26 February 2026

RAJA SABI SANG PUTRA RAJAWALI DIHABISI SECARA BRUTAL OLEH PENGKHIANAT BANGSA DALAM SEBUAH REVOLUSI SOSIAL Sejarah Aceh tidak hanya dipenuhi kisah perlawanan terhadap kolonialisme asing, tetapi juga menyimpan lembaran kelam ketika anak bangsa berhadapan dengan bangsanya sendiri. Salah satu peristiwa yang paling memilukan adalah gugurnya Teuku Raja Sabi, putra dari pahlawan nasional Cut Nyak Meutia dan Teuku Chik Muhammad diTunong—dua tokoh besar dalam perjuangan Aceh melawan Belanda. Teuku Raja Sabi, yang dikenal pula sebagai “Putra Sang Rajawali,” menjadi korban dalam pergolakan yang kemudian dikenal sebagai Revolusi Sosial di Aceh. Tragedi ini bukanlah perang melawan penjajah, melainkan gejolak internal yang menargetkan sejumlah tokoh bangsawan dan pejabat lokal pada masa awal kemerdekaan. Kesaksian memilukan datang dari Ismail Yakub dalam bukunya tentang Cut Meutia dan putranya. Ia menuturkan bahwa sekitar pukul 10 pagi, tersiar kabar bahwa T.P.R. (Tentara Perjuangan Rakyat)piminan Husen Mujahed telah memasuki Kota Lhoksukon dan melakukan penangkapan. Para tahanan dikumpulkan di stasiun Lhoksukon.Ketika ia tiba di lokasi, pemandangan yang tersaji begitu mengguncang batin. Di antara mereka yang ditangkap terlihat Teuku Raja Sabi, Teuku Cut Hasan, Teungku Haji Angkasah, dan sejumlah tokoh lainnya. Perjumpaan dengan Teuku Raja Sabi—yang sudah lama tak ditemuinya sejak masa pendudukan Jepang—menghadirkan keharuan mendalam. Tak sepatah kata pun terucap; hanya air mata yang mengalir menyaksikan seorang putra pejuang besar berdiri sebagai tahanan di tanah kelahirannya sendiri. Para tahanan kemudian dibawa ke Lhokseumawe. Penangkapan terus berlanjut. Di sana turut ditahan Teuku Chik Muhammad Basyah, yang saat itu menjabat sebagai Wedana Lhokseumawe dalam struktur Negara Republik Indonesia. Beberapa bulan setelah peristiwa itu, kabar duka pun merebak: mereka yang ditangkap telah dibunuh. Tragedi tersebut kemudian dikenang sebagai bagian dari Revolusi Sosial—sebuah episode kelam yang mengubah wajah masyarakat Aceh dan merenggut nyawa sejumlah tokoh terkemuka, termasuk Teuku Raja Sabi dan Teuku Chik Muhammad Basyah. Ungkapan duka yang terekam dalam bahasa Aceh menggambarkan betapa cepat dan kejamnya peristiwa itu terjadi: “Gadeoh lam siklèp-siklap, lagee manok jisama le kleng.” Hilang dalam sekejap mata, bagai ayam disambar elang. Tragedi itu juga merenggut banyak anggota keluarga. Cut Bho’ kehilangan suaminya, Teuku Aji, serta dua orang putranya, T. Umar dan T. Sulaiman. Yang tersisa hanyalah Teuku Cut Hasan dan Teuku Muhammad Nur. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa revolusi tidak selalu berjalan dalam garis hitam-putih antara penjajah dan pejuang. Dalam kekacauan sosial dan politik, batas antara kawan dan lawan bisa menjadi kabur. Gugurnya Teuku Raja Sabi—putra dari dua simbol perlawanan Aceh—menjadi ironi sejarah yang menyayat hati: seorang anak pejuang kemerdekaan yang akhirnya meregang nyawa di tangan bangsanya sendiri. Sejarah mencatatnya bukan sekadar sebagai korban pergolakan, tetapi sebagai bagian dari harga mahal yang dibayar Aceh dalam perjalanan menuju tatanan sosial dan politik yang baru.(Adifa.ft Teuku raja Sabi)

 RAJA SABI SANG PUTRA RAJAWALI  DIHABISI  SECARA BRUTAL OLEH PENGKHIANAT BANGSA DALAM SEBUAH REVOLUSI SOSIAL


Sejarah Aceh tidak hanya dipenuhi kisah perlawanan terhadap kolonialisme asing, tetapi juga menyimpan lembaran kelam ketika anak bangsa berhadapan dengan bangsanya sendiri. 



Salah satu peristiwa yang paling memilukan adalah gugurnya Teuku Raja Sabi, putra dari pahlawan nasional Cut Nyak Meutia dan Teuku Chik Muhammad diTunong—dua tokoh besar dalam perjuangan Aceh melawan Belanda.


Teuku Raja Sabi, yang dikenal pula sebagai “Putra Sang Rajawali,” menjadi korban dalam pergolakan yang kemudian dikenal sebagai Revolusi Sosial di Aceh. Tragedi ini bukanlah perang melawan penjajah, melainkan gejolak internal yang menargetkan sejumlah tokoh bangsawan dan pejabat lokal pada masa awal kemerdekaan.


Kesaksian memilukan datang dari Ismail Yakub dalam bukunya tentang Cut Meutia dan putranya. Ia menuturkan bahwa sekitar pukul 10 pagi, tersiar kabar bahwa T.P.R. (Tentara Perjuangan Rakyat)piminan Husen Mujahed telah memasuki Kota Lhoksukon dan melakukan penangkapan. 


Para tahanan dikumpulkan di stasiun Lhoksukon.Ketika ia tiba di lokasi, pemandangan yang tersaji begitu mengguncang batin. Di antara mereka yang ditangkap terlihat Teuku Raja Sabi, Teuku Cut Hasan, Teungku Haji Angkasah, dan sejumlah tokoh lainnya. 


Perjumpaan dengan Teuku Raja Sabi—yang sudah lama tak ditemuinya sejak masa pendudukan Jepang—menghadirkan keharuan mendalam. Tak sepatah kata pun terucap; hanya air mata yang mengalir menyaksikan seorang putra pejuang besar berdiri sebagai tahanan di tanah kelahirannya sendiri.


Para tahanan kemudian dibawa ke Lhokseumawe. Penangkapan terus berlanjut. Di sana turut ditahan Teuku Chik Muhammad Basyah, yang saat itu menjabat sebagai Wedana Lhokseumawe dalam struktur Negara Republik Indonesia. 


Beberapa bulan setelah peristiwa itu, kabar duka pun merebak: mereka yang ditangkap telah dibunuh.

Tragedi tersebut kemudian dikenang sebagai bagian dari Revolusi Sosial—sebuah episode kelam yang mengubah wajah masyarakat Aceh dan merenggut nyawa sejumlah tokoh terkemuka, termasuk Teuku Raja Sabi dan Teuku Chik Muhammad Basyah.


Ungkapan duka yang terekam dalam bahasa Aceh menggambarkan betapa cepat dan kejamnya peristiwa itu terjadi:

“Gadeoh lam siklèp-siklap, lagee manok jisama le kleng.”

Hilang dalam sekejap mata, bagai ayam disambar elang.


Tragedi itu juga merenggut banyak anggota keluarga. Cut Bho’ kehilangan suaminya, Teuku Aji, serta dua orang putranya, T. Umar dan T. Sulaiman. Yang tersisa hanyalah Teuku Cut Hasan dan Teuku Muhammad Nur.


Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa revolusi tidak selalu berjalan dalam garis hitam-putih antara penjajah dan pejuang. Dalam kekacauan sosial dan politik, batas antara kawan dan lawan bisa menjadi kabur. 


Gugurnya Teuku Raja Sabi—putra dari dua simbol perlawanan Aceh—menjadi ironi sejarah yang menyayat hati: seorang anak pejuang kemerdekaan yang akhirnya meregang nyawa di tangan bangsanya sendiri.


Sejarah mencatatnya bukan sekadar sebagai korban pergolakan, tetapi sebagai bagian dari harga mahal yang dibayar Aceh dalam perjalanan menuju tatanan sosial dan politik yang baru.(Adifa.ft Teuku raja Sabi)


Sumber : Adi FA

No comments:

Post a Comment