๐๐๐ฉ๐๐ ๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐ฃ๐๐ก๐ ๐๐๐ง๐๐ฃ๐๐ ๐๐ฉ ๐ ๐ ๐๐ช๐๐ช๐จ ๐ช๐ฃ๐ฉ๐ช๐ ๐จ๐ค๐ฌ๐๐ฃ ๐ ๐๐ฅ๐๐๐ ๐๐ช๐ง๐ช๐ฃ๐ฎ๐ ๐ฎ๐๐ ๐ฃ๐, ๐๐ฎ๐๐ ๐ผ๐ง๐ฌ๐๐ฃ๐.
๐ท๐๐๐๐ ๐โ๐๐๐ ๐๐๐โ ๐พ๐ป. ๐๐๐๐ ๐ป๐๐๐, ๐ ๐๐๐ก๐๐ ๐พ๐ฆ๐๐ ๐ด๐๐ค๐๐๐ ๐ฆ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ก ๐พ๐๐ก๐ข๐ ๐๐๐๐ ๐ต๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐ ๐ก๐โ๐ข๐ 1980
Kyai asli Demak ini berkisah bahwa suatu ketika Mbah Mangli berangkat ke Kudus untuk sowan kepada gurunya yakni, Kyai Arwani.
Sesampainya di Kudus, Mbah Mangli segera menuju Kompleks Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an, Kudus yang berada tak jauh Masjid Al-Aqsha yang terkenal dengan Masjid Menara Kudus. Ketika sampai di depan Ndalem Kyai Arwani, Mbah Mangli tiba-tiba bersimpuh sambil berjalan perlahan-lahan atau “ngesot” dalam bahasa jawa.
Singkat cerita Kyai Arwani pun menghampirinya. Selanjutnya, Mbah Mangli mulai mengutarakan maksud kedatangannya, yang selanjutnya ๐๐๐๐๐ค๐๐ ๐๐๐โ ๐พ๐ฆ๐๐ ๐ด๐๐ค๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ก๐๐ฌ๐ ๐ฃ๐๐ฐ๐ ๐ค๐ซ๐จ๐ฆ๐จ ๐ข๐ง๐ ๐ ๐ข๐ฅ ๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐โ๐๐ ๐๐๐๐๐๐ข ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ก๐๐๐๐๐ ๐ข๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐ก๐๐๐ข ๐ ๐๐๐๐๐๐ข๐ ๐ก๐๐๐๐๐ ๐ข๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐ก๐๐๐๐ฆ๐. (๐๐๐๐ ๐ก๐ข๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐)
“๐๐ข๐ง๐ญ๐๐ง ๐ง๐ฃ๐๐ง๐๐ง๐ ๐๐ง?” (Siapa anda?)Tanya Kyai Arwani
“๐๐ ๐๐ฉ๐ฎ๐ง๐ญ๐๐ง ๐๐๐๐ก ๐๐๐ข, ๐๐๐ฅ๐๐ฆ ๐๐๐ฌ๐๐ง ๐ฌ๐๐ค๐ข๐ง๐ ๐๐๐ ๐๐ฅ๐๐ง๐ ?” Jawab Mbah Mangli
“๐๐จ๐ง๐ญ๐๐ง ๐ก๐๐ฃ๐๐ญ ๐ง๐จ๐ฉ๐จ ๐ฃ๐๐ง๐๐ง๐ ๐๐ง ๐ซ๐๐ฐ๐ฎ๐ก ๐ฆ๐ซ๐ข๐ค๐ข”? (Ada perlu apa kesini)” Tanya Kyai Arwani
“๐๐๐ฅ๐๐ฆ ๐ค๐๐ฃ๐๐ง๐ ๐ ๐ง๐ฒ๐ฎ๐ฐ๐ฎ๐ง ๐ญ๐ฎ๐ฅ๐ฎ๐ง๐ ๐ฉ๐๐ง๐ฃ๐๐ง๐ ๐๐ง ๐๐ค๐ฎ๐ข ๐๐๐๐จ๐ฌ ๐ฌ๐๐ง๐ญ๐ซ๐ข ๐ฉ๐๐ง๐ฃ๐๐ง๐๐ง๐ ๐๐ง?” (Saya ingin minta tolong diakui sebagai santri anda)” Jawab Arwani
“๐๐ ๐๐ฉ๐ฎ๐ง๐ญ๐๐ง ๐ ๐๐ก, ๐ฃ๐๐ง๐๐ง๐ ๐๐ง ๐ง๐จ๐ฉ๐จ ๐ง๐๐ญ๐ ๐ง๐ ๐๐จ๐ฌ ๐๐๐ญ๐๐ง๐ ๐ฆ๐ซ๐ข๐ค๐ข?” (Maaf, anda pernah ngaji disini ya?) “Tanya Kyai Arwani
“๐๐ ๐ ๐๐ก ๐๐๐ข, ๐๐๐ฅ๐๐ฆ ๐ซ๐ฎ๐ฆ๐ข๐ฒ๐๐ง ๐ง๐๐ญ๐ ๐ง๐ ๐๐จ๐ฌ ๐ฆ๐ซ๐ข๐ค๐ข. ๐๐ ๐๐ฉ๐ฎ๐ง๐ญ๐๐ง, ๐๐ข๐ค๐ข ๐๐ฎ๐ค๐ญ๐ข๐ง๐ข๐ฉ๐ฎ๐ง, ๐ฆ๐๐ง๐๐ฐ๐ข ๐๐๐ฅ๐๐ฆ ๐ง๐๐ญ๐ ๐ง๐ ๐๐จ๐ฌ ๐ญ๐๐ง ๐ฉ๐๐ง๐ฃ๐๐ง๐๐ง๐ ๐๐ง" (Iya Kyai, saya pernah belajar disini. Mohon maaf, ini bukti jika saya pernah mengaji kepada anda).
[sambil menunjukkan bekas sabetan Kyai Arwani yang masih membekas di punggungnya] ” Pungkas Mbah Mangli..
Maka ketika Mbah Arwani melihat bukti tersebut, maka teringatlah beliau pada sosok di depannya tersebut adalah benar-benar muridnya. Maka bersyukurlah beliau pada sosok santrinya yang kini telah menjadi ulama besar yang telah sukses mendirikan pesantren, mengasuh pengajian di berbagai tempat dan menjadi Mursyid Thariqah Qodiriyyah wan Naqsabandiyah ini. Maka Kyai Arwani pun mengakui bahwa Mbah Mangli adalah santrinya.
Jawaban tersebut disambut oleh Mbah Mangli dengan penuh suka cita. Mendengar jawaban yang dinanti-nanti selama ini langsung dari guru mulianya tersebut, terbayang betapa bersyukurnya beliau telah resmi diakui sebagai santrinya Kyai Arwani yang juga dikenal penulis Kitab Faidh Barokat fi Sab’i al-Qiro’at yang telah dikenal sampai di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir ini..
#sepenggalkisah #catatankecil #waliAllah #mbahmangli #mbaharwanikudus #santri #pondokpesantren #ulamanusantara #ulama #kyai #tanahjawa #magelang #kudus #majelis #sejarah #kairo #mesir

No comments:
Post a Comment