13 February 2026

Banyak yang Lupa, Inilah Menlu Pertama RI yang Berani Tantang Maut Agar Proklamasi Bisa Dikumandangkan Setiap tanggal 17 Agustus, telinga kita akrab dengan nama Soekarno dan Hatta. Namun, tahukah Anda ada satu sosok yang rela menjaminkan nyawanya di ujung senapan agar Proklamasi bisa terjadi? Ia adalah Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo, sang diplomat jenius yang menjadi penyelamat di detik-detik paling krusial sejarah bangsa. Lahir di Karawang, 23 Maret 1896, Soebardjo bukan sekadar pelengkap. Ia adalah jembatan yang menghubungkan amarah golongan muda dengan kehati-hatian golongan tua. Tanpa diplomasi "nyawa taruhan" darinya, Proklamasi mungkin hanya akan jadi angan-angan yang berujung pertumpahan darah sesama pejuang. Jaminan Nyawa di Rengasdengklok: "Tembak Saya Jika Gagal!" Peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945 adalah ujian terberat bagi Indonesia. Golongan muda yang membara menculik Soekarno dan Hatta agar tidak dipengaruhi Jepang. Suasana sangat tegang; para pemuda sudah siap angkat senjata jika kemerdekaan tidak segera diumumkan. Di tengah situasi buntu itu, Achmad Soebardjo datang sebagai penengah. Dengan penuh wibawa, ia meyakinkan para pemuda untuk melepaskan Dwitunggal. Tantangannya tidak main-main. Di hadapan Komandan Kompi PETA, Cudanco Subeno, Soebardjo berikrar: "Apabila proklamasi tidak diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945 selambat-lambatnya pukul 11.30, kalian boleh tembak mati saya!" Mendengar jaminan yang mempertaruhkan nyawa itu, para pemuda luluh. Soekarno dan Hatta akhirnya diizinkan kembali ke Jakarta untuk merumuskan masa depan bangsa. Arsitek Teks Proklamasi di Rumah Maeda Tak banyak yang menyadari bahwa kalimat-kalimat sakral dalam naskah Proklamasi adalah hasil rembugan tiga orang: Soekarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo. Bertempat di rumah Laksamana Maeda, Soebardjo menyumbangkan pemikiran hukumnya yang tajam untuk menyusun kalimat yang singkat namun tegas menghentak dunia. Setelah naskah diketik oleh Sayuti Melik, sejarah pun tercipta. Esok paginya, Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Atas jasa besarnya, Soebardjo pun dilantik menjadi Menteri Luar Negeri pertama dalam sejarah Republik Indonesia. Intelektual Leiden yang Rendah Hati Soebardjo adalah lulusan Universitas Leiden, Belanda, dengan gelar Meester in de Rechten (S-2 Hukum). Jauh sebelum merdeka, ia sudah berjuang lewat diplomasi mahasiswa di Eropa bersama Mohammad Hatta. Ia adalah orang yang menanamkan fondasi politik bahwa mahasiswa Indonesia di luar negeri harus berjuang untuk kemerdekaan, bukan sekadar belajar. Meskipun memiliki karier mentereng sebagai diplomat dan Duta Besar RI di Swiss, Soebardjo tetaplah sosok yang sederhana. Ia lebih suka disebut sebagai pejuang daripada pejabat. Menutup Catatan di Cipayung Sang diplomat pemberani ini wafat pada 15 Desember 1978 dalam usia 82 tahun. Ia dimakamkan di peristirahatan terakhirnya di Cipayung, Bogor. Pemerintah secara resmi menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2009. Kisah Achmad Soebardjo adalah pengingat bagi kita semua bahwa kemerdekaan tidak hanya butuh keberanian angkat senjata, tapi juga kecerdasan diplomasi dan kerelaan untuk berkorban nyawa demi persatuan. (Wikipedia) #AchmadSoebardjo #PahlawanNasional #Rengasdengklok #SejarahIndonesia #MenteriLuarNegeri #TokohProklamasi #DiplomatRI

 Banyak yang Lupa, Inilah Menlu Pertama RI yang Berani Tantang Maut Agar Proklamasi Bisa Dikumandangkan



Setiap tanggal 17 Agustus, telinga kita akrab dengan nama Soekarno dan Hatta. Namun, tahukah Anda ada satu sosok yang rela menjaminkan nyawanya di ujung senapan agar Proklamasi bisa terjadi? Ia adalah Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo, sang diplomat jenius yang menjadi penyelamat di detik-detik paling krusial sejarah bangsa.


Lahir di Karawang, 23 Maret 1896, Soebardjo bukan sekadar pelengkap. Ia adalah jembatan yang menghubungkan amarah golongan muda dengan kehati-hatian golongan tua. Tanpa diplomasi "nyawa taruhan" darinya, Proklamasi mungkin hanya akan jadi angan-angan yang berujung pertumpahan darah sesama pejuang.


Jaminan Nyawa di Rengasdengklok: "Tembak Saya Jika Gagal!"

Peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945 adalah ujian terberat bagi Indonesia. Golongan muda yang membara menculik Soekarno dan Hatta agar tidak dipengaruhi Jepang. Suasana sangat tegang; para pemuda sudah siap angkat senjata jika kemerdekaan tidak segera diumumkan.


Di tengah situasi buntu itu, Achmad Soebardjo datang sebagai penengah. Dengan penuh wibawa, ia meyakinkan para pemuda untuk melepaskan Dwitunggal. Tantangannya tidak main-main. Di hadapan Komandan Kompi PETA, Cudanco Subeno, Soebardjo berikrar:


"Apabila proklamasi tidak diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945 selambat-lambatnya pukul 11.30, kalian boleh tembak mati saya!"


Mendengar jaminan yang mempertaruhkan nyawa itu, para pemuda luluh. Soekarno dan Hatta akhirnya diizinkan kembali ke Jakarta untuk merumuskan masa depan bangsa.


Arsitek Teks Proklamasi di Rumah Maeda

Tak banyak yang menyadari bahwa kalimat-kalimat sakral dalam naskah Proklamasi adalah hasil rembugan tiga orang: Soekarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo. Bertempat di rumah Laksamana Maeda, Soebardjo menyumbangkan pemikiran hukumnya yang tajam untuk menyusun kalimat yang singkat namun tegas menghentak dunia.


Setelah naskah diketik oleh Sayuti Melik, sejarah pun tercipta. Esok paginya, Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Atas jasa besarnya, Soebardjo pun dilantik menjadi Menteri Luar Negeri pertama dalam sejarah Republik Indonesia.


Intelektual Leiden yang Rendah Hati

Soebardjo adalah lulusan Universitas Leiden, Belanda, dengan gelar Meester in de Rechten (S-2 Hukum). Jauh sebelum merdeka, ia sudah berjuang lewat diplomasi mahasiswa di Eropa bersama Mohammad Hatta. Ia adalah orang yang menanamkan fondasi politik bahwa mahasiswa Indonesia di luar negeri harus berjuang untuk kemerdekaan, bukan sekadar belajar.


Meskipun memiliki karier mentereng sebagai diplomat dan Duta Besar RI di Swiss, Soebardjo tetaplah sosok yang sederhana. Ia lebih suka disebut sebagai pejuang daripada pejabat.


Menutup Catatan di Cipayung

Sang diplomat pemberani ini wafat pada 15 Desember 1978 dalam usia 82 tahun. Ia dimakamkan di peristirahatan terakhirnya di Cipayung, Bogor. Pemerintah secara resmi menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2009.


Kisah Achmad Soebardjo adalah pengingat bagi kita semua bahwa kemerdekaan tidak hanya butuh keberanian angkat senjata, tapi juga kecerdasan diplomasi dan kerelaan untuk berkorban nyawa demi persatuan. (Wikipedia)


#AchmadSoebardjo #PahlawanNasional #Rengasdengklok #SejarahIndonesia #MenteriLuarNegeri #TokohProklamasi #DiplomatRI

No comments:

Post a Comment