kanduruhan Pase, Dipati Tĕguh Sela, Ki Laksamana, Ki Kĕtib Pandjang Radja, Radja Balo (Lampung), Ki Danurĕdja dan Syahbandar Kĕling (Tamil).


Tugas menduduki Pakwan diserahkan pada Ki Jongjo, mantan punggawa Pakwan yang memihak Banten. Ekspedisi ini diawasi oleh Maulana Jodah (Jeddah). Didalamnya juga terdapat pasukan dari Pakungwati, Angké dan Dĕmak. Sebelum menyerang Pakwan, pasukan ini mendirikan perkemahan di Parungsiaji.

Pada malam penyerangan, Ki Jongjo beserta 500 pasukan lebih dulu memasuki gerbang Saharta di selatan Pakwan yang dibukakan dari dalam oleh saudaranya, seorang punggawa Pakwan yang juga mertua Prabu Seda yang sakit hati karena tidak diangkat menjadi seorang sanghyang.


Penyerangan tersebut berhasil, Pakwan berhasil direbut. Prabu Seda, Pucuk Umun, Prabu Aleng-Aleng dan Sanghyang Kakaleng menghilang. Para Punggawa yang menyerah kemudian memeluk Islam dan tetap memegang jabatannya. Apakah Prabu Seda adalah Sang Nilakéndra dalam Carita Parahyangan?


Sepertinya ada lebih dari satu ekspedisi Banten ke Pakwan karena keberangkatan pasukan dicatat dalam sangkala “Bumi Rusak Rekeh Iki” (1579/80 M) pada masa Maulana Yusup. Menurut Hoesein Djajadiningrat, ada kemungkinan penulis Sadjarah Banten mencampuradukan penyerangan pada masa Maulana Hasanuddin dan Maulana Yusup.


Referensi:

Drs.Atja & Drs. Saleh Dana Sasmita. (1981). Carita Parahiyangan.

Hoesein Djajadiningrat. (1913). Tinjauan Kritis Tentang Sajarah Banten.


*Gambar-gambar hanya ilustrasi.

Empat pejuang Indonesia yang tertangkap membopong rekannya yang gugur melewati para prajurit KNIL Belanda, sementara seorang prajurit KNIL berjalan di belakang mereka di Wilayah Surabaya, 24 Juli 1947. (MOHON TAMBAHAN LITERASINYA................) Nationaal Archief #sejarah #jejakkolonial #nostalgianusantara #sejarahindonesia

 Empat pejuang Indonesia yang tertangkap membopong rekannya yang gugur melewati para prajurit KNIL Belanda, sementara seorang prajurit KNIL berjalan di belakang mereka di Wilayah Surabaya, 24 Juli 1947. 






  Nationaal Archief

 





02 April 2025

Kereta api di jembatan kereta api di atas Kali Progo di Temanggoeng di jalur dari Setjang ke Parakan. sekitar tahun 1900

 Kereta api di jembatan kereta api di atas Kali Progo di Temanggoeng di jalur dari Setjang ke Parakan. sekitar tahun 1900



Sumber : Andre Owen

Sketsa tiga penjaga malam di Batavia, dengan kentongan, galah penangkap maling, serta kendi air, sketsa ini diterbitkan di Amsterdam pada tahun 1883

 Sketsa tiga penjaga malam di Batavia, dengan kentongan, galah penangkap maling, serta kendi air, sketsa ini diterbitkan di Amsterdam pada tahun 1883





Kamu yang sering naik bis antar kota harus tau nih sejarah perintis Usaha Otobus di Indonesia! Ini adalah cikal bakal dari PO bus yang ada di Indonesia, Sebelum adanya mode transportasi mesin, Masyarakat masih menggunakan transportasi umum berupa pedati (gerobak sapi) untuk angkutan barang dan dokar (kereta kuda) untuk angkutan penumpang. Sekitar tahun 1920an Seorang perantauan keturunan Cina-Jawa dari Kudus yakni Kwa Tjwan Ing bersama istrinya Siauw King Nio memulai usaha Autoverhuurder atau persewaan mobil dengan beberapa unit mobil kecil pada tahun 1921. Autoverhuurder ini melayani berbagai keperluan tidak hanya di dalam kota, namun juga melayani tujuan luar kota. kehadiran layanan sewa mobil, utamanya warga Belanda dan Eropa lain yang antusias dengan moda baru ini. Mereka yang terbiasanya menggunakan moda transportasi dokar mulai berpindah ke moda transportasi mobil. Perpindahan tersebut karena efisiensi waktu karena mobil dapat lebih cepat dari dokar, lebih aman dan nyaman dan lebih prestisius karena harga sewa mobil yang lebih tinggi saat itu. Pada tahun 1923 Kwa Tjwan Ing mempelopori PO bus pertama yang ada di indonesia dengan Brand ESTO yang merupakan akronim dari Eerste Salatigasche Transport Onderneming atau dalam bahasa Indonesia berarti Perusahaan Transportasi Pertama Salatiga Generasi perintis bus menggunakan casis merek Ford, sedangkan generasi kedua bus ESTO teridentifikasi menggunakan sasis merek Chevrolet yang berasal dari Amerika Serikat. Sasis dengan merek Chevrolet ini yang nantinya menjadi sasis favorit pilihan ESTO sampai masa pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Kaca kendaraan hanya terletak di sisi depan, sedangkan pintu serta jendela di sisi samping dan belakang tanpa kaca. Ruangan bus terbagi atas tiga bagian, bagian depan tepat di belakang mesin, bagian tengah, dan bagian belakang. Layanan yang ditawarkan ESTO mengikuti permintaan tatanan sosial saat itu yang memisahkan warga Belanda dengan warga bumiputra. Generasi pertama bus ESTO berkapasitas total 16-18 penumpang termasuk kru. Bagian depan bus berfungsi sebagai ruang kemudi untuk satu pengemudi dan satu penumpang. Bagian tengah diperuntukan sebagai layanan kelas satu berkonfigurasi kursi nyaman menghadap depan untuk warga Belanda, kelas satu ini berkapasitas enam penumpang. Sedangkan yang terakhir, kelas kedua berkonfigurasi bangku rotan panjang menghadap belakang untuk warga bumiputra, kapasitas yang mampu disediakan pada kelas ini yaitu sepuluh penumpang. Penumpang membayar tiket jasa transportasi bus kepada seorang kondektur yang berdiri di pintu belakang dengan tarif yang tentunya berbeda yakni 20 sen untuk kelas satu dan 10 sen untuk kelas dua. Namun sayang sekali Simbah ESTO harus mengakhiri pengabdian di nafas terakhirnya pada tahun 2018, lima tahun sebelum usianya genap menginjak 100 tahun.

 Kamu yang sering naik bis antar kota harus tau nih sejarah perintis Usaha Otobus di Indonesia!

Ini adalah cikal bakal dari PO bus yang ada di Indonesia, Sebelum adanya mode transportasi mesin, Masyarakat masih menggunakan transportasi umum berupa pedati (gerobak sapi) untuk angkutan barang dan dokar (kereta kuda) untuk angkutan penumpang.



Sekitar tahun 1920an Seorang perantauan keturunan Cina-Jawa dari Kudus yakni Kwa Tjwan Ing bersama istrinya Siauw King Nio memulai usaha Autoverhuurder atau persewaan mobil dengan beberapa unit mobil kecil pada tahun 1921. Autoverhuurder ini melayani berbagai keperluan tidak hanya di dalam kota, namun juga melayani tujuan luar kota. 

kehadiran layanan sewa mobil, utamanya warga Belanda dan Eropa lain yang antusias dengan moda baru ini. Mereka yang terbiasanya menggunakan moda transportasi dokar mulai berpindah ke moda transportasi mobil. Perpindahan tersebut karena efisiensi waktu karena mobil dapat lebih cepat dari dokar, lebih aman dan nyaman dan lebih prestisius karena harga sewa mobil yang lebih tinggi saat itu.

Pada tahun 1923 Kwa Tjwan Ing mempelopori PO bus pertama yang ada di indonesia dengan Brand ESTO yang merupakan akronim dari Eerste Salatigasche Transport Onderneming atau dalam bahasa Indonesia berarti Perusahaan Transportasi Pertama Salatiga

Generasi perintis bus menggunakan casis merek Ford, sedangkan generasi kedua bus ESTO teridentifikasi menggunakan sasis merek Chevrolet yang berasal dari Amerika Serikat. Sasis dengan merek Chevrolet ini yang nantinya menjadi sasis favorit pilihan ESTO sampai masa pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Kaca kendaraan hanya terletak di sisi depan, sedangkan pintu serta jendela di sisi samping dan belakang tanpa kaca. Ruangan bus terbagi atas tiga bagian, bagian depan tepat di belakang mesin, bagian tengah, dan bagian belakang.

Layanan yang ditawarkan ESTO mengikuti permintaan tatanan sosial saat itu yang memisahkan warga Belanda dengan warga bumiputra. Generasi pertama bus ESTO berkapasitas total 16-18 penumpang termasuk kru. Bagian depan bus berfungsi sebagai ruang kemudi untuk satu pengemudi dan satu penumpang. Bagian tengah diperuntukan sebagai layanan kelas satu berkonfigurasi kursi nyaman menghadap depan untuk warga Belanda, kelas satu ini berkapasitas enam penumpang. Sedangkan yang terakhir, kelas kedua berkonfigurasi bangku rotan panjang menghadap belakang untuk warga bumiputra, kapasitas yang mampu disediakan pada kelas ini yaitu sepuluh penumpang. Penumpang membayar tiket jasa transportasi bus kepada seorang kondektur yang berdiri di pintu belakang dengan tarif yang tentunya berbeda yakni 20 sen untuk kelas satu dan 10 sen untuk kelas dua.

Namun sayang sekali Simbah ESTO harus mengakhiri pengabdian di nafas terakhirnya pada tahun 2018, lima tahun sebelum usianya genap menginjak 100 tahun.

Nyi Mas Saritem Memiliki nama asli Nyi Mas Ayu Permatasari. Ibunya bernama Sri Arum Ningrum, ayahnya bernama Raden Arya Sutajaya. Menikah dengan Kolonel Peter Van De Hood seorang Komandan Militer di Bandung pada saat itu. Nyai Saritem digambarkan sebagai sosok wanita berparas cantik bersanggul ayu dan berkebaya ala wanita Sunda tempo dulu. Saritem awal mulanya nama panggilan dari seseorang berasal dari daerah Semarang yang memperkenalkan kepada teman-temannya bahwa di suatu tempat di Bandung ada seorang perempuan cantik memiliki warna kulit sari - sari item (hitam). Nyi Mas Saritem datang dari Sumedang ke suatu tempat yang berada Bandung, yang jauh sebelum dia datang, tempat tersebut sudah menjadi tempat prostitusi. Dengan tujuan untuk membela dan membebaskan kaum wanita yang termarjinalkan agar tidak terjerumus ketempat itu. Dia ingin membersihkan nama tempat tersebut dengan cara mendatangi pemerintahan Hindia-belanda meminta agar menutup tempat tersebut. Kalaupun para laki-laki yang datang ke tempat itu menginginkan perempuan yang ada disana, harus dinikahi secara resmi. Semua kisah tentang Saritem dijadikan sebuah buku oleh Aan Merdeka Permana (Jurnalis dan Sastrawan) dengan judul “Saritem”, pada saat wawancara dalam acara Obrolan Budaya RRI Net Produksi RRI Bandung. Kang Aan menuturkan harapannya menulis buku tersebut untuk mencoba agar bisa merubah penilaian masyarakat bahwa Saritem bukan seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) tetapi Saritem adalah seorang pahlawan. Karena menurutnya secara logika ketika sesorang diabadikan namanya dapat diartikan orang tersebut telah memiliki jasa dan kesan yang baik. Sampai saat ini, Saritem diabadikan dalam bentuk jalan yang bisa diakses dari arah Gardujati maupun dari Jalan Jenderal Sudirman. Itulah sejarah singkat tentang perjuangan Nyi Mas Saritem seorang bangsawan Keturunan Kerajaan Sumedang Larang.

 Nyi Mas Saritem Memiliki nama asli Nyi Mas Ayu Permatasari. Ibunya bernama Sri Arum Ningrum, ayahnya bernama Raden Arya Sutajaya. Menikah dengan Kolonel Peter Van De Hood seorang Komandan Militer di Bandung pada saat itu.



Nyai Saritem digambarkan sebagai sosok wanita berparas cantik bersanggul ayu dan berkebaya ala wanita Sunda tempo dulu. Saritem awal mulanya nama panggilan dari seseorang berasal dari daerah Semarang yang memperkenalkan kepada teman-temannya bahwa di suatu tempat di Bandung ada seorang perempuan cantik memiliki warna kulit sari - sari item (hitam). 


Nyi Mas Saritem datang dari Sumedang ke suatu tempat yang berada Bandung, yang jauh sebelum dia datang, tempat tersebut sudah menjadi tempat prostitusi. Dengan tujuan untuk membela dan membebaskan  kaum wanita yang termarjinalkan agar tidak terjerumus ketempat itu.


Dia ingin membersihkan nama tempat tersebut dengan cara mendatangi pemerintahan Hindia-belanda meminta agar menutup tempat tersebut. Kalaupun para laki-laki yang datang ke tempat itu menginginkan perempuan yang ada disana, harus dinikahi secara resmi.


Semua kisah tentang Saritem dijadikan sebuah buku oleh Aan Merdeka Permana (Jurnalis dan Sastrawan) dengan judul “Saritem”, pada saat wawancara dalam acara Obrolan Budaya RRI Net Produksi RRI Bandung.  


Kang Aan menuturkan harapannya menulis buku tersebut untuk mencoba agar  bisa merubah penilaian masyarakat bahwa Saritem bukan seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) tetapi Saritem adalah seorang pahlawan. Karena menurutnya secara logika ketika sesorang diabadikan namanya dapat diartikan orang tersebut telah memiliki jasa dan kesan yang baik.


Sampai saat ini, Saritem diabadikan dalam bentuk jalan yang bisa diakses dari arah Gardujati maupun dari Jalan Jenderal Sudirman. Itulah sejarah singkat tentang perjuangan Nyi Mas Saritem seorang bangsawan Keturunan Kerajaan Sumedang Larang.

01 April 2025

Sejarah Salat Id di Lapangan pada Masa Kolonial Belanda, Organisasi Ini Pelopornya ______________________________________________ Pemerintah Hindia Belanda tidak melarang pelaksanaan salat Idul Fitri. Pihak kolonial bahkan mengizinkan pelaksanaannya untuk dilakukan di tempat terbuka dan tidak melarang penggunaan pengeras suara. Ketika itu, pemerintah Belanda ikut menyediakan transportasi ekstra. Salah satu pelaksanaan salat Idul Fitri yang diliput oleh media waktu itu adalah salat Id yang diselenggarakan di Waterlooplein atau Lapangan Waterloo. Kini Waterlooplein merupakan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. "Tahun ini adalah kedua belas kalinya ibadah ritual semacam itu diselenggarakan di tempat terbuka di ibukota negara," tulis Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie, pada halaman 6 kolom 2 (9 November 1939), dikutip dari arsip detikcom. Sebelum hari raya, media mengabarkan apakah Aidil Fitri-gebed atau salat Ied di Waterlooplein jadi dilaksanakan atau tidak. Panitia salat Idul Fitri di sana terdiri dari 14 organisasi massa dan mendapat dukungan berbagai pihak. Ketika pelaksanaannya, dikerahkan trem ekstra dari Meester Cornelis dan Benedenstad (Batavia Lama) untuk memudahkan aktivitas para muslim menuju Waterlooplein. Pada ibadah salat Id sebagaimana warta tersebut melaporkan, yang bertindak sebagai khotib adalah Hadji Mochtar, mantan anggota Mohammadijah. Sedangkan yang bertindak sebagai imam adalah Hadji Mohammad Isa, Ketua Hof voor Islamietische Zaken. Muhammadiyah Memelopori Salat Id di Lapangan Dikutip dari buku Matahari Pembaruan: Rekam Jejak KH Ahmad Dahlan oleh HM Nasruddin Anshoriy Ch, Muhammadiyah memelopori pelaksanaan salat Idul Fitri dan Idul Adha di lapangan. Salat di lapangan dinilai dapat menjaring jamaah lebih luas dibandingkan di masjid atau langgar. Syiar agama juga disebut lebih cemerlang dan mencapai daerah lebih luas. Efek psikologis salat Id di lapangan dirasa lebih besar. Muhammadiyah sendiri pertama kali menyelenggarakan salat Id di lapangan Kota Yogyakarta pada Idul Fitri 1342 Hijriah atau 1925 M dengan dihadiri sekitar 5.000 jamaah. Pada tahun yang sama Muhammadiyah juga mengadakan salat Idul Adha. Gebrakan Muhammadiyah itu menggemparkan kaum konservatif dan sempat ditentang pemerintah Hindia Belanda karena dinilai mengganggu ketertiban. Pada kongres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya pada 1926, mereka memutuskan semua cabang Muhammadiyah agar menyelenggarakan salat Id di lapangan. Pemerintah Hindia Belanda kemudian bertindak sebagai pihak yang menetapkan peraturan yakni setiap salat Id di lapangan terlebih dahulu harus memperoleh izin kepolisian. Kemudian kerap terjadi peristiwa salat Id di lapangan dihalang-halangi atau dibubarkan karena belum memperoleh izin atau tidak dimintakan izin. Sehingga ada banyak pengurus Muhammadiyah yang ditahan atau didengar kesaksiannya oleh polisi karena masalah salat Id di lapangan. Pada kongres Muhammadiyah ke-23 di Yogyakarta pada 1934, akhirnya diputuskan setiap cabang yang akan melaksanakan salat id di lapangan tidak perlu minta izin polisi, tetapi cukup memberi tahu. Misalnya dipaksa harus minta izin, maka permintaan izin cukup satu kali untuk selama-lamanya dan untuk seluruh Indonesia.

 Sejarah Salat Id di Lapangan pada Masa Kolonial Belanda, Organisasi Ini Pelopornya

______________________________________________


Pemerintah Hindia Belanda tidak melarang pelaksanaan salat Idul Fitri. Pihak kolonial bahkan mengizinkan pelaksanaannya untuk dilakukan di tempat terbuka dan tidak melarang penggunaan pengeras suara. Ketika itu, pemerintah Belanda ikut menyediakan transportasi ekstra.

Salah satu pelaksanaan salat Idul Fitri yang diliput oleh media waktu itu adalah salat Id yang diselenggarakan di Waterlooplein atau Lapangan Waterloo. Kini Waterlooplein merupakan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.



"Tahun ini adalah kedua belas kalinya ibadah ritual semacam itu diselenggarakan di tempat terbuka di ibukota negara," tulis Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie, pada halaman 6 kolom 2 (9 November 1939), dikutip dari arsip detikcom.


Sebelum hari raya, media mengabarkan apakah Aidil Fitri-gebed atau salat Ied di Waterlooplein jadi dilaksanakan atau tidak. Panitia salat Idul Fitri di sana terdiri dari 14 organisasi massa dan mendapat dukungan berbagai pihak. Ketika pelaksanaannya, dikerahkan trem ekstra dari Meester Cornelis dan Benedenstad (Batavia Lama) untuk memudahkan aktivitas para muslim menuju Waterlooplein.


Pada ibadah salat Id sebagaimana warta tersebut melaporkan, yang bertindak sebagai khotib adalah Hadji Mochtar, mantan anggota Mohammadijah. Sedangkan yang bertindak sebagai imam adalah Hadji Mohammad Isa, Ketua Hof voor Islamietische Zaken. Muhammadiyah Memelopori Salat Id di Lapangan

Dikutip dari buku Matahari Pembaruan: Rekam Jejak KH Ahmad Dahlan oleh HM Nasruddin Anshoriy Ch, Muhammadiyah memelopori pelaksanaan salat Idul Fitri dan Idul Adha di lapangan. Salat di lapangan dinilai dapat menjaring jamaah lebih luas dibandingkan di masjid atau langgar.


Syiar agama juga disebut lebih cemerlang dan mencapai daerah lebih luas. Efek psikologis salat Id di lapangan dirasa lebih besar.

Muhammadiyah sendiri pertama kali menyelenggarakan salat Id di lapangan Kota Yogyakarta pada Idul Fitri 1342 Hijriah atau 1925 M dengan dihadiri sekitar 5.000 jamaah. Pada tahun yang sama Muhammadiyah juga mengadakan salat Idul Adha.


Gebrakan Muhammadiyah itu menggemparkan kaum konservatif dan sempat ditentang pemerintah Hindia Belanda karena dinilai mengganggu ketertiban. Pada kongres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya pada 1926, mereka memutuskan semua cabang Muhammadiyah agar menyelenggarakan salat Id di lapangan. Pemerintah Hindia Belanda kemudian bertindak sebagai pihak yang menetapkan peraturan yakni setiap salat Id di lapangan terlebih dahulu harus memperoleh izin kepolisian.


Kemudian kerap terjadi peristiwa salat Id di lapangan dihalang-halangi atau dibubarkan karena belum memperoleh izin atau tidak dimintakan izin. Sehingga ada banyak pengurus Muhammadiyah yang ditahan atau didengar kesaksiannya oleh polisi karena masalah salat Id di lapangan.

Pada kongres Muhammadiyah ke-23 di Yogyakarta pada 1934, akhirnya diputuskan setiap cabang yang akan melaksanakan salat id di lapangan tidak perlu minta izin polisi, tetapi cukup memberi tahu. Misalnya dipaksa harus minta izin, maka permintaan izin cukup satu kali untuk selama-lamanya dan untuk seluruh Indonesia.