06 August 2026

Ini foto Faisal bin Musaid, pangeran Saudi bersama pacarnnya Christine Surma, artis AS. Pangeran Faisal lahir pada tahun 1944, dia adalah cucu Raja Saud. Masalah pertama yang didapatnya adalah perceraian kedua orangtuanya. Dari situ dia lebih akrab dengan keluarga ibunya dibanding keluarga ayahnya. Masalah keduanya, adalah pada tahun 1966, saudaranya Khaled, terbunuh saat ikut dalam aksi protes menentang pembolehan televisi. Saat itu, Raja Faisal yang mendorong modernisasi Saudi memperkenalkan televisi kepada rakyat Saudi. Ulama Wahabi Syekh Bin Baz yang saat itu menjadi rektor Universitas Madinah merespon dengan memfatwakan haramnya menonton televisi. Raja Faisal tidak bergeming, ia malah memecat Bin Baz dan menyebutnya ulama kolot yang menghambat kemajuan. Apalagi saat itu Bin Baz juga mengatakan bumi itu datar, sehingga Raja Faisal menyebutnya sebagai tindakan yang memalukan kerajaan. Pemecatan Bin Baz memicu respon keras dari kelompok wahabi, termasuk di dalamnya Pangeran Khaled bin Musaid yang terpapar paham wahabi. Ia ikut dalam aksi protes dan turut menjadi korban kekerasan aparat. Sejak saat itu, Faisal dendam pada Raja Faisal sebab menyebut kebijakan Raja Faisallah yang menyebabkan kematian saudaranya. Ia pun memilih meninggalkan Saudi dan tinggal di AS. Ia sempat kuliah di San Francisco State College lalu pindah ke University of Colorado. Meski berhasil menyelesaikan sarjananya namun program pascasarjana dalam ilmu politik gagal dia selesaikan. Pada tahun 1970, ia ditangkap di Boulder, Colorado, karena terlibat dalam kasus penjualan obat terlarang dan ganja. Selama di AS dia berpacaran dengan Christine Surma, seorang artis yang tidak terlalu terkenal. Karena bermasalah di AS dia kembali ke Saudi. Begitu tiba di Saudi, kerajaan menyita paspornya dan menerapkan larangan untuk dia bepergian ke luar negeri. Meski dilakukan padanya pembatasan namun dia tetap masih menjalin komunikasi dengan pacarnya. Pada tanggal 25 Maret 1975, ia pergi ke istana raja di Riyadh yang saat itu menggelar perayaan maulid. Ia bergabung dengan delegasi Kuwait dan berbaris untuk bertemu raja. Raja Faisal yang sudah lama tidak bertemu dengan keponakannya menyambut dengan senyum, ia merangkul dan menundukkan kepala untuk dicium oleh keponakannya. Sebagaimana tradisi kerajaan Faisal muda pun mencium kepala raja sebagai tanda hormat. Namun saat bersamaan ia mengeluarkan revolver gun dari jubahnya dan mengarahkan tembakan ke tubuh Raja Faisal. Terkena tembakan dari jarak dekat, sang raja jatuh ke lantai dan dalam kondisi kritis segera dilarikan ke rumah sakit tetapi dokter gagal menyelamatkannya. Pangeran Faisal pun segera ditangkap pengawal kerajaan. Sebelum wafat, Raja Faisal sempat memesankan agar keponakannya jangan dieksekusi. Proses pengadilan pun segera dilakukan. Awalnya Faisal bin Musaid disebut mengalami gangguan jiwa saat melakukan penembakan. Namun terbukti dia dianggap waras saat melakukannya. Pengadilan menemukan ia bersalah atas tindakan pembunuhan. Iapun divonis bersalah dan pengadilan memutuskan dia dihukum penggal. Meski disebut dendam atas kematian saudaranya pada masa lalu dan keterlibatannya dengan obat-obatan terlarang yang membuat kerajaan memberikan banyak pembatasan padanya sebagai pemicu dia tidak menyukai sang paman, namun pengadilan meyebutkan bahwa tindakan pembunuhan itu sebagai kejahatan yang disengaja dan direncanakan. Terutama dikaitkan dengan Christine Surma pacarnya yang disebut berulang kali mendorongnya untuk melakukan pembunuhan. Hal itu diceritakan Faisal kepada ibunya. Media Arab yang saat itu melakukan investigasi malah menyatakan bahwa pembunuhan itu atas perintah dan arahan Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat. Christine Surma sang pacar merespon terbunuhnya Raja Faisal oleh kekasihnya dengan mengatakan, itu baik bagi perdamaian kerajaan Saudi dengan AS. Dan ketika ditanya apa tanggapannya terhadap vonis mati untuk pangeran Faisal, dia merespon singkat, "Dia pria yang sempurna dan sangat membanggakan."

 Ini foto Faisal bin Musaid, pangeran Saudi bersama pacarnnya Christine Surma, artis AS. Pangeran Faisal lahir pada tahun 1944, dia adalah cucu Raja Saud. Masalah pertama yang didapatnya adalah perceraian kedua orangtuanya. Dari situ dia lebih akrab dengan keluarga ibunya dibanding keluarga ayahnya. Masalah keduanya, adalah pada tahun 1966, saudaranya Khaled, terbunuh saat ikut dalam aksi protes menentang pembolehan televisi. Saat itu, Raja Faisal yang mendorong modernisasi Saudi memperkenalkan televisi kepada rakyat Saudi. Ulama Wahabi Syekh Bin Baz yang saat itu menjadi rektor Universitas Madinah merespon dengan memfatwakan haramnya menonton televisi. Raja Faisal tidak bergeming, ia malah memecat Bin Baz dan menyebutnya ulama kolot yang menghambat kemajuan. Apalagi saat itu Bin Baz juga mengatakan bumi itu datar, sehingga Raja Faisal menyebutnya sebagai tindakan yang memalukan kerajaan. Pemecatan Bin Baz memicu respon keras dari kelompok wahabi, termasuk di dalamnya Pangeran Khaled bin Musaid yang terpapar paham wahabi. Ia ikut dalam aksi protes dan turut menjadi korban kekerasan aparat. Sejak saat itu, Faisal dendam pada Raja Faisal sebab menyebut kebijakan Raja Faisallah yang menyebabkan kematian saudaranya. Ia pun memilih meninggalkan Saudi dan tinggal di AS. Ia sempat kuliah di San Francisco State College lalu pindah ke University of Colorado. Meski berhasil menyelesaikan sarjananya namun program pascasarjana dalam ilmu politik gagal dia selesaikan.  Pada tahun 1970, ia ditangkap di Boulder, Colorado, karena terlibat dalam kasus penjualan obat terlarang dan ganja. Selama di AS dia berpacaran dengan Christine Surma, seorang artis yang tidak terlalu terkenal. 



Karena bermasalah di AS dia kembali ke Saudi. Begitu tiba di Saudi, kerajaan menyita paspornya dan menerapkan larangan untuk dia bepergian ke luar negeri. Meski dilakukan padanya pembatasan namun dia tetap masih menjalin komunikasi dengan pacarnya. 


Pada tanggal 25 Maret 1975, ia pergi ke istana raja di Riyadh yang saat itu menggelar perayaan maulid. Ia bergabung dengan delegasi Kuwait dan berbaris untuk bertemu raja. Raja Faisal yang sudah lama tidak bertemu dengan keponakannya menyambut dengan senyum, ia merangkul dan menundukkan kepala untuk dicium oleh keponakannya. Sebagaimana tradisi kerajaan Faisal muda pun mencium kepala raja sebagai tanda hormat. Namun saat bersamaan ia mengeluarkan revolver gun dari jubahnya dan mengarahkan tembakan ke tubuh Raja Faisal. Terkena tembakan dari jarak dekat, sang raja jatuh ke lantai dan dalam kondisi kritis segera dilarikan ke rumah sakit tetapi dokter gagal menyelamatkannya. Pangeran Faisal pun segera ditangkap pengawal kerajaan. Sebelum wafat, Raja Faisal sempat memesankan agar keponakannya jangan dieksekusi. 


Proses pengadilan pun segera dilakukan. Awalnya Faisal bin Musaid disebut mengalami gangguan jiwa saat melakukan penembakan. Namun terbukti dia dianggap waras saat melakukannya. Pengadilan menemukan ia bersalah atas tindakan pembunuhan. Iapun divonis bersalah dan pengadilan memutuskan dia dihukum penggal. 


Meski disebut dendam atas kematian saudaranya pada masa lalu dan keterlibatannya dengan obat-obatan terlarang yang membuat kerajaan memberikan banyak pembatasan padanya sebagai pemicu dia tidak menyukai sang paman, namun pengadilan meyebutkan bahwa tindakan pembunuhan itu sebagai kejahatan yang disengaja dan direncanakan. Terutama dikaitkan dengan Christine Surma pacarnya yang disebut berulang kali mendorongnya untuk melakukan pembunuhan. Hal itu diceritakan  Faisal kepada ibunya. Media Arab yang saat itu melakukan investigasi malah menyatakan bahwa pembunuhan itu atas perintah dan arahan Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat.


Christine Surma sang pacar merespon terbunuhnya Raja Faisal oleh kekasihnya dengan mengatakan, itu baik bagi perdamaian kerajaan Saudi dengan AS. Dan ketika ditanya apa tanggapannya terhadap vonis mati untuk pangeran Faisal, dia merespon singkat, "Dia pria yang sempurna dan sangat membanggakan."

No comments:

Post a Comment