19 February 2026

Sunyi Sang Proklamator: Jadi Tahanan Rumah hingga Pemakamannya pun “Diasingkan” DALAM buku Total Bung Karno karya Roso Daras, terungkap ironi getir: bukan hanya sakit yang melemahkan Bung Karno, tetapi juga perlakuan negara yang mempercepat akhir hidupnya. Awal 1969 ia diisolasi dari tamu dan keluarga, diperiksa dan diinterogasi, sementara makanan hanya bisa dititipkan lewat penjaga seperti kepada pesakitan. Bagi pemimpin yang hidup dari keramaian dan dialog, pengasingan itu menjadi hukuman batin yang mencekik. Roso mencatat, bahkan pada masa pembuangan oleh Belanda, tahanan politik masih bisa bergaul, tetapi di tanah merdeka Bung Karno justru dipisahkan dari dunia yang ia dirikan. Saat napas terakhirnya lepas, duka terasa melampaui sebuah keluarga dan menjalar ke sejarah. Di sela bacaan Yasin, terdengar ratap kakak kandung Bung Karno, Soekarmini memanggil, “Karno, kowe kok sengsoro men,” merangkum nestapa seorang proklamator yang wafat dalam kesunyian. Pemerintahan Soeharto menetapkan jenazah disemayamkan di Wisma Yaso, keputusan yang melukai hati Fatmawati. Ia ingin rumah di Jalan Sriwijaya menjadi tempat perpisahan terakhir, tetapi kehendak seorang istri kandas di hadapan kuasa negara. Cintanya tetap utuh di tengah luka, tergurat dalam karangan bunga bertulis tangan, “Tjintamu menjiwai rakyat. Tjinta Fat.” Kalimat singkat itu menjadi salam terakhir yang tak sempat terucap. Menjelang pemakaman, perundingan berlangsung antara Hoegeng sebagai wakil keluarga dan Alamsyah Prawiranegara serta Tjokropranolo dari lingkar kekuasaan. Keinginan Bung Karno dimakamkan dekat Istana Bogor atau di Kalibata gugur, karena keputusan akhir menempatkannya di Blitar dengan alasan kedekatan pada makam ibunda. Siang itu, pesawat Hercules membawa jenazah dari Halim ke Jawa Timur, lalu iring-iringan darat menembus lautan manusia hingga ke liang lahat. Pemakaman di Blitar dibaca banyak kalangan sebagai langkah menjauhkan simbol kekuasaan dari Jakarta dan meredam kemungkinan gelombang massa, membuat bahkan peristirahatan terakhirnya terasa seperti pengasingan lanjutan. (NF)

 Sunyi Sang Proklamator: Jadi Tahanan Rumah hingga Pemakamannya pun “Diasingkan”



DALAM buku Total Bung Karno karya Roso Daras, terungkap ironi getir: bukan hanya sakit yang melemahkan Bung Karno, tetapi juga perlakuan negara yang mempercepat akhir hidupnya. Awal 1969 ia diisolasi dari tamu dan keluarga, diperiksa dan diinterogasi, sementara makanan hanya bisa dititipkan lewat penjaga seperti kepada pesakitan.


Bagi pemimpin yang hidup dari keramaian dan dialog, pengasingan itu menjadi hukuman batin yang mencekik. Roso mencatat, bahkan pada masa pembuangan oleh Belanda, tahanan politik masih bisa bergaul, tetapi di tanah merdeka Bung Karno justru dipisahkan dari dunia yang ia dirikan.


Saat napas terakhirnya lepas, duka terasa melampaui sebuah keluarga dan menjalar ke sejarah. Di sela bacaan Yasin, terdengar ratap kakak kandung Bung Karno, Soekarmini memanggil, “Karno, kowe kok sengsoro men,” merangkum nestapa seorang proklamator yang wafat dalam kesunyian.


Pemerintahan Soeharto menetapkan jenazah disemayamkan di Wisma Yaso, keputusan yang melukai hati Fatmawati. Ia ingin rumah di Jalan Sriwijaya menjadi tempat perpisahan terakhir, tetapi kehendak seorang istri kandas di hadapan kuasa negara.


Cintanya tetap utuh di tengah luka, tergurat dalam karangan bunga bertulis tangan, “Tjintamu menjiwai rakyat. Tjinta Fat.” Kalimat singkat itu menjadi salam terakhir yang tak sempat terucap.


Menjelang pemakaman, perundingan berlangsung antara Hoegeng sebagai wakil keluarga dan Alamsyah Prawiranegara serta Tjokropranolo dari lingkar kekuasaan. Keinginan Bung Karno dimakamkan dekat Istana Bogor atau di Kalibata gugur, karena keputusan akhir menempatkannya di Blitar dengan alasan kedekatan pada makam ibunda.


Siang itu, pesawat Hercules membawa jenazah dari Halim ke Jawa Timur, lalu iring-iringan darat menembus lautan manusia hingga ke liang lahat. Pemakaman di Blitar dibaca banyak kalangan sebagai langkah menjauhkan simbol kekuasaan dari Jakarta dan meredam kemungkinan gelombang massa, membuat bahkan peristirahatan terakhirnya terasa seperti pengasingan lanjutan. (NF)

No comments:

Post a Comment